
Dokter Alvy keluar dari ruangan operasi, bersamaan dengan itu, Abah berdiri dan mendekati Dokter Alvy.
“Dok, gimana Istri dan anak saya?” tanya Abah.
“Anak-anak Bapak baik-baik saja, jenis kelaminnya perempuan. Berat kakaknya 2 kg dan adiknya 2,1 kg. Mereka sehat,Pak,” ucap Dokter Alvy.
Abah langsung mengucapkan syukur terus menerus saat mendengar perkataan Dokter Alvy. “Istri saya?”
Dokter Alvy diam seribu bahasa, rasanya berat untuk mengatakannya. Ini adalah tugas dokter paling berat, Dokter Alvy memilik hati nurani, dia bukan dokter dingin yang dengan santainya bisa memberitahukan seseorang bahwa orang yang dicintainya sudah pergi meninggalkan dirinya. Yah, Ambu menghembuskan napas terakhirnya di meja operasi bersamaan dengan kedua bayi kembarnya lahir.
“Dok...”
“Pak, Bapak kuat yah,” bisik Dokter Alvy sambil mengelus bahu Abah.
“Maksudnya gimana? Istri saya gimana? Istri saya, matahari saya, Dok?” tanya Abah mulai gusar.
“Ibu, sudah tenang disana. Dia sudah melakukan tugas mulyanya,” ucap Dokter Alvy sambil menepuk-nepuk bahu Abah. “Sabar yah, Pak.”
Perkataan Dokter Alvy membuat Abah terdiam, tubuhnya tiba-tiba lumpuh. Kakinya tidak mampu lagi menopang tubuhnya, dalam hitungan detik tubuh Abah jatuh kelantai. Kepala Abah membentur lantai rumah sakit yang dingin.
Pandangan Abah langsung buram, Kesadarannya ditarik paksa. Abah langsung pingsan ditempat. Teriakkan Riki yang kaget melihat Abah pingsan membuat semua orang disekitarnya panik. Orang-orang mencoba menenangkan Riki yang manengis histeris dan Abah yang tergeletak tak berdaya di lantai rumah sakit yang dingin. Yah dingin, sedingin hatinya yang baru ditingalkan matahari hangat milik Abah.
•••
Abah mencoba membuka matanya, berkali-kali Abah mengedipkan matanya. Berkali-kali pula Abah berharap dia tidak pernah bangun kembali.
Abah beringsut dari tidurnya, mencoba berdiri dari ranjang rumah sakit. Berkali-kali kaki Abah goyah. Kakinya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi sama sekali, kakinya seperti meminta Abah untuk kembali tidur, kembali bermimpi bahwa Ambu masih ada didunia ini.
“Pak, Bapak sudah siuman?” tanya Suster yang masuk kedalam ruangan Abah, “lebih baik Bapak istirahat.”
“Saya mau ketemu istri saya, saya mau ketemu istri saya, Sus,” ucap Abah sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Suster yang melihat Abah langsung merasa terenyuh, dia sudah mendengar cerita Abah. “Istri Bapak ada tiga ruangan dari sini....”
Belum selesai suster itu berbicara, Abah sudah berjalan keluar dari ruangannya. Kakinya berjalan terus menelusuri lorong, tubuhnya disenderkan ke dinding lorong, sepanjang jalan tangis Abah pecah. Air mata tak berhenti mengalir sama sekali dan secara terus menerus Abah mengucapkan sebuah kalimat, kalimat sederhana. Namun memilukan.
“Ambu, kalau Ambu pergi. Abah sama siapa?” bisik Abah sambil terus berjuang menyeret kakinya.
“Ambu, kalau Ambu pergi, Abah sama siapa?”
Klik
Abah membuka pintu ruangan disampingnya, Abah berharap Ambu menyambutnya dengan senyuman manis miliknya. Senyuman yang selalu menghangatkan hari-hari Abah. Tapi, saat Abah masuk. Abah hanya menemukan Ambu terbujur kaku tidak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
“Ambu, astaga Ambu sayangnya Abah. Bangun, sayang. Anak-anak butuh ibunya, anak-anak butuh kamu sayang....”
Abah menghentikan perkataannya sambil mengusap hidungnya yang sudah basah. “Abah ... Abah butuh Ambu, Abah butuh Ambu. Kalau Ambu pergi, Abah sama siapa Ambu? Abah sama siapa?” teriak Abah sambil mengusapi tubuh Ambu yang sudah sedingin es.
Abah merosot terduduk dilantai, bersimpuh disamping ranjang sambil mengenggam tangan Ambu yang sudah dingin. Tangan yang dulu selalu mengelusnya, tangan yang selalu memeluk dan memanjakannya. Tangan Mataharinya.
Diciuminya tangan Ambu, diusapnya tangan Ambu keseluruh wajah Abah. Abah benar-bent hancur, Abah sudah tidak tau harus melakukan apa. Ini terlalu pedih, kehilangan istri yang paling dicintai Abah. Benar-benar sakit.
“Pak,” panggil suster yang tadi Abah temui diruangannya.
“Suster, gimana ini. Saya harus gimana?”tanya Abah kebingungan. Hatinya kosong, separuh jiwanya hilang.
“Pak, saya tidak bisa memaksa Bapak untuk menjadi kuat. Saya tidak bisa berkata Bapak harus sabar. Karena, saya tau hal ini sangat sakit, ditinggalkan oleh seseorang yang sangat Bapak cintai, benar-benar sakit,” ucap Suster itu sambil mengusap bahu Abah secara sopan.
“Terus saya harus gimana? Saya...” Abah terus menangis sambil menciumi pipi Ambu.
“Pak, yakin satu hal. Semua akan baik-baik saja. Dan Bapak harus fokus. Karena...” Suster tersebut menggantungkan perkataannya.
“Apa?” tanya Abah.
“Si kembar butuh Bapak. Kasian si kembar, Pak,” ucap Suster tersebut. “Ibu sudah berjuang untuk melahirkan sikembar dan saya harap Bapak jangan menyianyiakannya.”
Deg...
“Ambu... tunggu Abah disana yah, Abah bakal datang, tunggu Abah. Abah mau ngurus anak-anak kita dulu. Tunggu Abah yah, sayang,” bisik Abah pelan sambil mengecup pipi Ambu sepelan dan selembut mungkin.
“Till Jannah, Ambu. Till Jannah. Tunggu Abah...”
•••
“Abah...” panggil Taca pelan.
Suara Taca menyadarkan Abah dari lamunannya, lamunannya tentang mataharinya, matahari yang sedang menunggunya ditempat lain. Matahari Abah.
“Apa?” tanya Abah sambil mengusap air mata yang meleleh dari matanya.
“Kenapa nangis? Abah inget Ambu, yah?” tebak Taca sambil menatap photo Ambu yang sedang dipegang Abah.
“Ih, apa sih. Abah kelilipan ini teh. Kena debu,” ucap Abah sambil mengusap rambut Taca pelan, karena takut merusak bentuk rambut Taca yang sudah paripurna.
“Debunya segede apa itu ampe Abah bisa nangis kaya gini?” tanya Taca sambil duduk didepan Abah.
“Segede gajah duduk,” kekeh Abah.
__ADS_1
“Muhun da sarung Abah,” ucap Taca sambil menepuk paha Abah pelan. (Iya, emang sarung. Abah)
“Bah, Abah kangen Ambu?” tanya Taca lagi.
Abah hanya menatap photo Ambu kemudian menciumnya. “Siapa yang nggak kangen sama istrinya. Tanya sibule mesum, pasti dia juga kangen ditinggal kamu. Kangen ngegenjot,” canda Abah tanpa filter.
“Hadeuh Abah, ih...” teriak Taca gemas.
“Kangenlah, Taca.”
“Maaf yah, gara-gara Taca dan Tasya, Ambu jadi....”
“Udah, jangan dibahas. Abah nggak mau kamu sedih. Udah ah, jadi ini teh kapan nikahnya? Dari pagi kagak mulai-mulai acaranya,” ucap Abah kesal.
“Kata EO-nya sore Abah. Karena, kalau siang panas banget, ini kan lagi musim panas. Jadi, klo siang panas banget,” ucap Taca.
“Alah, ribet. Makanya kalau nikah jangan di Itali-Itali lah. Ribet, udah nikah mah dikampung, enak.” ucap Abah sambil memasukkan kembali dompetnya kesaki celananya.
“Kan ini juga kampung,” ucap Taca.
“Kampung gimana?”tanya Abah bingung, kampung kok di Itali.
“Kampungnya Adipati sama Papih Gio. Mereka kan orang Kampung, nama desanya Viterbo. Orang kampung mereka teh,” ucap Taca sambil menahan tawanya.
“Tau ah, terserah. Yang penting, kamu bahagia, Taca,” ucap Abah sambil mencawil pipi Taca pelan.
“Iya, Abah. Taca Bahagia...”
“Till Jannah sama Adipati yah, Taca,” ucap Abah sambil memeluk Taca dan berjuang menahan tangisnya.
“Iya Abah, Til Jannah....”
•••
Jangan lupa itu tombol like ditabok pake jempol, kasih Vote dan Point juga buat Kaka Gallon.
Ini lah kenapa Kaka Gallon nggak mau kasih pasangan buat Abah. Abah udah ditunggu sama Ambu. Ambu udah sabar nunggu Abah disana, makanya Abah sabar juga menjalani hidup sendiri.
Till Jannah Abah dan Ambu...
Ready for Cicil, Riki dan Becca Bonchap? 😍
XOXO GALLON.
__ADS_1