Water Teapot

Water Teapot
S2: Bernard Sandia


__ADS_3

Bernard berusaha untuk membereskan semua kertas-kertas yang berserakkan di hadapannya. Mata Bernard sudah kabur, dia sudah ingin menangis. Andai Bernard tidak ingat kalau sekarang dia sedang ada di rutan mungkin dia akan manengis meraung.


Klik...


“Loh, ini kenapa berantakan?” tanya seorang sipir penjara sambil melihat kertas-kertas yang berserakkan dihadapannya.


“Ah, maaf tadi saya nggak sengaja menjatuhkan mapnya, Pak. Maaf, yah. Ini saya lagi beresin Pak,” ucap Bernard sambil mengambil kertas-kertas yang ada dengan terburu-buru.


Merasa Iba sipir tersebut membantu Bernard membereskan kertas-kertas yang berserakkan. Saat mengambil kertas yang robek, sekilas sipir tersebut membacanya dengan cepat. Senyuman langsung merekah di bibirnya.


“Wah Nak, kamu hebat yah. Udah hapal ini 2 juz?” tanya Sipir itu lagi.


“Iya, tapi kata Bunda itu biasa aja,” jawab Bernard pelan.


Sipir tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kokom bisa dibilang tahanan paling aneh yang pernah sipir itu temui. Muslihatnya sangat banyak, wataknya juga sangat culas. Bukannya bersyukur memiliki anak sebaik Bernard malah seenaknya. Diliriknya sobekkan sertifikat dihadapannya. Dengan tenangnya sipir itu mengambil semua serpihan sertifikat tersebut kemudian berjalan keluar meninggalkan Bernard sendirian diruangan tersebut.


Bernard langsung bernapas lega, saat sipir tersebut pergi meninggalkannya. Bernard bisa membereskan semuanya dengan lebih tenang. Lebih tepatnya Bernard bisa menitikkan air matanya dan meratapi nasibnya.


30 menit kemudian...


Bernard keluar ruangan dengan kepala menunduk, rasanya Bernard sudah tidak mau lagi mengangkat kepalanya sama sekali. Rasa sedih, benar-benar membuat Bernard tidak mampu mengangkat kepalanya sama sekali, Bernard takut saat kepalanya terangkat, membuat air matanya akan jatuh.


“Ini....”


Bernard mengangkat kepalanya dan mendapati sipir penjara tadi memberikan sesuatu pada dirinya. Sebuah map coklat.


“Maaf yah, Bapak cuman bisa bantu sampai situ,” ujar sipir tersebut sambil mengacak rambut Bernard pelan.


“Kamu keren, hebat kamu Bernard,” ucap sipir penjara itu lagi.


Bernard membuka mapnya dan melihat isinya, saat melihat lembaran isinya. Hati Bernard langsung merasa sangat hangat, saking hangatnya Bernard langsung memeluk sipir penjara tersebut. Miris rasanya saat kerja kerasnya lebih dihargai orang lain, daripada oleh ibu kandungnya sendiri.


“Terima kasih, Pak,” isak Bernard sambil memeluk erat sipir tersebut. Air matanya langsung keluar melesak tanpa terbendung lagi. Bernard menangis, mengeluarkan rasa sedihnya. Yah, rasa sedih tidak dihargai oleh ibu kandungnya sendiri.


Miris....


•••


“Mr. Sandia, welcome to Villa Del Balbianello,” ucap salah satu petugas kapal.


Bernard langsung menganggukkan kepalanya, lamunannya terhenti saat boat tersebut berhenti dan menurunkkannya ketempat indah.


Tidak pernah ada sekalipun terlintas diotaknya, kalau dia bisa datang kesana. Seorang anak dari kampung Citeko, anak dari seorang ibu yang saat ini sedang ada di penjara, bisa menginjakkan kakinya disana. Di Italia.


“Bernard...” panggil seseorang dari arah depannya.


Bernard dengan cepat melihat siapa yang menyapanya dengan sangat manis, suara yang sangat Bernard sayang. Wanita pengganti ibunya. “Teh Iis.”


Dengan tergesah-gesah Bernard berusaha untuk mendekati Iis. Barang bawaannya lumayan menghambat pergerakkannya. Apalagi, tas punggungnya sungguh sangat menyulitkan pergerakkannya.


