
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Setelah dari ulang tahun Nenek, Iis terlihat lebih pendiam, kadang Juan seperti bicara dengan angin bila ngobrol dengan Iis. Iis seprti orang kebingungan. Seperti saat ini Iis hanya bisa bengong saat sedang merebus udon.
Juan yang baru pulang dari kantor kaget melihat luapan air dari panci yang ada didepan Iis.
“Ayanggg.... itu airnya meluap..!” ujar Juan panik sambil mematikan kompor dengan cepat.
“Apa.. astaga, maaf-maaf,” Iis panik bukan main, tanpa sadar dia memegang air yang berbuih diatas kompor.
“SAKITTT...!!!” jerit Iis sambil menarik tangannya dengan cepat.
Juan dengan sigap langsung menarik tangan Iis ke sink didapur, dengan cepat dinyalakannya keran air, tangan Iis langsung terguyur air dingin.
“Sakit Mas,” ujar Iis sambil menyembunyikan wajahnya di lengan Juan sambil menahan air matanya.
“Diem disini aku mau ambil Bioplacenton,” perintah Juan sambil berlari kekamar untuk mengambil Bioplacenton dilemari obat.
Iis diam meratapi tangannya, astaga kenapa dia bisa sebodoh ini. Beban pikiran tentang hutang Ayah benar-benar membuat Iis stress. Kepalanya hampir pecah, gimana caranya dia punya 1,7 milyar ? Apakah dia harus ke Gunung Kawi buat lakuin ritual ?!
“Yang... astaga bengong lagi ‘kan. Kamu kenapa sih, udah dua hari ini bengong mulu. Aku ajak ngobrol ngak pernah nyambung. Kamu kenapa ?” tanya Juan kesal dengan perubahan Iis. Mana Iis si cerewet kesayangannya.
“Ngak.. ini sakit,” jawab Iis sekenangnya.
“Bohong banget, kamu pasti mikirin hutang Ayah ‘kan,” Juan sudah lelah melihat Iis seperti orang ling lung. Saatnya Juan menyelesaikan masalahn Iis.
“....”
“Yang...”
Iis menatap Juan sambil mengigit bagian bawah bibirnya, seketika itu juga air matanya mengalir, tangisnya pecah.
“Huaaaaaa.... hutang Ayah makin banyak, gimana ini...!? Aku harus gimana ?” isak Iis bingung.
“Aku nyari uang dimana ? Tadi aku udah itung semuanya, buat nyelamatin kostan milik ibu aku, harta kekayaan aku ngak cukup. Satu-satunya jalan aku harus jual kostan itu. Padahal itu harta Ibu satu-satunya, aku bisa sekolah, kuliah, darmawisata, beli mobil, beli apartemen dari kostan itu. Aku harus gimana, Mas ?” tanya Iis kebingungan sambil terduduk bingung.
Juan ikut duduk dilantai bersama Iis, kemudian mengoles ‘kan Bioplacenton ketelapak tangan Iis yang memerah. Beberapa kali terdengar isakkan Iis. Juan benar-benar menahan amarahnya, andai Iis izinkan mungkin Juan sudah mendatangi Bunda dan Ayah kemudian Juan acak-acak rumahnya.
“Mas..”
“Apa..” Juan lelah dengan masalah Iis, masalah hutang 1,7 milyar aja ribet. Receh menurut Juan 1,7 milyar itu.
“Aku udah itung mobil aku, apartemen, tabungan, perhiasan aku dijual palingan aku cuman punya 950 juta Mas, 750 juta lagi aku nyari dimana yah ?”tanya Iis bingung. Saking hopelessnya Iis benar-benar seperti orang linglung.
“Itu perhiasan kamu semuanya ?”
“Iya, aku ngumpulin perhiasan dari kecil. Aku suka nabung-nabung emas gitu loh. Diajarin sama Ibu aku,” jawab Iis polos
__ADS_1
Juan tersenyum medengar perkataan Iis, Juan harus putar otak untuk bisa membantu Iis. “Tunggu disini.”
Iis menurut, emang dia mau kemana lagi ? Masa dia mau kabur ke rumah Sarah lagi, hah.. Iis diam tidak bergerak sama sekali.
Juan tiba-tiba datang sambil membawa salah satu jam tangan koleksinya. Kemudian memberikannya pada Iis. “Ini buat kamu.”
“Ehhh... buat apaan ?” tanya Iis bingung melihat jam tangan yang diberikan Juan.
“Iyah buat kamu, jadi kan sekarang harta kamu nambahin tuh, jual aja itu jam tangan.” ujar Juan dingin, lebih baik dia kehilangan satu buah jam tangannya daripada dia harus melihat Iis linglung.
“Ini dijual kemana ? Emang ada yang mau beli ?” Iis benar-benar kebingungan, kepalanya pusing dia tidak bisa berpikir jernih.
“Dijual sekarang yah,” ujar Juan sambil mengambil handphonennya kemudian menelepon salah satu temannya.
Iis hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia pasrah, berapa sih emang harga jam tangan Juan ini, ngak bakal bisa deh nutupin hutangnya.
“Hai.. Axton, apa kabar ?” tanya Juan pada kawan lamanya. Juan ingat bahwa Axton sangat menginginkan jam tangan Patek Philipe world time 5131/1P-001 miliknya.
“Ada apaan lo nelpon gue, mau beli pabrik lo ?” gurau Axton, tumben sekali Juan meneleponnya.
“Kagak, ngak bisa gue ngurus pabrik mie,” jawab Juan sambil melihat Jam tangan di tangannya. Sayang sih menjual jam tangan ditangannya itu, tapi demi kewarasan dunia persilatan Juan harus ikhlas.
“Hahahaaa... beneran ada apaan lo nelpon gue? Mau ngasih undangan nikahan? Denger-denger mau nikah,” ujar Axton, Axton mendengar kabar kalau Juan akan menikah dengan seorang wanita dari kalangan biasa.
“Doain aja deh, nanti kalau udah siap semuanya, aku bakal kabarin kamu,” ujar Juan.
“Hahaha.. awas lo ngak ngundang, nanti kadonya gue kasih simpanan mie setahun yah,” canda Axton.
“Axton, lo masih mau jam tangan Patek Philipe world time 5131/1P-001 punya gue ?” ujar Juan.
“Masih lah, gue nyari-nyari yang seri itu susah banget, kenapa mau lo jual ?” antusias Axton, astaga dia benar-benar ingin jam tangan itu.
“Iya, gue mau jual. Besok gue suruh Saka kirim ke rumah loe atau kantor ?”
“Rumah gue..! Gue di Indonesia, besok kirim kerumah gue. Tapi jangan lebih dari jam 10 pagi, gue mau ke Korea masalahnya jam 3 sore.” jawab Axton cepat, dia ingin cepat-cepat memakai jam tangan itu.
“Oke deal, transfer ke rekening bini gue yah, jangan kerekening gue. Sekarang,” ujar Juan sambil mengelus rambut Iis yang masih bingung dengan pembicaraan Juan dengan salah satu temannya.
“Astaga, elo kurang duit apa, ampe ngasih jajan bini loe, pake jual jam segala,” kelakar Axton.
“Hahahahaaa.. bini gue kesel liat jam tangan gue banyak, dia bilang jual salah satunya atau dia lempar semua koleksi jam tangan gue ke sungai...! Jadi mending gue jual ajalah,” dusta Juan pada Axton.
“Hahahaaa... harganya sama kaya yang gue tawarin dulu ‘kan ?” tanya Axton.
“Iye, gue tunggu yah. Oke bye Ax,” ujar Juan sambil memutuskan sambungannya teleponnya.
“Udah, udah dibeli sama temen aku Axton,” ujar Juan tenang sambil memasukkan kembali jam tangan Patek Philipe world time 5131/1P-001 tersebut ketempatnya.
“Axton ?” tanya Iis penasaran, namanya kaya nama hotel di jakarta.
__ADS_1
“Iya Axton,” ujar Juan santai, dia sedang malas menjelaskan siapa Axton salim pada Iis yang sedang ling lung. Rasanya percuma berbicara dengan Iis saat ini.
Tringgg...
Handphone Iis tiba-tiba berbunyi, ada notifikasi uang masuk kedalam tabungannya.
“Apa itu ?” tanya Juan kepo sambil mengambil handphone Iis dan membaca sms yang masuk. Juan tersenyum, Axton benar-benar gerak cepat.
“Udah masuk uangnya ke rekening kamu, udah jangan pusing-pusing lagi,” ujar Juan sambil mencium pucuk rambut Iis kemudian berdiri.
Iis hanya tersenyum, berapa coba harga jam tangan Juan, diliat dari bentuk dan merknya yang belum pernah Iis dengar namanya, mungkin Iis bisa mendapatkan tambahan 50 jutaan, ha.. harus cari dimana 700 juta lagi tuhan..!!!
Iis langsung melihat sms dihandphonennya, matanya membulat sempurna saat menghitung jumlah uang yang ditransfer dari rekening bernama Axton Salim. Iis menghitung kembali angka nol di handphonenya. INI NGAK SALAH ?!
“MASSS...!!!”
Iis berteriak sambil berlari kekamar mengejar Juan. Iis mendapati Juan yang sedang membuka kemejanya bersiap untuk mandi.
“Apa, Yang ?” tanya Juan dingin.
“Ini temen kamu ngak kebanyakan transfernya ?” tanya Iis bingung, jam macam apa harganya segitu.
“Ngak, emang harganya segitu. Malah dia dapet murah, karena aku jual cepet. Kenapa, Yang?” tanya Juan sambil mendekati Iis yang masih kaget dengan berapa banyaknya uang yang masuk ke rekeningnya.
“Jam macam apa itu ?”
“Hahahaa... kalau Ibu kamu nyuruh kamu investasi di emas ‘kan. Nah aku sama Papih disuruh investasi di jam tangan. Nah, kamu kan ngak mau aku bayarin hutang Ayah kamu, jadi aku kasih jam tangan aku, trus aku jualin. Uangnya bisa buat kamu ‘kan. Win win solution,” jawab Juan tenang.
“TAPI MAS...”
“Kenapa ?” tanya Juan lagi.
“JAM TANGAN MACAM APA YANG HARGANYA 2,3 MILYAR...!!!!!”
“Patek Philipe world time 5131,” jawab Juan santai sambil masuk kekamar mandi meninggalkan Iis yang masih kaget melihat uang 2,3 milyar di tabungannya.
•••
Ada jam tangan segitu harganya Kak gallon ? Adalah search aja hehehe...
Oh 1,7 milyar buat Juan receh, buat kaka gallon mah bisa buat hidup 10 tahun 🤣🤣
Axton Salim adalah direktur indofood (search sendiri deh, siapa Pak Axton Salim ini hehee...)
Semua karakter, visual, tempat, tokoh masyarakat, instansi, kejadian dalam novel ini hanyalah fiksi, novel ini murni karya fiksi dan tidak berhubungan dengan orang, organisasi, lokasi atau kejadian nyata.
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon