
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
30 menit sebelum Iis dan Taca datang.
"Kenapa lo?"tanya Adipati kesal melihat Juan yang tidak bisa diam dari tadi.
"Gue grogi..."
"Oh gue sangka mau kekamar mandi, kalau mau pipis tuh dipojokan sana,"tunjuk Adipati menunjuk pepohonan.
Bug...
Juan menyikut Adipati kesal, "Jangan gila lo, yang ada ntar 'ade' gue di kerumunin semut,"ujar Juan kesal.
Adipati hanya bisa meringis saja mendapatkan sikutan maut Juan.
Saat sedang berbincang Pak Karto mendatangi Juan dan Adipati. "Wah, saya bahagia loh, selalu diminta jadi penghulu di acara kalian ini,"ujar Pak Karto sambil menyambut tangan Adipati dan Juan.
"Iya, masalahnya penghulu sableng cuman Pak Karto doang,"jawab Adipati sambil menunjukkan gigi putihnya.
"Wah, Pak Adipati ini bisa aja,"ujar Pak Karto malu-malu.
"Nak, Juan.." tiba-tiba Ayah datang sambil membawa sebuah kartu yang bertuliskan mahar yang akan diberikan Juan pada Iis.
"Iya.."jawab Juan pendek, entah mengapa dia tidak terlalu suka berhubungan dengan Ayah Iis. Dia lebih suka berhubungan dengan Abah, walau Abah saat ini sedang merayu Mamih di kursi tamu.
"Ini beneran, maharnya?"tanya Ayah tidak percaya.
"Iya, beneran. Kan saya udah bilang, mulai saat ini, Ayah ngak usah mikirin Iis lagi, saya yang jaga Iis. Udah Ayah adem-adem aja deh ngurus keluarga Ayah, Iis biar saya yang urus,"ujar Juan sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Ayah hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti keinginan Juan. "Baiklah kalau begitu, Ayah permisi dulu,"ujar Ayah sambil pergi berjalan ketempat duduknya.
Pak Karto pun kembali duduk ditempatnya, bersiap dengan jas terbaik miliknya. Ada Abah yang entah mengapa malah terus ngobrol dengan Mamih Juan, membuat Papih Juan mengerucutkan bibirnya sepanjang waktu.
"Bentar lagi loe punya istri, Ju."
"Iya, akhirnya nikah juga gue, nikah sama mojang Citeko,"ujar Juan sambil menahan tawanya.
"Inget Ju, udah nikah sarung buat 'ade' lo cuman satu,"canda Adipati.
Juan terkekeh mendengarkan candaan vulgar Adipati, si somplak ini memang kadang menyebalkan. Tapi, Juan tetap sayang sahabatnya ini.
"Ngak papa cuman satu, yang buka segelnya juga cuman gue doang,"kekeh Juan.
Adipati hanya bisa tertawa kecil mendengarkan jawaban yang nyeleneh dari sahabatnya ini.
"So.. are you ready?" tanya Adipati
(Jadi, kamu siap?)
"Absolutely,"jawab Juan mantap.
__ADS_1
•••
"Astaga..."hanya kata-kata itu yang meloncat dari bibir Iis saat Taca membuka penutup matanya. Tangannya langsung menyentuh bibirnya. Kaget,senang,bahagia,bingung dan tidak percaya bercampur menjadi satu didadanya.
(Nungnung waterfall bali)
Astaga pernikahan macam apa yang di buat ditempat seindah ini. Juan memang penuh kejutan, tidak pernah terbayangkan di pikiran Iis kalau dia akan menikah di samping air terjun..!!!
Suara air terdengar sangat jelas dikuping Iis, deburan suara Air terjun, wangi tanah dan daun yang basah dan ditambah permainna. Suara biola menambah kesan romantis.
Rasanya Iis ingin menangis melihat ini semuanya, "Ta...ini..."
"Indahkan, aku ampe kaget pas Juan bilang mau nikah di air terjun,"potong Taca sambil membimbing Iis untuk berjalan ketempat dimana Iis seharusnya berdiri.
"Juan itu gila, Ta..."
"Iya, lelaki gila yang romantis, bersyukur kita berdua dapet mantan bangsul, somplak dan romantis seperti Juan dan Adipati,"ujar Taca sambil tersenyum manis pada Iis.
Iis hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Iis langsung melihat kelopak bunga mawar di bawah kakinya. Tiba-tiba ada seorang Mbak-mbak WO mendekati Taca dan Iis.
"Mbak udah siap? Diganti dulu sepatunya yah,"ujar WO tersebut sambil membuka sepatu Iis dan menggantinya dengan selop cantik.
"Mbak nanti kalau denger lagu langsung maju aja yah, maju ke arah Masnya, bareng sama Mbak Taca juga yah,"pegawai WO itu memberikan intruksi pada Taca dan Iis.
"Oke..."
"Iis, finally,"bisik Taca.
"Finally.."jawab Iis sambil tersenyum pada Taca. Tiba-tiba terdengar suara alunan biola mengetuk gendang telinga Iis. Entah dari mana Caca berdiri dihadapan Iis sambil membawa keranjang berisikan bunga mawar.
"Caca..."
"Aunty, aunty sekalang sama uncle Huang...!"ujar Caca sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengembungkan pipinya membuat Iis tersenyum lebar melihat Caca.
"Iya sama uncle Huang yang suka Haum..."ujar Iis sambil mengaum didepan Caca.
Caca langsung menepuk kedua tangannya, matanya langsung bersinar senang, sebenarnya didalam hati Caca, dia tidak peduli dengan siapa Iis menikah. Yang penting saat ini Caca bisa memiliki Aunty sebaik Iis.
"Mbak, silahkan maju.."ujar pegawai WO. Iis menurut kemudian berjalan mendekati meja didekat air terjun. Iis sebenarnya penasaran bagaimana caranya meja dan kursi-kuris tamu di sana bisa ada disana, tapi sudahlah biarkan WO yang mengurus semuanya.
Dilihatnya kanan dan kirinya sudah ada Abah, Kang Rozak, Aa Riki, Cicil, Rina, Ceu Ningsih dan beberapa teman dari kantornya yang sudah duduk manis sambil menatap Iis dengan tatapan bahagia.
Iis terus berjalan kemudian duduk disamping Juan yang sudah dengan gagahnya menggunakan jas berwarna biru dongker dari brand Karl Lagerfeld. Ah..bayi besarnya ini terlihat sangat tampan saat ini.
"Yang, kamu sempurna,"bisik Juan sambil mengedipkan matanya pada Iis. Iis hanya bisa tersenyum malu saat mendengar perkataan Juan.
"Oke sudah siap, mari kita mulai acaranya,"ujar Pak Karto. Prosesipun dimulai dengan khidmat, suara gemericik air terjun menambah perasaan bahagia di hati Iis. Rasanya saat ini Iis benar-benar bahagia.
Beberapa kali Iis melihat Ayah menahan air matanya dan mengusap Air matanya dengan menggunakan punggung tangannya. Entah kenapa Iis pun ingin menangis melihat Ayahnya.
__ADS_1
Prosesi ijab kabul pun akan dimulai, Ayah langsung menjabat tangan Juan, Ayah langsung mengambil mic yang ada didepannya.
"Bismillahirrohmanirrohim, ya Juan Wijaya bin Kevin Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan putri kandung saya Lizbet Sandia kepada ananda dengan mas kawin berupa.."
Ayah memberi jeda pada saat mengatakan mas kawin yang akan Juan berikan pada Iis. Iis hanya diam, bungkam. Sampai detik ini dia tidak tau apa mas kawin yang akan di berikan Juan pada dirinya. Iis akan menerima apapun yang Juan berikan, Apapun, walau hanya ucapan Bismillah sekalipun.
"5 buah mobil Toyota Avanza, 5% saham Toyota atas nama Lizbet Sandia, perhiasan emas, dan..."
Entah kenapa Ayah seperti menahan tangisnya saat akan mengatakan mahar terakhir yang akan diberikan Juan pada Iis. Iis menatap Ayahnya bingung, kenapa Ayahnya sampai memberikan jeda sebentar.
"Sebuah kos-kosan yang berada di desa Citeko seluas 1200meter yang telah dibalik nama dari Tia Sandia menjadi Lizbet Sandia dibayar, tunai."
Deg...
Iis yang tadinya hanya menunduk langsung mengalihkan pandangannya ke arah Juan, napas Iis tercekat, air mata Iis jebol, Iis terisak dengan sangat jelas. Tuhan... Juan membeli kosan ibunya, Juan menjadikan itu maharnya. Astaga tuhan terima kasih. Iis menutup mulutnya dengan tangan Kirinya berjuang untuk tidak menangis histeris.
Jantungnya berdetak dengan cepat, rasa haru menyelimuti dirinya. Manis sekali bayi besarnya ini. Astaga Iis benar-benar tidak mengerti lagi akan berkah yang dia terima. Terima kasih tuhan.
Juan yang fokus menatap Ayah, tidak sadar dengan keadaan Iis yang hampir menangis histeris. Juan ingin menyelesaikan ijab kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lizbet Sandia binti Apo Sandia dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujar Juan tegas sambil menatap Ayah.
"Sah...!!!" ujar semua orang disana dengan cepat. Beberapa orang mengucapkan alhamdulliah.
"Yang..." ujar Juan sambil melirik Iis.
Iis yang masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan Juan hanya bisa menutup mulutnya dan menahan air matanya yang terus melesak meminta keluar.
"Ayang.. kenapa nagis?" tanya Juan bingung, kenapa Istrinya menangis. Apa Iis menyesal menikah dengan dirinya?
"Mas,Mas... makasih, makasih Mas. Itu mahar terindah buat aku,"isak Iis sambil menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.
Juan hanya tersenyum kemudian memeluk Iis, mulai detik ini, mulai hari ini, tanggung jawab Iis sudah beralih kepundaknya dan Juan siap untuk menjalaninya, apapun yang terjadi.
'Terima kasih tuhan, terima kasih... terima kasih telah memberikan Juan untuk menjadi imamnya.'batin Iis sambil terus menahan tangis bahagianya.
"Jiwaku adalah milikmu dan jiwamu adalah milikku,Lizbet Sandia Wijaya,"bisik Juan.
Iis menatap Juan kemudian tersenyum, "Jangankan Jiwa, waktu, hidup, hati bahkan napasku adalah milik kamu, Mas."
•••
Doneee udah yah nikah tuh. Udah SAH...
Mau apalagi ? Yakin minta 'unboxing' nih, minta yang panas-panas..
hmmm sudah kuduga 🤣🤣.
Oh untuk video ala-ala akadnya seperti biasa ada diinstagram oke, ciaoooo...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon