Water Teapot

Water Teapot
S2: Pemeriksaan...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Oke, Bu saya periksa sekarang yah,” ujar Dokter Gabriel sambil melakukan pemeriksaan melalui USG transvag*nal.


Iis berusaha untuk merilekkan dirinya, walau sangat sulit apalagi saat melihat Juan yang terus menerus membulatkan matanya pada Dokter Gabriel. Berkali-kali Dokter Gabriel menahan tawanya saat melihat sikap Juan yang sangat terlihat rasa cemburunya.


“Oke kalau dilihat di sini, semuanya bagus yah, rahim Ibu bagus, dinding rahim juga bagus. Semua bagus sesuai dengan laporan Dokter Rindu,” ujar Dokter Gabriel sambil melihat layar dihadapannya.


“Kalau bagus, ngapain Dokter periksa istri saya? Udah aja langsung lakuin inseminasi,” cerocos Juan sambil menyilangkan kedua tangannya didadanya.


Iis hanya bisa menepuk dahinya mendengar perkataan Juan. Apa yang tidak akan cemburu? Apa!? Padahal saking Juan cemburunya, sampai yang memasukan alat USG-nya susternya. Dokter Gabriel hanya melihat via monitor, bahkan Dokter Gabriel tidak menyentuh Iis sama sekali.


“Kan, saya harus liat keadaanya, Pak. Saya harus tentukan obat dan vitamin yang baik untuk Mrs. Wijaya konsumsi,” ujar Dokter Gabriel sambil menatap Juan.


Juan hanya bisa mendengus kesal, Juan masih berpikir itu semua pasti akal-akalan dokter itu saja. Pasti Dokter Gabriel ada udang di balik bakwan.


“Oke, pemeriksaan selesai, dilihat dari hasilnya, saya akan menyarankan untuk melakukan inseminasi secepatnya. Karena sel telur Mrs. Wijaya tampak sudah siap. Bagaimana? Mr. Wijaya?” tanya Dokter Gabriel pada Juan.


Juan melihat Iis yang terlihat pasrah menerima segalanya. “Saya gimana Dokter aja,” ujar Iis.


“Mr. Wijaya?” tanya Dokter Gabriel.


Juan menatap Iis kemudian beralih pada Dokter Gabriel. “Oke, saya juga gimana baiknya Dokter aja,” jawab Juan, mata Juan tiba-tiba fokus pada satu titik. Satu titik itu dimana Dokter Gabriel meletakan tangannya.


“Tapi, Dok nggak sambil dipegang juga tangan istri sayanya,” Juan mengibaskan tangan Dokternya dari lengan Iis.


Dokter Gabriel langsung tersenyum kecil, astaga ternyata bukan hanya orang spanyol yang cemburuan. Orang Indonesia pun rasa cemburunya teramat sangat besar.


“Ups... my bad,” canda Dokter Gabriel sambil mengangkat kedua tangannya ke samping dadanya. (Ups... salah saya)


“Don’t touch my wife, please,” ujar Juan sambil menepuk bahu Dokter Gabriel.


“Gimana saya periksa Mrs. Wijaya kalau saya nggak bisa pegang ibunya?” tanya Dokter Gabriel.


“Yah, kan bisa suruh susternya atau...” Mata Juan berkeliling mencari sesutu yang bisa dipakai untuk menyentuh Iis tanpa menyentuh. Juan berjalan keluar dari dalam ruangan pemeriksaan.


Iis hanya bisa menepuk dahinya saking kesalnya. Gimana dia mau diperiksa kalau tidak disentuh sama sekali. Astaga pusing kepala Iis.


“Sepertinya suami anda, sayang banget yah. Ampe saya nggak boleh pegang anda,” ujar Dokter Gabriel sambil tersenyum.


Saat Dokter itu tersenyum Iis tiba-tiba tersipu-sipu. Bagaimana tidak tersipu-sipu, Iis masih normal, dulu disenyumin Adipati aja Iis masih suka salah tingkah, apalagi disenyumin Dokter Gabriel yang gantengnya nggak ada obatnya.


“Itu, iya suami saya cemburuan. Kalau nggak tau rekam jejak Dokter mana mau dia izinin saya di periksa Dokter,” ujar Iis.


Dokter Gabriel menggangukkan kepalanya, entahlah mungkin tuhan sangat sayang pda dirinya. Karena, Dokter Gabriel selalu disebut si tangan dingin, hampir semua inseminasi buatannya berhasil.


“Bu, saya mau cek sesuatu, jadi maaf sebentar yah,” ujar Dokter Gabriel.


Iis menganggukan kepalanya pelan. Dokter Gabriel langsung melakukan serangkaian pemeriksaan.


•••


Juan uring-uringan mencari sesuatu untuk memeriksa Iis tanpa menyentuhnya. Tapi, gimana caranya? Pake cara apa?


Mata Juan menatap ke kanan dan ke kiri. Dia harus menemukan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat dokter sialan itu nggak bisa menyentuh Iis. Sesuatu...


Mata Juan langsung tertuju pada sarung tangan woll yang ada di samping meja. Entah sarung tangan siapa itu. Tapi, dengan menggunakan sarung tangan seperti itu, Dokter itu tidak bisa langsunh bersentuhan dengan Iis.

__ADS_1


Senyuman Juan langsung merekah, dengan cepat diambilnya sarung tangan tersebut. Pokoknya Dokter Itu harus pake sarung tangan itu apapun yang terjadi.


Saat akan kembali ketempat Iis di periksa, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang selalu Juan dengar bila sedang melakukan transfusi darah putih dengan Iis.


“Ah...”


Desahan yang selalu Iis keluarkan bila Juan sedang “memanjakannya”. Kenapa pula Iis bisa mendesah seperti itu, diapain Istrinya. Dengan kecemburuan yang sudah dititik didih tertinggi, Juan langsung masuk kedalam ruangan pemeriksaan sambil membuka pintu dengan keras.


Brak..


“Mas,” ujar Iis sambil menatap Juan kaget.


Dokter Gabriel menatap Juan sambil memegang jarum suntik ditangan kanannya, baru saja Dokter Gabriel menyuntik Iis dengan obat yang bisa membuat sel indung telurnya makin baik kualitasnya.


“Kamu diapain sama dia?” tanya Juan tiba-tiba.


“Hah? Aku disuntik, Mas....”


“Suntik pake apa?” pikiran Juan meronta-ronta hilir mudik tidak karu-karuan.


“Pake ini, Mr. Wijaya,” ujar Dokter Gabriel sambil menunjukkan jarum suntiknya.


Juan hanya bisa menggaruk kepalanya dengan kesal. Argh... yang ada Iis hamil, Juan darah tinggi, gara-gara menahan amarahnya.


“Emang Mas kira aku kenapa?” tanya Iis sambil berusaha turun dari tempat tidur dibantu oleh suster yang ada.


Juan hanya bisa megalihkan pandangannya kearah lain, malu rasanya mengakui kalau dirinya tadi sudah berpikir yang aneh-aneh.


“Nggak. Kamu udah periksanya?” tanya Juan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Dokter Gabriel langsung menepuk bahu Juan pelan. “Mr. Wijaya, tenang saya profesional.”


Juan hanya bisa mendengus didalam hati. ‘professional-professional dengkulmu,’ maki Juan didalam hati.


•••


“Sariawan....” jawab Juan sambil lalu.


Iis mendekati Juan kemudian duduk dipangkuannya. “Mana sariawannya?” tanya Iis sambil membuka mulut Juan dan mengubek-ngubek mulut Juan dengan jarinya.


“Haw...haw.. udah ah,” ujar Juan sambil menarik tangan Iis dari mulutnya.


“Kamu kenapa sih? Dari tadi cemberut mulu,” ujar Iis sambil menatap Juan.


“Sariawan.”


“Sariawan macam apa kaya gini?” Iis langsung mengangkat wajah Juan untuk menatap matanya. “Ah... kamu cemburu yah?”


“Apa sih, aku sariawan, Yang,” kilah Juan sambil berusaha untuk berdiri. Badan Iis yang menghimpitnya benar-benar tidak bisa membuat Juan bergerak sama sekali.


“Boong banget, bilang aja cemburu, ngaku..!!” ujar Iis sambil menunjuk wajah Juan dengan telunjuknya.


“Nggak,” jawab Juan sewot.


“Hahahaa... ya udah ganti dokter aja, yah,” ujar Iis sambil menatap Juan.


“Nggak usah, kata Saka dia bagus,kok,” jawab Juan sambil mengelus-ngelus lengan Iis.


“Beneran?”


“Iya, beneran,” jawab Juan, sebenarnya Juan tidak ridho bin ikhlas. Tapi, demi keberhasilan inseminasi buatannya. Juan harus mengalah.

__ADS_1


“Beneran, nggak bakal cemburu?” tanya Iis lagi.


“Nggak, aku nggak bakal cemburu, janji,” ujar Juan sambil mengangkat tangannya menunjukkan kedua jari tengah dan telunjuk membentuk tanda victory.


“Oke, janji yah,” ulang Iis lagi. “Kamu tau gimana cara proses inseminasi?” tanya Iis sambil mengambil gawainya dan mencari proses inseminasi buatan di youtub*.


“Nggak, aku nggak pernah anter orang buat ngelakuin inseminasi buatan,” jawab Juan jujur.


Iis langsung tersenyum misterius pada Juan, langsung saja perasaan Juan tidak enak, saat melihat senyuman Iis.


“Kenapa, Yang?” tanya Juan penasaran.


Iis hanya tersenyum misterius, “Janji yah nggak ganti dokter.”


“Iya janji,” ujar Juan lagi.


Iis langsung menunjukkan video tentang tata cara melakukan inseminasi buatan. Juan langsung melihat video itu. Mata Juan langsung terbelalak saat melihatnya.


“Ini caranya?”


“Iya,” jawab Iis sambil menahan tawanya.


“Ini beneran?” tanya Juan.


“Iya beneran lah, masa boongan, ini acara tv loh. Masa bohongan.” ujar Iis sambil menahan tawanya.


Juan menatap Iis yang sedang tersenyum manis menatap dirinya. “Yang....”


“Kamu janji nggak ganti dokter loh,” Iis mengingatkannya sambil tersenyum dan mengerakkan alisnya ke atas dan kebawah.


“Tapi... aku sangka... Oke Fine, kita ganti dokter..!!” teriak Juan sambil mendorong badan Iis kesamping kanannya.


“Lah, katanya kamu nggak mau ganti....”


“Ganti dokter pokoknya, nggak mau tau atau tunggu sampai Dokter Rindu datang...!” teriak Juan sambil berjalan kekanan dan kekiri sambil melihat video itu lagi.


“Tapi...”


“Ganti, nggak mau tau. Yang ada nanti aku lempar meja yang ada....!” ujar Juan lagi.


“Bisa stroke aku kalau liat kamu ngelakuin inseminasi buatan sama Dokter Gabriel...! Nggak, pokoknya nggak..!!”


“Kamu bil...”


“NGGAK..!? Ganti dokternya,” ujar Juan lagi gemas.


“Aku mau...”


“Ganti Iis, kamu mau liat aku serangan jantung!?” potong Juan kesal sambil membulatkan matanya ke arah Iis.


Iis hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menahan tawanya. Juan benar-benar CEMBURUAN...!


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2