
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis berlari meningalkan Juan kemudian masuk kedalam mobilnya, didalam mobil Iis menangis sejadi-jadinya. Astaga mulutnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama. Kenapa dia menjawab mungkin, jawab tidak. Iis tidak mau cerai, astaga kenapa dia menjawab mungkin.
Tangisan Iis pecah, Iis menggila didalam mobil, digebraknya stir mobil berkali-kali seperti orang gila. Jeritan dan tangisan Iis benar-benar memenuhi mobil. Tangisannya benar-benar tidak dapat dibendung. Berkali-kali Iis memanggil nama Juan, sampai suaranya serak. Tangis benar-benar sudah menjadi sahabatnya selama sebulan ini.
“MAAF MAS... MAAF...!!!” teriak Iis berkali-kali.
Iis benar-benar hilang kendali, tangisannya benar-bener terdengar pilu. Iis meratapi kenapa dengan bodohnya dia berkata mungkin.
Zrrtttt.... Zrrtttzzzz....
Iis mengambil napasnya dalam-dalam kemudian mengambil tissue di dashboard mobil, dilapnya air mata yang entah kenapa seperti tidak pernah tandus selama sebulan ini.
“Halo,” Iis berjuang untuk menstabilkan intonasi suaranya, dia tidak mau ada yang tahu kalau dirinya histeris.
“Bu Lizbet, maaf Ibu jadi ketempat saya?” tanya suara merdu pada sambungan telepon tersebut.
“Ah, Bu Windu,” Iis langsung melihat jam ditangannya, “jadi, Bu. Tapi, kayanya saya rada telat nggak apa-apa?”
“Ah... nggak apa-apa, ini Chiko sama Anggunnya juga belum mandi,” ujar Windu.
“Ah... iya nanti saya kesana, sekalian saya ketemu sama Chikonya, ini pertama kali kita ketemu yah, Bu.” ujar Iis.
“Iya, saya tunggu yah,” ujar Bu Windu.
“Mari Bu,” ujar Iis menutup sambungan teleponnya dan mengambil pouch make upnya, make upnya harus di benarkan, Iis berjuang untuk menutupi bengkak matanya.
•••
Sudah dua jam Iis berada dirumah Windu, Ibu itu memiliki anak berkebutukan khusus ADHD dan cerebal palsy. Iis benar-benar mengacungkan jempol kepada Windu. Iis sendiri mungkin tidak akan mampu bila diberikan anak seistimewa Chiko dan Anggun, tapi Bu Windu benar-benar menikmati waktu kebersamaannya bersama Anggun dan Chiko.
“Minggu depan Bu Lizbet kesini lagi ‘kan?” tanya Windu sambil memeluk Chiko anaknya yang mengalami cerebal Palsy.
“Iyalah, kan mau ketemu Chiko sama Anggun juga ‘kan,” ujar Iis sambil menepuk kaki Anggun yang sedang mengutak ngatik rubik cube yang semuanya berwarna hitam.
“Ah, baru sekarang saya liat Chiko mau diam. Bisanya muter, walau awal-awalnya saya sangka Bu Lizbet sedang memarahi Chiko, padahal nggak. Maaf yah awalnya saya sangka Bu Lizbet galak,” ujar Windu sambil tersenyum penuh maaf.
“Hahahaa... nggak apa-apa, udah biasa,” ujar Iis sambil meminum tehnya.
“Bu Iis udah menikah? Kayana kalau Bu Iis punya anak, anaknya bakal asik,” ujar Windu.
“Ohok... ohok... gimana Bu?” tanya Iis.
“Aduh Bu, pelan-pelan,” ujar Windu panik, “apa pertanyaan saya menyingung Ibu?”
“Ah nggak, saya udah nikah, Bu. Tapi, saya belum punya anak. Saya sakit, saya nggak bisa punya anak,” dusta Iis, lebih baik saat ini semua orang didunia taunya dirinya yang mandul bukan Juan.
“Ah... maaf, suami saya juga mandul,” ujar Windu tiba-tiba.
“Eh... terus...” Iis menunjuk Anggun dan Chiko tanpa sadar.
“Ini? Mereka anak-anak dari panti asuhan, saya ambil dari panti asuhan dari mereka bayi, alhamdulilahnya saya dapet anak-anak hebat kaya mereka,” ujar Windu sambil tersenyum manis.
__ADS_1
“Ibu... ambil panti?” tanya Iis.
“Iya, saya ambil dari panti,” jawab Windu.
Iis benar-benar sudah tidak mampu berkata-kata, terbuat dari apa hati Windu? Bagaimana dia menerima kenyataan kalau suaminya tidak bisa memiliki anak, bagaimana dia bisa tahan dengan ocehan masyarakat?
“Bu, maaf gimana perasaan Ibu saat tau kalau suami Ibu mandul?”
“Pertama kali tau, hancur. Merasa, mungkin tidak akan pernah menjadi wanita sempurna, tidak akan merasa hamil, melahirkan, dan menyusui.”
“....”
“Bahkan sebulan pertama saya sama suami berkelahi terus menerus, rumah itu sudah seperti neraka. Neraka dunia, semua kata-kata kasar keluar dari mulut kami berdua. Ego, Ego benar-benar membuat kita saling mempertahankan argumen. Sampai satu titik saya ingin bercerai dengan suami saya,” ujar Windu sambil mengusap Anggun.
“Ibu bercerai?” tanya Iis.
“Nggak, untungnya. Untungnya saya tidak bercerai, untungnya saya sadar...”
“Sadar apa?”
“Sadar kalau saya mencintai suami saya, kemanapun saya pergi, kemanapun saya berlari. Suami saya akan mengejar saya dan saya sadar kalau saya harus memaafkan suami saya, cuman dia yang saya punya, dia yang selalu ada dan dia yang selalu merengkuh saya pada saat saya dalam kondisi apapun, Iya Bu Lizbet, saya mencintai Suami saya. Suami saya adalah rumah,” ujar Windu sambil menyentuh tangan Iis.
“Bu....”
“Bu Lizbet coba saya mau tanya, siapa yang selalu ada disamping Ibu saat sedih?”
“Mas Juan,” jawab Iis spontan, Iis benar-benar tidak peduli kalau kliennya ini mengetahui nama suaminya.
“Siapa yang selalu ada disamping Ibu disaat Ibu mengalami kesusahan?”
“Mas Juan.”
“Mas Juan,” isak Iis tiba-tiba.
“Siapa yang selalu mau menghabiskan hidupnya bersama Ibu?”
“Mas Juan.”
“Siapa yang selalu membela Ibu, disaat tidak ada satupun orang dilingkungan Ibu mau membela Ibu?”
“Mas Juan.”
“Siapa yang selalu kembali lagi mencari Ibu sekuat apapun Ibu sembunyi dan berlari?” tanya Windu, Windu benar-benar merasa Iis butuh sesuatu untuk menyadarkannya bahwa dia mencintai suaminya.
“Mas Juan.”
“Terakhir, siapa yang Ibu cintai sampai Ibu rela menghabiskan waktu hidup Ibu cuman bersama dengan dirinya?” tanya Windu sambil menatap Iis.
Iis menatap Windu dengan mata yang sudah berkaca-kaca, seumur hidup baru sekarang dia sesedih ini.
“Bu Lizbet, Siapa?”
“Mas Juan, astaga Bu Windu, saya harus pulang, saya harus pulang kesuami saya. Saya harus pulang ketempat suami saya,” isak Iis sambil membereskan perlengkapannya dengan cepat.
“Pulanglah Bu, Mas Juan menunggu,” jawab Bu Windu sambil tersenyum.
“Iya...”
__ADS_1
•••
Iis langsung masuk kedalam mobilnya kemudian mencari handphonennya untuk menelepon Juan, dia harus bertemu Juan. Dia butuh Juan.
“Mas....”
“Iis, ini Mamih, Nak.”
“Mas Juan dimana Mih? Mas Juan di rumah Mamih?” tanya Iis cepat.
“Nggak, Nak. Juan tadi pamit mau ke apartemen, handphonennya ketinggalan di rumah Mamih. Kamu mau kemana?”
“Aku mau pulang Mih, aku mau pulang ke apartemen Juan, aku mau pulang,” ujar Iis sambil tersenyum senang.
“Ah... Iis sayang kamu mau...”
“Juan suami Iis dengan segala kekurangan dan kelebihannya Mih,” jawab Iis.
“Ah, ya udah cepet kamu ketempat Juan, cepet Iis,” ujar Mamih bahagia.
“Iya, Mih...”
Iis langsung mematikan layar handphonennya, matanya membulat saat melihat remimder di handphonennya. Astaga... hari adalah hari spesial untuknya dan Juan. Kenapa dia bisa lupa, sepertinya dia harus membeli sesuatu dulu, sebelum ke tempat Juan.
Iis tersenyum sambil mengemudikan mobilnya menembus kemacetan Jakarta. Tiba-tiba radio di mobilnya mengalun lagu yang membuat Iis makin ingin cepat bertemu dengan Juan. Bertemu dengan rumahnya.
I wish I knew where I was
'Cause I don't have a clue
I just need to work out some way of getting me to you
'Cause I will never find love like ours out here
In a million years
A million years
My location unknown
Tryna find a way back home
To you again
I gotta get back to you
Gotta, gotta get back to you
(Location Unknown-Honne)
“Mas, aku pulang...”
•••
Saat kamu lelah dan tidak tau harus berbuat apa, tanya balik dirimu sendiri, niscaya kamu bakal tau jawabannya apa...
-Kaka Gallon-
__ADS_1