Water Teapot

Water Teapot
S2: Pengecut kamu...!


__ADS_3

Meong... Meong...


Suara kucing membuat Riki berbalik melihat kearah pintu. Detik ini, Riki sedang berada diruangan ganti khusus keluarga perempuan. Diruang itu tinggal dirinya, Rozak dan Abah sudah dari tadi ketempat Taca. Sedangkan, dirinya masih asik di sana.


Pakaian yang dikenakannya adalah setelan tuxedo lengkap keluaran Armani, Taca benar-benar memberikan yang terbaik untuk kedua kakaknya dan Abah. Riki benar-benar tampak tampan mengenakannya, wajah asli Indonesianya benar-benar membuat beberapa wanita Italia menolehkan kepalanya berkali-kali pda dirinya.


Bahkan, beberapa wanita bahkan ada yang terang-terangan mendekatinya. Meminta nomernya, bahkan ada yang meminta kunci kamarnya dengan gaya sangat sensual. Semuanya Riki tolak, otaknya sampai detik ini masih dipenuhi seorang wanita. Wanita cantik dan manja bernama Cicil Bouw.


“Kucing dari mana kamu?” tanya Riki sambil mendekati kucing tersebut. Dahinya mengkerut, saat melihat kucing dihadapannya. Kucing itu sangat mirip dengan Guelis. Kucing milik Cicil.


Diambilnya kucing itu, diangkatnya. Dilihatnya kalung leher kucing tersebut, “Geulis.”


“Kamu kenapa bisa disini?” tanya Riki sambil berjongkok dan mengelus Geulis.


Meong...


Riki tersenyum kemudian memangku kucing itu, mengelus badan geulis dengan lembut. Otak Riki membayangkan sedang mengelus, Cicil. Wanita yang Riki cintai.


Brak...


Pintu dibuka oleh seseorang, “Geulis... Aw.”


Wanita itu menabrak Riki, kakinya tersandunh badan Riki. Riki yang kaget langung mendongkakkan kepalanya. Kepalanya langsung menabrak dada lembut dan wangi orang yang membuka pintunya dengan terburu-buru.


‘Wangi ini’ pikir Riki didalam hati. Riki tidak pernah melupakan wangi tubuh ini. Wangi kesukaannya, wangi Cicil.


“Neng....”


Cicil yang tidak sadar dengan siapa yang ditimpa badannya detik ini, dengan cepat mengangkat badannya.


“Maaf, saya cari ku...” Cicil terdiam saat melihat Riki yang sedang tersenyum manis padanya. Rambut Riki yang sudah panjang di tata sedemikian rupa membuat ketampanan Riki bertambah 100 persen.


“Kucing aku, Aa,” cicit Cicil.


Riki tersenyum menatap Cicil, kupingnya benar-benar dimanjakan oleh suara Cicil yang memanggilnya Aa. Tangan kanannya spontan mengelus pipi putih Cicil, menyelipkan rambut Cicil ke kupingnya.


“Hai, geulis,” panggil Riki sambil mengusap bibir bagian bawah Cicil.


Sentuhan tangan Riki benar-benar seperti sengatan listrik untuk tubuh Cicil. Sengatan yang mampu membuat semua indra di tubuhnya bangun. Mendamba.


Cicil mengusap rambut Riki pelan, membenamkan tangannya ke rambut Riki. Mengusapnya, entah sadar atau tidak Cicil mengecup kening Riki pelan.


“Aa sehat?” bisik Cicil di kuping Riki.


“Sehat, Neng. Tapi, kalau kamu nimpa Aa kaya gini. Aa bisa kena asma, gara-gara sesak napas,” ucap Riki sambil mengelus punggung Cicil pelan.


Senyuman Cicil langsung berubah merengut saat mendengar perkataan Riki. “Maksud Aa, Neng gendut,” ucap Cicil sambil memukul bahu Riki kesal.


“Aw...” erang Riki sambil mengelus bahunya yang dipukul dengan lumayan keras oleh Cicil.


Cicil dengan cepat berguling ke samping kanan Riki. Dengan cepat Cicil duduk dan mengambil Geulis. “Aa tuh demen banget bilang Cicil gendut, nyebelin, ih,” ucap Cicil sambil mendorong badan Riki kesal.


“Hahaha... Aa nggak bilang kamu gendut. Aa cuman bilang kalau kamu kelamaan nimpa Aa, Aa bisa asma,” ucap Riki sambil menatap Cicil.


Astaga, Riki benar-benar rindu pada gadis disampingnya ini. Senyumannya, sentuhannya dan yang terpenting suaranya yang manja juga lembut, membuat Riki melayang.

__ADS_1


“Neng, sehat?” tanya Riki.


“Sehat, cuman sakit disini aja,” ucap Cicil sambil menunjuk bagian dadanya.


“Kenapa?”


“Hati Cicil kosong, nggak ada Aa,” ucap Cicil sambil menatap manik mata hitam milik Riki.


Riki hanya bisa menghembuskan napasnya pelan. Saking pelannya, Riki yakin hanya orang yang memiliki pendengaran super yang mampu mendengar suaranya. “Hati Aa juga kosong, Neng,” jawab Aa pelan.


Cicil kaget dengan jawaban Riki. “Kosong karena?”


“Kosong, nggak ada Neng,” jawab Riki pelan.


“Tapi, tapi ‘kan Aa yang ninggalin, Neng. Kenapa, hati Aa yang kosong?” tanya Cicil bingung, seingatnya dirinyalah yang diputusi oleh Riki bukan sebaliknya. Harusnya, dia yang galau bukan Riki.


“Hahahaa... Aa masih sayang, masih cinta sama Neng,” jawab Riki pelan.


“Kalau masih sayang dan masih cinta sini peluk...” ucap Cicil sambil merentangkan kedua tangannya.


Riki tersenyum melihat Cicil yang manja, dengan cepat Riki memeluk Cicil, membenamkan wajahnya diceruk leher Cicil. Saking rindunya, tanpa sadar Riki mengangkat badan Cicil dan mendudukkannya dipangkuannya. Mengusap setiap jengkal bagian belakang tubuh Cicil dengan lembut.


“Aa, cinta sama Neng?” tanya Cicil sambil melepaskan pelukkannya dan menatap Riki lekat-lelat.


Riki dengan cepat mengusap bibir bagian bawah Cicil, menggelitiknya. Tanpa sadar, Riki mendaratkan bibirnya di bibir mungil milik Cicil. Menggigitnya lembut, menyapukan lidahnya kebagian dalam mulut Cicil, menghirup manisnya mulut Cicil.


Hasrat Cicil meledak saat Riki menciumnya dengan lembut, Riki tidak pernah menciumnya dengan nafsu. Ciuman Riki selalu lembut dan membuat Cicil hanyut, dengan tenangnya Cicil memiringkan bibirnya dan memberikan akses tak berbatas pada Riki untuk menjelajah setiap jengkal bagian dalam bibirnya. Dengan lincah Cicil mengelus setiap inci bagian langit-langit mulut Riki, memberikan sensasi menggelitik yang membuat hasrat Riki meloncat ketitik tertingginya. Membuat celana yang digunakannya benar-benar sesak.


Tangan Riki menarik apapun yang bisa ditarik dari baju yang dipakai oleh Cicil, Cicil pun membuka kancing kemeja Riki tanpa melepaskan pangutannya sama sekali. Suasana makin panas sampai satu kata terucap dari bibir Cicil.


“Aa, jadi pacar Neng lagi? Aa mau ‘kan hidup sama Neng?” tanya Cicil pelan disela-sela ciuman dari Riki.


Riki masih ketakutan untuk menjadikan Cicil pacarnya. Riki merasa dia belum mampu dan pantas untuk menjadi kekasih Cicil. Ayolah, Riki belum bekerja sama sekali. Dia belum ada penghasilan tetap setiap bulannya, mana berani dia berpacaran dengan anak sultan seperti Cicil.


“Neng, maaf. Aa nggak bisa pacaran sama Neng. Aa nggak mampu,” ucap Riki lagi sambil mendorong badan Cicil pelan. Memindahkan Cicil dari pangkuannya ke lantai disampingnya.


“Maksud Aa, apa?” tanya Cicil bingung. Baru sedetik yang lalu dirinya dan Riki berciuman dengan sangat panas. Namun, sekarang tiba-tiba Riki mengatakan kalau dia tidak mau menjadi kelasih Cicil. Kalau begitu, kenapa Riki menciumnya seperti tadi dan mengapa Riki mengatakan kalau dirinya masih cinta pada Cicil?


“Aa nggak bisa, Neng. Aa bukan anak sultan, Aa nggak bakal mampu buat ngehidupin Neng dengan layak. Aa nggak mau Neng menderita,” ucap Riki pelan sambil membenarkan kancing kemejanya yang sudah terbuka semuanya. Cicil benar-benar ahli membuka pakaian miliknya.


“Neng nggak butuh anak sultan. Neng udah pernah tunangan sama anak sultan, Juan. Tapi, Neng nggak bahagia, malah Neng sama Juan kaya saling menyakiti. Neng, cuman mau sama orang yang bener-bener cinta sama Neng, kaya Aa,” jawab Cicil sambil berusaha untuk memeluk badan Riki. Riki dengan sopan dan lembut menolak untuk dipeluk oleh Cicil.


“Maaf, Neng. Aa nggak bisa, Aa bakal minder, Aa bahkan nggak punya kerjaan. Maaf Neng,” ucap Riki sambil berdiri dari duduknya.


“Aa, liat Neng,” bentak Cicil sambil berdiri dan menarik lengan Riki kesal.


“Neng, Aa nggak bisa.”


“Aa cinta Neng nggak?” tanya Cicil sambil menatap manik mata Riki lekat-lekat dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Neng....”


“Aa, jawab. Aa cinta Neng nggak?” tanya Cicil lagi.


“Neng, itu nggak usah ditanya. Aa Cinta sama Neng, Aa sayang sama Neng,” ucap Riki sambil menunjuk bagian dadanya, intonasi suara Riki bergetar hebat saking menahan emosinya.

__ADS_1


“Kalau gitu, perjuangin, Neng. Cintain Neng, diam disisi Neng, bukan ningalin Neng,” pekik Cicil frustasi, Cicil benar-benar kesal dengan kepengecutan Riki. Rasanya, seperti hanya Cicil saja yang memperjuangkan kehidupan asmaranya.


“Neng, astaga. Aa sayang dan cinta sama kamu. Tapi, tolong mengerti, Aa nggak bisa. Aa cuman orang miskin, Neng,” ucap Riki sambil menyentuh kedua pipi Cicil dengan kedua tangannya.


“Aa, kalau Aa mau. Aa bisa diam disamping Neng, nggak kaya gini. Jangan siksa Neng, Aa,” ucap Cicil sambil mencium telapak tangan kanan Riki yang sudah basah karena air mata Cicil, “jangan jadi pengecut, Neng mohon,”


“Jangan jadi pengecut Riki Trina...!?” teriak Cicil keras sambil mengguncang badan Riki keras.


“Maaf...” jawab Riki lirih sambil mencium kening Cicil lembut. Diciumnya pucuk kepala Cicil lembut.


“Aa nggak bisa, Aa terlalu sayang dan cinta sama Neng, sampai-sampai Aa nggak mau kamu menderita karena hidup sama Aa,” ucap Riki pelan.


Riki memeluk Cicil yang sudah menangis, air mata Cicil membasahi tuxedo milik Riki. Riki berbisik di telinga Cicil dengan pelan den lembut.


“Maaf, sayangnya Aa. Maaf,” bisik Riki.


Riki berjalan keluar dari ruangn tersebut dan menutup pintu ruangan.


“Pengecut kamu Riki Trina...!” teriak Cicil sambil melemparkan sepatu miliknya ke pintu yang sudah ditutup oleh Riki.


“Brengsek kamu, brengsek...” isak Cicil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, berusah meredam tangis. Badan Cicil bergetar hebat saking kuatnya Cicil menangis.


“Brengsek kamu, Riki,” isak Cicil, kaki Cicil benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Cicil ambruk ditempat, tangisannya pecah. Hatinya sakit, brengsek. Kenapa hidupnya sebrengsek ini, kenapa dia harus jatuh cinta dengan seorang lelaki penakut dan pengecut seperti Riki. Kenapa?


Sakit, dada Cicil sakit. Saking sakitnya Cicil berteriak dengan keras, seluruh kata makian yang Cicil ketahui meluncur dengan lancar dari mulut mungil Cicil.


“RIKI BRENGSEK....!?”


Tubuh Riki bersandar dibalik pintu yang sudah dia tutup tadi. Badannya merosot, air matanya pecah. Riki menekan matanya dengan kedua jempolnya berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata lebih banyak lagi. Astaga hati Riki sakit bukan main.


Ditelinganya masih terdengar teriakkan Cicil didalam sana, rasanya dia ingin membuka pintu dibelakangnya dan memeluk Cicil. Menciumnya, menenangkannya dan berkata bahwa dia akan selalu bersama dengan dirinya. Tapi, Riki terlalu pengecut untuk melakukan semua itu.


Tangan Riki mengambil kalung dilehernya. Kalung itu berliontinkan cincin nikah sederhana. Cincin bulat biasa, dibagian dalamnya ada tulisan. Cicil.


Cincin itu milik Cicil dan akan selalu menjadi milik Cicil. Cicil wanita yang selalu Riki harap menjadi ibu dari anak-anaknya. Cicil yang selalu Riki harap untuk menjadi pendamping hidupnya.


Apa semua itu hanya hayalan bagi Riki atau kah akan menjadi kenyataan?


•••


Huaaa nggak tau harus bilang apa, hari ini adalah hari terakhir novel ini bakal ada kata update.


Astaga aku nggak tau harus ngomong apa sama kalian semua. Beribu ucapan terima kasih kayanya nggak bakal cukup buat nunjukkin terima kasihnya aku buat kalian semua yang baca cerita ini.


Tenang, masih ada bab untuk hari ini.


Siap untuk cerita manis JULIS dan ADITA...


Ah jangan lupa, itu tombol likenya ditabok yang keras...


Jangan lupa vote dan point. Komen yang banyak yah di bab hari ini. Mau Kaka Gallon abadikan hahahaa...


Kalau kalian penasaran sama kisah cinta Riki dan Cicil atau mau tau jodoh Rozak yang cantiknya nggak ada obat tapi tiap kenalan sama orang baru bikin naek darah? Kangen Abah, kangen pasangan ADITA atau JULIS.


Silahkan ke novel Kaka Gallon yang lain. Judulnya, Mr. and Mrs. Trina.

__ADS_1



XOXO GALLON


__ADS_2