
“Ayang,” ucap Juan sambil berlari kearah Iis yang sedang menggendong Liz dan mengobrol dengan Becca.
Badan Iis menutupi pandangan mata Juan sehingga dia tidak bisa melihat dengan siapa Iis berbincang. Saat melihat siapa yang sedang berbincang dengan Iis, Juan langsung berteriak sangat keras.
“HOLLY....”
“Mas,” pekik Iis kesal saat mendengar Juan yang akan mengumpat didekat Liz.
“HOLLY MOLLY SUGAR...!” Juan langsung mengoreksi umpatannya, saat ini Juan sudah lihai mengubah umpatan miliknya menjadi kata lainnya.
“Hai, Juan. Apa kabar?” tanya Becca sambil melambaikan tangannya. Rambut pirang milik Becca benar-benar membuat wajah Becca lebih segar.
“Baaaaaik?” saking bingungnya kenapa Becca ada disini dan yang lebih anehnya lagi. Kenapa Istrinya ini bisa berbincang-bincang aktab dengan Becca, Juan malah bertanya pada Becca.
“Hah?” Becca balik bertanya pada Juan.
“Kamu ngapain disini, seinget aku kamu nggak ada didaftar tamu,” ucap Juan sambil menatap Becca.
“Oh, aku diundang Cicil,” jawab Becca santai.
“Tapi, kalau Taca liat gi....”
“Aku udah maafan sama Taca. Aku nggak bakal bikin ulah. Aku udah tobat,” ucap Becca pelan.
“Baguslah, kalau begitu,” ucap Juan sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Becca.
“Saya, pinjam istri saya dulu yah,” ucap Juan sambil menarik tangan Iis pelan.
Iis langsung melambaikan tangannya pada Becca dan berjalan dibelakang badan Juan. “Ada apa, Mas?”
“Acara udah mau dimulai, Yang. Duduk disana yuk,” pinta Juan sambil menunjuk kursi kayu dibagian depan.
“Tapi, panas Mas. Kasian Liz,” ucap Iis sambil menatap anaknya yang asik memainkan pompom ditangannya.
“Ada ini,” ucap Juan sambil mengeluarkan payung dari tangannya.
Iis hanya bisa tersenyum melihat betapa siaganya suaminya ini. Dengan patuh akhirnya Iis duduk dibagian depan barisan. Memunggu acara dimulai. Dekorasi pernikahan benar-benar tampak cantik, bunga mawar putih menominasi setiap jengkal tempat acara.
“Cantik yah, Mas,” ujar Iis sambil menatap dekorasi yang ada disana.
“Cantikan kamu sama Liz,” bisik Juan ditelinga Iis.
Iis tersenyum mendengar perkataan Juan yang membuat dirinya meremang. Juan benar-benar tau cara membuat dirinya berbahagia sampai berjumpalitan.
“Gombal kamu, Mas. Cantikan mantan kamu tuh si May,” ucap Iis sambil menunjuk May yang sedang duduk disamping Abah.
Juan melihat May yang sedang berbincang dengan Abah. Juan benar-benar tidak mengerti, pelet apa yang dimiliki Abah sampai seorang May mau dengan Abah.
“Iya, cantik May sih. Badannya juga bagus, terus dadanya itu yah...” Juan mengangkat tangannya ke udara dan melakukan gerakan seolah-olah meremas kedua gunung kembar milik May.
Pletak...
“Aduh, Yang,” ucap Juan sambil mengelus pahanya yang dipukul Iis dengan sangat-sangat keras. “Sakit, Yang.”
“Bodo, nyebelin. Liz, nanti kamu kalau udah gede. Inget, kalau udah gede jangan mau punya pacar kelakuannya kaya Papih. Inget, cari anak baek-baek. Jangan yang bangsul kaya Papih. Makan, hati...!” ucap Iis sambil menatap Liz lekat-lekat.
Liz yang tidak mengerti apa yang diucapkan Iis, hanya bisa menggapai-gapai wajah Iis. Menepuk-nepuk wajah Mamihnya.
“Sakit, ih. Abis kamu, aku bilang kamu cantik, malah dikata gombal. Nih, walau si May cantiknya kaya bidadari yang kepleset dari surga sekalipun. Aku cinta sama sayangnya sama kamu, karena cuman kamu...” Juan menghentikan perkataannya kemudian mengangkat dagu Iis pelan mensejajarkan pandangan mereka berdua.
“Cuman kamu yang bisa kasih aku malaikat kecil bernama Liz,” ucap Juan sambil mengecup bibir Iis pelan.
“Mas...” cicit Iis sesaat Juan selesai mengecup bibirnya. “nanti diliat orang.”
Juan terkekeh pelan, “Biarin, biar semua orang tau kalau kamu istri aku. Dari tadi tuh bule liatin kamu terus,” ucap Juan sambil menunjuk bule di barisan keluarga Adipati. Mungkin, bule itu salah satu keluarga Adipati.
Iis melihat sorang bule sedang menatapnya, spontan Iis tersenyum pada bule itu.
“Jangan disenyumin juga,” ucap Juan kesal.
__ADS_1
“Lah, kenapa nggak boleh disenyumin?” tanya Iis bingung.
“Pokoknya jangan, bahaya,” ucap Juan sambil mencawil hidung Iis.
Setelah Juan mencawil hidung Iis. Terdengar suara lagu mengalun dengan lembut. Taca keluar dengan cantiknya. Gaun pernikahannya tertiup angin dan mempermainkan rambutnya yang di cepol sederhana. Berjalan dengan anggungnya sambil membawa buket bunga mawar putih yang dibelikan oleh Adipati tadi pagi.
Sebuah tradisi unik Italia dimana pengantin pria membelikan buket bunga untuk pengantin wanita. Sebenarnya masih ada tradisi unik lainnya, yang membuat Iis kaget tadi. Tapi, nanti kita ceritakan di bab ADITA.
Taca berjalan kearah Adipati yang sudah menunggu didepan. Abah dan Om Gio sudah berdiri disana. Ini hanya acara pernikahan, ini hanya acara biasa. Hanya acara dua orang insan yang mengucapkan perjanjian untuk seumur hidupnya. Tidak lebih.
Iis tersenyum selama Taca mengucapkan kata-kata yang dibuat dengan susah payah kemarin malam bersama dengan dirinya. Tiba-tiba air mata jatuh ke pipinya.
“Kamu kenapa, Yang?” tanya Juan.
“Hah? Nggak aku cuman, terharu aja. Aku nggak pernah menyangka Taca sama Adipati bisa selama ini menikah. Ditambah sama si kembar dan Kafta, nggak nyangka aja,” ucap Iis sambil menatap Juan.
“Iya sih, si semprul itu bisa juga bertekuk lutut sama perempuan,” ucap Juan.
“Untung perempuan yah, Mas. Kalau laki-laki kayanya kamu yang kabur pertama kali,” canda Iis.
“Eh, istri aku udah bisa bercanda,” ujar Juan sambil terkekeh.
Mereka hanya bisa tertawa sambil melihat acara pernikahan ala-ala Adipati dan Taca. Iya, pernikahan Ala-ala yang sangat menghabiskan uang.
•••
“Sebelum makan, bagaimana kalau kita minta sahabat Adipati dan Taca untuk memberikan pidatonya?” tanya MC berkata menggunakan bahasa inggris dengan aksen Italia yang sangat-sangat kental.
Juan langsung berdiri dan mengambil mic dari MC, sebelum berbicara di Mic, tiba-tiba Adipati bercelutuk sambil menahan tawanya pada Juan.
“Are you really my best Friends, Juan?” tanya Adipati sambil menahan tawanya.
(Apa kamu benar-benar sahabat aku, Juan?)
“Really, Adi?” Juan menggelengkan kepalanya, si semprul Adipati benar-benar membuat dirinya kesal.
(Yang benar saja, Adi?)
“Oke... sebenarnya lelaki disana itu, musuh gue. Lelaki menyebalkan yang selalu menyusahkan gue. Masih inget diotak gue, saat Adipati seperti orang sinting yang mencari alamat Taca, mencari nama gadis yang tiba-tiba hadir dikehidupannya. Yang tiba-tiba membuat seorang playboy insyaf.”
“....”
“Dia memang menyebalkan, Taca bersabarlah dengan kelakuan lelaki disamping kamu itu. Gue jamin seratus persen dia lelaki paling menyebalkan dimuka bumi ini,” ucap Juan sambil menunjuk Adipati.
“Aku tau, Juan,” jawab Taca sambil tertawa pelan.
“Tapi, yakin satu hal Taca. Lelaki disamping lo itu, adalah lelaki yang setia, dia loyal. Dia akan melakukan apapun juga untuk selalu membahagiain lo, dia sayang dan cinta sama lo. Dia bakal menjadikan lo poros hidupnya.”
Semua orang disana langsung merasakan aura kebahagiaan dan rasa cinta pada pasangan Adipati dan Taca. Terlihat Taca menatap Adipati dengan tatapan penuh cinta.
“Yah, walaupun dia kalau tidur medengkur...” ucap Juan yang disambut gelak tawa oleh para tamu undangan yang datang.
“Pokoknya selamat, Bro...!” ucap Juan sambil mengangkat gelas champagne keudara.
Tepuk tangan langsung terdengar di udara, sebagai penutup ucapan Juan. MC langsung mengambil kembali acara.
“Baik terima kasih Pak Juan Wijaya. Sekarang marilah kita dengar pidato dari sahabat mempelai wanita, yang uniknya dia adalah istri dari sahabat mempelai Pria,” ucap MC tersebut sambil memberikan MIC pada Iis.
“Hai, Ta...” panggil Iis sambil melambaikan tangannya yang langsunh dibalas oleh Taca. “Wow, aku nggak pernah nyangka kamu bisa nikah, ampe dua kali malah sama lelaki yang sama. Aku nggak nyangka kamu bisa jatuh cinta. Aku nggak nyangka kamu bisa jadi kaya sekarang, Ta. Kamu sahabat terbaik aku, kamu selalu ada buat aku. Makasih, Ta.”
“...”
“Hmm, ini adalah pernikahan yang indah. Aku bahagia buat kamu Ta. Dan, dan aku yakin Tasya diatas sana juga, bahagia buat kamu. Aku yakin Tasya bahagia buat kamu, Ta. Dia bahagia buat kamu,” ucap Iis sambil mengusap air mata yang jatuh kepipinya saat mengenang Tasya, kakak kembar Taca.
Taca menganggukan kepalanya sambil mengambil tissue dan mengelap air matanya. Entah sejak kapan, Taca tidak pernah merasakan sakit lagi dihatinya, semuanya berubah menjadi bahagia. Sebahagia dirinya saat ini.
“Kita lakuin, hal yang Tasya inginkan,yah. Kita harus melanjutkan hidup dan berbahagia untuk Tasya. Kamu harus bahagia Taca, bahagia bersama suami dan anak-anak kamu,” ucap Iis sambil mengusap air matanya lagi.
“Adipati, bahagiain Taca,yah. Jangan hianatin dia, jangan pernah. Dia terlalu baik buat kamu sakitin.Yah, walau dia cerewet...”
__ADS_1
Gelak tawa langsung menggantikan suasana haru yang ada. “Walau dia cerewet seperti petasan cabe. Tapi, dia baik. Bahagia selalu yah, Mr and Mrs Berutti.”
Tepuk tangan langsung menggema disana, Iis melihat Abah, Riki dan Rozak yang tersenyum pada dirinya, seperti mengucapkan terima kasih pada dirinya karena sudah mengingat Tasya.
MC pun mengambil alih kembali acara, acara makan malampun berlangsung dengan sangat-sangat meriah. Beberapa anggota keluarga Adipati bersama-sama berteriak dan bernyanyi. Beberapa mengayun-ngayunkan serbet putih diatas kepalanya.
Iis hanya bisa terpukau melihat betapa semaraknya orang Italia berpesta. Setiap melihat mereka berbicara membuat Iis terkaget-kaget rasanya seperti melihat orang sedang berkelahi.
“Yang, mau dansa?” tanya Juan sambil menjulurkan tangannya pada Iis. Menyadarkan dari lamunannya.
“Aku nggak bisa dansa. Mau dansa dimana pula, liat itu?” tanya Iis sambil menunjuk ke lantai dansa yang penuh dengan kerumunan keluar Adipati yang entah sedang malakukan tradisi apa disana.
“Disana,” ucap Juan sambil menunjuk suatu tempat yang kosong namun menghadap ke keindahan danau.
Iis hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dengan patuh Iis berjalan bersama Juan. Setelah sampai disana, Juan langsung memeluk tubuh ramping Iis, mengayunnya pelan.
Mereka saling berpelukkan dan merekatkan badan mereka berdua, kemudian saling menciumi tubuh pasangan masing-masing. Menikmati suasana hening yang ada.
“Mas, ini lagunya mana?” tanya Iis akhirnya memecahkan kesunyian.
“Nggak ada, gini aja. Yang penting ada kamu, udah cukup, Yang,” ucap Juan sambil mengusapkan bibirnya keleher Iis pelan. Iis hanya bisa tersenyum.
“Yang, makasih udah ada disini. Makasih, udah mau ada disamping aku,” ucap Juan.
Iis menatap Juan sambil tersenyum, “Sama-sama, Mas. Ah, kamu lupa yah?” tanya Iis.
“Lupa apa?” Juan langsung balik bertanya pada Iis.
“Kamu lupa? Kalau aku ini udah diiket sama kamu. Mau kabur kemanapun juga, balik lagi kekamu,” ucap Iis sambil menunjuk Juan.
“Hahaha... bener, mana sekarang udah ada Liz dan Bernard...”
Perkataan Juan terhenti saat Iis mengambil tangan Juan dan menyentuhkannya ke perut rata milik Iis.
“Yang?” tanya Juan bingung.
“Yang iket aku ke kamu sekarang tiga,” ucap Iis sambil memberikan sesuatu pada Juan. Juan terdiam menatap sesuatu yang diberikan pada dirinya. Seingatnya mereka baru melakukannya dua kali semenjak masa nifas Iis berakhir. Seingatnya Liz masih berusia 4 bulan.
“Gimana bisa?” tanya Juan tidak percaya sambil menatap test pact ditangannya sambil berjalan mundur beberapa langkah.
“Yah bisalah, kamu ngeluarin didalem terus, Mas. Yah jadilah,” ucap Iis sambil menatap Juan sambil tertawa pelan.
“Nggak maksudnya, aku kan,” ucap Juan sambil menunjuk dadanya sambil menatap Iis.
“Mas, inget kata dokter Tanto, setelah dioperasi semuanya kembali kesedia kala,” ucap Iis sambil menatap Juan.
“Astaga, jadi kamu hamil lagi, Yang?” tanya Juan dengan wajah bahagia.
“Iya, aku hamil lagi.”
“Anak...”
“Anak kamu Juan Wijaya, cuman kamu yang bisa hamilin aku,” ucap Iis sambil memeluk Juan. “Cuman kamu yang bisa hamilin aku.”
Juan menatap alat test pact ditangannya. Senyuman manis langsung terpancar diwajahnya, matanya masih tampak kaget. Iis benar-benar subur.
“Yang, ini bener. Bukan prank kan?” tanya Juan lagi sambil mengangkat dagu Iis.
Iis tersenyum dan menjinjitkan kakinya, mencium bibir Juan, mengigit bagian bawah bibir Juan yang penuh. Menghisap manisnya bibir bagian bawa Juan, menariknya pelan, memberikan sensasi yang mampu membuat Juan jungkir balik karena manehan hasratnya sendiri.
“Yang,” bisik Juan disela-sela kecupan yang diberikan Iis secara bertubi-tubi.
“Hmm...” jawab Iis sambil mengusap bibir bagian bawah Juan yang tampak sedikit bengkak karena digigit pelan oleh Iis.
“Sampai kapan pun aku akan selalu jatuh cinta pada kamu. Lagi, lagi dan lagi. Sampai maut memisahkan kita,” ucap Juan sambil mengecup kening Iis pelan dan lama.
Iis hanya memejamkan matanya, menikmati ciuman Suaminya. Ayah dari ketiga anaknya, imamnya.
•••
__ADS_1
Tunggu 1 bab lagi and finally Done...
Xoxo Gallon...