Water Teapot

Water Teapot
S2: Sakit..!?


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Yang, aku mau jujur sama kamu.” ujar Juan sambil menatap manik mata dihadapannya.


“Aku tau, aku salah. Aku baru kasih tau masalah ini sama kamu. Tapi, aku harap kamu mau ngerti dan maafin aku, Yang.”


“Aku salah banget sama kamu, aku minta maaf,” ujar Juan lagi sambil mengusap-ngusap rambutnya.


“Aku... aku mandul, Yang. Aku nggak bisa kasih kamu anak. Tapi, aku mau cek lagi, aku berharap kemandulan aku ini bisa diobatin, Yang.”


Juan diam dan terus menatapa manik mata dihadapannya dengan tatapan serius. Napas Juan memburu, jantungnyanya bertalu-talu. Sampai...


Zrrrttttt....zrettttt....


Diliriknya handphone disebelahnya, kemudian diangkatnya telepon.


“Mas, aku berangkat sekarang yah, kamu udah berangkat?” tanya Iis.


Juan dengan cepat mengusap cermin dihadapannya yang sudah sedikit berembun dengan tangan kanannya sambil menghela napasnya.


Saat ini dia ada di kamar mandi Apartemennya, sedang berlatih mengucapkan kata-kata permintaan maaf untuk Iis. Sudah hampir 50 kali Juan mengulang-ngulang perkataannya tadi. Setiap Juan ulang, jantungnya ikut bertalu-talu membayangkan reaksi Iis nanti.


“Mas, sayang... jawab,” ucap Iis manja.


“Ah, maaf Yang, iya nggak papa. Aku juga masih di apartemen,” ujar Juan.


“Ya udah sampai ketemu di sana yah,” ujar Iis sambil memutuskan sambungan telepon.


Juan langsung menyimpan handphonennya sambil menatap pantulan bayangannya di cermin, dicarinya aftershaves miliknya yang biasanya disimpan di meja.


“Mana aftershave aku sih, diumpetin Iis lagi ini,” ujar Juan sambil memeriksa semua laci-laci yang ada disana.


Dibukanya satu persatu laci yang ada disana untuk mencari aftershave miliknya. Saat membuka laci paling bawah mata Juan membulat sempurna. Tangan Juan langsung membuka dus-dus yang tersusun rapih didalam laci.


“Astaga kenapa banyak test pack disini,” monolog Juan sambil membuka semua test pack dari dalam dusnya.


Juan langsung terduduk sambil melihat test pack dihadapannya. Rasa malu dan bersalah langsung menyelusup kedalam hatinya. Apa yang dikatakan Taca benar. Iis benar-benar berusaha untuk memiliki anak.


“Yang, sebegitu inginnya kamu punya anak, Yang?” tanya Juan sambil menahan tangisnya. Air mata Juan tiba-tiba meleleh saat melihat begitu banyaknya test pack ditangannya.


“Yang maafin Mas, Yang. Maafin Mas yang nggak jujur dan nggak bisa kasih kamu anak. Maafin Mas Yang,” isak Juan sambil menekan kedua matanya dengan ibu jari dan jempolnya, berusaha menekan air matanya yang terus menerus keluar dari wadahnya. Juan berada di titik terpuruknya, keegoisan dan ketakutan benar-benar meremukkan dirinya.


•••


Juan dengan cepat duduk ditempat duduk yang sudah di pesankan Saka untuk acara makan malam bersama Iis.


“Pak, ini menunya. Bapak mau pesen sekarang atau nanti?” tanya Waitress wanita dihadapan Juan.


Juan mengambil menu dari tangan Juan, kemudian melihat-lihat makanan yang ada dimenu, jujur Juan tidak ada nafsu untuk memesan makanan di daftar menu yang ada. Rasanya perutnya melilit karena terlalu gugup.


“Hmm... saya minta yang di rekomendasi sama Chefnya aja 2 yah, istri saya sebentar lagi nyusul,” ujar Juan sambil menutup buku menu dan menyerahkannya kembali pada waitress.


“Baik, Pak. Saya permisi dulu,” ujar Waitress tersebut dan pergi dari hadapan Juan.


Sepeningal waitress tersebut Juan menatap kesekelilingnya. Jantungnya benar-benar bertalu-talu.

__ADS_1


Kaki Juan bergerak-gerak gelisah, tangannya diusap-usap atau kadang memukul-mukul kedua pahanya pelan. Air minum dihadapannya sudah dua kali diisi ulang oleh waiterss disana.


Juan melirik jam tangan dan layar handphonennya, diketuk-ketuknya jari-jarinya ke meja dihadapannya. Wajahnya sudah sangat pias saat ini.


Diambilnya gelas didepannya dan meminumnya lagi. Argh... dia sudah seperti seorang terdakwa yang sedang menghadapi persidangan.


Cup...


Juan merasakan kecupan di pipinya, wangi moringa langsung mengelitik indra penciumannya lagi. Ah... wangi Istrinya sedikit membuat tenang tubuhnya.


“Yang,” ujar Juan sambil menatap mata istrinya.


“Hai, Mas udah lama?” tanya Iis sambil menyentuh dahi Juan dan leher bagian kanan dan kiri Juan dengan menggunakan punggung tangannya.


“Kamu sakit, Mas?” tanya Iis kaget saat melihat betapa piasnya wajah suaminya. “Mas kalau kamu sakit mending kita pulang aja.”


Dengan cepat Juan menangkap tangan istrinya kemudian mencium telapak tangan Iis lembut dan menggesekkan tangannya di pipinya.


“Nggak papa, Yang. Aku lagi nggak enak badan aja. Tapi, nggak sakit. Duduk Yang,” pinta Juan.


Iis dengan patuh duduk dihadapan Juan, matanya menatap Juan khawatir. wajah bayi besarnya itu benar-benar pias.


“Mas, mending pulang yuk, kamu kaya orang sakit gitu. Nanti aku masakin bubur buat, Mas,” ucap Iis sambil mengigit bagian bawah bibirnya.


Juan hanya bisa tersenyum kecil mendengar perkataan Iis, padahal wajah Juan menjadi sepucat ini juga gara-gara dia terlalu gugup mau mengungkapkan rahasianya.


“Nggak Yang, aku udah pesen makanan buat kita juga, makan disini aja,” ujar Juan sambil menatap Iis. Iis hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba waitress datang sambil meletakkan piring-piring dan gelas dihadapan Juan dan Iis.


“Makan Yang,” pinta Juan.


Suasana berlangsung hening, Juan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun, Iis berkali-kali melontarkan pertanyaan-pertanyaan dan Juan hanya menjawab dengan kata iya dan tidak atau hanya anggukan dan gelengan.


“Mas kamu teh kenapa?” tanya Iis saat sudah selesai memakan makanannya.


“Nggak apa-apa, Yang,” ujar Juan


“Terus kenapa diem aja? Sariawan kamu teh?” tanya Iis bingung.


“Hahahaa... nggak, Yang. Aku nggak sariawan, aku cuman mau ngomong sesuatu kekamu,” ujar Juan sambil menyimpan tangannya di atas meja makan.


Iis langsung menggenggam tangan Juan erat, pikiran buruk langsung menghantui Iis. Apa suaminya sakit parah dan harus dirawat di RS? Ahh... kamu kenapa Mas?.


“Apa Mas? Kamu sakit? Kamu bangkrut? Kamu punya pacar lagi? Kamu bosen sama aku? Kamu kenapa?” cecar Iis takut.


“Aduh, bibir...” dengus Juan sambil mencubit-cubit bibirnya sendiri karena bibir Iis terlalu jauh untuk dijangkau tangannya.


“Ya, abis apaan? Aku jiper ini...” ujar Iis.


“Yang sebenernya aku itu....”


Zreetttt... Zreeetttt....


Suara handphone Juan terdengar, diliriknya layar handphone Juan, Saka meneleponnya. Dengan cepat Juan mematikan teleponnya. Nggak penting...!


“Siapa Mas?”


“Saka.”

__ADS_1


“Angkatlah Mas,” usul Iis sambil menatap Juan.


“Nggak penting, Yang,” ujar Juan sambil menatap mata Iis. ‘Lebih penting ini,’ batin Juan.


“Ya udah mau ngomong apa sih, aku penasaran,” ujar Iis.


Juan mulai mengatur napasnya lagi untuk menumbuhkan keberaniannya. “Jadi, aku itu sebenernya....”


Zreeetttt zreeeetttt....


Iis melirik handphonennya, dilayar handphonennye tertera nama Saka. “Mas, Saka nelpon aku.”


Juan langsung melepaskan tangan Iis, dengan frustasi ditariknya rambut miliknya dengan kesal. ‘Si kupret Saka maunya apa sih,’ batin Juan kesal.


Dengan kesal Juan mengambil handphone Iis, kemudian diangkatnya telepon dari Saka.


“Bu Iis maaf....”


“APA...! MAU APA SAKA,” bentak Juan geram.


Saka langsung kaget saat mendengar suara Juan bukan suara Iis. “Pak Juan?”


“Iya saya, kenapa? Mau apa kamu nelpon-nelpon Istri saya?” Juan benar-benar kesal kepada sekertarisnya ini, andai Juan tidak cekatan dan bekerja dengan baik, sudah Juan pecat Saka.


“Mau....”


“Mau apa, Saka?”


“Mau bilang kalau Pak Kevin sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit, Pak. Jantungnya kumat lagi....”


“Papih sakit!?” tanya Juan sambil berdiri kemudian mengambil barang-barangnya dan menyerahkan pada Iis.


Iis dengan cepat mengambil barang-barang yang diberikan pada dirinya dan menyimpan di tas miliknya. Dengan cekatan Iis membereskan segala barang-barang miliknya dan meminta bill pada pelayan terdekat.


“Iya Pak, Pak Kevin sakit, tadi Pak Kevin langsung di kirim ke rumah sakit. Saat ini Pak Kevin sadar dan sedang di rawat. Ibu Liliana sudah diberitahu Tian dan baru bisa sampai Indonesia lusa, Pak,” ujar Saka.


“Ya udah saya sama Bu Iis kesana sekarang,” ujar Juan sambil menutup sambungan telepon.


“Mas, Om Kevin sakit apa?” tanya Iis khawatir. Sampai detik ini Papih belum mau dipanggil Papih oleh Iis. Hatinya masih sebeku bongkahan es di antartika.


“Papih, jantungnya kumat lagi,” ujar Juan sambil menarik tangan Iis untuk berjalan disampingnya.


“Om Kevin punya jantung?” tanya Iis.


“Aduh jengah aku kamu manggil Papih, Om. Udah panggil Papih,” pinta Juan yang langsung dijawab gelengan oleh Iis.


“Nggak, Mas. Om kevin nggak mau aku panggil Papih,” jawab Iis.


“Aduh, sama-sama kepala batu..!” dengus Juan sambil membayar makan malamnya.


•••


Papihnya Juan sakit 🙈🙈🙈🙈


Pasti kaka gallon dimurkai, ah lama nih lama, lama....


Kami butuh Juan jujur...!!!


Sabar...sabar...

__ADS_1


klo juan jujur sekarang dan Iis ngamuk, Papihnya bakal happy dong, bisa di suruh cerai ditempat nantinya. Aku tak mauuuuu.....


__ADS_2