Water Teapot

Water Teapot
S2: Tulang rusuk bukan tulang punggung


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Jadi Iis ketemu keluarga Lo ?” tanya Adipati sambil membaca grafik saham yang berwarna-warni dihadapannya.


“Jadi,” Juan hanya menjawab sekenangnya sambil tetap fokus pada grafik saham. Saham Toko saat ini sedang turun.


“Ini saham kenapa turun gini, sih ?” tanya Juan kesal, hanya dalam satu hari saham perusahannya bisa turun bahkan bisa dibilang terjun bebas.


“Bokap lo jual sahamnya, hampir semuanya,” ujar Adipati sambil menatap perusahaan yang menjual saham milik mereka berdua.


“Hah... ngapai Papih jual saham ?” Juan bingung kenapa tiba-tiba Papih menjual sahamnya, penjualan saham sebesar ini dan hanya dalam waktu satu hari akan membuat investor meragukan kredibilitas E-Commerce miliknya, bisa kabur semuanya.


Adipati memijat dahinya, mereka harus bergerak cepat kalau tidak perusahaannya akan koleps. “Ju, punya ide ?”.


Juan mengetuk jari-jarinya dimeja beberapa kali dia harus bergerak cepat, bila besok saham Papih tidak ada yang beli bisa-bisa besok akan banyak pemegang saham yang menjual saham Toko.


Juan mengangkat telepon kemudian menghubungi Saka.


“Iya Pak...”


“Saka tolong hubungi sekertaris Jeff Bezos (pemilik Amaz*n) dan Evan Spiegen (pemilik snapch*t). Tolong bikin janji sama mereka bilang Juan Wijaya ingin mengobrolkan masalah kemarin,” ujar Juan pada Saka.


“Siap Pak, nanti saya kabari lagi.”


Juan langsung menatap Adipati dengan senyuman bisnisnya.


“Lo yakin ini bakal berhasil ?”tanya Adipati sambil menatap Juan.


“Semua tergantung bacot lo, Di. Lo ‘kan paling pinter bacot,” ujar Juan sambil menepuk bahu Adipati.


“Oke I try, tapi coba kamu tanya Bokap lo kenapa dia jual semua saham hanya dalam sehari,” ujar Adipati.


“Nanti gue tanya sama Papih, pokoknya kita harus gerak cepet,” ujar Juan.


“Lo tanyain deh nanti malem sama Bokap lo, perasaan gue ngak enak beneran. Bokap lo suka bikin rencana aneh-aneh. Mana waktunya tepat banget sama acara makan malem lo, lagi. Perasaan gue ngak enak beneran,” Adipati mulai berargumentasi.


Juan hanya diam, dia baru sadar bahwa Papih sedang merencanakan sesuatu. Rasanya ini semua terlalu mudah, Juan tau sifat Papih. Arghh sial Juan lengah sampai-sampai lupa mengamankan aset dan Iis.


“Gue ngak peduli, mau seperti apa keputusannya nanti malam. Pokoknya setelah surat-surat selesai aku bakal nikahin Iis dengan atau tanpa izin Papih,” Juan benar-benar bersikukuh dengan keputusannya.


“Lakukan apapun yang kamu mau, aku pasti dukung,”ujar Adipati sambil beranjak dari duduknya.


Juan hanya diam sambil menatap grafik didepannya, pikirannya berpikir cepat. Juan terlalu terlena dengan kehidupannya bersama Iis yang tentram dan damai sampai Juan lupa masih ada Papihnya yang siap menghacurkan hubungannya dengan Iis. Juan lupa Papih paling anti dengan kaum ‘rendah’ seperti Iis.

__ADS_1


•••


Iis menatap Juan yang diam sepanjang perjalanan pulang dari biro ke apartemen Juan. Juan benar-benar seperti terjebak dipikirannya sendiri.


“Mas, kamu kenapa ? Ada yang salah dikerjaan kamu ?” tanya Iis sambil menyentuh pipi Juan dengan punggung tangannya.


Juan seperti tersentak ke alam nyata saat merasakan sentuhan tangan Iis yang dingin karena Ac mobil.


“Hah.. nggak, nggak apa-apa. Ada sedikit masalah diperusahaan,” ujar Juan sambil membelokkan mobilnya ke dalam parkiran mobil.


“Mau cerita ?” tanya Iis, walau sebenarnya Iis sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan, tapi untuk menjadi seorang pendengar yang baik Iis bisa melakukannya.


Juan sama sekali tidak mendengar pertanyaan Iis, fokusnya hanya pada masalah perusahaan, bagaimana menyelamatkan asetnya, menyelamatkan hubungannya dengan Iis dari Papih dan yang terakhir memarkirkan mobilnya secara pararel dengan baik dan benar.


“Mas..”


“Iya Yang, bentar aku lagi parkir,” ujar Juan sambil memundurkan mobilnya, kemudian memajukan mobilnya agar posisinya pas.


Iis menghela napasnya, mungkin lebih baik dia diam. Juan benar-benar tidak mau diganggu, mungkin Juan sedang sangat-sangat banyak pikiran.


Iis dan Juan memasuki lift, di lift Juan menggenggam tangan Iis erat seperti takut Iis lari.


“Mas, sakit. Aku ngak bakal kemana-mana kok, ngak usah seerat ini juga,” protes Iis tangannya kebas digenggam oleh Juan saking eratnya.


“Ah.. maaf,” ujar Juan sambil memasukkan tangannya dan Iis kedalam saku longcoat miliknya, mau tidak mau Iis mendekatkan diri kearah Juan mengikis jarak diantara mereka berdua.


“Maaf, Mas aku ngak bisa janji. Aku bukan dukun yang tau tentang masa depan. Tapi untuk saat ini aku akan tetep disamping kamu,” ujar Iis sambil tersenyum manis.


Tangan Juan langsung menari ikatan rambut Iis, membuka ikatannya menggerai rambut Iis. “Jawaban kamu tuh yah, suka bikin ketar ketir.”


“Jawaban aku itu rasional Mas, manusia itu abu-abu, ngak bakal ada yang jahat terus atau baik terus. Jadi, aku ngak pernah bisa ngasih kepastian apapun. Tapi, untuk saat ini, detik ini aku disamping kamu seutuhnya.” ujar Iis.


“Susah kadang ngomong sama kamu tuh, Yang.”


“Susahan mana sama kerjaan kamu ?” pancing Iis.


“Susahan kerjaan aku, gara-gara Papih jual sahamnya tiba-tiba perusahaan aku hampir goyang, doain aku yah, Yang, moga-moga investor yang lagi aku lobi mau membeli saham dalam jumlah besar, sukur-sukur mau tanam modal,” ujar Juan sambil menatap ke depan dan mengerucutkan bibirnya.


“Jadi, kalau Papih jual sahamnya perusahaan kamu bisa bangkrut ?” tanya Iis mencoba mengerti.


“Kurang lebih, kalau misalnya sampai besok atau lusa Papih masih jual sahamnya dan ngak beli kembali, banyak yang bakal jual saham.” Juan memencet tombol lift asal-asalan.


Iis sama sekali tidak mengerti hubungannya jual saham dengan perusahaan Juan yang akan bangkrut atau apapun itu. Yang Iis terima saat ini pokoknya Papih harus beli kembali saham di perusahaan Juan.


“Yang...”


“Hmm...”

__ADS_1


“Kalau aku bangkrut dan ngak punya apa-apa gimana ?” tanya Juan.


“Yah ngak gimana-gimana, emang kenapa ?”


“Kamu ngak bakal ningalin aku ?” tanya Juan sambil menatap Iis.


“Nggak, kan aku masih kerja, buat makan aku sama kamu adalah hehehee...” kekeh Iis sambil membalas tatapan Juan.


“Tapi, dengan satu syarat.”ujar Iis lagi dengan tatapan serius.


“Apa ?”


“Kamu harus mau bangkit, mencoba lagi buat kerja. Karena ingat aku ini tulang rusuk bukan tulang punggung,” jawab Iis mantap sambil menatap Juan.


“Siap Bu Iis, tapi kalau aku kerja biasa aja kaya karyawan kubikel gitu, kamu mau ?” tanya Juan lagi.


“Ngak papa, asal jangan jadi kaum rebahan aja,” canda Iis.


Juan tersenyum menatap Iis. Entah kenapa ada perasaan lega mendengar perkataan Iis, sekarang Juan siap untuk menanggalkan nama keluarganya andai Papih tidak menyetujui hubungannya dengan Iis ataupun bila perusahaannya bersama Adipati bangkrut sekalipun, Juan yakin wanita disampingnya ini akan selalu bersama dengan dirinya.


“Mas,” panggil Iis.


“Yah..”


Cup..


Iis mencium pipi kanan Juan dengan cepat, “SEMANGAT...!?”


Juan tersenyum melihat manisnya kelakuan Iis.


To good to be true..


•••


Inget wanita itu tulang rusuk BUKAN tulang punggung...


Ciao


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2