
"Terima kasih atas keterangannya, Bu Taca." ujar salah satu tim penyidik sambil menjabat tangan Taca, Adipati dan Pak Lubis.
"Saya, harap semua keterangan Bu Taca dapat memberatkan Bu Becca," ujar Pak Lubis sambil memperbaikki letak dasinya.
"Tentu saja, Pak. Akan kami usahakan. Mari kalau begitu..." penyidik langsung pergi meningalkan mereka bertiga.
"Baiklah kalau begitu, saya pamit, masih banyak yang harus saya urus, Pak Adipati." ujar Pak Lubis, kemudian pergi meninggalkan Taca dan Adipati.
Selama penyelidikan berlangsung, Taca mampu mengontrol emosinya dan menerangkan selurih kejadiannya dengan baik, hanya sesekali Taca terisak atau meneteskan air matanya mengenang kejadian tersebut.
Masalahnya bukan ada pada Taca, tapi pada Adipati, selama wawancara berlangsung, tangan Adipati tidak pernah lepas dari paha Taca. Entah itu mengelus, meremas atau bahkan menekan pahanya dengan keras. Saking kerasnya beberapa kali Taca mengaduh kesakitan.
"Kita ke toko kasur sekarang," ujar Adipati sambil menarik tangan Taca lembut.
"Bentar, aku mau liat sesuatu," Taca kemudian mengangkat roknya sampai sebatas paha. Taca langsung menghela napasnya melihat tanda merah dipahanya.
"Astaga.. kok bisa merah gitu paha kamu ? Siapa yang pukul kamu, amore ? " tanya Adipati panik, Adipati langsung berjongkok dipaha Taca kemudian mengusap paha Taca lembut.
Mata Taca langsung membulat, kemudian menatap Adipati dengan tatapan 'beneran ngak tau ??'.
"Amore..."
"Yah, kamu lah.. tadi selama pemeriksaan siapa yang, cengkram, elus sama pukul paha aku, hah?" cecar Taca kesal.
Adipati hanya bisa nyengir kuda saat mendengar penjelasan Taca. "Maaf, Ta... aku kan nahan amarah," ujar Adipati sambil mengecup paha Taca, kemudian berdiri disamping Taca.
__ADS_1
"Ihhh.. nyebelin, sakit tau," rengek Taca yang langsung dibalas tawa renyah Adipati.
"Maaf, maaf nanti kita kompres yah. Yuk, sekarang kita ke toko kasur, jadi kan ganti kasurnya ? " rayu Adipati sambil mengecup tangan Taca.
Entah sejak kapan Adipati suka sekali mengecupi tangan, pipi, dahi, dan pucuk rambut Taca.
"Aku mau kekamar mandi , aku kekamar mandi dulu yah."
"Ya udah aku tunggu disini," ujar Taca, sambil duduk dikursi yang tersedia.
Adipati pun pergi meninggalkan Taca sendirian di lorong.
Taca mengambil handphonnya, membaca beberapa pesan dan melihat-lihat aplikasi noveltoon, membaca novel kesukaannya dari penulis Gallon. *okeee ini author lagi promosi novel sendiri hahahaa...
"Belok dikanan, Mas."
Tangan Taca terdiam saat mendengar suara tersebut. Suara yang membuat mual. Sedikit demi sedikit Taca melihat sumber suara.
"Ni..ko..." suara Taca tercekat, tanpa sengaja pandangan mata mereka berdua bertemu. Niko yang sadar siapa wanita didepannya langsung tersenyum nafsu.
"Hai, remember me ?" tanya Niko sambil menundukkan kepalanya mensejajarkan wajah dengan Taca.
"Leave me alone," cicit Taca sambil mencengkram handphonenya erat-erat.
(Tinggalkan aku sendiri)
__ADS_1
"Hahahaa... gue punya sesuatu yang belum aku selesaikan, gue..."
BRUAKKKKKK.....
"FIGLIO DI PUTTANA.....!!!!" Adipati mendaratkan pukulannya di pipi Nico, Nico langsung terjengkang kesamping, beberapa polisi langsung memisahkan mereka berdua.
(Dasar anak P*r*k)
"Adi.. Adipati stop, udah Di, udah yu... udah kita pulang," Taca langsung memeluk pinggang Adipati, menariknya dengan seluruh tenanganya.
"Vaffanculo...!!" maki Adipati lagi sambil menunjuk Nico, Adipati lansung menyembunyikan Taca dibelakang badannya.
(F*ck you)
"Di, udah pulang yu, ayo kita pulang...!" isak Taca, lebih baik dia mati daripada harus lebih lama lagi berada satu ruangan dengan Nico.
Adipati mengikuti keinginan Taca, sambil terus menerus mengeluarkan caci maki dengan bahasa Italia, membuat Taca mengelengkan kepalanya.
•••
Maafkan sedikit, kaka Gallon sibuk di offline, janji besok bakal panjang ceritanya ❤️
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon