Water Teapot

Water Teapot
Mungkin gak Jodoh...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Zrettttt zresttttt


Baru saja Radi sampai di kostannya, Radi mendapatkan telepon, Radi mengerutkan dahinya saat membaca siapa yang meneleponnya.


"Tumben Mama nelepon ada...."


"RADI.... kerumah Cindy sekarang, mamah ngak sangup lagi, Radi. Kak Cindy tadi nelpon nangis-nangis katanya suaminya mukulin dia lagi, sampe kepalanya di pukul kayu. Udah mamah ngak kuat Radi. Bawa Cindy ke Singapura sekarang. Mamah ngak sanggup...!!!" isak Mama Radi histeris.


"APA ??? Sabar, Mah sabar..."


"Sabar gimana Radi, Cindy baru nikah sebulan aja udah dijadiin samsak hidup. Apalagi udah nikah lama...!!!" jerit Mamah Radi sambil sesekali terdengar batuk Papa Radi.


"Bawa Cindy pulang ke Singapura sekarang. Mamah udah urus semuanya, tiket pesawat Mamah kirim via email ke email kamu dan Cindy. Paspor Cindy di kamu kan ? Udah bawa kesini sekarang...!!" pekik Mamah Radi panik sepanik paniknya.


"Iya, Mah. Radi pulang sekarang...!"


Dengan cepat Radi mematikan Handphonenya menyimpannya di nakas. kemudian membereskan barang-barangnya semuanya, mengambil baju yang bisa dia ambil, alat mandi semuanya secara asal, pikirannya kalut.


Setelah selesai Radi langsung menuju rumah Kak Cindy yang berada di Batununggal Indah. Memacu motornya dengan cepat, Radi melupakan dua hal handphonenya dan janjinya pada Taca besok.


•••


Setibanya didepan rumah Kak Cindy, Radi kaget melihat Kak Cindy yang sudah menunggu didepan rumah hanya dengan daster, celana Jeans, topi, kacamata hitam dan tas kecil. Pakaiannya sudah mirip orang kurang waras.


"Kak..."


"Ayo, cepet... nanti ketauan Ahyal, Kaka ngak sangup dipukuli lagi. Ayo Ladi cepet..." pinta Cindy sambil naik kebelakang motor Radi.


"JAL*NG MAU KEMANA KAMU ??? SINI KAMU...!!!!"


Tiba-tiba teriakkan Ahyar suami Kak Cindy terdengar, Kak Cindy lansung membeku, tangannya gemetar ketakutan dan wajah Kak Cindy berubah pias.


"Ja..lan Lad..." ucap Kak Cindy terbata-bata.


Tanpa diminta dua kali Radi langsung tancap gas meninggalkan Ahyar yang masih menyumpah serapahi Kak Cindy.


"Ke bandara, Lad..."


"Iya, Kak..."


Radi dengan cepat dan cekatan melewati macetnya lalu lintas kota Bandung di sore hari. Dalam waktu 30 menit mereka sudah sampai di Bandara Hussein.


Kak Cindy dengan cepat turun dari motornya kemudian mengecek handphonenya untuk menemukan nomer tiket penerbangan.


"Lad...kamu ikut ?" tanya Kak Cindy.


Radi terdiam mendengar cara bicara Kak Cindy yang tiba-tiba menjadi cadel. Padahal Kak Cindy tidak cadel.


"Kak, Kakak kok jadi cadel ?" tanya Radi penasaran sambil menitipkan motornya dibagian khusus.


Kak Cindy tersenyum kemudian menunjukkan lidahnya yang terluka, Radi terkejut melihat kondisi lidah Kak Cindy.


"Kak kok bisa gitu ? Astaga kak, Radi udah bilang dari dulu Ahyar itu brengsek..!!!" hardik Radi kesal karena Kak Cindy tidak mendengarkan perkataannya.


"Maaf, Lad..."


"Udah sekarang kita pulang ke Singapura, biar Mamah yang urus Kaka." ujar Radi sambil menarik tangan Kak Cindy untuk mengantri.


•••

__ADS_1


Setibanya di Singapura Radi dan Kak Cindy sudah dijemput oleh supir pribadi keluarga Hasta. Sesampainya dirumah mereka langsung disambut dengan tangisan oleh Mamah dan Papah.


"Ampunnn Cindy, kenapa kamu bisa kaya gini. Kamu diapain Ahyar," jerit Mamah Radi saat melihat putri satu-satunya babak belur.


"Maaf Mah... maaf..." isak Kak Cindy tangisnya pecah dipelukkan Mamahnya.


Radi hanya terdiam melihat Mamah dan Kak Cindy menangis dihadapannya. Radi sadar ada yang menarik tangannya, ternyata Papahnya menarik lengan Radi.


"Apa, Pah ?"


"Ikut Papa..."


Papa Radi membawa Radi ke ruang makan, kemudian duduk di kursi makan.


"Radi, duduklah, ada yang ingin Papa tanyakan."


Radi menurut kemudian duduk di kursi terdekatnya, membuat dirinya saling bertatapan dengan Papahnya.


"Rad... semuanya sudah diurus, kamu pindah .Kamu kuliah disini. Papah dan Mamah ingin kamu tinggal disini."


Radi menatap Papahnya kaget, bingung bercampur marah, kenapa saat dia sudah merasa bahagia tinggal di Bandung, Mamah dan Papah memintanya pulang.


"Tapi, Pah... kuliah aku sebentar lagi. Aku juga punya seseorang yang aku cintai, Pah." pekik Radi kesal.


Papah Radi hanya bisa menghela napasnya, dia tau kalau Radi akan menentang hal ini. Tapi demi istrinya yang terus merengek ingin semua anak-anaknya kembali ke Singapura, mau tidak mau Papah Radi harus menurutinya.


"Papa tau, tapi ini semua demi Mamah dan Kaka Cindy..!" ujar Papa Radi tegas bercampur emosi marah.


"Ampun, Pah... Radi masih ingin di Bandung, Radi mohon..." pinta Radi sambil menatap Papahnya.


Papah Radi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bersikeras dengan pikirannya. "Tidak, Radi keputusan sudah bulat. Maafkan Papa."


Radi terdiam otaknya beku, kepalanya sakit. Satu-satunya yang ada diotaknya adalah TACA...


•••


"Iis aku siap, gimana ?" tanya Taca menunjukkan penampilannya. Gaun biru dipadukan dengan cardigan putih polos plus sepatu keds warna putih.


Iis bertepuk tangan "Pantesan Radi klepek-klepek."


Wajah Taca berubah merah, "Ngaco ah, yuk. Nanti macet."


"Ta, kamu udah telepon Radi ?" tanya Iis mengingatkan Taca sambil keluar dari kostan Taca.


"Udah tapi ngak diangkat-angkat. Aku juga bingung." ujar Taca.


"Lah... gimana sih."


"Udah kita kesana dulu aja, nanti aku telepon lagi," usul Taca sambil mengunakan seatbelt nya.


"Oke deh..."


•••


"Ta... ini udah jam 11 malam, Tafso juga udah tutup. Kamu beneran ngak bisa telepon Radi ?" tanya Iis bingung.


Taca kebingungan, diremasnya handphonenya, sudah berpuluh-puluh kali Taca menelepon Radi, mengirim puluhan sms dan WA chat. Semuanya nihil tidak ada satupun respon dari Radi.


"Aku telepon Joko yah, temen kostnya Radi" usul Iis sambil mencari nomer Joko dihandphonenya.


Taca hanya diam sambil mengigit bagian bawah bibirnya. Ada air mata yang menggenang di matanya.


"Joko, ini Iis. Mau nanya Radi kemana, yah ?" tanya Iis pada Joko melalui sambungan telepon.


"HAH, BALIK SINGAPURA ??? " teriak Iis kaget.

__ADS_1


"Kapan ? Kemaren sore... Ngak balik lagi ? Tau dari mana ?" Iis terus bertanya pada Joko, sedangkan Taca terdiam diduduknya menahan napasnya.


"Oke makasih, Jok..." Iis langsung menutup sambungan teleponnya dengan Joko.


"Ta.. Radi pulang ke Singapura buru-buru kemarin malam. Barang-barangnya udah diberesin semuanya tadi siang. Ada pesuruh yang beresin semuanya. Katanya dia ngak bakal balik lagi ke Indonesia. Dia bakal di Singapura."


"Ngak mungkin, kuliahnya ? Ini semester akhir Iis..!" ujar Taca tidak percaya.


"Semuanya udah diurus kata Joko, Joko yang bantuin perwakilan dari keluarganya buat urus-urus perpindahannya," ujar Iis bingung kenapa Radi tiba-tiba pergi ke Singapura.


Taca terdiam, air matanya tumpah. Taca menangis sejadi-jadinya membuat Iis kebingungan. Rasa sakit menyergap dada Taca. Kenapa ? Kenapa ? Kenapa disaat Taca mau membuka dirinya, mau mempercayai orang lain lagi. Mau mencintai seseorang, kenapa orang tersebut meningalkannya sendirian tanpa kejelasan. Kenapa ?.


"Iis, salah aku apa ? Aku baru mau mencoba membuka diri. Tapi kenapa Radi ningalin aku ?" Isak Taca menangis sejadi-jadinya.


Iis terdiam, demi apapun Iis pun bingung dengan kejadian ini. "Aku ngak tau, mungkin. Mungkin Radi belum jodoh, Ta."


Tangis Taca makin keras saat mendengar perkataan Iis.


•••


8 bulan kemudian


Setelah kepergian Radi, Taca tetap melakukan kegiatannya seperti biasa. Ada rasa hampa didada Taca. Tidak ada lagi yang memangilnya Princess, tidak ada lagi yang menamaninya makan sushi, tidak ada yang mengagetkannya, dan tidak ada lagi yang membawakan tas berisikan alat ukur psikologi yang berat.


Sedikit demi sedikit Taca mulai melupakan Radi, melupakan rasa sakit hatinya. Sampai...


Zretttt zretttt


Taca melihat handphonenya kemudian melihat pesan dari nomer tidak dikenal dihandphonenya, Taca yang penasaran membuka pesan tersebut.


-Princess morning, kamu dimana ?


Taca terdiam, hanya satu lelaki yang memanggilnya Princess di dunia ini. Radi.


-Radi ?


Balas Taca, tak berapa lama muncul balasan dari Radi.


-iya, kamu masih ingat aku ? Maafkan aku untuk kejadian di Tafso. Tapi aku benar-benar tidak bisa kesana. Ada urusan di Singapura, aku sekarang menetap disini. Kamu mau nunggu aku ?


Taca terdiam, entah kenapa Taca tidak merasakan perasaan apapun lagi dihatinya. Tidak ada perasaan cinta, sayang ataupun benci. Perasaannya flat, seperti kosong...


-Maaf Rad, kita ngak jodoh, have fun disana.


Setelah mengirim pesan tersebut, dengan cepat Taca memblokir nomer tersebut dan semua nomer Radi dihandphonenya.


Ada perasaan lega, seperti beban berat di bahunya terangkat. Aneh ?? Yah memang Aneh hanya dalam waktu 8 bulan Taca bisa melupakan Radi, Radi lelaki yang meningalkannya.


Taca benci ditinggalkan...


Flashback off


•••


Taca manusia biasa para pembaca, Taca bukan karung beras apalagi ulekkan... jadi Taca juga bisa kejam...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2