
Kepala Taca berdenyut kencang, bagaimana tidak diruangan Pak Juan sudah datang peserta rapat, yang membuat Taca pusing Adipati sudah duduk manis disebelah Juan, sambil sesekali melirik kearah Taca.
Kening Adipati berkerut melihat Taca yang lusuh, apalagi melihat mata Taca yang bengkak. Kenapa lagi Taca ?
"Pri..."
Taca langsung menatap tajam Radi, menatap Radi dengan tatapan 'jangan-bikin-perkara'.
"Sorry, Bu Taca ini berkas-berkasnya," ujar Radi sambil menyerahkan berkas-berkas pada Taca.
"Oke.. mari kita mulai..." ujar Juan dengan nada berwibawa.
Rapat pun berlangsung lancar, hampir 2 jam rapat dilakukan. Kepala Taca bertalu-talu selama rapat. Tapi, Taca masih bisa mengikuti rapat dengan baik sesekali Radi membantu Taca menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Juan atau peserta lainnya.
Disana Taca bersyukur partnernya saat ini Radi, kalau Kania sudah ambyar yang ada. Radi terus menerus meminta Taca minum selama Rapat. Entah maksudnya apa, tapi Radi benar-benar khawatir dengan Taca, Radi ingat Taca belum makan sama sekali tadi siang.
"Ta.. minum ini," Radi memberikan susu rasa strawberry kesukaan Taca.
Taca hanya melirik Radi kesal sambil mengambil susu ditangan Radi kemudian meminumnya. Radi tersenyum melihat tingkah laku Taca, mengingatkannya pada saat pertama kali mereka bertemu dulu.
Adipati yang dari tadi melihat interaksi antara Taca dan Radi hanya bisa menahan rasa penasarannya, ada apa antara Radi dan Taca, kenapa mereka bisa sedekat itu. Saat ini Adipati tidak tau bahwa lelaki disebelahnya adalah lelaki yang mengchat Taca untuk meningalkannya.
"Terima kasih untuk rapat kali ini," Juan menutup rapat hari itu.
Para peserta rapat pun mulai meningalkan ruangan rapat, Taca langsung membereskan berkas-berkas didepannya dengan cepat, Taca ingin cepat-cepat kembali keruangannya.
"Muka kamu pucat Pri..."
"Taca nama gue Taca, Radi.." potong Taca sambil menatap tajam pada Radi.
"Oke.. muka lo pucat, Ta. Lo belum makan siang," ujar Radi.
"Siapa yang bikin gue ngak bisa makan siang ?" tanya Taca ketus sambil mendelikkan matanya pada Radi.
"Sorry Pr.."
"Amore," panggil Adipati.
Taca langsung tersenyum pada Adipati, "Iya, rapatnya udah selesaikan, Di."
Radi diam seribu bahasa, dadanya tiba-tiba sesak. Masih ingat dengan jelas di pikirannya senyuman Taca, dulu. Dulu senyuman itu yang selalu Radi dapatkan setiap memanggil nama Taca. Sekarang, sekarang senyuman itu sudah milik Adipati bukan miliknya lagi.
"Kamu pucat, kamu udah makan ?" tanya Adipati khawatir melihat wajah Taca yang pucat.
"Tadi kerjaan aku banyak, jadi aku belum sempat makan. Aku mau makan sekarang, sekalian aku pulang ke apartemen," jawab Taca sambil berdiri dari duduknya.
"Ya udah kita makan bareng aja," ujar Adipati sambil menyelipkan tangannya ke pinggang Taca.
"Kamu, kamu Radian Hasta kan ?" tiba-tiba Juan menyapa Radi yang dari tadi terdiam menatap keromantisan Taca dan Adipati.
"Oh.. iya, saya Radian Hasta," ujar Radi mengenalkan dirinya pada Juan.
__ADS_1
"Adipati, ini Radian Hasta. Anaknya Pak Dimas Hasta yang punya saham di sini," ujar Juan mengenalkan Radi pada Adipati.
"Radian, panggil saja Radi."
"Adipati," ucap Adipati sambil menyambut tangan Radi.
"Taca, partner kamu ini yang punya saham disini loh, baik-baik sama dia, yah," pinta Juan tanpa tau masa lalu Taca dan Radi.
"Oh.." jawab Taca seperlunya, Taca benar-benar tidak peduli dengan apapun milik Radi.
"Di, ayo aku lapar," pinta Taca sambil menarik tangan Adipati.
"Hadeuh, maaf yah Radi. Taca sama Adipati ini emang hot couple disini," ucap Juan sambil menyilangkan tangannya.
"Iya, tapi bukannya Pak Adipati ini punya reputasi kurang baik yah dengan perempuan. Ehmmm mungkin playboy.." ucap Radi sambil menatap Adipati tajam.
"Di, makan yuk. Aku lapar beneran.." pinta Taca, dia benar-benar sedang malas berdebat dengan Radi cukup sudah tadi dia ngamuk sama Radi di pantry kantor.
"Maksud kamu ngomong gitu, apa ?" tanya Adipati yang sudah tersulut emosinya.
"Oh ngak maksud apa-apa. Cuman selama di Singapura reputasi Bapak terkenal banget, ehmm bukannya pacar bapak namanya Becca yah, kok jadi Taca ?" tanya Radi dengan muka sepolos mungkin.
"Ju, dia siapa sih ? Bisa dipecat aja ngak ?" tanya Adipati pada Juan sambil menggengam tangan Taca.
"Kan tadi gue udah bilang ini anaknya Dimas Hasta.." jawab Juan sambil memberikan tatapan 'kagak-bisa-dipecat' pada Adipati.
Adipati diam, dia tau siapa Dimas Hasta pemilik jaringan hotel terbesar di Singapura. Tapi dia baru tau kalau Pak Dimas mempunyai anak laki-laki setaunya anaknya perempuan.
"Maaf, Pak saya cuman dengar dari kabar burung, saya kaget juga Pak. Pacar Pak Adipati Taca bukan Becca..."
"Sudah, yuk aku lapar, Di. Kalau kamu masih mau ngobrol sama Radi silahkan. Aku mau cari makan," ujar Taca sambil berjalan kearah pintu keluar.
Adipati yang melihat Taca berjalan meningalkan ruangan langsung mengejar Taca. "Amore tunggu."
Radi dan Juan hanya diam diruang rapat menatap kepergian Adipati dan Taca.
"Ada masalah apa kamu samu Adipati ?" tanya Juan bingung.
"Oh... ngak ada masalah apa-apa. Saya hanya mendengar rumor yang beredar." Radi memberikan senyum palsunya pada Juan.
"Oh, tapi tolong lain kali jangan seperti itu, tolong hormati Taca dia tunangan Adipati," ujar Juan yang dijawab anggukan oleh Radi.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Juan," ujar Radi sambil pergi kearah pintu keluar, sesaat pintu akan Radi buka tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
Klek...
"Radi.."
"Iis..."
"Ayang, ngapain kamu kesini ?" tanya Juan saat melihat Iis.
__ADS_1
Iis sama sekali tidah mengindahkan pertamyaan Juan, matanya fokus pada Radi.
"Radi, kamu kenapa bisa disini mau ngapain kamu disini, jangan bilang kamu mau ketemu Taca," tebak Iis cepat saat melihat Radi.
"Aku kerja disini, Iis. Hmm aku permisi yah," ujar Radi sambil melewati Iis kemudian berjalan cepat kearah lift.
"Yang, kamu kenal dia ?" tanya Juan penuh kecurigaan.
"Kenal..." jawab Iis sambil terus menatap Radi yang menghilang memasuki lift.
"Kok bisa, please jangan bilang dia mantan kamu, aku bisa gila ngebayangin kamu sama dia pernah pacaran. Ngebayangin kamu sama kaka Taca pernah pacaran aja aku harus banyak doa !" ujar Juan sambil memutar tubuh Iis agar menghadap dirinya.
"Radi temen aku, koreksi dia sahabat aku sama Taca pas kuliah. Dia pernah hampir pacaran sama Taca, Ju..." jawab Iis sambil menatap Juan.
Juan langsung terdiam, pantas saja tadi Taca benar-benar ketus menghadapi Radi ternyata ada sebabnya. Juan langsung terdiam mengingat perkataan Radi pada Adipati tadi.
"Yang, jangan bilang Radi masih suka sama Taca..."
Iis terdiam mendengar perkataan Juan dengan cepat Iis mengambil handphonenya dan mengetik chat WA pada Taca.
- Radi sekantor sama kamu, kok bisa ?
Iis diam menunggu balasan dari Taca, sedangkan Juan kembali membereskan berkas-berkas dimeja kerjanya.
Kling...
-Kamu nginep di apartemen aku hari ini, ngak mau tau. Aku mau cerita sesuatu.
Iis langsung membalas dengan cepat.
-Oke.
"Yuk, Yang... aku hari ini nginep di apartemen kamu yah. Aku udah bawa ba..."
"Ngak bisa, aku mau nginep ditempat Taca," potong Iis sambil memasukkan handphonenya kedalam tas.
"Ha.. ah Yang aku kelonan sama siapa ini. Kamu tega ih..." rajuk Juan sambil memeluk Iis.
"Kelonan ama guling aja deh,Ju. Lebih empuk juga kan ahhahaaa..." ujar Iis sambil mencium pipi Juan yang sedang ngambek.
•••
Yeahhh ada Iis hahahaa...
yang kangen Iis - Juan mana suaranyaaaa ??? Sabar yah Iis sama Juan lagi di tahap dunia milik berdua yang lain ngontrak 🤣
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon