
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Radi dengan cepat bergerak mendekati Taca yang sudah terjatuh di lantai lift. Radi langsung mendudukkan tubuh Taca kemudian menyandarkan tubuh Taca ke salah satu dinding lift.
Radi membuka satu kancing kemeja Taca, membuat Radi dapat melihat dada Taca yang mulus. Radi menelan salivanya, Radi lelaki normal demi apapun pikirannya kalut melihat dada Taca.
"Pak..."
Suara dari petugas lift menyadarkan Radi dari pikirannya yang tidak karu-karuan. Radi langsung bangun dari duduknya kemudian mendekati tombol bantuan.
"Iya, gimana ?"
"Pak, maaf kami tidak bisa memastikan kapan listrik menyala lagi, tapi tim kami sedang berusaha untuk membuka pintu lift karena posisi pintu lift pas di lantai 3, kami juga sudah dapat izin dari Bapak Adipati untuk membuka pintu lift."
"Baik saya tunggu, mohon dipercepat Bu Taca pingsan, dia kekurangan oksigen..."
"WHAAAT ?! Buka itu pintu lift sekarang juga, saya tidak peduli berapapun biayanya, bongkar...!!"
Radi mendengar suara teriakan Adipati dari speaker lift, terdengar nada suara panik Adipati disana.
"Mohon sabar yah, Pak.." ucap petugas lift tersebut kemudian mematikan sambungannya, petugas lift benar-benar kelimpungan menenangkan Adipati yang marah-marah diruang pemeliharaan.
•••
"Di, tenang." pinta Iis yang pusing melihat Adipati berteriak dan memarahi semua orang dibagian pemeliharaan, petugas lift pun kena damprat berkali-kali. Bahkan 5 menit yang lalu Adipati sudah memaki-maki petugas damkar yang baru datang.
"Gimana mau tenang, kamu denger tadi, Taca pingsan. Astaga gimana kalau dia mati lemas...!" hardik Adipati sambil berjalan hilir mudik tidak tentu arah kekanan dan kekiri sambil sesekali mengusap-ngusap kepalanya.
"Ya.. udah itu udah ada damkar juga kan, mereka lagi coba buka pintu liftnya. Tenang, Di. Yang ada orang-orang pada kabur kamu marah-marahin gini," ujar Juan sambil melipat kedua tangannya.
"Masalahnya Taca didalam sama Radi, kenapa harus sama si Radi sih, kenapa ngak sama Gue aja...!!" maki Adipati kesal sambil melemparkan jasnya kelantai.
"Udah, Di. Tenang Radi ngak akan macam-macam aku kenal Radi. Radi baik kok. Cuman setingan otaknya aja kadang konslet," ujar Iis menenangkan Adipati.
"Masalahnya kalau settingan otaknya sekarang lagi konslet gimana...!?" bentak Adipati kesal.
"Udah Yang, Adipati emang gitu kalau marah semua salah, napas aja kita salah, Yang." ujar Juan sambil mencium rambut Iis.
Iis yang sudah mulai terbiasa dengan kelakuan Juan yang hobi menciumi dirinya dimana saja kapan saja dan sesuka hatinya hanya bisa diam, dicium Juan.
"Ini malah mesra-mesraan, gimana kalau Taca mati lemas...!?" pekik Adipati geram melihat tingkah Juan dan Iis.
__ADS_1
"Ngak lah, aku jamin ngak bakal kenapa-napa. Aku sama Iis keruangan pemeliharaan lagi yah," ujar Juan sambil menarik tangan Iis.
"Ngapain kesana lagi, Ju.." bisik Iis bingung ngapain juga keruangan itu, disana ngak ada siapa-siapa. Semua orang berkumpul diruangan petugas lift dan didepan pintu lift.
"Kelonan," bisik Juan dikuping Iis membuat bulu kuduk Iis berdiri, dengan cepat Iis menyikut perut Juan.
"Aduh..."
"Ngaco orang Taca lagi pingsan ini malah minta kelonan, minta aku lempar dari monas, hah ?" cerocos Iis sambil memelototkan matanya.
Inilah yang membuat Juan jatuh cinta pada Iis, beda dengan mantan-mantannya Iis sering menentang semua keinginan Juan, bahkan bila ada yang tidak disukai Iis akan langsung mengatakannya, tanpa ada kode-kode yang memusingkan.
"Lempar kekasur aku mau, Yang..." canda Juan sambil mencium pipi Iis.
"Ngacoooo.... ini Taca pingsan loh, Juan...!!!" pekik Iis kesal.
"Iya, makanya kita ke ruangan petugas lift, disini aku pusing liat Adipati muter-muter, mana dia marah-marah mulu."
Iis sependapat dengan Juan, Adipati memang sedang uring-uringan maksimal, apalagi 5 menit yang lalu Adipati mendengar dari Radi kalau Taca pingsan.
"Ya... udah," Iis pun berjalan mengikuti Juan yang sudah berjalan didepannya.
•••
"Argghhh..."
"Di...Di..."
Radi melihat Taca yang masih pingsan, Taca mengingo memanggil nama seseorang Radi menajamkan pendengarannya.
"Di.. sesak..."
Radi yang entah karena kupingnya tadi berdengung atau otaknya memang sedang dalam mode konslet Radi merasa Taca memanggil namanya.
"Iya Princess sesak, sabar yah. Sebentar lagi pintunya di buka," ujar Radi sambil mendekati Taca kemudian memposisikan tubuh Taca sedemikian mungkin. Membuat Taca bersandar didadanya, Radi langsung mencium wangi vanilla dari setiap inci tubuh Taca membuat celananya sesak.
Semenjak Taca bilang dia sudah sering tidur dengan Adipati, entah kenapa pikiran Radi menjadi lebih ngawur, ada rasa ingin mencicipi Taca didalam dirinya ( alah Radi pikirannya minta kaka gallon cuci pake deterjen).
"Di... sesak, aku ngak bisa napas, sesak, Di..." Taca masih mengigo memangil Adipati.
"Iya sayang, sabar yah... sebentar lagi pintunya dibuka," ujar Radi sambil mencium pucuk rambut Taca menghirup wangi rambut Taca untuk pertama kalinya.
Radi diam melihat wajah Taca dari dekat, baru sekarang Radi melihat wajah Taca sedekat ini, Taca tidak cantik tapi dia manis dan entah mengapa menatap Taca tidak pernah memberikan rasa bosan pada dirinya. Tanpa sadar disentuhnya bibir Taca menggunakan jempolnya.
Bibir Taca mungil dan tipis memberikan kesan sexy tersendiri untuk Radi. Rasanya ingin Radi mencium bibir mungil Taca, sekali lagi Radi mengusap bibir Taca mengunakan jempolnya.
__ADS_1
Taca yang masih dalam keadaan pingsan hanya diam, sesekali terdengar Taca memangil nama Adipati, tapi entah kenapa di telinga Radi, Taca seperti memanggil namanya.
"Di, sesak..."
"Sabar..." ujar Radi sambil mendekatkan bibirnya kebibir Taca, mengesekkan bibir mereka berdua. Ada Rasa takut didada Radi, tapi demi apapun bibir Taca benar-benar menggodanya.
Radi memberanikan diri mencium bibir Taca, mengesap manisnya bibir Taca, menghisap bagian bawah bibir Taca dengan lembut. Taca yang masih pingsan dan tidak bergerak sama sekali membuat Radi makin berani. Di ciumnya bibir Taca kembali dengan lebih intens, disesap manisnya bibir Taca lebih lama, Radi terbang kelangit ketujuh saat mencium Taca tanpa permisi, perutnya seperti ada kupu-kupu yang terbang, hormon endropin langsung menyelimuti dirinya.
"Di..."
"Iya sayang, ini aku..." ujar Radi sambil mengusap bibir Taca menggunakan jempol jari tangan kanannya, lagi... Radi menginginkan lagi bibir Taca.
Radi kemudian mencium kembali bibir Taca, disela-sela ciumannya Taca kembali mengigo.
"Di.."
"Ya.."
"Adipati sesak, Adipati..."
JELEGERRRRR.....!!!!
Seperti ada kilat yang menyambar di pikiran Radi, ternyata Taca mengangap yang menciumnya adalah Adipati bukan dirinya. Radi baru ingat Taca selalu memanggilnga Rad, buka Di. Satu-satunya lelaki yang Taca panggil Di adalah Adipati. Ada Rasa sesak dan perih langsung Radi rasakan.
Belum habis rasa sesaknya mengetahui kalau Taca salah mengenalinya, ada sesuatu yang menariknya kebelakang.
"STRONZO....!!"
•••
Bumi gonjang ganjingggggg wkwkwkw
Yang penasaran stronzo apaan, stronzo makian bahasa Italia artinya pup 🙈. Jadi taukan siapa yang narik Radi. Yang bisa bahasa Italia cuman Adipati dan Gio hehehee...
Kalau ada yang tanya author bisa bahasa italia ? Alhamdulilah ngak 🤣🤣.
Siap untuk baku hantam besok ??? Hahahaa
Oh yah untuk episode inilah author kasih nama karakternya Radi. bukan Radit atau Radil ahhahaaa... receh sih, tapi author mah gitu mikirnya terlalu kedepan hahahaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon