
Sebelum baca please, pencet tanda
👍🏻 jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Tumben kamu ketempat Nenek?” tanya Iis penasaran kenapa Dimas ketempat Nenek Lia.
“Hehehee... mau kenalin Nenek sama seseorang,” jawab Dimas sambil menunjuk seseorang yang sedang berbincang-bincang dengan Nenek Lia.
“Itu....”
“Namanya Nayaraa Sebastian, pangilannya Yaraa. Dia pacar aku,” ujar Dimas sambil tersenyum pada Iis bangga.
“Kamu pacaran sama anak dibawah umur?”olok Iis sambil menatap Dimas, Iis berpura-pura kaget padahal dia ingat betul dengan Yaraa, gadis cantik yang sempat Iis temui di Lift saat acara pernikahannya.
“Ngaco, umurnya udah 18 tahun, dia udah kuliah di jurusan Hukum di Universitas Indonesia,” ujar Dimas.
“18 tahun ? Kamu berapa tahun?” tanya Iis lagi pura-pura kaget.
“31 tahun, ah udahlah kamu sama bang Juan juga sama aja,” cecar Dimas kesal.
“Hahahaa... iya maaf, maaf, maaf. Ternyata Yaraa suka yang bangkotan juga yah,” canda Iis lagi sambil menutup mulutnya menahan tawa.
“Astaga Bu Iis, jangan ngomongin diri sendiri deh, lupa kalau suaminya udah bangkotan juga,” ledek Dimas sambil menahan tawanya.
Iis hanya bisa tersenyum mendengarkan balasan Dimas. Iis berjalan mendekati Yaraa dan Nenek Lia.
“Ah... sini Iis, kenalin ini Yaraa pacarnya Dimas,” ujar Nenek Lia sambil menunjuk Yaraa.
Yaraa kaget melihat Iis, “Ah... Kakak yang waktu itu ketemu di lift di Bali ‘kan?”
“Iya Yaraa, apa kabar? Ah... nama aku Lizbet tapi panggil aku Iis yah,” ujar Iis sambil menjabat tangan Yaraa.
“Halo Kak Iis,” ujar Yaraa sambil tersenyum manis.
“Kamu kenal istrinya bang Juan?” tanya Dimas bingung, benar kata bang Juan, Iis itu relasi pertemanannya sangat-sangat luas.
“Kenal, waktu di Bali aku pernah ketemu Kak Iis sama suaminya,” Yaraa mengenang pertemuan pertamanya dengan Iis.
“Hadeuh, Nenek ini kaget loh. Ini kenapa calon istri cucu Nenek pada daun muda semuanya,” canda Nenek Lia sambil menunjukk Iis dan Yaraa.
“Nek, aku mah udah istri bukan calon lagi,” protes Iis, “nah, kalau ini baru calon istri.”
Iis mendorong badan Yaraa pelan. Yaraa yang didorong hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan malunya.
“Ah lupa, si semprul Juan udah nikah. Jadi, kapan kamu mau nikah sama cucu saya?” tanya Nenek pada Yaraa.
__ADS_1
“Nikah? Hah... nggak tau Yaraa mau sekolah dulu, Yaraa baru masuk kuliah, Nek. Belum kepikiran kesana,” jawab Yaraa pendek, tiba-tiba napasnya seperti tercekat. Dia masih mau sekolah...!
“Ya nikah aja dulu, kalau kuliah bisa sambil nikah,” usul Nenek.
Yaraa yang mendengar usul Nenek langsung mengkerut. Sedangkan, Dimas tersenyum senang.
“Tapi...”
“Nenek, aku tadi bawa kue buat Nenek, Nenek mau coba?” potong Iis cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan yang ada. Iis tau perasaan Yaraa, jujur kalau seandainya dirinya bertemu Juan saat umurnya 18 tahun dan Juan memaksa dia menikah yang ada Iis akan lari tunggang langgang.
“Yaraa mau coba kuenya?” tanya Iis sambil mengangkat piring kecil yang sudah diisi kue chesse cake buatan Iis.
Yaraa langsung mendekataki Iis dan mengambil kuenya. “Makasih Ka.”
Wajah Yaraa benar-benar tidak karu-karuan saat ini. Sepertinya perkataan Nenek membuat Yaraa kepikiran.
“Kamu kenapa?” bisik Iis sambil menarik Yaraa menjauh dari Dimas dan Nenek yang sedang memotong kue.
“Nggak Kak, nggak papa,” Yaraa benar-benar menyembunyikan rasa bingungnya. Tapi, Iis benar-benar tau apa yang ada dipikiran Yaraa.
“Kamu takut diajak nikah atau ingin putus sama Dimas tapi bingung ngomongnya gimana?” tanya Iis sambil menyuapkan kuenya.
Pranggg...
Sendok ditanyan Yaraa jatuh dari tangannya, ternyata perkataan Iis benar. “Kaka kok tau aku mau minta putus dari Dimas?” tanya Yaraa kaget.
Yaraa langsung menghela napas panjang, “Yaraa bingung, Kak. Yaraa kemarin nerima perasaan Dimas karena kata Kaka ‘kan pacaran sama om-om enak nggak perlu mikir. Emang bener sih enak, Dimas baik banget. Tapi...”
“Tapi apa?” tanya Iis lagi.
“Tapi Dimas kebaikkan, Dimas terlalu baik buat aku,” ujar Yaraa.
Iis langsung menatap Yaraa, astaga anak ini dikasih cowo yang baik kok malah nolak. Jadi kamu mau pacaran sama yang tipe mafia? Tukang palak? Perampok? Anggota kelompok bajing luncat?
“Terus kamu maunya yang kaya apa? Kamu mau pacaran sama tukang pukul atau sama rampok?” tanya Iis bingung.
“Ih... bukan maksudnya, ‘kan aku tuh bukan perempuan feminim. Aku suka nari, suka balapan mobil, suka naik gunung, pokoknya kegiatan yang menentang bahaya gitulah. Tapi, Dimas itu kayanya tipe laki-laki rumahan. Masa Kak dia jalanin mobilnya aja 40km/jam. Padahal mobilnya tuh bisa dipake buat balapan liar. Kan Yaraa kesel yah,” pekik Yaraa frustasi.
Sebentar...sebentar... seingatnya Dimas itu sebelas duabelas sama Juan kelakuannya. Bahkan dulu kata Juan, Juan sampai dibuat migren gara-gara kelakuan Dimas yang hobi balapan mobil liar di Ibiza, Marocco, Spanyol. Pokoknya kata Juan, nakalnya dia dan Dimas tidak pernah di Indonesia demi nama baik keluarga.
“Jadi kamu mau Dimas berubah jadi adrenaline jungkie?” tanya Iis lagi.
Yaraa langsung membulatkan matanya dan menggangukkan kepalanya dengan cepat. “Aku tuh ingin hubungan yang berwarna, nggak suka aku tuh yang flat kaya sekarang. Ampe pusing aku kalau jalan sama dia, pasti nggak jauh-jauh dari nonton, makan, nonton, makan. Bosen Kak,” pekik Yaraa.
“Ya udah, kasih waktu Dimas sekita sebulanan lagi, nanti aku ngobrol sama Dimas. Pokoknya kasih waktu sebulan, gimana?” ujar Iis sambil menatap Yaraa.
“Sebulan doang Yar, nggak bakal rugiin kamu juga ‘kan,” bujuk Iis, Iis benar-benar ingin hubungan Dimas dan Yaraa berhasil. Kasian Dimas jomblo.
__ADS_1
“Ehmm... ya udah sebulan doang, sama aku tuh nggak mau nikah kalau cowonya se flat Dimas, bisa stress aku. Tiap hari kayanya hidupnya monoton,” ujar Yaraa lagi sambil menggaruk kepalanya kesal.
“Hahahaa... aku tau yang kamu rasain. Aku juga nggak bakal mau nikah sama orang yang flat. Karena, nikah bukan masalah hubungan orang dewasa aja. Nikah itu harus saling lengkapin, karena hari tua kamu nanti yah bakal ngobrol sama suami kamu terus menerus, kalau nggak nyambung yah ambyar,” ujar Iis yang langsung dijawab anggukkan oleh Yaraa.
“Yang....” Tiba-tiba Iis merasakan tepukkan di bahunya, diliriknya ternyata sudah ada Juan menatap dirinya.
“Lah, ini ‘kan cewe semprul yang di lift,” ujar Juan refleks sambil menunjuk Yaraa.
“Ini Yaraa pacarnya Dimas, Mas.” Iis memperkenalkan Yaraa pada Juan.
“Yaraa Om,” ujar Yaraa sambil menjabat tangan Juan.
Juan hanya bisa pasrah dipanggil Om oleh Yaraa. “Kenapa harus manggil Om sih, Yang,” bisik Juan kesal.
“Yah, terus mau dipanggil apaan? Adik? Inget umur Mas,” ujar Iis sambil menahan tawanya. Juan hanya bisa menahan rasa kesalnya.
“Jadi pulang?” tanya Juan.
“Jadi, tapi bentar aku mau nyari Dimas dulu. Aku mau ngobrol sama dia,” ujar Iis sambil mengedarkan pandangannya berusaha mencari Dimas.
“Ngapain nyari si semprul itu, udah pulang yuk,” pinta Juan.
“Bentar doang,” ujar Iis sambil mencari Dimas, akhirnya Iis menemukan Dimas yang sedang mencuci tangannya di sink dapur bersih,
“Kamu disini aja sama Yaraa, ceritain kelakuan Dimas dulu pas masih suka balapan liar di Ibiza,” ujar Iis sambil beranjak dari sana.
“Yang...”
“Dimas suka balapan?!” tanya Yaraa antusias sambil menatap Juan.
Juan terdiam dan menatap Yaraa kaget. Sepertinya pacar Dimas gadis tomboy. “Iya, Dimas suka balapan liar dulu, dia suka....”
Dan terbongkarlah kelakuan semprul Dimas dari mulut Juan. Tapi, anehnya malah membuat Yaraa makin penasaran dengan sosok pacarnya itu.
•••
Selingan dulu lah yah, Kaka Gallon masih mikir gimana caranya Juan ungkapin semuanya. 🙈
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1