
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Iya tadi mereka kesini, tapi sudah beberapa waktu lalu mereka pulang," jawab pemilik klinik sambil tersenyum santai.
"Mereka kemana? Kamu tau istri saya dimana?" tanya Adipati lagi sambil menatap pemilik klinik.
Pemilik klinik itu mengambil sesuatu didalam laci meja kerjanya, dia mengambil sebuah postcard bergambar colosseum dan menyerahkan pada Adipati. "Ini, mereka mau kesana, tadi anak tersebut mengajak istri anda kesana. Saya kenal anak itu."
"Anda kenal anak yang jatuh itu?" tanya Markus cepat.
"Iya, saya kenal. Dia anak yatim piatu yang tinggal di rumah sederhana bersama kakeknya, dibelakang klinik saya. Dia senang menjadi tour guide disini, kamu tau 'kan, mencari kerja untuk anak dibawah umur itu sangat sulit. Sedangkan mereka butuh makan, Fabio namanya." ujar Pemilik Klinik sambil menunjukkan photo anak bermata coklat berumur sepuluh tahun yang sedang berjejer dengan empat orang anak lainnya.
"Fabio? Dia bukan salah satu anak yang dipakai berandal disini untuk merampok?" tanya Markus pada pemilik klinik dihadapannya.
Pemilik klinik hanya menggelengkan kepalanya dengan santai, seingatnya Fabio anak yang baik dan benar-benar bekerja keras agar mendapatkan uang untuk pengobatan kakeknya. "Bukan, dia sama sekali tidak ikut dengan gerombolan brandal itu, dia anak yang baik."
"Saya pegang kata-kata kamu," ujar Markus sambil berjalan kearah Adipati yang sudah berada di luar klinik dari tadi.
"Markus kayanya kita harus ke Colosseum, kita harus cari Taca disana," pinta Adipati sambil menatap handphonennya. Dari tadi Adipati berjuang untuk menghubungi Taca. Tapi, teleponnya sama sekali tidak diangkat, mati lebih tepatnya.
"Oke, pakai mobil aku aja," usul Markus sambil mengajak Adipati untuk berjalan kearah mobilnya diparkirkan. Sepanjang jalan kearah mobil Markus, Adipati terus berusaha untuk menelepon Taca.
"Kamu dimana, Amore," bisik Adipati sambil masuk kedalam mobil Markus.
•••
"Madam, ini Colosseum. Madam mau masuk? kalau mau masuk kita ngantri disana," ujar Fabio sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang mengantri untuk masuk kedalam Colosseum.
"Makan gelatto dulu disana, mau?" tanya Taca pada Fabio, sambil menunjuk jongko penjual gellato. Tanpa menunggu jawaban Fabio, Taca langsung menarik tangan Fabio dengan lembut.
"Madam, pelan-pelan. Nanti jatuh, gawat," ujar Fabio sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Taca.
Sesampainya di jongko gellato, Taca langsung memesan dua gellato untuk dirinya dan Fabio dengan rasa papermint dan strawberry. Taca memberikan rasa strawberry pada Fabio dan papermint untuk dirinya sendiri.
"Duduk disana," ajak Taca sambil berjalan kearah kursi yang akan diduduki oleh dirinya dan Fabio. Fabio dengan patuh duduk disamping Taca dan memakan gellatonya dengan santai.
Fabio menunjuk Colosseum didepannya sambil menceritakan sejarah dari Colosseum dengan sangat lancar dan sesuai dengan fakta yang ada. Anak berumur sepuluh tahun itu benar-benar mampu menjadi seorang tour guide yang baik untuk Taca.
"Madam jadi itulah Colosseum, nanti didalam kita bisa melihat bagian dalamnya," terang Fabio sambil memakan gellatonya sampai habis.
Taca yang dari tadi memperhatikan Fabio hanya bisa tersenyum manis pada Fabio, "Kamu makan Gellatonya berantakan," ujar Adipati sambil mengusap bibir Fabio dengan lembut.
Fabio kaget saat Taca mengusap bagian bawah bibirnya dengan tissue miliknya. Fabio terpanah melihat Taca yang dengan telaten membersihkan bibirnya dengan tissue dan membersihkan remahan cone gellato dari bajunya.
Pembawaan Taca yang kalem dan santai benar-benar membuat Fabio merasa nyaman, Fabio seperti menemukan sosok Ibu pada diri Taca, Ibu yang tidak pernah Fabio miliki.
__ADS_1
"Maaf Madam," jawab Fabio pelan sambil membals senyuman Taca.
Taca langsung mengacak rambut Fabio lembut, sentuhan tangan Taca di kepala Fabio benar-benar membuat Fabio merasa sangat bahagia, Fabio rindu, Fabio rindu disentuh dengan penuh rasa sayang oleh ibunya dan saat ini, sentuhan tangan Taca mengobati rasa rindu didadanya.
"Kamu hebat yah, kecil-kecil sudah menjadi tour guide, kamu masih sekolah 'kan?" tanya Taca pada Fabio.
Sebelum mejawab pertanyaan Taca, Fabio mengusap belakang rambutnya dengan tangan kanannya, "Saya masih sekolah, Madam. Untungnya disini sekolah gratis, jadi tidak terlalu sulit bagi saya untuk belajar. Tapi, saya harus bekerja menjadi Tour Guide ilegal untuk membiayayai pengobatan Kakek saya, Kakek saya tidak punya asuransi."
"Kakek kamu sakit apa? Orang tua kamu gimana?" tanya Taca sambil memberikan air minum kemasan pada Fabio.
"Kakek saya sakit kanker darah, kalau orang tua saya sudah meninggal, saat saya tujuh tahun, makanya saya ini adalah anak yang ditanggung negara," ujar Fabio sambil mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
"Saya sudah biasa mencari uang sendiri, semenjak saya berumur 7 tahun," lanjut Fabio.
"Fabio," panggil Taca sambil tersenyum manis pada Fabio, "Kamu hebat, kamu sangat kuat. Jujur kalau aku ada diposisi kamu, aku nggak kuat Fabio," jawab Taca sambil menggerak-gerakkna kakinya ke atas dan kebawah.
"Terima kasih, Madam. perkataan anda sangat berarti untuk saya," jawab Fabio sambil memberikan brosur ketangan Taca.
“Fabio, boleh tanya satu hal?”
“Apa?”
“Mereka itu siapa?” tanya Taca sambil menunjuk seseorang yang sedang membaca koran di samping mereka.
“Itu...” Fabio sama sekali tidak bisa menjawab apa-apa, rasa bersalah langsung menerpa Fabio.
“Itu... saya...” Fabio gelagapan untuk menjawab pertanyaan Taca.
“Fabio, kamu mau rampok saya?” tanya Taca santai, sebenarnya sudah dari awal Taca curiga dengan Fabio. Gerak-geriknya benar-benar menunjukkan kalau Fabio mau melakukan sesuatu pada dirinya.
“Ini baru pertama kalinya, Madam. Saya butuh uang buat Kakek saya,” isak Fabio.
“Ya udah, sekarang gimana? Kamu mau saya dirampok atau mau lepasin saya?” tanya Taca sambil menghela napasnya.
Fabio melirik kekakan dan kekiri dengan takut-takut. Dia tau kalau saat ini sudah ada tiga orang disana yang mengawasinya, kalau mereka lari maka mereka akan dikejar, Fabio akan tau akhirnya, pasti dia akan dipukuli habis-habisan dan madam Taca akan di rampok atau lebih parahnya di perkosa. Ah tidak, Fabio tidak bisa membayangkan orang sebaik Taca di berlakukan seperti itu.
“Madam lari aja, nanti biar saya yang hadang mereka, saya nggak mau madam kenapa-napa. Madam orang baik,” jawab Fabio.
Taca menatap Fabio dengan mata membulat saat mendengar perkataan Fabio, “Tapi, tapi kamu bisa dipukuli Fabio.”
“Nggak papa, saya sudah biasa dipukulin, Madam,” jawab Fabio sambil tersenyum. “Nanti kalau kata saya lari Madam lari yah.”
Fabio mengajak Taca untuk berdiri dan berjalan kearah keramaian, Taca merasakan orang-orang yang memperhatikan mereka juga ikut bergerak mengikuti mereka.
Taca langsung membuka kalung miliknya, kalung yang dulu Adipati berikan pada dirinya saat melmarnya di sebuah restoran mewah dijakarta. Kalung bulan, bintang dan matahari itu langsung Taca berikan pada Fabio.
“Madam... ini.”
“Jual itu, uangnya bisa buat biaya kakek kamu,” ujar Taca sambil berjalan cepat disamping Fabio.
__ADS_1
Fabio hampir manengis saat memegang kalung yang diberikan Taca. “Madam ini terlalu....”
“Jual kalung itu, jangan lagi kamu ngerampok. Aku nggak mau yah liat kamu ngelakuin kejahatan lagi, kecuali terpaksa.”
“Iya,” jawab Fabio sambil mengganggukkan kepalanya dan menengok kebelakang mengawasi tiga orang yang mengikuti mereka dengan cepat.
“Madam, nanti di belokkan itu Madam lari sekencang-kencangnya,” ujar Fabio sambil menunjuk belokkan didepannya.
“Terus kamu?” tanya Taca bingung. Bagaimana nasib Fabio?
“Saya nggak apa-apa, siap-siap Madam,” ujar Fabio sambil melirik kebelakang. “Sekarang...!”
Fabio mendorong Taca untuk berlari lebih kencang lagi, Taca yang didorong mau tidak mau berlari kencang kearah belokkan meninggalkan Fabio.
Taca menolehkan kepalanya dan melihat Fabio yang sedang ditangkap gerombolan perampok. Fabio tampak berusaha menghadang mereka bertiga, tapi badannya yang kecil tidak mampu untuk menghadang ketiga lelaki itu. Badan Fabio terpelanting ke pinggir jalan, salah satu dari lelaki tersebut memukuli Fabio dengan brutal.
Taca menutup mulutnya dengan tangan kirinya, menahan teriakkannya untuk tidak kelur dari mulutnya. Kaki Taca terus berlari sekencang-kencangnya.
Dua lelaki lainnya masih mengejar Taca dibelakang. Taca langsung berlari berbelok ke kanan tanpa melihat kedepan.
Dan...
Brak...
Badan Taca bertabrakkan dengan seseorang, wajah Taca langsung mendongkah ke atas napasnya terhenti saat melihat siapa yang ditabraknya.
“Di....”
•••
Dia apaan? Woi... nabrak sapa si Taca nih...
Woiii... Gallon minta di rebus pembaca lo mah, udah telat update, digantung pula... ah, nyebelin..
Hahahhaa....
Sabar yah, maaf telat update. Pasti nanya siapakah Fabio, ngapain tuh anak ada disini. Siapa dia dan kenapa dia ada. Mungkin bisa terjawab nanti yah... dicerita lainnya...
Ah... maaf telat update...
sama ini pemenang komennya...
ayo cepet setor nomer hp nya yah, dm aja ke Instagram Gallon yah.
Nama instagramnya : Stroyby_gallon
Ciaooo...
__ADS_1