Water Teapot

Water Teapot
S2: Iis mohon...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“MAS....”


Kue yang dipegang Iis terjatuh di kakinya, dengan cepat Iis berlari kearah Juan yang tergeletak tak berdaya di lantai dan hanya mengenakan celana boxer saja.


“Mas, astaga....” Iis panik dengan cepat diangkatnya tubuh Juan, ditopangnya kepala Juan di paha Iis. Tiba-tiba tangan Iis mengenai sesuatu benda yang belum pernah Iis liat sama sekali. B•ng, Iis kaget saat melihat b•ng dan lighter. Dirabanya tubuh Juan pada saat Iis meraba pungungnya Iis menemukan sebungkus met atau s•bu. Tangis Iis pun meledak.


“Mas... Mas... Bangun...!!!” jerit Iis sambil menyentuh tubuh Juan, tubuh Juan dingin. Iis menyentuh hidunh Juan masih ada napas.


“MAS BANGUN, SAYANG...!!” jerit Iis panik, seumur hidup Iis tidak pernah menangani orang yang seperti ini.


Iis berteriak-teriak memanggil Juan, badan Iis bergetar hebat. Tangisnya meledak, rasa panik benar-benar menguasainya. “Mas, maafin Iis Mas. Iis nggak akan kemana, mana lagi. Maafin Iis, Iis pulang ini, Mas bangun Iis mohon,” jerit Iis panik sambil memukul-mukul pipi Juan.


Juan benar-benar tidak sadarkan diri, napasnya pelan bahkan nyaris hilang. Kondisi badannya teler parah, badannya dingin dan pupil matanya seperti hilang.


“MAS BANGUN...!!!” isak Iis sambil menggerak-gerakkan badan Juan. Rasa khawatir dan sesak langsung mendera Iis. Iis menyesal meningalkan suaminya, Iis nggak mau sendiri, Iis butuh Juan, sebanyak Juan membutuhkan Iis. Iis menyesali keegoisannya.


“Iis kena...” Taca yang baru datang kaget melihat keadaan Juan dan Iis, “ADIPATI...!!!”


Adipati yang baru saja masuk kedalam apartemen langsung berlari kearah Taca. “Amore, sayang kena...”


“Itu...” Taca menunjuk Iis dan Juan.


“Scherzi, no?” teriak Adipati sambil mendekati Juan dan Iis. (Kau main-main, kan?)


“Dai non scherzare, Juan,” teriak Adipati lagi saat melihat met dan b•ng ditangan Iis. (Ayolah jangan bercanda, Juan)

__ADS_1


“Amore, telepon rumah sakit bilang butuh ambulance kesini dan bilang ada yang overdosis,” perintah Adipati cepat sambil menunjuk Taca yang kaget dengan situasi yang ada.


“Iya, Di...” jawab Taca cepat sambil mengambil handphonennya dan menelepon rumah sakit.


“Bu Sur,” panggil Adipati.


“Iya, Den...” jawab Bi Sur, ini bukan kali pertama Bi Sur melihat Juan over dosis 5 tahun yang lalu Juan pernah OD beberapa kali.


“Bawa obat Naloxon•, sekarang. Juan masih punya ‘kan?” Adipati berdoa didalam hati moga ada obat itu dirumah ini. Melihat kondisi Juan yang sudah bernapas tersenggal dan kejang, tanpa obat itu bisa lewat.


“Ada, Den. Saya ambil,” ujar Bi Sur sambil berlari mencari obat.


“Di, rumah sakit udah aku telepon, katanya ambulance bakal dateng,” ujar Taca yang masih dalam mode panik, tangannya bergetar hebat.


Adipati sebenarnya ingin memeluk Taca. Tapi, Adipati harus bisa menyelamatkan sahabatnya ini. Ini sudah ke tiga kali Juan Overdosis. Adipati benar-benar berusaha menenangkan dirinya sendiri, jangan sampai Juan lewat.


“Iis, Iis...” panggil Adipati.


“Iis fokus, setiap detik berharga sekarang, Juan overdosis. Ini Overdosis ketiganya, aku takut dia lewat,” ujar Adipati, Adipati tau tidak etis rasanya mengatakan hal tersebut pada Iis. Tapi, dia harus membuat Iis tetap siaga, tiap detik berharga.


“Hah? Mas pernah OD?” Iis tau Juan pemakai dulunya tapi, dia tidak tau kalau Juan pernah sampai OD.


“Sadarin dia Iis panggil, dia masih sadar,” ujar Adipati sambil mengambil obat dari tangan Bi Sur.


“Mas,Mas... bangun Mas. Ini Iis, Iis udah pulang Mas, bangun,” isak Iis sambil menepuk-nepuk pipi Juan. Air mata Iis meluncur turun mengenai pipi Juan.


“Juan, sadar, Bro, sadar...” ujar Adipati sambil menyuntikkan obat yang diberikan Bi Sur ke paha Juan dengan cepat. Pengalaman benar-benar membuat Adipati cekatan menyuntikkan obat tersebut ke paha Juan.


“Sadar, Bro...!!” teriak Adipati sambil menepuk-nepuk badan Juan, berusaha sabar untuk meilhat reaksi obat.


“Mas, sadar sayang, ini aku udah pulang. Ini hari ulang tahun kamu, Mas. Aku mohon sadar, Mas,” tangis Iis meledak saat mengatakan ini adalah hari ulang tahun Juan. Sakit rasanya melihat suaminya kejang di pangkuannya, saat harusnya mereka berbahagia di hari ulang tahun Juan. Tuhan tolong suaminya.

__ADS_1


“Mas bangun Mas, aku sama siapa kalau kamu pergi? Aku sama siapa? Aku nggak punya siapa-siapa Mas, Mas bangun, aku nggak sanggup kamu tingalin. JUAN WIJAYA BANGUN....!!”


Iis memukuli Juan dengan keras dan berkali-kali berusaha untuk membangunkan Juan. Nihil, Juan benar-benar terkapar sempurna, pupil matanya sama sekali tidak tampak, napasnya tersenggal.


“Mas, bangun sayang. Maafin aku Mas, maafin aku yang nggak nurut sama kamu, maafin aku yang egois sama kamu, maaf Mas...” teriak Iis sambil mengusap air matanya yang meluncur dari matanya.


“Mas, bangun Mas. Kalau kamu pergi siapa yang denger ocehan aku, siapa yang bakal meluk aku, siapa yang bakal gantiin kamu dihati aku, nggak ada Mas, bangun Iis mohon, Iis udah pulang. Jangan tingalin aku dihari ulang tahun kamu, sayang,” jerit Iis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tangisan Iis terdengar lirih, rasa bersalah dan sakit benar-benar merasuki diri Iis, Iis terus merutuki kebodohannya karena tidak mau pulang.


“Iis udah pulang, Mas. Ayo Mas bangun, kita hadapin semua masalah bareng-bareng. Ayo Mas, bangun, BANGUN...!!!” teriak Iis lagi.


Tangisan Iis membuat Taca hanya bisa diam dipojokan kamar mandi sambil menahan tangisnya, Taca tidak tega melihat sahabatnya menderita dan menagis meraung menyesali segala perbuatannya. Taca tau jika Juan pergi Iis hancur, begitu pula sebaliknya, jika Iis pergi Juan hancur. Juan dan Iis seperti magnet yang akan selalu saling tarik menarik. Saling membutuhkan.


“Mas Iis mohon jangan tingalin Iis, Iis mohon Mas. Jangan tinggalin Iis,” pinta Iis dengan tubuh bergetar dan tangisan yang benar-benar terdengar lirih. Suara Iis serak karena memanggil nama Juan, badan Iis benar-benar remuk.


‘Tuhan, tolong jangan ambil lelaki ini, kau sudah ambil Ibuku dan Ayahku. Aku mohon dengan sangat, jangan ambil dia. Aku mohon tuhan, aku mohon...’ batin Iis


‘Jangan buat aku kehilangan dirinya dihari ulang tahunnya, izinkan aku merawat suamiku, aku mohon. Aku mohon aku nggak mau sendiri didunia ini, aku nggak mau. Aku butuh Mas Juan. Pulang, Mas, bangun,’ ucap Iis didalam hati sambil mencium dahi Juan dengan bibir yang bergetar karena emosi Iis yang benar-benar meluluh lantahkan semuanya. Iis berusaha menyalurkan semua persaan yang dimilikinya pada Juan. Sakit, maaf, penyesalan, kasih, muak, benci, dan cinta.


Apakah permohonan Iis akan dikabulkan? Apakah Tuhan masih ingin bermain-main dengan Iis? Apakah detik ini malaikat kematian sedang tersenyum pada Iis dan Juan. Menyeringai dan bersiap untuk melakukan tugasnya. Yah tugasnya, tugasnya pada seorang Juan Wijaya...


Permohonan Iis pada tuhan atau tugas malaikat kematian, mana yang akan tuhan kabulkan? Siapa yang akan menang?


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2