
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Bagaimana Pak Juan?” tanya salah satu petinggi direksi perusahaan Wijaya Corp.
Juan hanya bisa menatap lawan bicaranya dengan tajam, Dimas lagi-lagi salah dalam memilih langkah. Dengan polosnya Dimas menandatangani perjanjian yang membuat rugi perusahaan.
“Nggak bisa, perjanjian itu dibuat tanpa ada kesepakatan dari saya,” jawab Juan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di meja.
“Pak, tanda tangan Dimas sudah....”
“Saya yang pegang kekuasaan, bukan bapak Dimas,” potong Juan sambil mendengus.
“Perjanjian tetap perjanjian....”
“Dan perjanjian bisa dibatalkan,”potong Juan lagi sambil melambaikan tangannya santai.
Pengacara Juan langsung memberikan berkas-berkas yang sudah mereka persiapkan. Lawan bicara Juan langsung mengambil berkas-berkas dihadapannya. Manik matanya bergerak kekiri dan kekanan membaca dengan super cepat.
“Nggak bisa dong, Pak Dimas...”
“Ambil atau tinggalkan,” ujar Juan dingin.
“Kalau saya tinggalkan, anda juga rugi Pak Juan. Anda mau rugi satu juta pounsterling?” ancam lelaki dihadapan Juan.
Salah satu alis mata Juan naik saat mendengar perkataan lelaki didepannya, tatapan Juan yang dingin benar-benar membuat aura diruangan tersebut menjadi tidak enak.
Petinggi perusahaan Wijaya Crop pun, merasakan aura dingin diruangan itu, membuat perasaannya tidak enak, kalau boleh jujur dirinya lebih suka Dimas yang ada di pucuk kepemimpinan dari pada Juan. Dimas memiliki sifat yang hangat dan friendly, berbanding terbalik dengan Juan yang dingin dan siap menerkam siapapun yang tidak mengikuti keinginannya.
“Take it or leave it,” ulang Juan lagi.
(Ambil atau tinggalkan)
“Pak....”
Plak...
Juan menepuk kedua tangannya sambil terus menatap tajam lalaki didepannya. “Sepertinya anda memilih jalan yang lain. Bagaimana anak anda? Ah siapa namanya, Asthee yah?”
Wajah lelaki didepannya langsung pucat, kebisaan Juan adalah menekan mangsanya dari segala arah, termasuk keluarga dan detik ini sepertinya dia mengincar anaknya.
“Asthee masih kuliah di Melbourne,” jawab lelaki itu cepat.
“Ah, kuliah yah, gimana perasaan Asthee yah, kalau pas sampai Indonesia liat Papihnya ada di balik jeruji besi karena melakukan pemalsuan berkas?” tanya Juan dingin sambil mengambil berkas dari pengacaranya dan melemparkan ke hadapan lelaki didepannya.
“Ini berkas....”
“Berkas kerja sama tahun lalu, kamu ambil keuntungan sampai 40 persen, diluar perjanjian yang ada. Pantas tahun lalu perusahaan hampir oleng,” ujar Juan sambil tersenyum dingin.
‘Sial, kenapa dia bisa sampai tahu’ rutuk petinggi perusahaan Wijaya crop.
“Jadi, ambil atau ting...”
“Saya ambil, saya ambil perjanjian barunya.”
__ADS_1
“Nah, gampang ‘kan, Pak.”ucap Juan santai sambil mengangkat kedua bahunya.
“Ah, Pak. Salam buat Asthee saya yakin dia bisa membuka toko kue di Indonesia dengan kemampuannya,” ucap Juan yang hanya dijawab anggukan oleh lelaki dihadapannya.
Lelaki itu langsung membereskan berkas yang ada dan beranjak dari kursinya, bermaksud untuk keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan lelaki dingin, kejam dan tidak berperasaan bernama Juan Wijaya.
•••
“Pak, setelah ini Bapak ada rapat,” ujar Saka sambil memberikan tablet ke tangan Juan.
“Saka bisa cancel semua rapat?” tanya Juan.
“Hah... nggak bisa Pak, ini semua rapat penting, Bapak udah janji sama Pak Kevin, kalau minggu ini Bapak bakal urus semua hal di Wijaya Crop,” Saka mengingatkan Juan akan janjinya pada Papih.
Juan mendecak kesal, capek rasanya bekerja di dua perusahaan. Untung perusahaan Toko bisa di handle dengan baik oleh Adipati. Sayangnya diperusahaan Wijaya Crop, Dimas masih belum mampu menghandelnya.
“Sampai jam berapa kira-kira saya bisa pulang,” tanya Juan.
“Sekitar jam 9 malam,” jawab Saka sambil melihat catatannya.
Juan hanya bisa mendengus kesal mendengarkan perkataan Saka, makin lama dia pulang, makin lama dia bisa melihat Liz. Bayi mungil yang sudah berumur tiga bulan itu benar-benar membuat Juan ingin selalu dirumah.
“Saya mah ke ruang kerja saya dulu, nanti kalau sudah mulai baru saya keruang rapat.”
“Baik, Pak,” jawab Saka.
Juan langsung masuk keruang kerjanya dan menutup pintu. Diambilnya gawai dari dalam sakunya.
Tut...tut...
“Hai Mas, kenapa?” Wajah Iis langsung tampak di layar gawai milik Juan. Senyuman langsung berkembang di wajah Juan yang sedari tadi berwajah dingin.
“Udah Mas, ini aku lagi main sama Liz,” ujar Iis sambil menunjukkan wajah Liz.
“Hai cantik, lagi main sama Mamih yah, ah Papih kangen sama kamu, Nak,” ujar Juan sambil mengusap-ngusap layar handphonennya.
“A..a buu...”
“Ya ampun, Nak. Papih pulang sekarang deh,” ujar Juan sambil mengusap layar handphonennya.
“Eh, emang kerjaan kamu udah selesai?” tanya Iis.
“Belum, tapi biarin ajalah aku mau pulang. Kasian Liz kangen Papihnya,” ujar Juan.
“Halah, kamu yang kangen Liz, Liz man baek-baek aja ini,” ujar Iis.
“Nggak tuh liat mukanya, muka kangen Papih. Kangen Papih kan?”
“Mas, kerja dulu ah, kerjaan kamu banyak yang molor gara-gara, kamu keenakkan ngurus Liz di rumah. Kasian Saka, Mas. Puyeng dia ngurus jadwal kamu,” ujar Iis.
“Tapi...”
“Mas, kerja dulu sana, kalau kamu nggak kerja mau dikasih makan apa aku sama Liz?” ujar Iis.
“Alah, aku nggak kerja kita masih bisa hidup, Yang,” ujar Juan sambil duduk di kursinya.
“Udah ah, aku mau ganti popok Liz dulu, selamat kerja Papih,” ujar Iis sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Ah... Liz masih kangen Papihnya,” rengek Juan sambil melihat layar handphoennya.
“Bilang babay sama Papih, Nak,” ujar Iis sambil mengarahkan layar handphoennya ke wajah Liz.
“Aooh...”
“Argh... aku mau pul...”
“Kerja Mas, aku nggak bakal bukain pintu apartemen kalau kamu pulang sekarang,” ancam Iis sambil memicingkan matanya.
“Argh... ya udah, sampai ketemu nanti malam” Juan pasrah, sepertinya dia harus menahan rindu pada anak dan istrinya sedikit lebih lama.
•••
“Udah selesai?” tanya Juan pada Saka. Rasanya otaknya panas, setelah melakukan rapat marathon.
“Sebentar, Pak,” Saka mengcek jadwal yang sudah dibuat seefisien mungkin. Sepertinya sudah semuanya.
“Sudah, Pak. Bapak bisa pulang,” ujar Saka lagi.
Juan langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arab ruangannya untuk mengambil semua barangnya dan langsung pergi meluncur meninggalkan kantornya.
Saat berada di depan ruangannya, Juan bingung dengan lampu ruangan kerjanya yang menyala terang. Seingatnya dia mematikan lampunya, kenapa sekarang ruangannya menyala dengan terang benderang seperti itu.
Klik...
Juan masuk kedalam ruangan kerjanya dan kaget saat mendapati dua malaikat cantik miliknya sedang tersenyum kepadanya.
“Hai Mas, capek?” tanya Iis sambil menggendong Liz.
“Ahhh.... malaikat aku dateng semuanya,” ujar Juan sambil berjalan kearah Iis dan Liz.
“Malaikat apa ini teh? Bukan malaikat pencabut nyawa kan?” canda Iis sambil mencium pipi Juan pelan.
“Astaga jangan dung, aku masih ingin bareng sama Liz dan kamu,” ujar Juan sambil mengambil Liz dari gendongan Iis.
“Mas capek?” tanya Iis lagi sambil menatap Juan.
Juan membalas tatapan Iis sambil mengecup bibir Iis yang hangat dan manis, mencicipi bibir malaikat miliknya.
“Sekarang udah nggak capek, Yang...” ujar Juan sambil mengesekkan hidungnya di hidung Iis.
•••
Hah... Juan adalah lelaki idaman setiap emak-emak dimuka bumi ini....
Nyesek yah... makin deket mau tamat...
Kaka Gallon nangis ini 😭😭😭😭....
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon