
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Iis, tolong bawain ini keluar,” ujar Taca sambil menyerahkan nampan berisikan air mineral cup.
“Iya,” jawab Iis riang sambil mengambil nampan tersebut.
Iis dengan lincah membagi-bagikan air mineral pada para tamu yang datang ke acara tujuh bulanan Taca. Saat ini mereka ada di Citeko. Rumah Abah sudah penuh dengan orang-orang yang diundang.
Taca tampak cantik menggunakan pakaian berwarna coklat muda. Perutnya terlihat lebih besar. Tapi, tidak sebesar perut Taca saat hamil sikembar.
“Iis, kamu kapan hamil?” tanya Rina sambil mengusap perutnya yang sedang mengandung lima bulan.
Iis hanya bisa tersenyum manis mendengar perkataan Rina, sudah dari kemarin Rina dan Ibu-Ibu satu kampung menanyakan pertanyaan yang sama pada dirinya.
KAPAN HAMIL?
Astaga rasanya ingin Iis membalas, kalau Ibu kapan matinya? Tapi, untungnya Iis masih sabar, hingga Iis hanya menjawab dengan senyuman terbaiknya.
“Iis, punya anak tuh jangan ditunda-tunda. Kamu udah kosong setahun lebih loh. Emang nggak mau punya anak?” tanya Rina lagi sambil mengambil bakwan didepannya.
“Iis, kalau nggak punya anak, nanti suami kamu bisa kabur loh. Nggak takut suami kamu selingkuh?” tanya Ceu Ningsih.
“Ah... atau kamu mandul lagi, kamu punya kanker kaya almarhum Ibu kamu yah, Ibu kamu ‘kan di mandul gara-gara nggak punya anak laki-laki,” ujar Ceu Ningsih lagi sambil menunjuk Iis.
‘Oke... ngajak perang ini Nini sama anaknya’ batin Iis sambil meremas lap yang sedang pegangnya.
“Iis sekarang pelakor makin banyak, kalau kamu nggak ngunci suami kamu pake anak, kamu mau ngunci pake apa?” Rina menggurui Iis, Rina tampak paling vokal mempertanyakan kenapa Iis tidak hamil, padahal dirinya saja baru hamil saat ini. Iya, Rina kosong hampir 2 tahun.
“Mana suami kamu ganteng sama kaya, nggak takut?” cecar Ceu Ningsih.
Sepertinya Iis benar-benar harus banyak doa, ini akan menjadi sarapannya disetiap ada pertemuan dengan siapapun. Seumur hidupnya...!?
“Kayanya kamu mandul deh kaya almarhum Ibu kamu,” tebak Rina.
“Rin, kamu kalau ngomong nggak pernah di jaga yah,” ujar Iis sambil menatapa Rina kesal.
“Aduh, bener dong kamu mandul...!?” pekik Rina sambil terkekeh merasa menang dan menatap Ibu-ibu yang ada disana.
“Ri....”
“Kenapa ini?” tanya Juan yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Iis.
“Ah, nggak ada apa-apa. Cuman ngasih tau Iis aja, kalau sekarang banyak pelakor. Jadi, Iis harus punya anak buat kebahagian kamu juga ‘kan,” ujar Rina diplomatis.
Juan hanya bisa tersenyum, ini yang akan didengar istrinya sampai mati. “Aku yang minta, Iis nggak hamil dulu. Karena, aku belum puas makan dia,” ujar Juan sambil tersenyum seganteng mungkin dan menarik Iis untuk berlalu dari sana.
“Mas, nanti kamu di omongin yang aneh-aneh sama mereka,” bisik Iis.
“Kaya apa?” tanya Juan.
__ADS_1
“Nanti kamu digosipin nafsuan atau kaya Adipati di kenal sama sebutan bule mesum, mau kamu?” tanya Iis lagi.
Juan terkekeh kemudian berbisik pelan di telinga Iis, “Lah, emang aku nafsuan, Yang. Lupa tadi pagi kita ngapain?”
Makjan, dengan cepat wajah Iis langsung memerah mendengar perkataan Juan, dengan cepat Iis menyubit perut Juan.
“Aw... sakit ih,” ujar Juan.
Rina dan Ibu-Ibu Citeko hanya bisa terdiam dan membulatkan matanya mendengar dan melihat kelakuan Juan. Mereka tidak menyangka mendapatkan perkataan se-vulgar itu dari seorang lelaki ganteng bernama Juan Wijaya.
Gosip langsung menyebar dengan cepat, kalau Juan suami Iis adalah lelaki yang ‘nafsuan’. Sampai-sampai Iis dilarang hamil.
•••
Acara berlangsung lancar, Iis dan Juan sudah ada didalam mobil untuk kembali pulang ke Jakarta. Juan menolak untuk tinggal di Citeko, dia jengah mendengar Rina dan Kawan-kawan yang hobi banget ngomongkn kehidupan pernikahannya dengan Iis.
“Itu Rina, emang bibirnya nggak bisa disekolahin gitu?” tanya Juan.
Iis yang sedang mencari barang didalam tasnya langsung menghentikan gerakannya kemudian menatap Juan.
“Mau disekolahin kemana, Mas. Sekolahnya juga langsung stress kalau punya murid bentukkannya kaya bibir si Rina,” kekeh Iis sambil mengusap paha Juan pelan.
“Aduh... nggak diusap juga, Yang,” ujar Juan sambil terkekeh. Iis yang melihat Juan yang tersenyum langsung terlintas ide jahil. Dengan cepat Iis menggosok-gosok tangannya di paha Juan dengan gerakan asal dan cepat.
“Yang, yang bener, bisa loncat ini,” ujar Juan sambil menangkap tangan Iis.
“Hahahaa... abis kamu tuh, pikirannya nggak jelas,” ujar Iis lagi.
Juan langsung menciumi tangan Iis dengan lembut. “Yang, kamu beneran ikhlas nggak punya anak?”
“Aku punya anak kok,” jawab Iis.
“Mana? Gimana caranya? Kapan kamu hamilnya? Jangan ngaco, sapa yang hamilin kamu?” cerocos Juan gemas sambil memelototkan matanya kepada Iis.
Iis ngakak melihat ekspressi Juan, “Ini anaknya, gede banget. Uzur pula, tapi manjanya ngalahin bayi,” ujar Iis sambil mengelus pipi Juan.
“Hahaaa... bayi kaya aku tuh enak, Yang. Dikasih susu doang,” ujar Juan.
“Wah, anak saya nyusunya jago loh Pak, tiap malem ampe pusing kepala saya,” kekeh Iis, bercanda dengan Juan sudah menjadi makanan sehari-harinya.
“Malem ini juga mau nyusu lagi,kok,” canda Juan yang langsung mendapatkan tepukkan pelan dipahanya.
“Ngaco.”
“Yang, aku beneran nanya ini, kamu ikhlas kalau nggak punya anak?” tanya Juan lagi dengan ekspresi wajah seserius mungkin.
“Ikhlas, aku bilang aku ikhlas. Aku mau berdua aja sama kamu. Menua bersama,” ujar Iis sambil tersenyum.
Juan tiba-tiba memasukkan mobilnya ke rest area dan memarkirkannya.
“Ngapain, Mas. Mas mau pipis?” tanya Iis sambil melihat Juan.
“Mas, mau ngomong,” ujar Juan sambil menatap Iis kemudian mengusap pipinya.
__ADS_1
“Ngomong apa? Ngomong di apartemen aja,” ujar Iis sambil mengusapkan pipinya ke tangan Juan. Juan benar-benar suka dengan perlakukan Iis pada dirinya, hal kecil namun ngangenin.
“Aku mau ngomong sekarang.”
“Ya udah mau ngomong apa?” tanya Iis.
“Karena kamu udah ikhlas aku mau bilang aku yang nggak ikhlas,” ujar Juan.
Perkataan Juan mengagetkan Iis, maksudnya apa dia nggak ikhlas. Pikiran buruk langsung bergemuruh di pikiran Iis. “Kamu mau ceraiin aku?”
“Hah, nggak. Sinting apa aku nyerein kamu, nyari yang bentukkannya kaya kamu dimana lagi?” Juan langsung menjawab pertanyaan Iis cepat.
“Yah, abisnya kamu bilang gitu, akukan langsung takut mau di cerein,” ujar Iis sambil mengerucutkan bibirnya.
“Bukan itu, aku mau periksa, Yang.”
“Periksa?”
“Iya, aku mau periksa lagi, aku mau tau tentang keadaan diri aku. Apa aku sehat atau nggak, baik atau nggak. Aku mau periksa lagi ke dokter kesuburan. Tapi, kamu ikut yah, aku mohon,” ujar Juan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya dan memberikan ekspressi yang membuat Iis tertawa.
“Kamu yakin?” tanya Iis lagi.
“Yakin, seyakin-yakinnya,” ujar Juan sambil tersenyum.
“Ya udah, aku bakal temenin kamu dan aku janji, apapun hasilnya aku nggak bakal ningalin kamu lagi. Ampun aku Mas, nggak mau lagi aku ningalin kamu, kapok aku kapok,” ujar Iis sambil memeluk Juan dan menyusupkan kepalanya keleher Juan.
“Yang, kaca jendela gelap loh, mau nyobain di mobil?” tanya Juan.
Iis langsung melepaskan pelukkannya dan dengan cepat memukul paha Juan dengan sangat keras.
“Mamih,” jerit Juan sambil mengelus pahanya.
“Pulang kerumah sekarang, sempit dimobil nggak enak,” jawab Iis ngasal.
“Nggak enak gimana? Kan belum pernah dicoba,” rayu Juan.
“Nggak mau, aku mau nyobain gaya cicak salto, nggak muat kalau disini,” ujar Iis ngasal.
Tawa Juan meledak saat mendengar perkataan Iis, astaga gaya cicak salto yang di ucapkan Iis saat di onsen kemarin masih saja diingat oleh Iis.
“Ya udah, dirumah aja. Sekalian kita lakuin gaya badak akrobat,” kekeh Juan.
Iis langsung terkekeh saat mendengar perkataan Juan, sepertinya lelucon Juan dan Iis sudah benar-benar sejalan. Iis benar-benar sudah berbahagia dan selalu bersyukur mendapatkan suami seperti Juan.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon