
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Saat ini Iis sedang berlari mendorong ranjang rumah sakit bersama tiga orang perawat dari ambulance. Mereka berlari mendorong ranjang rumah sakit dengan cepat.
Iis hampir terseok dan terjatuh saat mendorong ranjang rumah sakit, high heels yang dipakainya benar-benar menyulitkan Iis berlari, ditambah rok span selutut benar-benar memersempit ruang geraknya.
“Aduh,” Iis terjatuh dan tertinggal dengan rombongan.
“Iis,” Taca dengan cepat berjongkok disebelah Iis.
“Sakit, Ta....” ujar Iis linglung sambil membuka kedua sepatunya dan menatap Taca dengan mata yang sudah banjir dengan air mata.
“Iya, Iis. Ayo bangun, yuk... ayo bangun, Juan butuhin kamu,” bujuk Taca sambil mengambil sepatu Heels Iis kemudian memberikan sandal yang di gunakannya untuk Iis.
Iis dengan patuh menggunakan sandal Taca, sambil mengusap air matanya dengan cepat, dihirupnya udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya.
“Ayo Iis, ayo....”
Taca langsung membantu Iis untuk berdiri, walau Taca mungil dan sedang hamil. Tapi, Taca cukup kuat untuk membantu Iis.
“Ayo Is, Juan butuh kamu,” ujar Taca lagi sambil menggunakan sepatu Iis, untungnya nomer sepatu mereka sama.
“Aku, aku...”
“Iis, kamu harus sama Juan, nanti dokter bakal minta obat yang dipake Juan dan bakal nanya semua identitas Juan. Bilang aja dia Juan Wijaya anaknya Kevin Wijaya. Ini rumah sakit punya keluarganya,” ujar Adipati sambil memapah Taca dengan khawatir apalagi melihat Taca menggunakan sepatu 5 cm.
“Aku kesana dulu,” ujar Iis sambil berlari mengejar rombongan yang tadi mendorong Juan.
“Amore, kenapa kamu pake sepatu Iis? Nanti kamu jatoh,” ujar Adipati sambil merangkul Taca.
“Nggak papa, Di. Aku udah lama juga nggak pake heels, kan kamu yang bilang aku sexy kalau pake heels,” canda Taca sambil berjalan disamping Adipati.
“Iya, emang. Tapi nggak lagi hamil juga, Amore. Jantungan aku yang ada,” ujar Adipati lagi.
“Nggak papa, ini cuma...”
Taca menghentikan perkataannya saat merasa tubuhnya digendong Adipati dengan gaya bridal.
“Lebih baik gini, aku nggak mau jantungan liat kamu lagi hamil pake heels,” ujar Adipati sambil berjalan.
“Iya, enak gini. Nggak capek, Di,” ujar Taca lembut.
Adipati hanya tersenyum dan berjalan terus mengejar Iis dan rombongannya. Beberapa orang melihat mereka sambil berbisik-bisik.
“Ya ampun itu Papihnya sayang banget sama anaknya, sampe digendong segala.”
“Aduh, Papih idaman banget. Beruntung yang jadi istrinya. Anaknya aja digendong apalagi istrinya.”
__ADS_1
“Anaknya imut banget yah, cantik. Bapaknya aja ganteng.”
Taca yang mendengar bisik-bisik disekitarnya hanya bisa menahan tawanya. Sambil melihat Adipati yang sudah menunjukkan raut kesal.
“Papa, nanti aku minta es cream, yah,” ledek Taca.
Adipati langsung menatap Taca dengan tatapan kesal, “Sumpah yah, kalau nggak lagi buru-buru buat nolongin si semprul Juan, udah aku makan itu orang-orang,” ujar Adipati sambil terus berjalan cepat.
“Papa jangan marah, nanti mama marah,” kekeh Taca.
“Amore, jangan nyebelin deh,” pinta Adipati sambil terus berjalan.
Taca hanya bisa mendengus, sambil menahan tawanya melihat raut wajah suaminya yang sudah tidak karu-karuan karena mendengar perkataan ibu-ibu yang ada disana.
•••
“Dok, suami saya?” tanya Iis pada Dokter dihadapannya.
“Tenang Bu Lizbet, biar kami yang tanganin yah.” ujar Dokter Tria sambil menyuruh suster untuk menenangkan Iis.
“Bu Lizbet mari ikut saya keluar, biar kami yang tangani Pak Juan,” ujar Suster tersebut sambil mengajak Iis keluar dari ruang UGD.
“Tapi, suami saya. Suami saya, Sus. Ini hari ulang tahunnya, Sus...” rengek Iis sambil menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya.
Suster hanya bisa tersenyum miris saat mendengar perkataan Iis. Overdosis dihari ulang tahun? Wah itu bukan suatu pilihan yang baik.
“Bu, tenang yah. Dokter Tria sedang melakukan usaha terbaiknya, Ibu bisa duduk disini, dari sini Ibu bisa mendengar semuanya,” ujar Suster tersebut sambil meminta Iis duduk.
“Semuanya akan baik-baik saja, lebih baik Ibu tenang dan berdoa dengan tulus,” ujar Suster itu sambil menatap Iis.
Iis langsung menahan napasnya, tangannya langsung membentuk posisi berdoa, dengan cepat dia berdoa pada tuhan dengan tulus.
“Ya tuhan, aku mohon selamatkan Mas Juan, jangan ijinkan dia pergi. Aku mohon, tuhan. Aku... aku... aku nerima Mas Juan walau mandul, aku mau dia bangun,” isak Iis keras, napasnya tersenggal-senggal saking kerasnya Iis menangis dan memohon pada Tuhan.
“Bangun, Mas....”
Iis menatap keadaan Juan, tampak beberapa suster berjalan hilir mudik, dengan cepat dihadapannya. Tiba-tiba keadaan diruangan Juan menjadi lebih sibuk. Iis melihat Dokter Tria memberikan instruksi pada suster.
“Iis...” panggil Taca yang sudah turun dari gendongan Adipati.
“Ta... Mas Juan, Ta. Gimana kalau Mas Juan ninggalin Aku?” tanya Iis sambil memeluk Taca.
Taca hanya bisa diam saat mendengar perkataan Iis, Taca sama sekali tidak mampu berkata apapun.
“Ta... aku harus gimana? Aku bakal sendirian di dunia ini,” ujar Iis lagi sambil menghentakkan kakinya ke lantai rumah sakit saking frustasinya.
“Ada aku Iis,” ujar Taca lirih.
Iis hanya bisa terisak sambil mengigit bibir bagian bawahnya. Iis benar-benar sudah tidak mampu berpikir apapun juga. Di otaknya saat ini adalah Juan sadar.
‘Tuhan aku mohon, aku mohon sadarkan Juan. Aku mohon tuhan,” Iis berdoa dengan tulus dan khusuk. Berharap Tuhan mau berpihak pada dirinya.
__ADS_1
“Code blue..!?” ujar Dokter Tria pada suster. Mendengar perkataan suster tersebut suster langsunh berlari keluar ruangan untuk mencari bantuan.
Iis dan Taca yang tau arti dari code blue (kode yang diberikan oleh petugas medis saat terjadi kondisi darurat medis yang berpotensi mengancam nyawa pasien) langsung menghela napasnya. Taca langsung memeluk Iis dengan erat, sedangkan Iis menangis meraung didada Taca, meratapi nasibnya. Apakah dia akan menjadi janda? Secepat ini kah, kebahagiaan rumah tangganya?
Beberapa orang langsung berlarian menghampiri Dokter Tria, dengan cepat seorang suster menutup tirai untuk menutupi pandangan Iis dengan apa yang terjadi pada Juan.
“Sus....”
“Kami, sedang berusaha sebaik mungkin, Bu,” ujar Suster tersebut pada Taca dan Iis.
“Ta...” isak Iis sambil meremas roknya.
“Sabar yah, Is,” ujar Taca sambil mengusap-usap bahu Iis yang bergetar hebat, karena Iis menangis dengan sangat keras.
Adipati yang sudah menghubungi Papih dan Mamih Juan, menatap Taca dengan tatapan ‘Ada-apa’
“Code blue,” bisik Taca sepelan mungkin agar Iis tidak mendengarnya.
Kaki Adipati langsung lemas saat mendengar perkataan Taca, astaga si semprul sialan itu mau pergi? Adipati langsung terduduk disamping Taca, kedua tangannya langsung menopang kepalanya. Tampa sadar air mata Adipati menetes.
“Bangun, Bro. Lo bilang mati idup kita barengan, Bro. Lo bilang lo kagak akan mati gara-gara hal konyol..!” bisik Adipati sambil menggenggam kedua tangannya dengan erat.
“Kalau lo mati sekarang, berarti lo mati konyol,Bro. Nggak gini cara mati seorang Juan wijaya,” ujar Adipati lagi sambil mengusap kepalanya kesal.
“Di, kita doa yah,” ujar Taca sambil mengusap paha Adipati lembut. Dengan cepat Adipati menggenggam tangan Taca dan menganggukan kepalanya.
Tit... Tit... Tit... Titttttttttttt
“CPR... napas terhenti...” terdengar suara Dokter Tria dengan jelas ditelinga Iis. “CPR SEKARANG...!?”
*CPR (Cardiopulmanory Resuscitation/pemberian napas buatan)
“CPR...!?” terdengar lagi suara Dokter Tria.
“Mas Juan... Mas Juan... Mas Juan... maaf, maaf Mas. Maaf,” isak Iis sambil melepaskan pelukkannya dari Taca kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Iis menangis makin keras, sudahlah Iis pasrah. Mungkin, ini nasibnya. Mungkin Tuhan sedang ingin mengubah statusnya. Menjadi seorang Janda, dihari ulang tahun suaminya.
•••
-Mau mendengarkan doa-doa paling tulus? Pergilah kerumah sakit. Lebih banyak doa tulus yang didengar tembok rumah sakit daripada tembok rumah ibadah-
-Jiemi Ardian-
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon