
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis membuka matanya pelan, sinar matahari membangunkannya. Dengan cepat Iis mengeliat di kasurnya, mencoba untuk mengumpulkan nyawanya. Iis tersenyum melihat pemandangan kota Wellington dari jendela kamar hotelnya.
Kemarin adalah hari terbaiknya setelah berkutat dengan masalah Kokom Hollykom, kemarin Iis bahagia karena berjalan-jalan dengan Juan, makan ice cream, naik kereta kabel, jalan-jalan di musium kereta dan botanical garden.
Iis langsung mengulingkan badannya kesamping, Iis langsung sadar kalau tidak ada Juan di kamarnya. Aneh, biasanya Juan selalu bangun lebih lama dari dirinya.
Diliriknya jam di layar handphonennya jam menunjukkan pukul 9 pagi waktu New Zaeland. Kemana bayi besarnya itu. Ah sudahlah.. mumpung Juan tidak ada Iis bisa berendam air panas dengan bebas.
•••
Juan yang sedang berbincang dengan seseorang di lobby hotel. Lelaki iti bernama Damian, dia adalah orang yang akan memotret dan mengambil gambar Juan dan Iis nanti di Queenstown. Juan ingin semuanya berjalan dengan baik, sehingga Juan meminta bantuan Damian, temannya saat kuliah dulu, yang saat ini sudah menjadi seorang photografer handal.
“Pokoknya semua sudah siap, semua sesuai keinginan kamu,” ujar Damian sambil tersenyum.
“Oke, makasih banyak Damian,” ujar Juan sambil menjabat tangan Damian.
“Ah...gimana kabar Adipati? Anak nakal sialan itu gimana kabarnya, masih ngak percaya cinta?” tanya Damian, Damian ingat Adipati sahabat sejati Juan, seorang cassanova yang tidak pernah percaya akan cinta.
“Adipati? Yakin kamu mau tau dia gimana sekarang?” tanya Juan pada Damian.
“Yakinlah, jangan bilang sekarang dia masih lajang dan masih bertualang dengan berbagai macam wanita, astaga andai aku punga tampang seganteng dia, aku sudah menjadi model,” ujar Damian sambil tertawa renyah.
Juan hanya bisa tersenyum, Damian tidak bisa dibilang jelek, orang gila yang menyebut Damian jelek. Mata hijau dan rambut coklat juga kontur wajah has orang Amerika benar-benar bisa membuat wanita bertekuk lutut.
“Lo jelek? Lupa Tere sampe ningalin gue cuman buat nikah sama elo,” Juan mengingatkan Damian.
“Hahahaa... masih inget aja, udah ngak usah di bahas, aku sama Tere udah cerai. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa gue lakuin,” ujar Damian sambil tersenyum kecil pada Juan.
“Wow, maaf deh. Prihatin gue sama kehidupan pernikahan lo,” ujar Juan santai, sejujurnya dia tidak peduli mau seperti apa kehidupan pernikahan Damian dan Tere saat ini.
“Santai, mungkin ini karma gue dulu ngerebut Tere dari lo,” ujar Damian sambil menepuk bahu Juan.
“Gue malah bersyukur kamu rebut Tere dari gue, kalau lo ngak ngelakuin itu, mungkin gue ngak bisa nemuim calon istri gue sekarang,” Juan mengesap kopinya sambil menatap Damian.
“Gimana Adipati, gue penasaran sama kehidupan dia,” Damian masih penasaran dengan Adipati.
Juan mengambil handphonenya kemudia membuka salah satu sosial media Adipati, kemudian menyerahkan pada Damian, “Liat sendiri.”
Damian mengambil handphone Juan, matanya membulat saat melihat photo Adipati yang sedang menggendong dua orang anak, lalu disebelahnya Damian melihat Adipati berphoto dengan seorang gadis kecil.
__ADS_1
“Adipati punya anak 3?” tanya Damian bingung.
“Hah, tiga?” Juan bingung rasa-rasanya anak Adipati cuman dua, satu lagi siapa?.
“Iya tiga, ini dua orang yang digendong sama Adipati dan satu lagi wanita ini ‘kan?” tanya Damian sambil menunjuk photo Taca.
“Hahahhaaa... itu istrinya, Taca namanya. Taca emang mungil, saking mungilnya beberapa kali Adipati kena semprot Ibu-Ibu disangka ngehamilin anak dibawah umur,” Juan tertawa keras mengingat kejadian tersebut.
Damian kaget mendengar informasi dari Juan, sekali lagi Damian mencek photo-photo Adipati dengan Taca, dilihat dari manapun Taca terlihat seperti anak SMA. “Astaga seorang cassanova jatuh bertekuk lutut sama gadis semunggil ini ?”
“True, Adipati sekarang benar-benar tidak bisa berpaling dari istrinya,” ujar Juan santai.
“Like you ?” goda Damian.
Juan terkekeh saat mendengar perkataan Damian, apa yang dikatakan Damian benar. Dia sudah bertekuk lutut pada Iis.
“Yeah, like me.”
Damian dan Juan tertawa bersama mendengar perkataan Juan. Tawa mereka terhenti pada saat Ada seorang wanita menyentuh bahu Juan.
“Long time no see..”
Juan dan Damian langsung melihat sumber suara, suara alto yang renyah itu mengingatkan Juan pada...
“Tere...”
“Hei, Damian, Juan,” ujar Tere.
Juan tersenyum dingin sambil mengalihkan pandangannya dari Tere ke Damian. Juan sedikit menggerakkan bahunya berusaha untuk mengenyahkan tangan Tere di bahunya.
“Tere, ngapain kamu disini?” tanya Damian bingung.
“Kamu lupa hari ini kita harus ke pengadilan, Dam,”ujar Tere.
Damian menepuk dahinya, dia baru ingat hari ini dia harus kepengadilan untuk mengurusi hak asuh anak-anaknya dengan Tere.
“Wow, selamat Damian akhirnya kamu terbebas juga dari nenek sihir bernama Tere,” canda Juan sambil menahan tawanya pada Damian.
Damian langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Juan. Tere langsung menepuk dan mengusap bahu Juan lembut.
“Ngaco, kamu Juan,” ujar Tere.
Tiba-tiba ada yang memegang punggung tangan Tere dan mendorong tangan Tere pelan agar tidak bertengger di punggung Juan.
“Hai, nama saya Iis, saya calon istri Juan, kamu siapa?” tanya Iis sambil menyodorkan tangannya kearah Tere sambil menepuk-nepuk bahu Juan keras sampai-sampai Juan terbatuk-batuk.
__ADS_1
“Uhuk... uhuk, Yang,”ujar Juan sambil menangkap tangan kiri Iis yang menepuk bahu Juan keras.
Tere yang melihat itu langsung menahan tawanya, ternyata ini wanita yang akan Juan nikahi. Wanita asli Indonesia, bukan peranakan atau bule seperti dirinya. Sepertinya tipe Juan sudah berubah 180 derajat.
“Tere,” ujar Tere memperkenalkan dirinya pada Iis.
“Iis,” jawab Iis pelan sambil berusaha untuk tersenyum padahal didalam hatinya dia ingin mencakar Juan, ngapain juga Juan ada disini sama mantan tunangannya. Mana dipegang-pegang pula. Arghhh otak Iis langsung traveling.
“Oh ini calon Istri Juan, kenalkan saya Damian, saya yang nanti urus video pre wedding kalian,” ujar Damian berusaha menyelamatkan Juan dari amukan Iis.
“Iis,” jawab Iis pelan.
“Saya suami Tere..”
“Mantan suami lebih tepatnya,” ujar Tere sambil tersenyum penuh arti pada Iis.
Ya salam mahluk ini ternyata janda, “Udah ngobrolnya ? Katanya kita mau jalan-jalan lagi,” ujar Iis mengalihkan pembicaraan.
“Udah, yuk mau kemana, Yang. Tere sama Damian juga mau ke pengadilan, mau ngurus hak asuh anak juga,” ujar Juan santai sambil berdiri kemudian melakukan kebiasaanga memasukkan tangan Iis kedalam saku longcoat miliknya.
“Ke Laut...” ujar Iis kemudian mendekatkan bibirnya ke kuping Juan. “Sekalian mau nyeburin kamu ke laut biar ngak jelalatan sama Tere..!”
Juan langsung menatap Iis dengan tatapan bingung, kenapa lagi Iis ini. “Yang..”
“Semuanya, duluan,” ujar Iis sambil menarik paksa Juan untuk pergi dari sana membuat Damian dan Tere saling menatap satu sama lain.
“Sepertinya Juan dapat Istri yang galaknya kaya singa,” ujar Damian.
“Sepertinya, Dam...”
Damian menatap Tere kemudian mendengus, “Tere, jangan punya pikiran aneh-aneh pada Juan. Biarkan Juan bahagia, Ter,” ujar Damian.
Tere kaget karena Damian sudah bisa menebak rencananya untuk membuat ulah pada pasangan didepannya. “Ngak, aku ngak mungkin...”
“Please, kasian Juan, Ter..” ujar Damian sambil pergi meninggalkan Tere yang terus tersenyum.
•••
Mau ngapain pula si Tererejing ini 🙈🙈🙈🙈
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon