Water Teapot

Water Teapot
S2: Balon


__ADS_3

Yaraa mencari kekasinya kesetiap jengkal Villa, ternyata mencari Dimas di villa itu sangat sulit, padahal seingat Yaraa, Dimas itu berperawakan tinggi, berotot dan besar.


Yaraa celingukan seperti anak hilang, berusaha mencari Dimas sambil membawa-bawa balon pink. Saat sedang mencari Dimas tiba-tiba ekor matanya melihat kaki dibalik pohon pinus.


Yaraa mengendap-ngendap mendekati kaki yang terjulur, diintipnya siapa yang ada dibalik pohon pinus tersebut. Saat melihat Dimas yang sedang duduk dan mengendurkan dasinya, ide jahil langsung melintas dikepalanya.


Yaraa langsung meloncat ke pangkuan Dimas, Dimas yang tidak memiliki persiapan apapun hanya bisa menahan napasnya dan berteriak keras saat merasakan Yaraa meloncat kepangkuan Dimas.


“Ampun, Ade,” teriak Dimas yang kaget setengah mati melihat Yaraa yanh tiba-tiba sudah ada dihadapannya.


“Hahahaa... hai Kak, kenapa tadi kabur?” tanya Yaraa santai menyembunyikan balon dibelakang badannya.


“Aku tuh takut balon, nggak suka aja deket-deket balon,” jawab Dimas, sudahlah Dimas pasrah bila Yaraa mengetahui aibnya.


“Kamu Globophobia?” tanya Yaraa sambil mengusap rambut Dimas.


“Apapun lah itu, pokoknya aku takut balon, ngilu kalau denger suaranya sama serem kalau itu balon pecah.” jawab Dimas, mata Dimas tiba-tiba menangkap benda sialan itu ada dibelakanv tubuh Yaraa.


“Dek, Kaka udah bilang. Kaka cinta dan sayang sama Ade. Ade mau apapun, Kaka kasih deh, Ade mau jalan-jalan keliling dunia bolak balik sampe tujuh balikan juga, ayolah. Kaka ikutin. Tapi...” Dimas menghentikan perkataannya karena tiba-tiba rasa mual menguasainya.


“Tapi apa Kak? Kenapa?” tanya Yaraa penasaran, Yaraa belum sadar kalau Dimas sudah merasakan kehadiran balon dibelakang badang Yaraa.


“Tapi, Kaka nyerah kalau kamu bawa-bawa Balon..!?” pekik Dimas saat melihat balon dibelakang badan Yaraa yang sudah menyembul-nyembul keluar dari persembunyiannya.


Balon-balon itu seperti memanggil-mangil Dimas, badan Dimas langsung bergidik ngeri saat melihat balon berwarna pink itu menari-nari dengan indahnya dibelakang badan Yaraa.


“Balon dibelakang kamu tuh, udah kaya boneka santet yang nari-nari dibelakang badan kamu, Dek,” ujar Dimas lagi sambil menjauhkan badannya sejauh mungkin dari balon yang tiba-tiba bergerak makin mendekat ke tubuh Dimas.


“Kaka, ngaco yah. Mana ada boneka santet bentuknya bulet gitu aja, yang ada tuh boneka santet kaya boneka-boneka biasa yang berbentuk manusia seutuhnya.” Jawab Yaraa sambil mengambil balon dibagian belakangnya dan menunjukkannya ke arah Dimas.


Sontak Dimas langsung mendorong badan Yaraa. Yaraa hanya berusaha menahan tawanya, sejujurnya melihat pacarnya ketakutan seperti ini adalah moment berharga bagi Yaraa.


“Ade... astaga Ade...” cecar Dimas sambil mendorong-dorong balon yang ada dihadapannya. Rasanya jantungnya langsung berolahraga, balon didepannya benar-benar seperti monster. Dimas menutup matanya serapat mungikin saat melihat balon dihadapannya.


Yaraa hampir tertawa melihat kelakuan Dimas, Dimas yang hampir 80% ditubuhnya adalah otot, tapi, harus takut dengan BALON.


“Kaka, balonnya udah nggak ada,” dusta Yaraa sambil mencari sesuatu yang bisa memecahkan balon dihadapannya itu. Yaraa langsung ingat kalau dia menggunakan jepit rambut yang ujungnya lumayan tajam. Diambilnya jepit rambut dikepanya.


“Bohong banget kamu, Dek. Kamu bener-bener nggak cinta Kakak. Astaga Dek, kalau bukan pacar udah aku murkai kamu, De,” cerocos Dimas. Dimas sudah dalam tahapan pasrah.


Yaraa menggenggam balon ditangannya dengan erat bersiap untuk memecahkannya. Dengan sekali tekan menggunakan jepit rambutnya Yaraa memecahkan balon.


DOR....


“ADE....”


Teriakkan Dimas langsung terhenti, Dimas merasakan sesuatu yang hangat dan lembut di bibirnya. Dimas merasakan sepasang tangan mungil mengusap bagian lehernya. Wangi bunga mawar benar-benar menusuk hidung Dimas, wanginya langsung memberikan ketenangan.


Bibir Yaraa hanya menempel di bibir Dimas, tidak bergerak sama sekali hanya menempel, kecupan sederhana yang membuat perasaan Dimas campur aduk.


“Nanti kalau liat balon sama denger balon meledak, langsung inget Ade aja yah, biar nggak takut lagi,” bisik Yaraa setelah mengurai kecupan manisnya.


Dimas menatap manik mata Yaraa yang hitam, “Boleh minta lebih?” tanya Dimas.


“Lebih?”


Dimas menggangukkan kepalanya cepat, “Iya, lebih. Boleh?”

__ADS_1


“Lebih kaya gimana? Jangan minta aneh-aneh yah. Aku masih 18 tahun, mau aku laporin ke komnas anak?” ancam Yaraa, mohon maaf Yaraa bukan penganut kehidupan bebas. Yaraa lebih suka menjaga semuanya sampai waktu dan pria yang tepat datang.


“Komnas anak? Ade, Ade tuh udah 18 tahun udah punya KTP, Ade bukan anak dibawah umur lagi,” kekeh Dimas.


“Tetep aja, pokoknya jangan aneh-aneh Ade nggak ma....”


Dimas langsung mengecup kening Yaraa pelan kemudian mengusap pipi Yaraa yang bersemu merah.


“Eh....”


“Aku bakal nunggu kok, aku nggak bakal aneh-aneh dama gadis kecil didepan aku yang cerewetnya udah ngelebihin petasan cabe. Yang manjanya udah ngelebihin anak TK. Yang kalau marah cuman bisa diredain sama spagheti buatan aku doang,” ucap Dimas sambil menarik badan Yaraa lebih dekat lagi, memeluknya.


“Aku bakal tunggu kamu Nayaraa Sebastian,” bisik Dimas lembut dikuping Yaraa.


•••


Setelah kejadian meledakkan balon, Yaraa berjalan sendirian di pinggir kolam renang, menunggu acara yang akan diberlangsungkan sebentar lagi. Dimas meninggalkannya karena diminta tolong oleh Juan.


Mata Yaraa menatap ke arah danau, danau itu tampak tenang. Angin berhembus dengan lembut memainkan rambut Yaraa yang hitam legam. Nayaraa Sebastian, anak dari seorang diplomat di Jepang. Ayahnya yang orang asli Indonesia menjadi seorang diplomat di Jepang, bertemu dengan Ibunya yang orang Jepang asli.


“Kosong?”


Yaraa menolehkan kepalanya dan melihat seorang pria menunjuk kursi disamping Yaraa. “Iya kosonglah, Om. Kan nggak ada orangnya,” jawab Yaraa santai.


Lelaki itu langsung tersenyum kecut saat dipanggil Om oleh Yaraa. “Kamu disini temennya siapa? Adipati atau Taca?”


Lelaki itu duduk dikursi samping Yaraa, kemudian mencoba membuka obrolan dengan Yaraa.


“Bukan temen dua-duanya,” jawab Yaraa.


Yaraa menatap pria disampingnya, kemudian mendelikkan matanya. “Kata Okaasan (Mama), aku nggak boleh ngomong sama pria asing,” jawab Yaraa seadanya.


“Jepang?”


“Half (setengahnya)” jawab Yaraa sambil meminum minumannya.


“Oh, pantes mata kamu bulat.”


Yaraa menatap lelaki disampingnya, lelaki itu memiliki senyuman yang manis. Ganteng? Standarlah, Yaraa bukan gadis yang menyukai pria ganteng. Tapi, sorot mata lelaki disampingnya benar-benar hangat.


“Kaya gini?” tanya Yaraa sambil membelototkan matanya.


“Hahahaa... yah bisa jadi,” jawab lelaki itu, “Jason, by the way. Aku temen Adipati.”


“Siapa?”


“Aku, nama aku Jason,” jawab Jason.


“Yang nanya,” kekeh Yaraa.


“Astaga jahil kamu yah,” ucap Jason sambil mendoronh bahu Yaraa pelan.


“Ih, pegang-pegang, tau nama aku aja nggak. Pegang-pegang pula,” ucap Yaraa sambil mengusap-ngusap bahunya.


“Ya udah, makanya kenalana. Nama kamu sapa?” tanya Jason, entah kenapa Jason merasa geregetan melihat senyum manis gadis dihadapannya.


“Watashiniha dekimasen, watashinohaha wa watashi ga mishiranu hito to hanasubekide wa nai to iimashita. (Aku tidak bisa, kata ibuku aku tidak boleh berbicara dengan orang asing)” jawab Yaraa menggunakan bahasa ibunya, berharap Jason tidak mengerti dan meninggalkannya.

__ADS_1


“Watashinonamaeha jeisondesu, anata no namae wa nandesuka? (Nama saya Jason, siapa nama kamu?)” jawab Jason santai.


Yaraa menatap Jason dengan takjub, “Nani? Kamu bisa bahasa Jepang juga?” tanya Yaraa takjub.


“Sedikit, tiga tahun di Osaka,” ujar Jason.


“Ngapain?”


“Jadi ninja,” canda Jason.


“Astaga, sangka jadi tukang sapu bunga sakura,” kekeh Yaraa. “Nayaraa Sebastian, panggil Yaraa.”


“Kamu temen siapa?” tanya Jason penasaran.


“Bukan temen dua-duanya, saya...”


“Adek....”


Yaraa langsung melihat Dimas yang sedang jalan kearahnya, Dimas menyapukan jari-jarinya ke arah rambut hitamnya.


“Saya datang sama dia,” ujar Yaraa sambil menunjuk Dimas.


“Dimas Wijaya?”


“Iya.”


“Kamu siapanya Dimas Wijaya?” tanya Jason berbarengan dengan datangnya Dimas.


“Dia....”


“Hai, Jason. Kenalin ini pacar saya Yaraa,” ujar Dimas sambil merangkul pinggang Yaraa.


“Ah, jadi Yaraa pacar kamu?” tanya Jason.


“Iya, kenapa? Keberatan?” tanya Dimas.


“Nggak sih, tapi maaf Yaraa, nggak geli pacaran sama Om-Om?” tanya Jason sambil menahan tawanya.


Yaraa hanya mengelengkan kepalanya, “Kalau om-omnya kaya gini, aku nggak geli. Asik malah, kenapa? Sirik yah?” canda Yaraa.


“Nggaklah, aku doain deh kalian langeng. Tapi, Dimas. Kalau udah bosen bolehlah dibagi sama aku,” canda Jason.


“Jason, masih ingin perusahaan kamu aman kan?” tanya Dimas dingin.


Jason langsung mundur beberapa langkah, “Sorry, Dimas...”


“Mending kita masuk aja, ada yang mau aku omongin sama kamu,” ujar Dimas sambil menarik tangan Yaraa menjauh dari Jason yang hanya bisa melambaikan tangannya pada Yaraa.


•••


Mau ngapai Pak Dimas?


Hah... mau apa Pak Dimas ini. Inget Pak Dimas, Dede Yaraa ini masih imut, masih muda jangan diapa-apain yeh...


Eh... itu jangan lupa tombol likenya dipencet, anyep bener dah kalau nggak dipencet hehehe...


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2