
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Namanya...”
“Udah... Nek, biar aku aja yang kasih nama, Nenek nggak usah urusin nama buat anak aku,” ujar Juan sambil menatapa Nenek Lia.
“Tapi, ini Cicit Nenek, Nenek berhak memberikan nama buat Cicit Nenek,” protes Nenek Lia sambil menciumi bayi yang ada digendongannya.
“Udah ah, pokoknya anak Juan gimana Juan, mau Juan kasih nama apapun juga,” ujar Juan seraya berdiri kemudian meminta anaknya dikembalikan.
Semua orang diruangan itu hanya bisa mengelengkan kepalanya, melihat betapa melindunginga Juan pada anak pertamanya itu.
“Iis, itu Juan nggak mau gitu ijinin Mamih gendong, Babynya?” tanya Mamih kesal karena dari tadi sangat ingin menggendong cucunya.
“Jangankan Mamih, Iis aja nggak dikasib ijin gendong,” jawab Iis sambil menggaruk dahinya kesal.
“Kebayang anak itu punya pacar, abis pacarnya di labrak Juan,” kekeh Mamih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Iis langsung membayangkan apa yang terjadi nanti bila anaknya sudah beranjak dewasa dan membawa teman prianya kerumahnya, sepertinya Juan akan menjadi garda depan untuk mengusirnya.
“Aku nggak mau bayangin Mamih, kepala aku bisa meledak. Kelakuan Juan bakal absurd kayanya,” ujar Iis sambil terkekeh.
“Kasian anak kamu Iis,” ujar Mamih sambil menahan tawanya.
•••
Setelah huru hara yang terjadi di bidan dan rumah Mamih, akhirnya Juan dan Iis sudah sampai di apartemen. Juan dan Iis sudah membuat kamar bayi, kamar bayi milik Iis benar-benar sudah full furnish dan lengkap, dari maianan, baju sampai perlengkapan khusus bayi sudah tersedia. Yang memilihnya tentu saja Juan, semua warnanya warna kuning.
Juan detik ini sedang menatap anaknya yang sedang tertidur dengan tenang di tempat tidur khusus bayi yang dibuat custom oleh Juan.
“Hai, cantik bobo kamu nak?” tanya Juan sambil mengelus-ngelus pipi tembam anaknya.
“Mas,” panggil Iis dari belakang Juan.
“Yang sini deh ini lucu,” ujar Juan sambil menunjuk anaknya yang sedang tertidur di dalam tempat tidur bayi.
Iis hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya. “Mas nggak usah ditontonin, itu anak kita bukan TV,” ujar Iis sambil tertawa kecil.
“Ini lebih seru dari TV, Yang,” ujar Juan lagi sambil mengelus-ngelus pipi bayi kecilnya.
“Mas, ini anak kita mau dikasih nama siapa?” tanya Iis bingung, ya kali nanti di akikahin nggak ada namanya, auto keblenger ustadnya.
“Nggak tau, aku bingung. Terlalu banyak nama indah didunia ini, sayangnya cuman ada satu malaikat kecil yang butuh nama,” ujar Juan.
__ADS_1
“Mas, emang di kepala kamu ada berapa nama sih?” tanya Iis penasaran.
“Tiga nama perempuan dan tiga nama laki-laki,” jawab Juan sambil mengangkat tiga jari tangan kanannya.
“Ya udah namain dulu ini pake nama yang kamu mau,” ujar Iis, rasanya kasian anaknya ini nggak dikasih nama sama sekali, Iis bingung manggilnya.
“Tapi, aku bingung, Yang,” ujar Juan lagi.
“Bingung kenapa?”
“Ah... namanya bagus-bagus....”
“Ya udah namain dulu ini, nanti kalau jahitan aku udah kering, terus bayinya udah setahun. Kita bikin lagi, sperm* kamu masih ada sisa 4 straw lagi. Nanti kita bikin lagi,” potong Iis cepat.
Juan langsung berjongkok untuk mensejajarkan pandangannya dengan Iis, yang sedang duduk dikursi roda elektrik, “Kamu mau hamil lagi anak aku?”
“Iya, aku mau. Aku mau hamil lagi anak kamu, makanya sekarang....”
Juan langsung mencium bibir Iis dengan lembut, Iis langsung merasakan bibir Juan yang hangat bercampur basah. Juan tidak menuntut sama sekali, Juan hanya ingin menyicipi bibir Iis, menyicipi candunya, candu miliknya.
“Mas....”
“Kamu benaran mau hamil anak aku lagi?”
“Iya Mas, aku mau,” jawab Iis sambil mengusap air mata Juan. “Mas kamu kok jadi cengeng gini sih, seinget aku dulu pas pertama ketemu kamu tuh dingin dan cuek banget, baru pas pulang dari acara ulang tahun Om Gio kamu gombal parah, eh sekarang udah nikah manjanya nggak ada dua,” ujar Iis.
Iis hanya bisa mengelus punggung suaminya, sambil mengintip anaknya yang masih tertidur di tempat tidur.
“Mas, mumpung babynya bobo, kita makan dulu aja yah,” ujar Iis sambil melepaskan pelukkan Juan.
Juan langsung menganggukkan kepalanya. Kepalanya langsung mencari baby monitor, dengan cekatan Juan memasang baby monitor, baby monitor ini dipakai bila seandainya anaknya menangis Juan bisa mendengar suaranya.
•••
Juan dan Iis yang sedang makan dimeja makan, makanan yang disedian Bi Sur semuanya adalah makanan kesukaan Iis. Kata Bi Sur makanannya semuanya harus dihabiskan biar ASI Iis lancar dan deras.
“Mas, ini siapa yang nyediakn kursi roda elektrik ini?” tanya Iis sambil menunjuk kursi rodanya.
“Itu?”
“Iya ini,” ulang Iis lagi.
“Saka, kata Saka kasian Bu Iis pasti butuh kursi roda kalau habis lahiran,” jawab Juan sambil menyuapkan makanannya.
“Saka pinter banget, ngebantu banget aku ada kursi ini,” ujar Iis.
“Saka itu emang keren banget, beruntung aku nemu dia,” ujar Juan sambil tersenyum.
“Yang, gimana kalau namanya Aurora Lunaira Julisa Wijaya,” ujar Juan tiba-tiba.
__ADS_1
“Panjang amat namanya Mas?” tanya Iis kebingungan.
Juan nyengir kuda mendengarkan perkataan Iis, “Biarin Yang, biar semuanya happy. Jadi namanya digabung,” ujar Juan.
Iis hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Astaga kasian anaknya nanti pas disuruh ngapalin namanya sendiri. “Mas, nggak bisa Aurora Wijaya aja?”
“Ngga udah itu aja, Aurora Lunaira Julisa Wijaya,” Juan sudah memutuskan dan dia tidak mau mendengar kata tidak.
“Mas....”
“Keputusan sudah bulat Yang,” jawab Juan sambil mengangkat kedua ibu jarinya.
Iis hanya bisa menghela napasnya, Iis tau, sekuat apapun dirinya menolak nama dari Juan, Juan akan tetap menggunakan nama itu.
“Oke namanya Aurora Lunaira Julisa Wijaya,” ucap Iis pasrah.
Juan langsung mengedipkan matanya, rasanya ada perasaan bahagia didalam dirinya saat memberikan nama bagi anaknya. “Panggilannya Naomi...”
“What?? Jauh amat Mas,” ujar Iis bingung.
“Lah biarin, kan kamu juga namanya Lizbet panggilannya Iis, jauh kan. Dari Lizbet ke Iis,” bela Juan lagi,
“Iya, tapi masa dari rangkaian nama yang kamu buat nggak ada yang bisa dipake?” tanya Iis kesal.
Juan tersenyum geli saat melihat wajah Iis yang kesal bukan main, “Hahahaaa... bercanda Yang, ya udah nama panggilannya Lis, biar sama kaya Mamihnya,” ujar Juan sambil mencawil hidung Iis pelan.
“Eh....”
“Iya, biar cantik, manis, baik dan sabar kaya Mamihnya,” ujar Juan lagi.
“Gombal kamu, Mas...”
•••
Welcome aboar Aurora Lunaira Julisa Wijaya
Selamat datang ke keluarga Wijaya...
Ah cuman mau ngasih tau, itu Papih kamu ganteng banget..! Hahahaa...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1