
“Taca ini,” ucap Rozak sambil memberikan keranjang berisikan keju dan berbagai macam makanan juga camilan khas Itali.
“Apaan ini, Kang?” tanya Taca bingung, “ini apaan?”
“Kata Adipati nanti kamu kasih itu buat dia,” ucap Abah yang sudah berjalan dibelakang Rozak.
“Hah? Buat apaan? Astaga ini mau ngapain sih? Bukannya aku langsung ke tempat acara aja ini tuh,” ucap Taca bingung.
“Kata si bule tunggu disini dia mau ngelakuin, naon tadi teh(Naon tadi, Teh) ?” tanya Abah pada Rozak, lidah sundanya pasti akan keseleo bila mengucapkan apa yang Adipati katakan tadi.
“La Serenata,” jawab Rozak, lidah Rozak pun hampir keseleo mengucapkan katanya. Kenapa Adiknya ini harus menikah dengan blesteran Itali sih. Ribet bener ngomongnya.
“Hah, apaan itu?” tanya Taca bingung, baru tadi siang Adipati memaksanya mengenakan garter. Taca sampai kebingungan untuk apa dia mengenakan garter. Tapi, Adipati memaksanya untuk mengenakannya, mau tidak mau Taca pun memakainya.
(Contoh garter)
“Nggak tau, katanya itu adat dia, ah pusing si bule aneh-aneh aja,” ucap Abah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba Taca, Rozak dan Abah mendengarkan suara di luar kamar Taca. Irama lagu ini sangat dikenal oleh mereka bertiga. Tapi, ya kali ada lagu ini di Itali. Siapa yang nyanyi?
Taca langsung berlari kearah jendela kamarnya kemudian membuka jendelanya lebar-lebar dan melihat siapa yang sedang bernyanyi diluar kamarnya.
Matanya membulat dan tawanya pecah saat melihat siapa yang bernyanyi diluar kamarnya. Terlihat home band yang tiba-tiba ada diluar kamarnya. Terdengar ditelinganya suara Adipati bernyanyi, suara Adipati memang enak didengar, tapi yang menjadi masalahnya adalah lagu yang dinyanyikan oleh Adipati membuat dirinya tertawa.
“Itu siapa yang nyanyi?” tanya Rozak bingung sambil berdiri disamping Taca.
“Astaga siapa ini yang nyanyi?” Abah juga ikut penasaran.
“Astaga si bule,” teriak Rozak dan Abah berbarengan sambil menahan tawanya.
“Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut
Api asmara yang dahulu pernah membara
Semakin hangat bagai ciuman yang pertama
Detak jantungku seakan ikut irama
Karena terlena oleh pesona alunan kopi dangdut
Irama kopi dangdut yang ceria
Menyengat hati menjadi gairah
Membuat aku lupa akan cintaku yang telah lalu”
Adipati dengan kencang, lantang ditambah dengan cengkokkan suara khas dangdut yang benar-benar sesuai. Benar-benar membuat Taca, Abah dan Rozak menahan tawanya.
Tidak pernah mereka bayangkan Adipati bernyanyi lagu kopi dangdut dengan sangat-sangat sempurna. Apalagi detik ini Adipati berjoget dengan luesnya, membuat Taca tertawa terbahak-bahak.
Adipati menggerakkan pinggulnya dan bahunya dengan lues. Saking luesnya Taca yakin seratus persen, dulunya Adipati adalah guru tari dangdut di Italia.
__ADS_1
“Taca Trina Berutti, maukah kamu menikah dengan aku, sekali lagi?” tanya Adipati sambil merentangkan tangannya kearah Taca. Sebenarnya tradisi ini harusnya dilakukan kemarin malam dan seharusnya Adipati dilarang melihat Taca mengenakan gaun pengantin. Namun, karena ini hanya pernikahan ala-ala, mereka tidak terlalu memikirkan tradisi.
“Mau...” teriak Taca sambil menahan tawanya melihat Adipati bergoyang-goyang.
“Astaga Ta, pantes kamu awet yah sama Adipati. Goyangannya bener-bener joss,” ucap Rozak sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
“Hah, apa sih. Kang Rozak suka aneh-aneh aja,” ucap Taca sambil memukul pelan bahu Rozak.
“Tapi, kalau diliat-liat, Rozak ada benernya juga, Ta. Kamu sehari berapa kali sama itu bule?” tanya Abah jahil.
Wajah Taca langsung memerah, Ayah dan Kakak keduanya ini benar-benar sengklek. “Ah, tau ah. Nyebelin,” ucap Taca sambil menatap kedua lelaki yang sedang tertawa disamping mereka berdua.
“Amore, kalau jawabannya iya, cepet kasih keranjangnya buat aku,” teriak Adipati sambil merentangkan tangannya, bermaksud menangkap keranjang berisikan camilan khas Itali.
Taca yang terlalu bersemangat, bukannya menyerahkan keranjang camilan yang ada ditangannya. Dengan santainya dia malah menjatuhkan dirinya kebadan Adipati. Untungnya, jarak antara balkon dan tempat Adipati berdiri tidak terlalu jauh. Adipati dengan sigap langsung menangkap badan Taca yang menjatuhkan dirinya.
“Astaga Amore, kenapa kamu ngejatuhin diri? Untung ringan kalau berat aku nggak bisa nangkap kamu,” ucap Adipati sambil mencium bibir Taca cepat.
“Hahaaa... ini aku kasih keranjangnya, sama akunya sekalian. Aku mau kok nikah sama kamu berpuluh-puluh kali. Berjuta-juta kali juga aku mau, asal sama kamu Adipati,” ucap Taca sambil memeluk Adipati lembut.
“Amore, kamu tuh. Bener-bener kaya kopi dangdut,” jawab Adipati.
“Eh... kok kaya kopi dangdut?” tanya Taca bingung. Suaminya ini benar-benar selalu mengagetkan dirinya.
“Iya, kamu tuh selalu nyemangatin hati aku, bikin hati aku ceria. Membuat hati menjadi gairah dan membuatku lupa akan segalanya,” ucap Adipati.
“Aaa.... nyontek banget lirik lagu deh kamu,” ucap Taca sambil memeluk Adipati.
“Hahaahaa... siap untuk pernikahan Amore?” tanya Adipati.
“Yes...” jawab Taca sambil mencium bibir Adipati mesra.
•••
“Ready Mrs. Berutti?” tanya salah satu pegawai yang akan membuka pintu dihadapan Taca.
“Śi,” jawab Taca sambil membuka matanya dan detik itu juga Taca benar-benar terpesona melihat pemandangan didepannya.
(Anggap kursinya ada manusianya yah, heheheee)
Pemandangan danau dan gunung benar-benar memanjakan mata Taca. Tapi, pemandangan yang sangat Taca sukai adalah pemandangan suaminya yang berdiri diujung sana dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Tatapan yng sangat Taca sukai, tatapan yang mampu membuat dirinya bertekuk lutut.
Setelah berjalan melawati para tamu undangan yang menatap Taca dengan tatapan bahagia. Taca akhirnya menatap suaminya.
“Di...” panggil Taca pelan.
“Śi Amore,” jawab Adipati pelan sambil mengambil tangan Taca.
“Sekarang disini, kita melihat dua orang yang sudah menikah dan ingin menikah lagi. Entah karena apa,” ucap Gio sambil menatap Taca dan Adipati.
“Dua insan yang saling mencintai, dua anak kami. Anak saya dan anak Abah,” ucap Gio sambil menunjuk Abah yang tersenyum jumawa disamping Gio.
“Jadi, silahkan sampaikan saja apa yang ingin kalian sampaikan,” ucap Gio sambil mempersilahkan Taca dan Adipati mengungkapkan apa yang ingin mereka ungkapkan.
“Amore, kamu wanita yang berarti bagiku. Kamu tidak pernah memanggilku dengan nama panggilan apapun. Kamu, hanya memanggilku dengan panggilan, Di. Iya, hanya namaku. Tapi, entah kenapa terdengar istimewa saat kamu yang mengatakannya, sangat berarti.”
“....”
__ADS_1
“Kamu wanita pertama yang mampu membuat aku gila, kamu wanita yang sangat sulit untuk aku ajak nikah,” ucap Adipati sambil mengoyangkan lengan Taca pelan.
“Sulit banget?” tanya Taca sambil tersenyum.
“Sulit,” ucap Adipati sambil menganggukkan kepalanya menunjukk bagian celananya. Yah, saking sulitnya Adipati rela di sunat.
“Amore, kamu bukan wanita pertama aku. Tapi, aku berjanji, kamu wanita terakhir aku dan tidak akan ada orang yang berani menyakiti kamu tanpa ijin dariku, Amore,” ucap Adipati sambil mencium tangan Taca pelan.
Terdengar suara tepuk tangan bergemuruh di sekita Taca dan Adipati.
“Adipati, kamu lelaki pertama buat aku untuk segala hal. Kamu, lelaki yang selalu ada disaat suka dan duka kehidupan aku. Aku nggak tau harus ngomong apa. Tapi, tolong ingat ini dipikiran kamu. Aku Taca akan selalu menjadi milik kamu sampai kapanpun,” ucap Taca sambil tersenyum manis.
“Karena, kamu selalu membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tidak bisa lakukan, Di,” ucap Taca lagi sambil mengecup pipi Adipati pelan.
Plok....
Confetti dan balon-balon diterbangkan keangkasa sesaat Taca mengecup pipi Adipati.
Tepukkan tangan terdengar membahana, membuat Taca dan Adipati tertawa riang. Akhirnya mereka berjalan ke arah dalam Villa sambil beberapa orang melempari Taca dan Adipati dengan kelopak-kelopak bunga mawar yang membuat semarak pesta mereka.
Dari ekor matanya Taca bisa melihat Dimas yang bersembunyi dibelakang tubuh Yaraa saat balon-balon dikeluarkan, Becca yang tersenyum senang pada dirinya, Cicil yang bertepuk tangan dengan mata yang sembab, Iis dan Juan yang ikut melemparkan kelopak-kelopak bunga, Abah yang merangkul Rozak dan Riki. Rina dan Entis yang menggunakan baju batik dengan corak yang sama. Semua orang yang pernah ada diperjalanan cintanya bersama Adipati benar-benar ada disana. Mengucapkan selamat pada mereka berdua.
Blam...
Terdengar pintu tertutup dibelakang mereka berdua. Suasana tiba-tiba hening, Taca menatap Adipati mesra.
“Amore...” panggil Adipati pelan.
“Śi, Di,” jawab Taca sambil mengalungkan lengannya ke leher Adipati.
“Are you happy?” tanya Adipati.
(Apa kamu bahagia?)
Taca menatap manik mata biru milik Adipati, ketampanan Adipati benar-benar menjeratnya dengan sempurna. Taca benar-benar dibuat jatuh cinta, jatuh sejatuh jatuhnya.
“With you?” tanya Taca sambil menjijitkan kakinya sedikit. Hak sepatunya yang sudah 9 cm tidak membuat ukuran tubuh mereka berdua sejajar. Taca mengalungkan tangannya ke leher Adipati.
“With you, i always happy, Adipati Berutti,” jawab Taca sambil mencium bibir Adipati yang penuh dan lembut.
Adipati mengesap bibir Taca lembut, berusaha untuk menahan nafsunya dan menahan untuk tidak merobek baju pernikahan Taca.
“Amore,” panggil Adipati sambil melepaskan ciumannya dan mendaratkan kecupan di bagian kuping Taca. Kemudian berbisik lembut.
“Sei la mia vita, Amore.”
(Kau adalah hidupku, Amore)
•••
Cerita ini diawali dengan hubungan panas dari dua insan bernama Taca Safina Trina dan Adipati Berutti. Dipertengahan, kita disuguhkan hubungan kocak dari Lizbet Sandia dan Juan Wijaya. Tak lupa terselip cerita indah percintaan Dimas Wijaya dan Nayaraa Sebastian.
Jadi, izinkan Kaka Gallon mengakhiri kisah Water Teapot ini dengan senyuman manis mereka bertiga. Izinkan Kaka Gallon mengakhiri cerita indah ini dengan senyuman ketiga pasangan tersebut. Izinkan Kaka Gallon berpindah kecerita manis selanjutnya. Cerita yang mampu membuat semuanya menangis, marah, benci, tertawa, dan bergairah bersama.
...XOXO GALLON...
...09 Oktober 2020 (19.10 WIB)...
...31 Maret 2021 (16.30 WIB)...
__ADS_1