
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sudah hampir dua jam ayah ditangani oleh dokter-dokter yang ada disana. Juan meminta dokter terbaik untuk menyembuhkan Ayah. Juan melakukan itu semata-mata tidak ingin membuat Iis terus menerus bersedih.
“Mas, Ayah kok lama yah?”tanya Iis pada Juan sambil mengusap tissuenya ke hidung.
“Sabar, Yang bentar lagi juga selesai. Sabar, yah,” Juan berusaha menenangkan Iis.
Iis hanya bisa pasrah dan berusaha menelan salivanya. Iis dari tadi hanya bisa tersenyum lemah dan menyandarkan kepalanya di bahu Juan. Taca bolak-balik membawakan minum dan camilan untuk Iis.
“Mas, Bernard gimana?”Iis baru ingat akan keberadaan Bernard yang ada dihotel.
“Astaga Mas lupa,”ujar Juan sambil memukul dahinya karena hampir melupakan Bernard yang ada di Hotel.
“Suruh kesini, Mas,”ujar Iis sambil menatap Juan.
“Kamu yakin?” tanya Juan
“Aku...aku nggak tau, gimana ini? Gimana kalau Bernard tau? Kasian Mas, dia masih kecil,”ujar Iis bingung. Astaga semenjak Iis tau Bernard bukan anak Ayah, rasa sayang Iis bertambah berkali-kali lipat pada Bernard. Mungkin, Iis merasa kalau dia menyayangi Bernard saat ini tidak akan membuat hati Ibunya sakit di alam sana.
“Udah..udah aku bakal bilang aja Ayah sakit, dia suruh tunggu disana, aja. Kasian dia kalau tau dia bukan anak Ayah,”ujar Juan sambil mengusap pucuk kepala Iis, Iis langsung menggangukkan kepalanya.
Juan menjauh dari Iis untuk menelepon Bernard, Iis langsung menahan kepalanya dengan tangan kanannya. Kepalanya sakit.
“Iis, udah dimakan lempernya?” tanya Taca sambil duduk disamping Iis.
“Udah, masih inget aja aku suka lemper ayam,” jawab Iis sambil menatap Taca.
“Ingetlah, temenan ampir 26 tahun masa ngak inget kelakuan sama kesukaan kamu. Ampe kamu suka sama om-om aja aku hapal,” canda Taca, Taca berusaha membuat Iis tertawa dan melupakan sedikit kesedihannya.
“Hahaa... saking sukanya ampe nikah aja ama om-om,” ujar Iis sambil mengusap kelopak mata kanannya.
“Ta...gimana kalau ada apa-apa sama Ayah? Aku emang anak durhaka tapi aku ngak mau ada apa-apa sama Ayah. Aku cuman punya Ayah, Ta...” keluh Iis sambil tersenyum pada Taca.
Taca langsung mengusap-usap rambut Iis lembut, “Kamu masih punya aku, Abah, Kama, Kalila, Aa Riki, Kang Rozak, Adipati, dan yang paling penting kamu punya Juan, Iis,” Taca mengingatkan kalau Iis masih punya Juan, suami yang akan selalu ada dibelakangnya dan menyayanginya.
Iis tersenyum mendengar perkataan Taca, apa yang dikatakan Taca ada benarnya juga. “Ta...”
__ADS_1
“Hmm...” jawab Taca sambil memasukkan handphonenya kedalam tas miliknya.
“Makasih yah.”
“Buat?” tanya Taca sambil menggoyangkan rambutnya yang diikat ponytail.
“Buat jadi sahabat aku, buat selalu ada saat aku bener-bener terpuruk, buat segalanya, Ta,” Iis berkata sambil tersenyum menatap Taca tulus.
“Sama-sama sayangku, aku juga terima kasih. Kamu selalu ada saat aku terpuruk sekalipun, ngak pernah ngejudge aku cewe murahan pas dulu aku sama Adipati, selalu sayang sama aku. Ngelindungi aku juga,” ujar Taca sambil memeluk Iis.
“Amore,” tiba-tiba Adipati memanggil Taca yang sedang berpelukkan dengan Iis.
“Ah..iya Di, kenapa?” tanya Taca sambil melepaskan pelukkannya.
“Anterin aku ke kantin, aku belum makan ternyata,” ucap Adipati sambil tersenyum pada Iis.
“Ah, kamu belum makan, Di. Astaga maafin aku, aku ngak nanya, maaf yah, Di,” Taca meminta maaf pada Adipati, saking fokusnya mengurusi Iis, Taca sampai lupa kalau suaminya belum makan.
“Iya Amore, anter yuk. Beneran aku laper,” ucap Adipati.
“Ya udah aku ke kantin dulu yah, Iis,” Taca pun pergi meningalkan Iis yang kembali memijat keningnya.
Tiba-tiba Iis merasakan pijatan lembut di bahunya, Iis yang sedang pusing langsung merasa rileks, otot-otot dibahunya terasa lebih kendur. Iis memejamkan matanya saat tangan itu mengusap pelan namun dengan tekanan-tekanan yang sangat pas di leher Iis.
“Kamu dulu belajar mijet dimana Mas?” tanya Iis sambil menikmati pijatan tangan Juan.
“Di mana?” ingin rasanya Juan bilang dulu salah satu mantan pacarnya adalah terapis pijat yang memiliki lisensi khusus di Canada. Tapi demi kebaikan jiwa dan raga Iis lebih baik Juan berbohong, “di hatimu.”
“Kata-kata andalan yah,”ujar Iis sambil menikmati pijatan Juan dan tersenyum kecil.
Juan langsung tersenyum kecil melihat istrinya sudah mulai sedikit tenang dan rileks.
Setelah menunggu selama satu jam akhirnya, Juan dan Iis didatangi oleh seorang suster dengan tatapan teduh.
“Ibu yang namanya Iis? Anaknya pasien bernama Apo Sandia?” tanya Suster tersebut sambil menatap Iis.
“Ah, iya itu saya, gimana dengan keadaan Ayah saya?” tanya Iis sambil berdiri dari duduknya.
Suster tersebut tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Iis, “Pak Apo sudah kami pindahkan ke kamar biasa, kondisi tubuhnya sudah mulai stabil. Tapi, mungkin nanti pada saat sadar tangan bagian kirinya sulit untuk digerakkan.”
“Maksudnya ?” tanya Iis penasaran.
__ADS_1
“Maksudnya, Pak Apo akan mengalami kelumpuhan sebagian sementara, dengan terapi moga bisa sembuh. Tapi, untuk tahapan komunikasi Dokter tadi bilang harus dicek saat sadar nanti,” jawab Suster itu.
“Baiklah Sus, makasih banyak. Sekarang saya bakal kekamar Ayah saya, terima kasih yah,” ucap Iis sambil mengambil tas miliknya.
“Iya mari saya tinggal dulu,” ujar Suster itu meninggalkan Juan dan Iis.
•••
Sesampainya didalam kamar perawatan Ayah, Iis dan Juan langsung melihat Ayah yang sedang tertidur pulas, suara alat-alat rumah sakit membuat Iis meringis. Iis benci suara peralatan rumah sakit bahkan sebenarnya Iis benci rumah sakit, rumah sakit mengingatkan dirinya pada almarhum Ibunya.
“Yang, aku kebawah dulu yah. Ada yang mau aku ambil,” Juan meminta ijin pada Iis, “sekalian kasih tau Taca dan Adipati dimana kamar Ayah.”
“Iya, ati-ati yah, sama bilang ke Taca ini tas pompanya ada disini,” ucap Iis sambil menunjukkan tas pompa asi milik Taca yang tadi Taca lupa bawa.
“Ah iya, aku kebawah dulu bentar aja,” ujar Juan sambil mencium pucuk rambut Iis.
Sepeningalnya Juan Iis melihat Ayahnya, dengan pelan Iis mengusap tangan Ayahnya. “Yah, sehat yah... bangun yuk bangun,” ucap Iis sambil mengusap lengan Ayahnya.
“Nanti kalau Ayah bangun, katanya Ayah mau jalan-jalan. Nanti kita jalan-jalan ke pantai. Ayah inget ngak dulu...” Iis menghentikan ucapannya air matanya terlalu ingin keluar dari tempatnya. Mendesak keluar dari tempatnya.
Iis dengan cepat menengadahkan kepalanya mencoba untuk memasukkan kembali air matanya.
“Ayah suka... Ayah suka ajak aku sama Ibu ke pantai Pangandaran. Main di pasir putih, terus pas Iis SMP Ayah pernah nyuruh aku berenang dari pantai pasir putih ke pantai Pangandarannya. Terus sepanjang kita berenang Ayah malah cerita tentang ikan hiu yang bakal gigit ****** Iis sebelah,” sambil bercerita Iis menahan tangisnya, ya tuhan ternyata masa kecilnya teramat manis dengan Ayah, Ayah yang selalu hadir kapanpun dan dimanapun untuk melindungi Iis anak semata wayangnya. Ayah yang saking sayangnya sama Iis, setiap Iis pulang sekolah saat SD selalu menunggu digerbang sambil membawa coklat cap ayam jago.
Astaga Ayah, andai Ayah tidak dijebak oleh Kokom. Ayah adalah Ayah terbaik yang Iis miliki. Ayah yang selalu Iis sayangi, bahkan Iis selalu berandai-andai memiliki suami yang seperti Ayah.
“Ayah nganterin Iis naik motor subuh-subuh cuman buat anterin Iis test kuliah di Maranatha pagi harinya dan test lagi di UNPAR pas Siangnya. Ayah sampai nunggu Iis di warung, Ayah maafin Iis Yah,” isak Iis sambil menguncang badan Ayah pelan.
Tit...tit...
Hanya ada suara alat rumah sakit diruangan itu. Ayah sama sekali tidak bergerak. Hanya ada suara napas Ayah yang menandakan Ayah masih hidup, masih bernapas.
“Ayah bangun...!!!!!” jerit Iis keras sambil membenamkan mukanya di dada Ayahnya.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon