
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Siang itu Juan selesai makan siang di salah satu hotel di kawasan Jakarta Pusat. Hari ini jadwalnya lumayan padat membuat dia tidak bisa bertemu dengan Iis, Juan bersyukur Iis sudah pindah ke apartemennya hinga membuat Juan selalu bertemu dengan Iis saat malam hari.
"Pak, setelah ini ada rapat dengan para pemegang saham jam 3, saya sudah koordinasi dengan Bu Sherlly," ujar Saka sambil berjalan disamping Juan.
"Jadi jadwal saya kosong sampai jam 3 ?" tanga Juan sambil tersenyum senang pada Saka.
Mau kemana lagi Bossnya ini, jangan bilang mau kabur dan ngak ikut rapat, bisa di bakar hidup-hidup dia sama Sherlly, karena mencocokan jadwal Adipati dan Juan sulitnya bukan main,
"Iya, Pak. Tapi Bapak mau kemana ?" tanya Saka ketar ketir.
"Ngak kemana-mana, saya mau ke resto dibawah, saya butuh waktu untuk sendiri, call me, Oke," ujar Juan sambil berjalan meninggalkan Saka yang hanya bisa berdoa moga Juan tidak kabur dan meninggalkan rapatnya.
•••
Juan mengesap kopinya dengan nikmat sambil menatap pemandangan diluar jendela, menikmati waktunya disela-sela kesibukkannya. Andai ada Iis disini mungkin lengkap.
"Love..."
Bulu kuduk Juan langsung meremang mendengar panggilan itu, "Cicil..."
"Hai, Love. Long time no see," ujar Cicil sambil duduk dihadapan Juan.
Cicil yang hanya bermake up tipis dan menggunakan kaos putih dan celana jeans, dia tidak butuh usaha untuk menjadi cantik. Dia dilahirkan cantik.
Juan hanya menatap sekilas pada Cicil.
"Hai."
Cicil menatap Juan dengan tatapan kaget kemudian membenarkan rambutnya, membuat beberapa pria disekitanya menahan napasnya karena kecantikan Cicil.
"Just hai, no kiss, hug or maybe something else.." pancing Cicil sambil mengerling nakal pada Juan yang hanya di balas senyuman simpul pada Cicil.
(Cuman hai, ngak ada ciuman, pelukan atau sesuatu yang lain)
"Nah, what do you want ?" ujar Juan dingin.
(Ngak, apa yang kamu mau ?)
"Nothing, cuman mau duduk dan rileks. Like old time (seperti masa lalu)," pancing Cicil lagi.
"Oh, emang ngak ada meja lagi ?" tanya Juan bingung sambil melirik kekanan dan kekirinya, "Masih banyak meja kosong 'kan ?"
"Astaga, Juan... aku cuman duduk didepan kamu doang," ujar Cicil kesal dengan ketidak nyamanan Juan.
"Ok, see you.." ujar Juan sambil berdiri dari duduknya.
Cicil langsung panik dan berusaha untuk menahan Juan, "Aku punya permintaan, kalau kamu mau ngelakuinnya aku bakal pergi menghilang dari kehidupan kamu," ujar Cicil.
Juan terdiam dan kembali duduk, "Menghilang, just like that," ujar Juan sambil menjentikkan jarinya.
"Just like that.." ujar Cicil sambil menjentikkan jarinya juga.
(Seperti itu)
__ADS_1
"Apa ?" tanya Juan penasaran sambil duduk dan meminum kopinya.
"Sleep with me..."
(Tidur dengan ku)
Bruakkkkkk
"WHATTT ??? Are you insane ?" ujar Juan sambil menyemburkan kopinya.
(Apa? Kamu gila ?)
"Cuman sekali doang, Love. Sekali udah gitu udah, aku ngak bakal datang dan ganggu kamu lagi, aku cuman mau tau apakah aku udah ngak suka sama kamu lagi atau masih" ujar Cicil sambil menatap Juan.
"Sinting kamu, Cil. Iis bisa ningalin aku kalau tau aku tidur sama kamu," ujar Juan sambil mengibas-ngibaskan jasnya.
"Iis ngak perlu tau, cuman aku, kamu dan tuhan yang tau. Come on, Juan." rayu Cicil sambil mengerling manja pada Juan.
Dulu mungkin Juan akan dengan senang hati mau melakukannya, tapi sekarang, lebih baik dia disuruh nguras laut daripada harus selingkuh dari Iis. Udah ngedapetinnya susah, belum diapa-apain juga.
"Ngak.." jawab Juan tegas.
"Why ?"
"Ngak Cil, aku bukan Juan yang dulu, aku udah rubah," ujar Juan.
Cicil menatap Juan dengan seksama, dia tidak percaya Juan bisa berubah sebegitu cepatnya. "Kamu yakin ?"
"Yakin, Cicil Bouw..!" ujar Juan sambil melempar serbet ke meja dan berdiri menghampiri Cicil kemudian menatap manik mata coklat Cicil.
"Cil, wake up..! Move on, kalau kamu mau tau kamu masih cinta atau ngak sama aku, tanya hati kamu sendiri. Cil kamu udah 28 tahun, grow up, please..!!" ujar Juan kesal pada Cicil.
Juan mendekatkan bibirnya pada kuping Cicil kemudian berbisik lembut, "Ngak semua masalah bisa diselesaikan dengan sex. Grow up, Cil. Malu sama umur."
Juan langsung pergi meninggalkan Cicil yang masih terpaku mendengar perkataan Juan. Cicil hanya bisa tersenyum simpul kemudian menyentuh dadanya.
"Astaga, ternyata gini rasanya ditolak," kekeh Cicil, tapi demi apapun Cicil tidak merasa sakit sama sekali. Tidak ada rasa sesak, tidak ada rasa apapun. Flat...
Saat Cicil menatap keluar ada seseorang menyapanya seorang lelaki.
"Boleh saya duduk disini ?"
Cicil menatap lelaki blesteran tersebut dari atas sampai bawah, biasanya Cicil pasti akan mengiyakan ajakan lelaki tersebut dan berakhir dikamar hotel miliknya atau milik lelaki tersebut. Tapi, entah kenapa tiba-tiba ada kalimat yang berputar dikepala Cicil.
"Tutup tubuhmu, harga dirimu adalah tubuhmu. Setersiksanya dan sekesepian hati dan pikiran kamu, jangan pernah gadaikan tubuhmu"
"Riki..."
"Pardon, my name is Albert," ujar Albert pada Cicil.
Cicil menatap Albert sambil tersenyum manis, "Aku tau, tapi maaf aku sibuk. Permisi."
Dengan cepat Cicil pergi meninggalkan Albert yang menatap Cicil dengan bingung.
•••
Saat ini Cicil sedang berada di restoran terkenal di Jakarta, Cicil akan bertemu Laura, seorang kamus berjalan, informan handal untuk mencari orang dikalangan kelas atas.
"Hai, Laura, aku butuh bantuan kamu," ujar Cicil sambil memeluk Laura kemudian duduk disamping temannya.
__ADS_1
"Haduh, bantuan apa ? Kamu udah punya segalanya, butuh apa lagi ?" tanya Laura bingung dengan keinginan temannya ini.
"Aku mau kamu nyari orang," ujar Cicil sambil menatap Laura dengan pandangan memohon.
"Siapa ? Kalau pacar Juan saat ini aku ngak mau ikut campur, bisa dicambuk sama Bokap gue, kalau bikin perkara sama keluarga mereka," tolak Laura, demi apapun dia masih ingin hidup bergelimang harta.
Cicil tersenyum kecil, power keluarga Juan memang beda. "Bukan, aku ngak ada urusan lagi sama Juan."
"Yah, terus ? Aku ngak mau nasibnya sama kaya Becca, yah. Dia sekarang di Kalimantan buat siap-siap nikah sama ngak tau sapalah," ujar Laura.
"Ngak usah ngomongin, Becca deh," ujar Cicil merasa sedikit bersalah karena rencananya Becca harus pulang ke Kalimantan dan menikah entah dengan siapa.
"Terus kamu mau nyari siapa ?" tanya Laura bingung.
"Riki Trina, namanya Riki Trina.." ujar Cicil sambil menatap Laura.
"Hah.. siapa ? Ngak kenal, pengusaha baru ?" tanya Laura bingung.
"Ngak tau, aku cuman tau namanya Riki Trina," ujar Cicil.
"Lo, sangka yang namanya Riki di dunia cuman dia doang, photonya ada ?" tanya Laura berharap Cicil memiliki photo lelaki bernama Riki.
"Ngak, punya."
"Terus gimana caranya aku temuin," ujar Laura bingung.
"Come on, lo tuh orang paling tau segalanya, come on, Laura please."
"Lo gila... mana gue tau kalau ngak ada photonya," ujar Laura sambil memijat dahinya.
"BIRKIN HERMES PINK."
"Hah..."
"Birkin Hermes 35 Matte Crocodile Pink, punya aku..."
"Iya kenapa, mau sombong karena aku ngak dapet dan kamu punya dua biji ?" ujar Laura kesal.
"Aku kasih punya aku, free. Tapi, kamu harus cari sampai ketemu orang yang namanya Riki Trina," ujar Cicil sambil menatap Laura.
"Are you sure ?"
"Yes.."
"Oke, Deal..." ujar Laura sambil memeluk Cicil.
•••
Mbak Cicil, sini kaka gallon kasih taulah siapa Riki Trina tapi Birkin nya buat kaka gallon, lumayan buat ke pasar 🤣🤣🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1