Water Teapot

Water Teapot
Titip Juan...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Seharian ini Iis benar-benar kelelahan mengantar Mamih kemana-mana, kakinya benar-benar sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi, syukurlah saat ini Iis sedang di pemberhentian terakhir, SPAAAAA....


Argh... rasanya Iis ingi memeluk penemu SPA, benar-benar surga dunia, Iis langsung dipijat bersama Mamih. Mereka menikmati pijatan tradisional Jawa yang sudah tersohor, ditambah aromatherapi yang memanjakan indra penciuman Iis dan Mamih.


"Iis..." panggil Mamih tiba-tiba sesaat setelah sesi pijat selesai dan mereka sedang duduk berdua diruangan sauna.


"Iya..."


"Kamu serius sama anak saya ?" tanya Mamih tiba-tiba.


"Hmm iya, Mih."


"Kenapa, kamu tau kan umur Juan 38 tahun, kamu masih muda Iis, umur kamu 25 tahun. Masih banyak yang mau sama kamu, yang lebih dari Juan."


Iis mengambil napas dalam-dalam, apa yang diucapkan Mamih benar. Ayah juga pernah menanyakan hal ini padanya, perbedaan umur Iis dan Juan sangat jauh 13 tahun.


"Mungkin, mungkin masih banyak yang mau sama aku, masih bangak yang lebih dari Juan. Tapi, cuman Juan yang bisa ngeyakinin aku, bisa ngebuktiin kalau dia bakal setia sama aku. Aku sayang dan cinta sama Juan, Mih."


"..."


"Aku..aku cuman wanita biasa, orang dari seorang... seorang pria yang suka menikah, kekayaan habis karena kebodohan Ayahku. Aku ngak punya apa-apa. Tapi, Juan janji bakal nerima aku apa adanya, Juan bakal lindungin aku apapun yang terjadi. Cuman anak Mamih yang ngejanjiin hal itu dan aku bakal pegang janjinya." ujar Iis sambil tersenyum pada Mamih.


"Walau Juan punya kekurangan ?" tanya Mamih.


"Kekurangan apa ?" tanya Iis bingung, dipikirannya Juan selalu sempurna.


Mamih tersenyum, sepertinya Juan belum menceritakannya pada Iis tentang masalah kesehatannya. Kali ini sepertinya Juan tidak mau salah ambil langkah. "Tanya Juan."


"Iya..." jawab Iis ragu, jangan bilang tentang Juan seorang mantan pemakai.


"Iis... titip Juan, yah. Maaf nanti kalau Juan rada kolokan."


"Iya, Mih..."


"Ehhh... Juan pernah cemburu sama kamu ngak ?" tanya Mamih penasaran.

__ADS_1


"Sering, Mamih kepala Iis ampe meledak kalau Juan udah cemburu," ujar Iis sambil menahan tawanya.


"Hah... masa ?"


"Emang Juan ngak pernah cemburu sama mantan-mantannya ?"


"Ngak tau yah, yang baru Juan kenalin ke Mamih cuman 3. Kamu, Cicil, sama aduh siapa namanya yang kaya Barbara palvin mukanya," Mamih mengingat-ngingat.


'Astaga si Barbara Palvin itu juga udah pernah dikenalin ke Mamih ?' batin Iis, Iis ingat mantan pacar Juan yang mirip sekali Barbara Palvin, bagai pinang dibelah kapak pokoknya.


"Ah... Tere, namanya Tere," ujar Mamih sambil tersenyum senang.


'TEREROJING...!!!!' umpat Iis didalam hati.


"Pokoknya dulu Tere sama Cicil sering ngeluh, Juan itu romantis tapi ngak pernah cemburu. Malah Tere sama Cicil ngapain aja sama siapapun juga, Juan biasa aja ngak pernah ngambek atau apa. Tapi, kalau sama kamu ?" tanya Mamih penasaran.


"Astaga, Mamih... kalau udah cemburu aku ngak ditanya sama sekali. Terus marah-marah, selalu nanya kamu emang ngapain kesana, emang ngak ada yang nganterin selain dia, tunggu disana awas kamu berani pulang sama dia, ini baju kok kaya gini ngak ada yang lebih panjang ?" Iis menirukan cara bicara Juan plek ketiplek persis seperti yang selalu juan katakan.


"Masa ?"


"Iya, aduh udah ah, Mih. Cemburunya tuh arghhhh bikin banyak-banyak nyebut deh..." ujar Iis kesal.


"Hahahahaaa... Mamih baru tau, terus, terus Juan kaya gimana lagi," tanya Mamih yang entah kenapa suka sekali berbicara dengan Iis.


Mereka berdua terus bercerita tentang Juan, pekerjaan, teman-teman sosialita Mamih dan hal-hal receh lainnya. Sepertinya Mamih sudah jatuh cinta pada Iis, calon mantunya.


•••


"Happy ?" tanya Juan saat melihat Iis masuk kedalam apartemen Juan dengan jingjingan yang sangat banyak. Sepanjang hari Juan mendengarkan notifikasi penggunaan kartu kredit di handphonenya terus berbunyi.


"Mamih asik, Mas. Arghh aku jadi sayang sama Mamih," ujar Iis sambil tersenyum.


"Wow... cuman kamu cewe yang aku ajak ke Mamih dan bilang Mamih aku asik. Kebanyakan mereka ngeluh sakit kuping," kenang Juan sambil menurunkan kaca matanya.


"Siapa, Cicil atau Tere," tanya Iis penasaran.


"Dua, duanya. Mereka selalu ngeluh..."


"Hah, padahal Mamih baik, loh. Aku sampe diajarin bikin pindang tulang sama Mamih, katanya itu masakan kesukaan kamu, yah ?" tanya Iis sambil menurunkan beberapa barang belanjaannya ke lantai.


"Iya, kamu mau bikinin ?" tanya Juan sambil mengambil salah satu kaki Iis dan memijatnya.

__ADS_1


"Hmmmm... iya tapi nanti yah, aku capek banget, selesai spa, Mamih muter lagi di Mall," ujar Iis sambil memejamkan matanya menikmati pijatan Juan.


"Iya... ngerti, aku ngak dibeliin apa gitu," ujar Juan sambil melihat jinjingan dilantai.


"Argh iya, lupa," ujar Iis sambil menarik kakinya lembut kemudian mencari-cari bungkusan yang menyimpan oleh-oleh untuk Juan.


"Ah ini..."


"Sini.." ujar Juan sambil mencoba menggapai bungkusan ditangan Iis


"Tapi, Mas. Ini jam murah, ngak semahal jam kamu sekarang," ujar Iis malu, mana mampu dia membeli jam tangan yang dipakai Juan sekarang.


"Emang itu kamu beli pake uang kamu sendiri ?" tanya Juan penasaran Iis langsung menganggukkan kepalanya.


"Kan ini buat kamu, jadi belinya pake uang aku, jadi maaf kalau murah," ujar Iis sambil memberikan bungkusan pada Juan.


Juan langsung membuka bungkusan tersebut, tampak kotak jam tangan sederhana didalamnya, dari kotaknya Juan tau jam tangan itu harganya dibawah jauh dengan jam tangan Richard Mille 60-01 yang saat ini dia pakai. Saat dibuka kotaknya Juan tersenyum melihat jam tangan tersebut. Diambil kemudian dibaliknya jam tangan itu, Juan terdiam membaca tulisan dibelakang jamnya.



( untuk lelakiku, Aku cinta kamu, tidak karena siapa dirimu. Tapi, karena siapa diriku saat aku bersamamu. terima kasih telah mencintaiku tanpa syarat. cintamu membuatku lebih kuat setiap hari. Aku akan menjadi milikmu selamanya dan hanya milikmu. Aku cinta kamu.)


Juan membaca pesan dibelakang jam tangan itu berkali-kali, hormon endorfin (hormon kesenangang) langsung menyelimuti Juan. Senyum langsung merekah diwajahnya. Dengan cepat dia membuka jam tangan Richard Mille miliknya kemudian melemparkannya kesembarangan arah (makjan itu jam tangan bisa buat beli rumah ama isinya, Masss Juaaannn *author gemas maaf 🤣)


"Eh kok dilempar..." ujar Iis bingung.


"Bagusan jam ini, kemana-mana Yang," ujar Juan sambil mengunakan jam yang diberikan Iis, kemudian menarik Iis kedalam pelukkannya.


"I will be forever yours, only yours, Mas..." ujar Iis sambil membalas pelukkan Juan.


"Aku juga Sayang... aku bakal selalu menjadi milik kamu, apapun yang terjadi," Juan mengangkat dagu Iis kemudian mengelus pipi Iis dengan jempolnya, wajah mereka semakin mendekat dan akhirnya bibir mereka bertaut lembut dan manis, selembut dan semanis gula kapas.


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2