
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis diam didepan ruang operasi sambil menatap ke arah depan. Sudah hampir satu jam Iis menunggu di sana. Iis menunggu sendirian, Mamih dan Papih tidak bisa menemani Juan, mereka ada hal yang harus dilakukan, salah Juan dan Iis juga yang ingin langsung melakukan operasi ini dengan cepat.
Tangan Iis akhirnya mengambil handphonennya dan mengutak ngatiknya. Iis bingung entah apa yang harus dia liat dan baca. Liat berita artis kepalanya sakit melihat tentang pelakor, liat tentang politik, makjan otak Iis tidak pernah sampai untuk memikirkan itu semuanya. Apa yang harus Iis lihat? Pasar saham, apa lagi itu, lihat grafik saja sudah membuat Iis muntah.
Dengan kesal Iis melempar handphonennya kedalam tas. Akhirnya Iis mengepang rambutnya yang panjang. Tiba-tiba Iis merasakan tepukkan di bahunya.
“Iya, ah... dokter gimana suami saya?” tanya Iis cepat sambil berdiri.
Dokter Tanto tersenyum lembut menatap Iis, “Pak Juan baik-baik aja, kita bakal tunggu Pak Juan sadar dan tadi juga kami mendapatkan benih dari pak Juan sebanyak 5 straw, nanti kita akan bekukan. Nanti bisa kita gunakan untuk inseminasi buatan atau bayi tabung,” ujar Dokter Tanto.
“Suami saya?” Iis benar-bener tidak peduli dengan banyaknya sperm* milik Juan atau apapun itu. Yang Iis perhatikan adalah keadaan Juan. Nggak lucu kalau Iis melakukan semua hal itu, tapi ada apa-apa dengan Juan.
“Saya udah bilang tadi, suami Ibu baik-baik saja. Pak Juan baik-baik saja. Ibu bisa tunggu diruangannya atau Ibu nanti dipanggil untuk menemani Pak Juan didalam,” ujar Dokter Tanto.
“Saya....”
“Bu Iis, Silahkan bila ingin menemani Pak Juan, Pak Juan sudah masuk ruang pemulihan,” ujar seorang Suster yang tiba-tiba muncul dibelakang Dokter Tanto.
“Iya saya kesana,” ujar Iis sambil tersenyum pada Dokter Tanto.
•••
“Ya...ng...”
“Iya Mas, ini aku...” ujar Iis sambil menatap mata Juan. Sudah hampir setengah jam Iis menunggu efek obat bius dari Juan habis. Dosis yang diberikan kepada Juan memang digandakan, melihat catatan medisnya yang pernah menjadi seorang pemakai. Mau tidak mau dokter anestesi menggandakan obat biusnya.
“Yang...”
“Iya, Mas ini aku disini,” jawab Iis sambil mengelus rambut Juan terus menerus.
“Ngantuk Yang,” ujar Juan lagi.
“Bangun, Mas. Udah siang ini, bangun yuk,” ujar Iis lagi.
“Hmm... aku udah selesai ini operasinya?” tanya Juan sambil menutup matanya dengan tangan kanannya.
“Udah, mau operasi lagi?” goda Iis sambil tersenyum.
“Hahaha... nggak makasih,” jawab Juan lagi, operasi benar-benar membuat dirinya kewalahan. “Ini dimana?”
“Di kamar Mas, tadi kamu di ruang pemulihan tidur terus nggak bangun-bangun. Tapi, karena semuanya normal, jadi dokter ijinin kamu ke kamar,” ujar Iis lagi.
“Ah, keenakan tidur kayanya,” jawab Juan sambil melihat infusan ditangannya. “Apa kata dokter Yang?”
“Kata dokter semua aman dan bagus, semua baik-baik aja,” ujar Iis lagi.
“Terus...”
Iis langsung menunjukkan kelima jarinya didepan muka Juan. “5 straw, dokter dapetin 5 straw benih kamu,” ujar Iis lagi sambil tersenyum manis.
“Wow... banyak yah,” kekeh Juan.
“Heeh banyak banget, seminggu setelah ini semua, aku yang bakal berusaha, doain aku yah,” ujar Iis lagi sambil tersenyum.
“Iya, kita sama-sama yah,” ujar Juan sambil mengusap rambut Iis.
__ADS_1
“Yang....”
“Apa?” jawab Iis pelan.
“Bisa tolong tanya dokter, kapan aku bisa kelonan lagi?” tanya Juan sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Astaga Mas, kamu operasi aja belum ada sehari, pikirannya udah kemana-mana. Minta aku cubit yah,” cerocos Iis kesal, suaminya ini benar-benar membuat Iis kesal.
“Hahahaa... ya maaf, cuman nanya doang.” Juan menjulurkan lidahnya sambil tertawa renyah.
Tok...tok...tok...
“Masuk,” ujar Iis sambil menegakkan tubuhnya.
Saat pintu dibuka munculah Taca dengan perutnya yang lumayan besar dan Adipati yang tersenyum pada mereka.
“Taca,” Iis dengan cepat berjalan kearah Taca.
“Gimana? Sehat Juannya?” tanya Taca.
“Sehat? Perut kamu kok gede bener, jangan bilang kembar lagi,” ujar Iis.
“Nggak, tobat kalau kembar lagi. Ini cuman satu, tapi emang berat utunnya,” ujar Taca sambil menunjuk perutnya.
“Utun?” tanya Adipati dan Juan bersamaan. Apapula utun itu?
“Lo mau kasih nama anak lo Utun?” tanya Juan, walau dia masih merasa pusing, tapi rasanya aneh saja Adipati memberikan nama anaknya Utun.
“Amore Utuh apaan?” tanya Adipati bingung.
“Bayi dalam kandungan, kalau orang sunda bilangnya Utun,” jelas Iis sambil mengelus perut Taca.
“Utun utun...” ujar Taca sambil menunjuk-nunjuk perutnya dan mengedipkan matanya.
“Apapula Itun?!” tanya Iis.
Juan dan Adipati hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Jadi, gimana? Berhasil?” tanya Adipati pada Juan dan Iis.
“Kita coba dulu, giliran Mas ‘kan udah selesai sekarang giliran aku,” ujar Iis sambil tersenyum.
“Iya, aku doain yang terbaik buat kalian berdua,” ujar Taca. “Kapan kamu mau inseminasi buatannya?”
“Mungkin seminggu lagi,” ujar Iis.
“Kalau nggak berhasil juga, minta tolong Rozak. Pasti dia mau kok nolo....”
“Woi, woi bini gue semprul, minta gue pites lo yah, Di. Untung gue baru selesai operasi, kalau kagak gue pites lo..!?” teriak Juan sambil melempar bantal kearah Adipati.
Sialnya bantal tersebut mengenai infusan ditangannya yang mau tidak mau membuat infusan bergeser dan membuat darah naik.
“Aw...aw...”
“Astaga, Mas. Kamu aneh-aneh aja ih,” Iis langsung memencet tombol panggil perawat. Untuk meminta perawat untuk datang dan memeriksa infusan Juan.
“Adipati, astaga kamu aneh-aneh aja, kasian Juan itu. Dia baru operasi, Di,” ujar Taca sambil memukul pelan bahu suaminya itu.
“Hahahaaa... biarin aja, Amore. Dari dulu dia tuh gitu cemburuan,” ujar Adipati.
“Pak, dirumah nggak ada kaca?” tanya Taca sambil menatap Adipati.
__ADS_1
“Buat?”
“Kamu juga cemburuan, Di.” Taca menunjuk hidung mancung Adipati.
“Wajarlah aku cemburuan,” ujar Adipati.
“Wajar dari mana semprul,” hardik Juan lagi sambil meniupi tangannya yang kebas.
“Hai, aku setengah Italia, tanya sama semua orang di dunia, pria Italia lebih cemburuan dari pada pria manapun di dunia,” Adipati membela dirinya dengan cepat.
“Terserah lo, dah. Gue setengah Jawa juga sama aja. Cemburuan,” ujar Juan nggak mau kalah.
“Nggak bisa Bro. Orang Italia itu lebih cemburuan,” entah kenapa Adipati tidak mau mengalah.
“Orang Jawa juga sama aja..!! Sama-sama cemburuan,” Juan tetap dengan pendiriannya.
Taca dan Iis hanya bisa melihat pertengkaran Juan dan Adipati dengan tatapan pasrah. Sudah tidak aneh melihat Juan dan Adipati bertengkar. Dari mulai masalah kecil seperti saat ini, sampai masalah besar tentang perusahaan.
“Pernah bayangin dulu punya suami bentukkannya kaya gini?” tanya Iis pada Taca.
“Nggak sama sekali, dulu aku bayanginnya punya suami normal-normal aja, kaya...”
“Entis?” potong Iis cepat sambil menahan tawanya.
“Idih, ogah. Nggak makasih,” ujar Taca sambil menggidikkan tubuhnya.
“Amore.”
“Ayang.”
“Apa?” tanya Taca dan Iis berbarengan.
“Cemburuan siapa?” tanya Juan dan Adipati berbarengan.
Taca dan Iis langsung saling bertatapan, kemudian ngeloyor pergi dari ruangan tersebut sambil berkata kencang.
“Kita mau pergi dulu, terserah kalian deh mau berantem kaya gimana juga,” ujar Taca.
“Hei jawab dulu, cemburuan siapa?” tanya Adipati.
“Orang setengah Jawa apa setengah Italia?” Juan butuh kepastian. Pokoknya untuk masalah kecemburuan dia tidak mau kalah. Oke, untuk masalah ketampanan, memang lebih ganteng Adipati. Tapi, masalah cemburu, Juan nggak mau kalah..!?
“Buat jawabannya, kalian itu...” Iis menggantungkan perkataannya sebelum mencapai pintu, Taca dan Iis pun berbalik menghadap Juan dan Adipati yang sedang menunggu jawaban istri-istri mereka.
“SAMA AJA..!!” ujar Iis dan Taca berbarengan sambil menjulurkan lidah mereka berdua dan dengan cepat pergi keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Juan dan Adipati.
•••
Ini bab nggak jelas yah? Ahhahaaa....
Biarlah... nggak usah ada konflik yah, cape bu...
Tebak-tebakkan Iis bisa hamil atau nggak?
lumayan loh 5 Straw benih dari Juan. Banyak itu... hohohohoo...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon