Water Teapot

Water Teapot
S2: Tahu bulat


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻 j


angan lupa komen juga yah, please...


Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


●●●


Juan dan Iis sudah hampir tiga puluh menit mencari tukang tahu bulat dan sampai detik ini tukang tahu bulatnya sama sekali tidak dapat ditemukan. Juan hampir mengeluarkan semua kata-kata kasar yang diketahuinya dalam berbagai bahasa karena kesal, tapi semua itu urung saat melihat raut muka Iis yang penuh harapan.


"Yang, besok aja yah, kita cari tukang tahu bulatnya," bujuk Juan pada Iis.


Iis langsung menatap wajah Juan dengan tatapan memohon, entah kenapa Iis benar-benar ingin memakan tahu bulat dan sotong. Iis benar-benar kangen dengan rasa micin dari kedua makanan itu, makanan yang sering Iis dan Taca makan dulu. "Beneran nggak ada yah?"


Hati Juan langsung mencolos saat melihat tatapan Iis yang penuh iba. Argh... lemah sudah dia ditatap Iis seperti itu. "Ya... udah kita cari daerah monas yah."


Mata Iis langsung membulat sempurna saat mendengar usulan Juan yang seperti angin segar untuk dirinya. "Iya, moga ada yah. Nanti aku mau masak, udah dari sana kita liat pesawat yah, ah atau...."


Juan langsung siaga satu, saat akan mendengar perkataan Iis. Apapun keinginan Iis sepertinya harus dipenuhi. Juan berdoa moga Iis tidak berkeinginan makan tahu bulat diatas tower sutet, jangan sampai tuhan, bisa spaneng dia yang ada.


"Makan tahu bulatnya sambil naik helikopter, kata Adipati kamu bisa bawa helikopter kan?" tanya Iis sambil menunjuk Juan dengan telunjuknya.


Juan hanya bisa berdehem pelan, Juan memang masih memegang lisensi untuk menerbangkan helikopter. Tapi, nggak mungkin dia paksa pegawainya menyiapkan helikopter jam setengah 3 subuh. Bisa dilaknat dinas tenaga kerja yang ada. "Yang, bisa tapi, pesawatnya belum siap sama sekali. Jadi, gimana?"


"Oh, jadi nggak bisa yah. Ya udah makan tahu bulatnya sambil liat pesawat yang tinggal landas aja, gimana?" Iis akhirnya mengalah.


Juan langsung menganggukkan kepalanya sambil membelokkan mobilnya ke kanan. Saat ini mereka sudah ada didaerah Monas, Juan dengan cekatan mencari mobil buntung penjual tahu bulat. Setelah berputar sebanyak tiga kali Juan sama sekali tidak menemukan tukang tahu bulat. Kelakuan tukang dagang, dicari nggak ketemu, giliran nggak dicari ada.


"Mas itu..." pekik Iis kegirangan sambil menunjuk mobil tukang tahu bulat yang sedang parkir di bahu jalan. MObil tersebut bukan parkir dijalan utama sehingga tidak terlalu terlihat. Tapi, mata jeli Iis menemukannya dengan cepat.


Juan langsung memacu mobilnya kearah mobil penjual tah bulat, saat mendekati mobil tersebut entah mengapa perasaan Juan tidak enak. Juan melihat penjual tahu bulat tersebut tampak pucat. Bulu kuduk Juan langsung meremang saat melihatnya.


Iis yang bersemangat langsung membuka pintu mobil sesaat mobil Juan berhenti. "Ayo Mas," ujar Iis penuh dengan semangat.


"Yang, bentar."


"Kenapa?" tanya Iis tidak sabaran.


Juan kembali menatap tukang tahu bulat yang pucat dan tidak bergairah hidup dibelakangnya. "Yang, kamu nggak curiga sama tukang tahu bulatnya?"


Iis menatap tukang tahu bulat dibelakannya sambil menggigit bibir bagian bawahnya, "Nggak Mas, itu tukang tahu bulatnya kayanya lagi sakit deh, liat pucat gitu. Kasian dia cari uang sampai sebegitunya, Mas."


Astaga sungguh sangat positive thingking sekali istrinya ini, apa saking ngidamnya Iis mengeyampingkan kenyataan bahwa bisa saja tukang tahu bulat itu bukan manusia. "Yang, gimana kalau itu mahluk halus?"


"Hah... mana ada mahluk halus, Mas. ini tahun 2021, udah nggak zaman mahluk halus. Apalagi kita ditengah kota ini Mas, kalau ditengah geledegan baru," ujar Iis.


"Geledegan?" tanya Juan bingung.

__ADS_1


"Hutan belantara, udah ah, kalau Mas nggak mau, biar aku yang turun sendiri," ujar Iis, keinginannya untuk memakan tahu bulat sudah ada di ubun-ubun.


Iis langsung turun dari mobil kemudian menghampiri tukang tahu bulat yang sedang asik memasak tahu bulat. Suara khas tukang tahu bulat mengalun syahdu dari speaker kecil yang tertempel dengan sempurna di badan mobil.


"Tahu bulat digoreng dadakan, lima ratusan gurih-gurih nyoi."


Entah kenapa saat Juan mendengar suara tahu bulat tersebut, benar-benar membuat buluk kuduknya berdiri. Mungkin karena suasana malam dan rasa dingin yang menyergap dirinya membuat Juan merinding.


"Bang, tahu bulatnya masih ada?" tanya Iis.


"Masih Neng, mau berapa?" tanya tukang tahu bulat sambil menggoreng tahunya.


Iis langsung mengulurkan tangannya pada Juan meminta uang untuk membeli tahu bulat. Juan dengan cepat mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar dan meyerahkannya ketangan Iis.


"Beli semuanya, tapi saya yang masaknya," ujar Iis sambil memberikan uang tersebut pada tukang tahu bulat. Melihat uang tersebut tukang tahu bulat langsung turun dari mobilnya. Mempersilahkan Iis untuk naik dan memasak tahu bulat miliknya.


Iis dengan lincah naik ke belakang mobil tersebut dan mulai memasak tahu bulat sambil tersenyum senang, Juan yang melihatnya tertawa renyah.


Tukang tahu bulat yang ada disana meminta izin untuk kekamar mandi dan meminta Juan dan Iis menjaga mobil tukang tahu bulat miliknya. Juan mengizinkannya dan saat ini Juan yakin kalau pedagang itu bukan mahluk astral karena pedagang itu punya kaki yang menginjak tanah.


"Mas, Mas," panggil Iis.


"Apa?"


"Kamu pura-pura beli tahu bulat dong, sepi amat nggak ada yang belinya," rengek Iis sambil membolak balikkan tahu bulat dihadapannya.


"Hah? Tukang dagangnya nggak dijual," kekeh Iis.


"Iya tukang dagangnya udah sold out sama saya," jawab Juan sambil menunjuk hidungnya.


Saat sedang mengobrol tiba-tiba Juan merasakan hawa dingin, bulu kuduknya langsung berdiri. Dengan cepat Juan menyentuh belakang lehernya dan melirik kebelakang, ekor matanya langsung melihat wanita menggunakan baju putih dan berambut panjang mendekati Juan dan Iis.


"Yang, itu apaan?" tanya Juan pada Iis yang sedang asik memasukkan tahu bulat dan sotong kedalam plastik.


"Ah, orang mau beli tahu bulat kali," jawab Iis santai.


"Tapi, Yang, Kok jalannya melayang gitu sih?" tanya Juan sambil mengucek kedua matanya.


"Mana? Nggak ah, ngaco kamu mah. Mana ada orang jalannya ngelayang. Kamu mah kayanya siwer matanya," jawab Iis sambil terus saja memasukkan semua tahu bulat kedalam plastik, air liurnya sudah hampir menetes saat melihat betapa sexynya tahu bulat dan sotong dihadapannya.


"Bu...ibu..." pangil wanita berbaju putih yang tiba-tiba sudah ada disamping Juan. Juan hampir meloncat saking kagetnya mendapati wanita itu sudah ada disebelahnya.


"Iya?" jawab Iis sambil tersenyum manis pada wanita berbaju putih yang entah kenapa wajahnya sangat pucat dan memiliki senyuman yang mulai membuat bulu kuduh Iis meremang sempurna.


"Tahu bulatnya dua puluh biji yah, saya laper, hihihiii...."


Juan langsung bergerak dua langkah menjauhi wanita berbaju putih tersebut. Kenapa wanita tersebut harus tertawa seperti itu? Kenapa pula irama tawanya harus kaya gitu juga?!

__ADS_1


"Oke, bentar yah," jawab Iis, walau Iis merasakan bulu kuduknya meremang, dia masih berpikir rasional dan berpikir mana ada setan disana.


"Mbak, sendirian?" tanya Juan penasaran sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling untuk mencari siapa lagi yang ada disana. Tapi, nihil, sepertinya wanita itu benar-benar datang sendirian.


"Iya, saya lagi ingin tahu bulat, hihihihiiii..." jawab Wanita itu lagi sambil tertawa.


Astaga Juan benar-benar kaget dengan tawanya yang mirip dengan tante Kun. "Yang, udah? pulang yuk,"pinta Juan sambil menarik lembut tangan Iis.


Iis menurut dan turun dari mobil tukang tahu bulat dibantu Juan. Iis menggenggam plastik berisi tahu bulat miliknya ditangan kanan. Sedangkan ditangan kirinya Iis memberikan plastik berisikan tahu bulatnya ke pada wanita berbaju putih tersebut.


"Makasih yah, hihihiiii...."


"Yang, ayo..." ajak Juan sambil menarik tangan Iis untuk menjauh dari wanita berbaju putih tersebut. Juan dan Iis pun masuk kedalam mobil milik Juan.


"Yang, kamu nggak ngerasa aneh? Itu orang kok ketawanya ngikik gitu," ujar Juan sambil menatap Iis.


Iis yang sedang memakan tahu bulatnya sama sekali tidak peduli dengan ketakutan Juan. "Hah, apa? Nggak ah, itu wanitanya juga ada disa..."


"Mana? Nah 'kan udah nggak bener ini," ujar Juan sambil menjalankan mobilnya dengan cepat meninggalkan lokasi dengan kecepatan cahaya.


"Mas, kok orangnya tadi nggak ada, kemana?" tanya Iis bingung sambil menunjuk kearah belakang, saking penasarannya kenapa wanita itu bisa hilang.


"Kata aku juga apa? udah nggak bener ini," ujar Juan sambil menghentikan laju mobilnya karena tercegat lampu merah.


Tok... tok... tok... tok...


tiba-tiba Juan dan Iis dikagetkan dengan suara ketokkan dari arah Juan, Juan dan Iis langsung melirik kearah sumber suara, mereka hanya mampu menelan salivanya saat melihat wanita berbaju putih itu sudah disana tersenyum dengan senyuman paling mengerikan yang pernah Juan dan Iis lihat.


"Bu, Pak... saya cuman mau bilang tahu bulatnya enak, hihihihihiiii... " ujar wanita itu sambil tertawa dengan irama tawa yang membuat rasa takut Juan dan Iis meronta-ronta.


"Sama-sama?" Juan hanya bisa mengeluarkan kata tersebut sambil menatap wanita berbaju putih, yang tiba-tiba melayang dan menghilang dibalik pepohonan.


Melihat itu Iis langsung membulatkan matanya sambil menyentuh perutnya dan berteriak keras sekali, "MAS PULANG...!?"


"Kan, kata aku juga apa?" ujar Juan sambil menginjak gas mobilnya dalam-dalam untuk meninggalkan lokasi tersebut secepatnya.


●●●


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2