“Pelan-pelan Bernard, kamu bisa jatuh nanti,” ucap Iis sambil merangkul badan Bernard.


“Teteh, maaf Bernard telat. Tadi, pesawatnya delay,” Bernard meminta maaf pada Iis.


“Nggak papa, kan acaranya juga sore. Ini masih siang juga. Ayo cepet masuk, kamu ganti baju dulu, bajunya udah disiapin,” ucap Iis sambil menarik tangan Bernard.

__ADS_1


“Baju apa, Teh?” tanya Bernard.


“Baju jas, nanti kamu samaan, sama Mas Juan. Nggak papa kan?” tanya Iis sambil merangkul Bernard yang berjalan disampingnya dengan kewalahan. Barang ditangan Bernard benar-benar membuat Bernard kewalahan.


“Kamu bawa apa sih?” tanya Iis penasaran.


“Nggak bukan apa-apa,” jawab Bernard, Bernard tidak mau diremehkan lagi, trauma sertifikatnya di sobek didepan matanya membuat dirinya sedikit menutup diri dari orang.


“Kalau bukan apa-apa, kasih aja ke masnya,” ujar Iis sambil menunjuk bellboy dibelakang Bernard.


“Nggak...!” ucap Bernard sambil memeluk map didadanya.


Iis kaget dengan reaksi Bernard, instingnya mengatakan benda ditangan Bernard sangat berarti. “Ya udah, pegang yang bener yah, awas jatoh,” ucap Iis sambil membuka pintu kamar miliknya.


Didalam kamar Iis melihat Jun sedang bermain dengan Liz, Juan benar-benar tidak peduli dengan kemejanya yang kusut. Setelah, mereka melihat istri Radi yang sangat mirip dengan Taca tadi. Akhrinya mereka memetuskan untuk bersantai di kamar sejenak, sambil menunggu acara berlangsung.


“Mas, astaga baju mas kusut,” ucap Iis keberatan sambil mendekati Juan.


Juan sama sekali tidak mempedulikan Iis, dengan santainya dia malah berguling-guling dengan Liz. Liz dengan asiknya mengemuti kakinya.


“Aduh, anak perempuan ngemutin kaki, dong. Kotor, Nak,” ucap Iis lembut sambil menggendong Liz yang tersenyum senang saat digendong oleh Iis.


Juan menatap Bernard yang berdiri diambang pintu, “Masuk sini kamu.”


Bernard langsung melangkahkan kakinya saat Juan memintanya untuk masuk kedalam kamar. “Sini duduk sini, mana rapor kamu?” tanya Juan langsung.


Saka sudah memberitahukan bahwa Bernard sudah mendapatkan rapot. Juan benar-benar ingin melihat raport milik Bernard.


“Mas Juan tau dari mana?” tanya Bernard.


“Orang dalem,” jawab Juan santai sambil mengangkat tangan kanannya sebagai tanda meminta rapot milik Bernard.


Juan kaget dengan perkataan Bernard, “Ngomong apa kamu? Nilai kamu lebih berarti dan berguna dari pada uang. Sini liat, awas aja kalau nilai kamu jelek,” ancam Juan.


Bernard terdiam mendengarkan ucapan Juan, “Tapi, kata Bunda. Didunia ini yang penting itu uang.”


“Kapan kamu ketemu Bunda?” tanya Iis kaget.


“Dua hari yang lalu, Bernart ingin kasih liat rapor sama sertifikat penghargaan milik Bernard. Tapi, kata bunda, semuanya nggak penting. Yang penting itu uang dan makanan enak, Teh,” Bernard menundukkan kepalanya sambil memeluk map hitam ditangannya. Lagi, air mata Bernard jatuh dari pipinya.


“Apa itu benar, Teh?” tanya Bernard.


“Apa?” Juan malah balik bertanya sambil mengambil map hitam ditangan Bernard.


“Kalau uang segalanya?” tanya Bernard.


“Bener, uang adalah segalanya.” jawab Juan santai.


“Mas,” bisik Iis sambil mencubit paha Juan pelan.


Juan membuka-buka rapor milik Bernard dan membaca isinya dengan cermat. “Uang emang segalanya. Tapi, untuk dapat uang dengan cara halal dan banyak,” Juan menghentikan perkataannya sambil menatap Bernard dan mengetuk dahinya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya, “Kamu harus punya ini.”


Bernard mengedipkan matanya beberapa kali saat mendengar perkataan Juan. Apa yang dikatakan Juan benar-benar mengubah persepsi Bernard secara langsung.


“Untuk dapat semuanya, kamu harus sekolah. Kamu sangka saya bisa gini bukan karena sekolah? Yah, saya sekolah. Jadi, mau uang kamu sebanyak gunung dan kamu makan enak setiap hari. Tapi, kamu nggak pintar, itu semua bakal habis, Bernard,” ucap Juan sambil menutup blu rapor dengan wajah senang. Nilai Bernard benar-benar memuaskan.

__ADS_1


Iis melihat sesuatu didalam map hitam Bernard, diambilnya kertas itu. “Astaga Bernard kamu udah hapal 2 juz? Hebat kamu, Nak. Tapi, kenapa ini sertifikatnya sobek-sobek terus direkatin lagi?” tanya Iis.


“Kemarin disobek Bunda, Teh,” jawab Bernard sambil mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.


Iis kaget mendengar perkataan Bernard, Bunda benar-benar orang nggak punya ahlak. Ibu macam apa yang tidak bangga anaknya dapat sertifikat seperti ini. Kepala Iis sepertinya akan pecah.


“Sini Bernard,” panggil Juan meminta Bernard duduk disampingnya.


Bernard dengan patuh duduk disamping Juan, sesekali terdengar Bernard menarik napasnya dengan berat.


“Mulai sekarang, panggil Mas Juan Papih dan Teh Iis Mamih. Mulai sekarang, mulai detik ini. Kamu anak Papih sama Mamih,” ucap Juan sambil menyerahkan surat legal tentang pengangkatan Bernard menjadi anak Juan dan Iis.


Bernard dan Iis kaget dengan perkataan Juan, Iis sama sekali tidak mengetahui kalau Bernard akan diangkat anak oleh Juan.


“Mas ini beneran?” tanya Iis sambil membenarkan posisi gendongan Liz.


“Iya.”


“Bernard jadi anak Teh Iis sama Mas juan? Bernard jadi kakaknya Liz?” tanya Bernard bersemangat.


“Iya, tapi dengan satu syarat,” ucap Juan sambil menatap Bernard tajam.


“Apa?”


“Belajar yang bener, lupain Bunda dan keluarganya. Jadi, orang bener. Kalau nggak, ini surat bakal berubah jadi surat kematian,” ancam Juan sambil mengacak rambut Bernard.


“Iya, Mas. Bernard bakal belajar rajin, bakal jadi yang terbaik,” ucap Bernard sambil mengusap air matanya yang terus-terusan jatuh dari matanya.


“Papih, bukan Mas,” Juan mengoreksi perkataan Bernard.


“Ah, Iya Papih....”


Juan langsung merangkul pundak Bernard sambil tersenyum senang. Matanya menatap Iis yang sedang tersenyum sangat manis pada Juan.


“Makasih, Mas,” bisik Iis pelan...


Juan hanya menjawab dengan anggukan dikepalanya. Hidupnya sudah berbahagia sekarang. Memiliki istri yang mencintainya dan dua orang anak yang sangat disayang oleh dirinya.


•••


Done... Bernard story selesai...


baca-baca banyak yang sedih Arrumi sama Radi yah? Gimana atuh, sudah guratan takdir Kaka Gallon kalau mereka harus berpisah... maafkan hehee...


Ready, untuk part Abah? Tapi nggak ketawa-ketawa yah... Part Abah yang mencintai Istrinya sampai kapanpun...!


Let’s Roll...


Hai ini hari senin, Ayooo cepet kasih Vote dan Point buat Kaka Gallon biar aku tuh happy gitu...


Kasih kenang-kenangan buat Kaka Gallon, kan novelnya mau tamat ini...


Sama itu tolong yah likenya di tabokkk biar hoba...


Jangan lupa baca novel Mr and Mrs Trina.

__ADS_1


novel ke dua kaka gallon.


Ayoo ditunggu tabokkan tombol vote, point dan likenya kakak... ❤️


__ADS_2