
BRUKKK BRUKKK BRUKKK BRUKKK..
"BANGUNNNN...!!! BANGUNNNNNN...!!! BANGUNN BAHLUL, COWO BANGSUL...! BANGUN...!!!"
Juan merasakan pukulan bantal ditubuhnya, dengan cepat dia melindungi dirinya, matanya yang dipaksa terbuka berjuang untuk beradaptasi dengan sinar diruangan itu.
"AYANG....!!"
"AYANG...AYANG...PALA LOE PEANG...!!!" teriak Iis kesal sambil terus memukuli Juan dengan bantal.
"Ayang sakit, sakit Yang. Astaga Sayang sakit." ujar Juan sambil berdiri dari kasurnya kemudian mencoba mengambil bantal dari Iis, Juan langsung memeluk Iis, Iis berontak dengan keras tangannya terus menerus memukul Juan dengan bantal.
Juan yang kebingungan langsung memegang kedua pipi Iis, dengan cepat mencium bibir Iis. Iis yang kaget langsung mencoba mendorong Juan, tapi usahanya tidak berhasil, yang ada Juan terus mencium Iis, meminta Iis membuka bibirnya kemudian menjelajah mulut Iis.
"Yang, tenang...!" pinta Juan setelah mencium Iis.
Iis diam menatap Juan dengan tatapan tajam, Iis memicingkan matanya, entah setan dari mana yang terlintas dipikirannya, Iis langsung mendorong tubuh Juan kemudian mencium Juan, mengesap bibir bawah Juan dengan gemas, membelitkan lidahnya dengan lidah Juan.
Juan yang tadinya panik langsung menikmati ciuman Iis, tangannya mengusap punggung Iis. Tapi...
"Aduh, Sayang kenapa bibir aku digigit..!" jerit Juan kaget.
"Sukurin dasar bangsul..!"
Juan mengusap bibir bawahnya, Iis menggigit bibir bagian bawahnya tidak keras, namun cukup membuat bibir bawah Juan jontor.
"Siapa yang bangsul, Yang ?"
"Kamu lah, ngapain si Cicil prikitilkitil itu nyium kamu, seneng hah dicium Cicil ? Seneng, happy bahagia, Hah...hah...!!" bentak Iis sambil mengambil bantal kemudian memukul Juan dengan keras.
"Oke... udah, udah. Sini bantalnya...siniin cepet...!" Juan mengambil bantal dari tangan Iis kemudian melemparkannya kesembarang arah.
"Denger, aku ngak tau kenapa Cicil ke sini, aku ngak tau. Aku berani sumpah demi apapun, aku ngak suka sama dia, aku udah ngak hubungin dia sekitar 8 bulan."
"Bohong...!" ujar Iis kesal sambil mencari-cari bantal disekitarnya untuk memukul Juan.
"Astaga cek handphone aku, cek semua email aku, tanya Saka...!!! Cek semuanya," Juan memeluk Iis yang masih kesal. "Cek Cctv apartemen ini...!!"
Iis terdiam, tangisnya tiba-tiba pecah. "Jangan gini lagi, please. Ju.. jangan gini lagi, aku ngak sangup. Mending kamu ngapain kek, jangan gini lagi...!! Aku bukan Ibu aku, aku ngak sekuat Ibu, Ju, huhuhuhuuu."
Juan diam, rasa bersalah bergemuruh didadanya. Juan tidak menyangka apa yang dibicarakan oleh Ayah Iis benar, Iis benar-benar cemburuan.
"Maaf sayang, maaf. Please percaya sama aku. Aku ngak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Dia masa lalu aku, kamu...kamu masa depan aku," Juan menatap Iis sambil mencium kedua mata Iis lembut.
"Kalau kamu selingkuh mending kamu bawa pisau, kamu tusuk aja aku, bunuh aja, Ju. Aku ngak bakal sanggup kalau kamu selingkuh. Huhuhuhuuu..." air mata Iis keluar lebih deras lagi.
__ADS_1
"Mending kamu bunuh aku, Ju... bunuh aja," isak Iis makin keras sambil memukuli dada Juan. Pikiran Iis kembali kemasa-masa kelamnya. Masa-masa dimana Ibunya menangis histeris tiap malam, masa-masa dimana Ayahnya menyiksa Ibunya secara psikis. Perih, sakit, dada Iis tiba-tiba sakit. Rasa sesak langsung menyergap Iis.
"Sakit, Ju... ini sakit..." jerit Iis sambil menunjuk-nunjuk dadanya.
"Bunuh aja aku, Ju. Bunuh kalau kamu selingkuh. Bu..huaaahhhh.....!!!" Iis menjerit histeris sambil menarik-narik rambutnya.
"Ayang.. astaga Ayang..." Juan berusaha menenangkan Iis yang histeris, Juan berusaha merengkuh Iis. Rasa menyesal menggorogoti dirinya, setitik air mata mengalir di matanya. "Maaf Yang, maaf..."
Astaga... serapuh inikah hati Iis, sedalam ini traumanya pada lelaki yang berselingkuh. Padahal bukan Iis yang diselingkuhi, tapi Ibunya. Bukan dia yang dimadu tapi Ibunya, tapi trauma benar-benar membekas.
" Aku ngak akan selingkuh, karena aku ngak mau wanita yang aku cintai tersiksa, ngak akan pernah Is... I promise you, Yang," Juan menciumi pucuk kepala Iis terus menerus, menghisap wangi rambut Iis yang sangat dia sukai.
Iis diam, didalam hatinya dia memegang suatu janji. Janji dari lelaki yang dia cintai, janji dari calon imannya. Janji yang akan disimpannya sampai mati.
•••
Iis tertidur di lengan Juan, perjalanan dari Citeko mengunakan angkutan umum menguras tenaga Iis.
Juan diam melihat wajah Iis, napas Iis yang teratur terdengar di telinganya, disentuhnya pipi Iis. Sesekali dicium pipi Iis.
"Ju... jam berapa ini ?" tanya Iis yang terbangun karena Juan menciumi pipinya terus menerus.
"Jam 12 siang, Yang. Mau makan ?" tanya Juan pada Iis sambil mencium pipi Iis lagi. Entah kenapa Juan suka sekali menciumi pipi Iis, lembek-lembek gimana
"Mau.."
"Ya udah aku pesen.."
"Yang, boleh gigit ?"
"Hah ?"
"Telinga kamu, pingin aku..." Juan tiba-tiba mengigit telinga Iis.
"Auww..Juan.. Arghhh ngaco kamu, udah ah.. hayu masak..!" pekik Iis sambil mendorong Juan kemudian mengusap kupingnya.
"Tapi..yang aku mau gigit...!"
Iis turun dari kasur kemudian berdiri menghadap Juan, memegang kedua pipi Juan. "Mau gigit ?"
Juan langsung menganggukan kepalanya.
"Mau, semuanya ?" bisik Iis sambil menggigit kuping Juan lembut.
Juan menahan napasnya, celananya langsung sesak melihat kelakuan Iis. "Boleh ?" tanya Juan penuh harap.
"Boleh." bisik Iis lagi sambil mengecup pipi Juan.
"Really," Juan menelan salivanya, mimpinya selama 8 bulan akhirnya terwujud juga. Iis tersenyum sambil mendekat kekuping Juan.
__ADS_1
"Tapi... nikah dulu yah, Ju..." goda Iis sambil mengecup kuping Juan kemudian berjalan meninggalkan Juan.
"Astaga, Yang... celana aku sesak ini..!" maki Juan sambil menghempaskan badannya kekasur, kemudian melirik Iis yang sedang berjalan dengan sensual ke arah pintu.
Iis berhenti di depan pintu, tersenyum. Rencana berhasil rasanya ingin dia salto saat ini, karena berhasil membuat Juan kesal. Iis kemudian menoleh kepada Juan sambil tersenyum jahil, "So... ?".
"IIS ARGHHH...!!!" teriak Juan frustasi.
•••
Iis yang sedang membuat saus bolognes dikejutan seseorang dari belakang, Juan tiba-tiba memeluknya dari belakang kemudian mencium bahu Iis.
"Masak apa ?" tanya Juan.
"Saus bolognes, cobain.." ujar Iis sambil menyodorkan spatula kayunya pada Juan.
Juan mencoba saus bolognes Iis, rasanya lumayan. "Enak, Yang..!" ucap Juan tanpa sadar membuat sausnya tercecer kelantai.
"Argh.. Juan, tumpah ini..." ujar Iis sambil mengambil tissue dan mematikan kompor.
"Sorry, Yang.."
PIP PIP PIP PIP...
Juan dan Iis langsung dalam mode freeze, kebingungan siapa yang datang ke apartemen Juan.
Iis menatap Juan dengan tatapan 'siapa itu?'. Juan hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.
"LOVE... i am home.."
Deg...
Muka Juan berubah pias....
•••
Kalau ada yang nanya kok bisa Iis sampai sebegitunya, bisa kak...
Apalagi, Iis mengalami langsung, kebayang nggak kak dari kecil denger orang tua berantem teriak-teriak, gimana ngak stress...
Ini Juan dan Iis dulu yah... sabar kak...
Selingan hehehee...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon