Water Teapot

Water Teapot
Terjebak


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Siangnya Taca langsung bergegas keruangan Adipati, Taca dan Adipati berjanji untuk bertemu diruangan Adipati baru berangkat ke cafe didepan kantor.


Taca menunggu di depan lift khusus karyawan sambil mengchat Adipati.


- Di, aku keruangan kamu sekarang


Saat melihat pintu lift yang terbuka dia melihat Radi didalam lift sendirian.


"Prin.. Taca..."


Taca hanya bisa tersenyum melihat Radi yang ada didalam lift tersebut.


"Mau kelantai berapa ?"


"Ke ruangan Adipati, Rad.." ujar Taca sambil memencet nomer lift.


"Bukannya kita ada janji yah?" tanya Radi pada Taca bersamaan dengan tertutupnya pintu lift.


Taca menatap Radi yang berdiri disebelahnya, "Iya, tapi aku mau ketempat Adipati dulu sebentar, Rad."


"Oh..."


Hening... tidak ada suara apapun di antara mereka, saling bungkam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Radi menatap Taca yang sibuk dengan handphonenya, Radi rindu mendengarkan tawa Taca, suara manjanya, rengekkan Taca dan yang lebih aneh lagi Radi rindu mendengarkan omelan Taca.


Tanpa sadar Radi sudah mendekati Taca, mengikis jarak diantara mereka mencium wangi vanilla dari tubuh Taca. Wangi kesukaannya, wangi yang selalu Radi rindukan.


Taca yang sadar ada seseorang yang terlalu dekat dengan dirinya langsung menolek kearah kanan, Taca kaget saat melihat manik hitam Radi. "Apa ?" tanya Taca galak.


Radi mundur selangkah kemudian mengusap rambutnya, "Parfume kamu ngak pernah ganti, yah. Masih pake parfume yang aku pilihin dulu kan ?"


Deg...


Taca langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya. Taca baru ingat Radi lah yang memilihkan parfume yang sampai saat ini Taca pakai, Taca menyukai wanginya dan sampa detik ini Taca selalu pakai.


"Bukan urusan kamu," jawab Taca ketus.


"Jo Malone Vanilla and Anise."


Taca memejamkan matanya. Radi benar-benar masih mengingat semuanya tentang dirinya, Taca bagai buku yang terbuka di hadapan Radi, hampir semuanya tentang Taca, Radi ketahui, hampir....


"Iya, makasih udah kasih merk parfume yang bagus," ujar Taca tulus karena dia males kalau harus berganti parfume.


JLEGGGG.... WHUNGGG....


Lift yang di pakai Taca dan Radi tiba-tiba mati, lift mati seperti tidak ada powernya. Taca dan Radi saling bertatapan kemudian dengan sigap Radi memencet tombol bantuan di salah satu dinding lift.


Taca dengan cepat menelepon Adipati, pada dering ke dua Adipati langsung mengangkat teleponnya.


"Amore.."


"Di, listrik mati ? Aku kejebak di dalam lift," ujar Taca sambil melihat sekeliling lift.


"Iya, Amore. Listrik mati aku bakal tanya bagian pemeliharaan dulu, kamu ngak papa kan ? Didalam lift ada berapa orang, aku takut kamu kurang udara," intonasi suara Adipati terdengar khawatir, Taca merasa Adipati menelepon sambil berlarian keluar dari ruangannya.


"Aku cuman berdua sama Radi..."


"WHATTT...!!!?" teriak Adipati sambil menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


'Arghhh kok malah bilang cuman berdua sama Radi sih..!' batin Taca sambil memukul keningnya.


"Kamu cuman berdua sama laki-laki sialan itu ? Astaga jangan deket-deket. Jauh-jauh sama lelaki gila itu, awas aja kalau aku liat dia nyentuh kamu, aku lempar dia dari helipad...!!" Adipati berkata sambil uring-uringan dan beberapa kali berteriak mencari Sherlly sekertarisnya.


"Aku ngak papa kok, Di. Radi juga jauh kok. Udah yah aku matiin handphonenya, bye Di..." ujar Taca sambil menutup teleponnya.


Radi masih tetap memencet tombol bantuan sampai..


"Iyah pak ada yang bisa saya bantu ?" tanya petugas lift.


"Pak saya dan Bu Taca terjebak di lift. Bisa tolong saya ?" Tanya Radi sambil menyenderkan dahinya pada sisi dinding lift.


"Oh maaf Pak listrik sedang padam mungkin 5 menit lagi generator akan menyala, mohon bersabar yah, Pak. Sirkulasi udara masih cukup bagus, jadi oksigen masih bisa untuk 5 menit," ujar petugas lift.


"Baik, saya tunggu."


Radi langsung melirik Taca yang sudah duduk di pojokkan lift sambil melipat kakinya.


"Ta, lo ngak papa ? Kata petugasnya listriknya mati," ujar Radi sambil ikut duduk dipojokkan lift yang bersebrangan dari Taca.


"Iya, tadi Adipati juga bilang listriknya mati," ujar Taca sambil menatap layar handphonenya.


Hening Taca dan Radi sama-sama bungkam kebingungan untuk membicarakan apa lagi, tak ada kata-kata yang bisa mereka ucapkan.


"Rad..."


"Ta..."


"Hahahaa... lo dulu deh Ta, mau ngomong apa ?" ujar Radi sambil menunjuk Taca.


Taca tersipu malu sambil menyelipkan anak rambutnya Taca berkata "Ehm... kabar kamu baik ?"


"Baik Ta, cuman rada sakit disini," Radi menunjuk dadanya menggunakan jari telunjuknya.


"Karena tau, kamu udah punya orang lain. Karena tau kamu lebih suka dengan Adipati, padahal Adipati itu brengsek, Ta..."


Lagi Radi menghina Adipati, entah kenapa Radi bersikeras kalau Adipati adalah lelaki brengsek yang tidak pantas untuk Taca.


"Rad... Adipati ngak brengsek, dia baik, dia tulus sayang cinta sama aku. Aku aja bingung kenapa dia mau sama aku, padahal kita ngak bertemu secara baik-baik," ujar Taca sambil menatap Radi, mungkin sudah saatnya Taca menceritakan awal pertemuannya dengan Adipati, dia tidak peduli akan di cap wanita murahan oleh Radi.


"Maksudnya ?"


"Aku ketemu dia di club malam, aku mabok parah, Rad. Ditambah aku dikasih obat perangsang sama Kania..."


"Apa, Kania kasih kamu obat perangsang ?" potong Radi kaget, seorang Kania yang Radi anggap wanita baik-baik kenapa bisa punya obat perangsang.


"Jangan salahin Kania, dia cuman kasih aku dosis kecil. Aku yang dengan bodohnya meminum obat perangsang itu lagi, karena aku sama sekali ngak tau kalau itu obat perangsang," ujar Taca sambil tersenyum pada Radi.


"....."


"Efek obat benar-benar membuat aku belingsatan, kepanasan, aku ketemu Adipati di lorong kemudian kita.... kita..."


"You, making love with Him ?" tebak Radi sambil mengeretakkan giginya.


(Kamu tidur dengannya ?)


Taca diam sejenak menatap Radi, berpikir apakah Radi adalah orang berpikiran terbuka yang bisa menerima gaya berpacaran 'dewasa' yang Taca dan Adipati lakukan atau tidak.


"Taca..jawab..."


Taca menghembuskan napasnya, "Iya, i sleep with him many times...".


(Iya, aku tidur dengannya berkali-kali)

__ADS_1


BOOM...


Ada rasa sesak didada Radi, gadisnya sudah tidak suci lagi, gadis pujaan hatinya yang dulu tidak mau disentuh sama sekali oleh lelaki manapun, sekarang bahkan sudah menjadi wanit j*l*ng, dan yang membuat Taca seperti itu adalah si brengsek Adipati.


"Bohong..."


"Ngak Rad, aku ngak bohong. Kegadisan aku udah diambil Adipati, mahkota aku udah diambil Adipati. Adipati bisa aja ngak tanggung jawab ninggalin aku, tapi dia nyari aku, dia suruh Juan buat nyari semua data aku," ujar Taca sambil memeluk kakinya.


"Jangan ngaco Ta, kamu tuh ngak bisa dipegang laki-laki, kamu sendiri yang bilang semua karena trauma kamu, trauma yang ngak pernah kamu ceritain ke aku sampai detik ini.."


"Adipati tau cerita trauma aku, Adipati tau segalanya Rad, bahkan Adipati sudah dapat restu keluarga aku. Itu bedanya Adipati sama kamu Rad..." jawab Taca sambil menatap Radi tajam.


Jantung Radi berdetak keras, dia tidak menyangka seterlambat ini dia datang kembali kekehidupan Taca. Bodohnya Radi menyangka Taca akan menunggu dirinya. BODOH...


"Ta... kalau seandainya aku datang satu tahun yang lalu, kamu bakal nerima aku ?" tanya Radi penuh harap pada Taca.


Taca diam, otaknya berpikir cepat dia tidak bisa menjawab seenaknya dan memberi harapan pada Radi, Taca ingin Radi move on menemukan cintanya sendiri, seperti dirinya yang sudah sangat berbahagia dengan Adipati.


"Aku ngak tau, Rad... yang terpenting saat ini aku bahagia dengan Adipati, Adipati sayang sama aku. Aku udah bahagia Rad."


Radi terdiam menatap Taca, ada rasa kesal dan sesal didalam dadanya. "Kamu yakin Adipati..."


"Cukup, Rad. Aku yang kenal Adipati luar dalam, aku yang tau pengorbanan Adipati buat aku kaya gimana."


Radi menghela napasnya berkali-kali saat ini oksigen didalam lift benar-benar sudah berkurang banyak, hampir 20 menit mereka berdua didalam lift, Radi berdiri kemudian memencet tombol bantuan.


"Iya Pak.."


"Kapan liftnya nyala, kami udah sesak, kadar oksigen udah berkurang banyak," ujar Radi pada petugas lift.


"Rad..." tiba-tiba Taca memanggil Radi membuat Radi melirik Taca yang sedang membuka dua kancing kemejanya.


"Iya..."


"Aku harap kamu bahagia Rad, aku udah bahagia kamu juga harus bahagia, Rad..." ujar Taca sambil tersenyum setulus dan secantik mungkin.


Radi terdiam, akhirnya, akhirnya dia mendapatkan senyuman Taca miliknya, senyum yang selalu Radi rindukan selama ini.


"Aku usahain Ta..."


"Pak... lift masih dalam perbaikkan, listrik mati satu kota Jakarta, Pak. Harap bersabar saya sedang melakukan usaha sebaik-baiknya" potong petugas lift tiba-tiba.


Radi langsung mengalihkan pandangannya dari Taca kemudian menatap tombol-tombol lift yang ada. "Baik..kalau bisa dipercepat, saya udah sesak..."


BRAKKKKK....


"PRINCESSS...."


•••


Ih... paling ngak banget itu terjebak di lift, sesak banget mana ngak ada sinyal kecuali provider telk*ms*l *pengalaman kejebak di lift dulu.


Ini yang nanya Adipati kemana ? Adipati lagi sibuk nyari orang buat buka pintu lift, panik sekaligus stress Taca cuman berdua sama Radi doang didalam lift harusnya bertiga sama Becca biar bisa sekalian baku hantam Hahahaha...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2