
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
"Yang, kok aku ngak bisa hubungi kamu sih?" tanya Juan pada Iis dari sambungan teleponnya.
Entah sudah berapa kali Juan menelepon Iis hari ini, saking kesalnya Iis mematikan data seluler handphonenya.
"Aku matiin data seluler handphone aku, abis kamu berisik banget, sehari ini kamu nelpon aku ada kali 5 kali," cerca Iis kesal.
Juan langsung tertawa renyah mendengar alasan Iis mematikan data selulernya, "Yang, kan aku kangen. Masa kangen ngak boleh ?"
"Astaga MAEMUNAH...!! Kangen sih kangen tapi ngak sehari 5 kali juga nelponnya, emang kamu ngak kerja? Pengangguran SATEH (kamu tuh *ini bahasa sunda kasar yah)?" tanya Iis ketus.
"Hahaha astaga Iis, perempuan lain banyak yang ngamuk karena pacarnya nggak ngehubungin. Ini kamu malah ngamuk gara-gara aku rajin ngehubungin. Aneh kamu tuh," ujar Juan sambil tertawa keras.
"Ihh kalau ngehubungin tuh yang wajar, sehari 5 kali, terus mana kalau aku telat angkat kamu misuh-misuh. Kan kesel yah, emang aku disini nggak ada kerjaan apa?" Iis benar-benar kesal dengan kelakuan Bapak Juan ini.
"Iya, maaf maaf, terus kalau besok aku kangen gimana ?"
"Yah kalau kangen tuh, sini ketemu. Kangen cuman nelpon doang, nyebelin tau."
"Oke, janji deh. Nanti pas kerjaan aku selesai aku kesana yah, udah jangan sedih, cinta akang cuman buat mojang citeko..."
"Astaga Juan belajar bahasa sunda dari mana kamu? Gombalnya ngak banget ih.” potong Iis geli mendengar gombalan Juan.
"Di internet dung, search aja gombolan bahasa sunda keluar loh, Yang," jawab Juan.
"Ihhh ngak banget, udah ah... udah jam sebelas. aku mau tidur. Besok aku masih harus bantuin Kang Rozak disekolahannya."
Mendengar nama Rozak membuat Juan cemburu, apalagi mengingat Iis dulu hampir mau menikah dengan Rozak.
"Ngapain? Udah ngak usah. Ngapain sih deket-deket Rozak?" Juan merasa keberatan Iis membantu Rozak.
Iis langsung memejamkan matanya, selama berpacaran dengan Juan, satu hal yang Iis sadari. Juan itu posesif.
"Aku udah janji, Ju. Kan aku disana bareng Taca juga. Jadi ngak mungkin aku ngapa-ngapain kan. Udah ah... nanti selama bantuin aku telepon kamu deh, jadi kamu bisa denger aku ngomong apa aja," Iis memberikan solusi, dia malas bertengkar dengan Juan.
Juan tersenyum lagi, terkadang dia tidak pernah habis pikir, kenapa Iis bisa lebih berpikiran dewasa dari pada dirinya, padahal umur Iis jauh lebih muda daripada usianya.
"Ngak usah, Yang. Aku percaya kamu kok."
"Udah ah... met tidur Juan Wijaya, Love and miss you," cicit Iis.
Pupil mata coklat Juan membulat mendengar perkataan Iis, baru sekarang Iis berani mengatakan Love and miss you. Arghhhh gemasss!!
"Love you, more."
Juan langsung menutup sambungan teleponya. Kemudian menatap jendela didepannya yang menyuguhkan pemandangan Jakarta yang indah. Juan terus tersenyum. Entah ini gila, tapi Juan merasa bahagia bersama Iis. Wanita mandiri yang suka membuatnya gemas.
Pip pip pip pip
Suara seseorang sedang membuka kunci pintu apartemen. Juan menyerngitkan dahinya. Siapa yang datang jam sebelas malam ke penthousenya, dan siapa juga yang tau password kunci apartemennya.
"Love..."
Deg
Jantung Juan berdetak kencang, hanya satu wanita didunia ini yang memanggilnga Love. Wanita yang hampir Juan nikahi tiga tahun yang lalu. Wanita yang menginjak harga dirinya hingga berkeping-keping. Wanita yang membuat Juan mengemis cinta, siapa lagi kalau bukan Cicil Bouw.
"There you are..." ucap Cicil dengan tatapan penuh nafsu melihat Juan yang bertelanjang dada.
(Disana kamu)
"Ngapain lo kesini ?" tanya Juan dingin, Juan hapal betul kelakuan Cicil. Cicil pasti akan mengamuk jika Juan langsung mengusirnya dari apartemen miliknya.
"Mau ketemu kamu, kamu ngak kangen aku, delapan bulan kamu nggak ada kabar, Love. Kamu nggak inget "permainan" kita yang terakhir?" ujar Cicil sambil menyentuh badan Juan.
Astaga, kenapa tiba-tiba Cicil jadi seperti ini, biasanya setiap bertemu, Cicil akan mengacuhkannya, mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya sakit hati.
__ADS_1
"Pergilah, Cil. Hati gue udah milik orang lain, you free now, as you wish..." ujar Juan sambil tersenyum kemudian menggenggam tangan Cicil.
(Kamu bebas sekarang seperti yang kamu inginkan)
Cicil terdiam, entah kenapa Cicil merasa Juan terlihat lebih mengairahkan, otaknya benar-benar sudah berpikir kemana-mana. Tiba-tiba Cicil mencium bibir Juan, menekan kepala Juan.
Juan terdiam beberapa detik, kemudian mendorong Cicil, "Cil, pergilah."
Cicil terdiam kemudian terkekeh sambil duduk di sofa. "Jadi kamu benar-benar menyukai gadis kampung bernama Iis ini?"
"Iya.”
"Baiklah, jadikan dia pacar kamu, nikahi dia, berkeluargalah dengan dirinya make love with her. Tapi, jadikan aku teman ranjang mu, Love."
Juan terdiam mendengar perkataan Cicil, "Lo kenapa? Lo yang tinggalin gue, lo yang nolak gue terus menerus selama 3 tahun ini. Tapi saat gue menemukan wanita yang benar-benar baik, elo balik.”
"Ngak boleh?"
"Astaga Cil, oke sekarang kalau aku tingalin Iis. Kamu mau nikah sama aku?" tanya Juan sambil mendekat pada Cicil dan berjongkok dihadapan Cicil.
Cicil terdiam menatap wajah gagah Juan, wajah yang selalu memberikan segalanya baginya. Cicil mengalungkan tangannya pada Juan kemudian mencium bibir Juan lembut, meminta akses untuk bisa menikmati bibir Juan. Namun, Juan diam tak bergeming.
Juan tertawa didalam hatinya, seandainya Cicil menciumnya seperti ini delapan bulan yang lalu, dengan senang hati Juan akan mengangkat tubuh Cicil keranjangnya. Menikmati setiap inci tubuhnya. Tapi sekarang, yang ada diotaknya hanya Iis.
"Answer me, Cil.." ujar Juan disela-sela ciuman Cicil.
(Jawab aku, Cil)
Cicil menghentikan ciumannya, kemudian menatap Juan sambil mengusap wajah Juan. Tiba-tiba Cicil tertawa keras.
"Hahaha nikah sama kamu? Nikah sama cowo..."
BRAKK...
Sudah cukup Juan sudah lelah dihina dan diinjak harga dirinya oleh Cicil. Dulu dia bodoh mau di perlakukan seperti itu oleh Cicil tapi sekarang, dia tidak akan mengizinkan Cicil memperlakukannya seperti itu lagi.
"Keluar Cil, DEMI TUHAN keluar...!!!" bentak Juan, sambil menarik tangan Cicil.
Juan tidak mempedulikan teriakkan Cicil, sudah cukup, sudah habis batas kesabarannya menghadapi Cicil.
BRUKK
Dilemparnya tubuh Cicil ke lantai lorong apartemennya, "Gue mohon, Cil pulanglah ke Belgia..!"
BRAKKK
Juan mengusap kepalanya, rasanya kepalanya sakit. Dia benar-benar harus menelepon seseorang. Dia butuh mendengar suara Iis. Diambilnya handphonenya dipencetnya nomer Iis yang sudah dia hapal diluar kepala.
Pada dering ketiga telepon Juan diangkat.
"ASTAGA JUANNNNN TADI TEH, KAMU UDAH NELPON...!!!" teriak Iis geram.
Juan langsung menjauhkan Handphonenya, suara Iis memang keras, terkadang Juan suka kaget juga mendengar teriakan Iis.
"Hahahhaa... aku kangen, Yang."
"Kangen gimana? Baru 30 menit yang lalu kamu nelpon. Aku baru aja mau tidur ini, astaga Juan..." cerocos Iis kesal.
"Hahahaaa... kesini makanya, biar kita bisa kelonan. Biar aku ngak sendirian.."
Intonasi suara Juan yang berubah lirih membuat Iis sadar ada yang salah dengan kekasihnya ini.
"Kamu kenapa, Ju. Cerita sini..." suara Iis berubah lembut.
Juan terdiam mendengar Iis, kepekaan Iis benar-benar membuat Juan jatuh cinta. "Janji kamu ngak akan marah."
"Iya.."
"Tadi, tadi Cicil kesini..."
"Ngapain?" Iis masih berusaha berpikiran positif. Walau rasanya dia ingin melempar bantal.
__ADS_1
"Hah... jangan marah, Yang. Dia tadi tiba-tiba masuk ke Penthouse aku.."
"Kok dia bisa tau password kunci apartemen kamu, hah?" Kesabaran Iis berkurang.
"Aku lupa ganti, Yang."
"Hmmm"
"Yang jangan marah, aku ngomong gini ke kamu biar kamu ngak berpikir yang aneh-aneh. Aku cuman sayang kamu, Yang. Mending kamu tau hal ini dari aku kan dari pada dari orang lain."
Iis terdiam, benar juga kalau tau dari orang lain bisa-bisa Iis murka. Tinggal nama yang ada Juan.
"Ya udah, terus dia ngapain kamu ?"
"Nggak nggak ngapa-ngapain."
Iis kembali curiga dengan jawaban Juan, ada yang janggal dari intonasi suaranya.
"Minta balikan?" tanya Iis, Iis langsung bertanya dengan cepat, agar Juan menjawab dengan cepat juga berharap Juan keceplosan.
"Nggak" jawab Juan cepat.
"Minta nikah ?"
"Nggak"
"Hamil ?"
"Nggak"
"Peluk kamu ?"
"Nggak"
"Making love with her ?"
"NGGAKKK LAH, Iis."
Masih merasa curiga Iis langsung menanyakan pertanyaan pamungkasnya, dengan cepat.
"Nyium kamu?"
"Iya, dicium bibir a...."
DAMN...!! Juan langsung menghentikan perkataannya, Arghhh... gini nih susahnya pacaran sama Iis, ada aja cara Iis untuk membuat Juan buka mulut.
"Oh..."
KLIK....
Iis menutup teleponnya, Juan langsung menatap handphonenya dengan perasaan bersalah. Juan mencoba menghubungi Iis namun nihil. Iis tak bisa dihubungi.
"Juan, kok kamu bodoh gini...!!!" rutuk Juan sambil menepuk dahinya.
•••
Nah loh....
Author kabur ah....
Hai... Kaka Gallon mau rekomendasikan Novel teman Kaka Gallon yang bernama Kak Chida.
Ini petikkan novelnya yah..
Anwa tersenyum, netra mereka saling mengunci, membuat detak jantung keduanya seakan berhenti. Arkana melangkah kecil mendekati Anwa, mata itu kembali menyapu setiap inci dari wajah Anwa dan pandangan itu sama-sama jatuh pada bibir keduanya.
Arkana meraih tangan Anwa, membuat gadis itu sedikit tertarik mendekat pada tubuhnya. Merengkuh pinggang ramping Anwa, masuk ke dalam sela blazer yang Anwa kenakan. Satu tangan Anwa menahan dada bidang yang Arkana miliki, sedangkan satu tangan Arkana mulai menjalari tengkuk leher Anwa yang tertutup rambut keritingnya.
Makasih yah..
__ADS_1
XOXO GALLON.