Water Teapot

Water Teapot
S2: Jangan hina istri saya


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Ta... itu Abah jadi nikah sama mantannya Mas Juan?” tanya Iis sambil menarik koper miliknya.


Taca dan Iis saat ini sedang berjalan kearah lobby, mereka bersiap untuk pergi ke Villa Balbanio di Lake Como. Disana Taca dan Adipati akan melangsungkan kembali pernikahan mereka. Para undangan dari Citeko, teman-teman Adipati dan keluarganya sudah menunggu disana.


“Nggak, Abah cumah salah tangep aja. Dia bilang ke Aa Riki kalau May itu girlfriend-nya abah....”


“Pacar abah?” tanya Iis kaget.


“Bukan, Abah tuh nyangkanya girlfriend itu temen perempuan artinya, bukan pacar. Ah... udahlah, tau sendiri kamu Abah kaya apa. Aku sampai kesel kemaren,” ujar Taca.


Iis langsung menahan tawanya, kelakuan Abah memang tidak ada duanya. Absurd...!


Mereka berdua pun langsung bergabung dengan rombongan yang sudah ada. Mereka bersiap untuk pergi ke lokasi. Bersama-sama mereka menaikki mobil yang sudah di siapkan. Mereka diantar ke sebuah stasiun kereta api. Untuk sampai ke Lake Como mereka membutuhakn waktu kuranv lebih selama 4 sampai dengan 5 jam dengan menggunakan kereta.


“Wah... di Itali teh ada kereta api juga?” tanya Abah polos.


“Ada Bah, yang nggak ada becak motor, noh,” jawab Juan sambil berjalan disamping Abah.


“Eh... dodol, demen amat ngejekin orang tua,” ujar Abah sambil menepuk bahu Juan pelan.


“Hahaha... maaf, Bah. Kebiasaan,” jawab Juan santai.


“Nggak papa lah, kalau buat calon anak mah, nggak papa, Abah ridho,” canda Abah.


“Astaga Abah, masih ngarep Mamih Juan?” tanya Riki dari belakang Abah.


“Kayanya, Mamih Juan bener-bener sudah membutakan pikiran Abah,” olok Rozak sambil memasukkan tas ketempat yang sudah disediakan.


“Ini anak dua yah, suka banget ngejek bapak sendiri,” omel Abah sambil duduk dikursi milik abah.


Tawa langsung terdengar di dalam gerbonh kereta yang sudah disewa oleh Adipati. Mereka asik duduk dan melihat pemandangan diluar yang sangat indah. Kereta tersebut berjalan pelan membawa mereka ke lokasi pernikahan kedua Taca dan Adipati.


•••



Keindahan Lake Come benar-benar membuat semua orang menikmati perjalanan mereka membelah danau menggunakan perahu boat. Sesampainya mereka di Villa Balbiano, terdengar suara yang mampu membuat orang mati pun bangkit kembali dari kematiannya, saking kencangnya.


“TACAAA IISS...!!”


Taca dan Iis langsung bertatapan, suara ini. Suara ini tak lain dan tak bukan adalah....


“Eh... kenalin Rina istri lurah Citeko,” ujar Rina sambil menyalami pegawai kapal boat, menggunakan bahasa indonesia berlogat sunda.


Pegawai tersebut hanya bisa menatap Rina dengan tatapan takjub, mungkin diotaknya saat ini berkata, harimau siapa yang lepas? Bagaimana tidak baju Rina sangat spektakuler, rok motif zebra panjang dipadu padankan dengan blouse motif harimau berwarna ungu. Uwow sekali bukan. Jangan lupa, kaca mata hitam cengdem (seceng adem) andalannya bertengger manis diatas kepalanya.

__ADS_1


“Si Rina mulai deh, nggak warasnya,” bisik Iis sambil mengambil Liz dari tangan Juan.


“Kapan Rina waras? Kapan?” tanya Taca.


“Astaga, mahluk astral itu diundang juga?” Juan menatap Adipati dengan tatapan bingung, sahabatnya ini sudah tidak waras sepertinya, sampai-sampai mengundang mahluk astral bernama Rina.


“Mau nggak mau harus diundang, kata Abah, istri lurah Citeko wajib diundang,” jawan Adipati pasrah, karena jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar tidak ingin mengundang Istri lurah Citeko itu.


“Harus diundang, dia itu toa-nya emak-emak pergosipan di Citeko, jadi wajib diundang. Biar dia yang ngabarin betapa spektanya ini acara kawinan Taca di Citeko, anggak aja Brand Ambassador,” jawab Abah santai.


“Eh... apa kabar ieu teh, masih ingat sama saya? Istri....”


“LURAH CITEKO,” potong Taca, Iis, Adipati dan Juan berbarengan dengan menahan rasa gemas.


Mendengar perkataan Taca, Iis, Adipati dan Juan. Bukannya merasa marah, Rina malah mengacungkan kedua jempolnya, “Bener banget, istri lurah Citeko yang....”


“TERHORMAT,” potong mereka lagi geram.


“Aduh, udah pinter yah semuanya. Ayo, masuk-masuk, bagus banget ini villanya, suami kamu pinter bener cari tempat, yah,” ujar Rina pada Taca.


Taca hanya bisa tersenyum simpul mendengarkan perkataan Rina, rasanya ingin dia mencakar wajah Rina. Masih segar diingatan Taca kelakuan Rina dulu, hobinya menggosipi kehidupan Taca dan Iis. Rasanya semua yang dilakukan mereka berdua selalu salah.


“Iis kapan kamu hamil lagi, kaya aku?” tanya Rina sambil menunjukkan perutnya yang membulat, “kamu nggak takut apa, Juan nikah lagi kalau kamu cuman bisa ngasih satu anak?”


Iis yang mendengar perkataan Rina, rasanya ingin mengacak-ngacak mulut Rina yang extra lemes itu. Kesal rasanya mendengar perkataan serbuk bakwan didepannya ini.


“Ri....”


“Emang jaminan kalau kamu hamil anak kedua, si Entis nggak bakal selingkuh?” Juan tiba-tiba memotong perkataan Iis.


“Kalau kasih saran itu yang bermutu, bukan nggak jelas kaya gitu. Istri saya bukan pabrik anak, kalau dia cuman kasih satu anak juga emang kenapa?” tantang Juan, tidak ada yang boleh menghina istrinya barang sekalimat pun.


“Saya tuh cuman kasih....”


“Nggak butuh saran dari kamu dan satu lagi, kalau sekali lagi saya denger kamu nyinyir tentang istri saya. Awas kamu,” ancam Juan sambil menunjuk Rina.


“Aduh, Mas....”


“Yang boleh panggil saya Mas cuman istri saya, kalau kamu mau panggil saya, dengan sebutan Juan, Pak Juan atau Pak Wijaya, ngerti?” potong Juan dengan sorot mata yang siap membunuh.


Rina langsung diam, sorot mata Juan benar-benar membuat Rina ketakutan. Suami Iis lebih menakutkan dari pada Adipati. Juan seperti memiliki aura siap membunuh.


Juan langsung menarik tangan Iis, menjauh dari Rina yang masih kaget mendapatkan ancaman dari Juan. Jangan pernah menghina istri Juan Wijaya kalau masih mau hidup tenang, pembelajaran baru untuk Rina.


Taca menatap Adipati sambil mengatupkan bibirnya, “Di....”


“Nyari mati, Rina tuh kalau hina Iis didepan Juan. Pokoknya nggak bakal ada yang berani hina Iis didepan Juan,” ujar Adipati sambil menyerahkan Kafta pada Taca dan mendudukan Kama dan Kalila di stroller.


“Kalau aku dihina kamu bakal ngamuk, nggak?” tanya Taca penasaran.


Adipati menatap Taca dengan menaikkan sebelah alisnya. “Ada yang hina kamu? Siapa, dimana? Mana orangnya?” tanya Adipati sambil menatap Taca.

__ADS_1


“Kalau... Di, kalau...” jawab Taca sambil berjalan disamping Adipati.


“Kasih tau aja, kalau Juan pasti kasih peringatan dulu. Kalau, aku sih nggak usah kasih peringatan, langsung ilang orangnya, Amore,” jawab Adipati santai.


“Kok bisa?”


“Apa yang nggak bisa dilakuin sama lelaki Itali kaya aku, Amore,” jawab Adipati sambil mengecup pucuk rambut Taca.


•••


Taca sedang bersiap-siap untuk mengikuti acara pernikahan keduanya. Pakaian pengantinya benar-benar tampak cantik dikenakan oleh Taca. Gaun pengantin buatan Vera Wang benar-benar tampak sempurna menempel di badan Taca yang mungil. Rambutnya dicepol sempurna, make up yang dipakainya sangat flawless tanpa celah.


“Ta...” panggil Iis, “Kamu cantik.”


Taca tersipu mendengar perkataan sahabatnya, sahabat sehidup sematinya. Sahabat yang selalu Taca sayang, sahabat yang selalu memaafkan semua kesalahannya dan yang terpenting sahabat yang tidak pernah menjudge Taca apapun.


“Makasih Iis, kamu juga cantik,” balas Taca sambil melihat Iis yang mengenakan dress berwarna biru navy, dress itu benar-benar cocok dengan warna kulit Iis yang sawo matang. Rambut Iis hanya diikat ponytail, sederhana namun cantik.


“Kamu diiket gitu nggak dimarahin Juan?” tanya Taca.


Iis langsung menarik rambutnya yang diikat ponytail. “Mas Juan belum liat, kalau liat paling ditarik ini iketan.”


“Kalau gitu, kamu dimake up sama hair do, sama dia aja yah,” ujar Taca sambil menunjuk MUA disampingnya.


“Hah, nggak ah. Ngapain? Ini hari kamu Ta, kamu yang mau nikah lagi, ya kali aku nikah lagi,” tolak Iis.


Taca tersenyum misterius sambil menarik tangan Iis mendekati suatu pintu didekat kamarnya, Iis yang kebingungan hanya mengikuti Taca.


“Apa?”


“Kata siapa ini hari bahagia aku seorang?” tanya Taca sambil membuka pintu didepannya.


Mata Iis seperti akan meloncat keluar dari rongganya saat melihat apa yang ada dibalik pintu yang dibuka oleh sahabatnya itu.


“Taca, ini...”


•••


Apa coba? Hehhee...


Buat semuanya, aku cuman mau bilang...


Ini udah keputusan aku... novel ini bakal tamat akhir bulan ini... tanggal 31 maret 2021 bakal jadi akhir dari novel Water Teapot.


Terima kasih buat yang udah baca novel ini dari awal banget novel ini ada di Noveltoon sampai detik ini. Terima kasih pembaca lama dan Baru...


Aku cuman author remahan menyan yang baru nulis, bener-bener kaget ternyata karya aku ada yang suka. Komen kalian kaya booster buat aku terus nulis...


Nah... kenapa aku bilanb sekarang, karena aku mau nanya sama kalian. Mau bonchapter tentang siapa? Aku bakal masukin ke bab sebelum bab terakhir. Aku nggak mau novel udah ada kata tamat tapi masih ada bonchapternya...


Jadi bonchapter bakal aku bikin sebelum bab tamat. Jadi kalau tamat tuh beneran tamat biar enak aja liatnya...

__ADS_1


Coba... ditulis di comment yah, mau apa... bakal aku bikin kok ceritanya...


sayang kalian semua...


__ADS_2