Water Teapot

Water Teapot
S2: Welcome to Italia...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Taca yang jetleg hanya bisa bergelung di kasurnya. Sesaat dia menginjakkan kakinya di Bandara Leonardo da Vinci-fiumicino Italia, badan Taca benar-benar remuk, rasa lelah benar-benar menyelimutinya. Saking lelahnya mau tidak mau Adipati menggendongnya sampai masuk kekamarnya, untung Kama, Kalila dan Kafta ada Abah, Kang Rozak dan Aa Riki.


“Hai... Amore, udah bangun?” tanya Adipati sambil mengusap pipi Taca.


“Hm... Di, badan aku remuk. Aku ngantuk,” jawab Taca sambil mendekatkan diri pada dada Adipati.


Adipati hanya bisa terkekeh melihat Taca yang kelelahan karena jetleg. Perbedaan waktu Indonesia dan Italia benar-benar membuat Taca jetleg parah.


“Bangun, Amore. Kamu nggak mau jalan-jalan?” tanya Adipati.


Taca hanya bisa memicingkan matanya menatap Adipati. Dirangkulnya pingganng Adipati, “Aku ngantuk, Di.”


“Ya udah, kita jalan-jalannya besok aja. Kamu tidur dulu aja,” Adipati akhirnya mengalah.


“Terus kamu mau kemana?” tanya Taca bingung.


Adipati melepaskan pelukkan Taca, kemudian berbisik di telinga Taca, “Aku mau ketemu temen-temen SMA aku.”


“Dimana?”


“Dibawah, mereka tau aku kesini, jadi mereka datang ke hotel ini. Mereka ada dibawah,” jawab Adipati sambil mengecup kening Taca.


Pikiran Taca langsung berpikir cepat, Taca ingat siapa saja teman-teman Adipati. “Aku ikut, aku nggak mau ada CLBK diantara kamu sama mantan kamu,” jawab Taca sambil beranjak dari kasur.


“Aku nggak punya mantan pacar waktu SMA, Amore,” jawab Adipati.


“Hahahaa... kamu nggak punya mantan pacar, tapi FWB (Friends With Benefit/ teman dengan keuntungan) kamu satu kampung,” sarkas Taca sambil berjalan ke arah kamar mandi.


“Kok kamu tau?”


Taca menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Adipati yang sedang melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan Taca yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus oversize.


“Kok aku tau?” tanya Taca.


“Iya, kok tau. Aku nggak pernah pacaran, lebih tepatnya pacaran cuman bisa diitung jari. Kebanyakkan FWB-nya.”


“Bentukkan kaya kamu itu, sudah dapat dipastikan FWB-nya satu gudang. Aku aja sampe detik ini bingung kenapa kamu setia banget sama aku,” Taca mendekati Adipati sambil membawa kursi.


“Karena semua FWB aku nggak ada yang kasih aku tiga malaikat kecil. Terus semua FWB aku gampang aja gitu, kalau aku bilang ayo nikah, pasti mereka mau aja diajak nikah. Kalau kamu iya mau diajak nikah, tapi saratnya banayak bener,” kekeh Adipati sambil menatap Taca yang sedang menyimpan kursi didepannya.


Taca dengan tenang naik dikursi itu, dengan menaikki kursi didepannya, mau tidak mau akhirnya pandangan mata Taca dan Adipati hampir sejajar.


“Bohong banget kamu, Di,” ujar Taca sambil mengalungkan tangannya dileher Adipati.


Adipati mendekati wajah Taca, mengikis jarak yang ada antara mereka. Tangan Adipti langsung mengusap pelas bibir bagian bawah Taca dengan lembut, kebisaan kecil yang selalu Adipati lakukan, yang mampu membuat Taca melayang.

__ADS_1


“Di....”


“Śi, Amore,” jawab Adipati sambil memiringkan kepalanya dan mencium bibir Taca.


Bibir Adipati yang baru selesai mandi benar-benar sebuah sensasi yang membuat Taca meledak. Bibir Adipati yang Dingin menekan bibir Taca, meminta Taca membuka mulutnya untuk memberikan akses tak terbatas bagi Adipati untuk menelusupkan lidahnya untuk mencicip manisnya bibir Taca.


Taca mengeratkan pelukkannya, untuk meminta lebih banyak lagi dari Adipati, Adipati yang mengerti langsung mengelus bagian belakang pinggul Taca dan mengangkatnya pelan.


Adipati mengurai ciumannya, Taca seperti tidak ikhlas saat Adipati mengurai ciuman mereka berdua. “Kenapa?”


Adipati menunjuk seseorang yang sedang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar yang tidak terkunci.


“Sebentar lagi kamu bakal denger teriakan, Amore,” ujar Adipati sambil tersenyum.


Taca bingung mendengar perkataan Adipati, teriakkan? Siapa yang bakal teriak? Siapa?


“Dada... Mah... Dada....”


Taca langsung menghela napasnya saat mendengar teriakkan khas Kalila, Kalila anak pertamanya paling tidak suka bila dirinya berpelukkan dengan Adipati. Setiap Taca berpelukkan dengan Adipati, Kalila pasti berteriak keras, memaksa Taca mundur dari dekat suaminya.


“Sorry, Amore. Sepertinya gadis kecil itu ngambek lagi,” ujar Adipati sambil menurunkan Taca dari pelukkannya.


“Andai bukan anak, udah aku cubit kamu, Nak,” ujar Taca, “nggak seneng banget liat Daddy meluk Mamah.”


“Dada... no,” ujar Kalila sambil mengoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


“Iya, nggak. Dada nggak peluk Mamah. Dada peluk Kalila aja,” ujar Adipati sambil menciumi badan Kalila sampai Kalila tertawa karena merasakan geli dibadannya.


“Mamah, ikhlas nggak dipeluk Daddy, Mamah ikhlas, Kalila,” Taca pasrah harus mengalah pada anak pertamanya yang sangat sayang pada Daddynya.


•••


“Hola, Markus...” teriak Adipati sambil memeluk Markus. “Astaga, udah lama kita nggak bertemu.”


“Yah, terakhir lima tahun yang lalu,” jawab Markus sambil menatap Adipati dan Taca.


“Chi è la bella donna accanto a te?” tanya Markus pada Adipati sambil mengambil tangan Taca dan mencium punggung tangan Taca.


(Siapa wanita cantik disebelahmu?)


Taca yang kaget tangannya dicium oleh Markus, langsung menarik tangannya secepatnya, badan Taca langsung menempel di kebadan Adipati. Rasa tidak nyaman disentuh pria lain, masih Taca rasakan sampai detik ini.


Markus kaget dengan reaksi Taca yang langsung menarik tangannya. “Hei...”


“Dia istri aku, dia orang Indonesia. Budaya timur masih melekat disana. Kamu nggak bisa seenaknya mencium tangan atau kedua pipinya, Markus,” teranv Adipati, Adipti tau Markus ssedikit bingung dengan reaksi Taca.


“Maaf, Markus dan hei saya Taca Berutti, istri Adipati,” jawab Taca sambil melambaikan tangannya sambil tersenyum manis pada Markus.


Markus hanya bisa membalas senyuman Taca, “Ay ya yai... aku sangka dia adik kamu, aku sangka Om Gio nikah lagi dan memiliki anak. Ternyata itu istri kamu, mungil banget.”


“Ah... kamu menikahi anak dibawah umur?” tanya Markus lagi sambil berjalan disamping Adipati.

__ADS_1


“Mia moglie è abbastanza grande Perché tutti pensano che mia moglie sia ancora un'adolescente?” tanya Adipati kesal.


(Istri saya sudah cukup umur Mengapa semua orang mengira istri saya masih remaja?)


“Hahahaa... mungkin karena dia orang Asia dan perawakannya yang mungil membuat semua orang salah menilainya,” jawab Markus sambil tertawa geli.


“Asia gen, benar-benar berbeda yah?” tanya seorang wanita yang tiba-tiba berdiri dihadapan Adipati, Taca dan Markus.


Taca hanya bisa terdiam melihat wanita didepannya, Cantik, hanya satu kata itu yang bisa Taca deskripsikan untuk dirinya. Bibirnya yang tampak penuh menggunakan lipstik berwarna merah, membuat tampilan bibirnya sensual. Dadanya tampak penuh dan menjulang, membuat Taca minder seminder-mindernya.


“Monica Ridolfi,” jawab Adipati sambil tersenyum sekenangnya pada wanita didepannya.


“Adipati Berutti,” ujar Monika dengan suara yang sangat sexy.


‘Kenapa semua wanita dan pria orang Italy itu selalu memiliki suara yang sangat-sangat sexy? Apa tuhan saat membuat mereka sedang ingin membuat mahluk yang mampu membuat lutut bergetar?’ tanya Taca didalam hatinya.


“Ini Taca Berutti, istri saya,” ujar Adipati memperkenalkan Taca yang sedanh berdiri disampingnya.


“Oh hai... Monica Ridolfi,” jawab Monica, Taca hanya membalasnya dengan senyuman manis miliknya. Senyuman khas wanita asia.


Akhirnya mereka duduk di meja yang sudah disediakan. Mereka mengobrol dengan meriah, suasana sangat-sangat semarak. Ditambat datangnya beberapa sahabat Adipati lainnya.


Adipati memang sangat supel dan memiliki sahabat dimana-mana, berbanding terbalik dengan Juan yang memiliki teman yang banyak. Namun, hanya memiliki satu orang sahabat yang tak lain dan tak bukan adalah bule mesum bernama Adipati Berutti.


Taca yang mulai bosan disana, karena dia sama sekali tidak mengerti obrolan mereka disana. Oke Taca bisa bahasa Italia, tapi, untuk mendengarkan cerocosan orang Itali asli benar-benar membuat Taca geleng-geleng kepala.


“Di...”


“Śi, Amore?” jawab Adipati sambil melirik Taca yang ada disampingnya.


“Aku jalan-jalan boleh? Aku mau jalan-jalan keluar,” ujar Taca.


“Sendirian?” tanya Adipati kaget.


“Paling nanti aku bareng Iis,” ujar Taca sambil menunjukkan chat-an dirinya dengan Iis.


“Ah, ya udah. Jangan jauh-jauh, Amore. Kalau ada apa-apa telepon aku, Oke,” ujar Adipati sambil mengacak rambut Taca pelan.


“Iya, Astaga Di, umur aku udah hampir kepala tiga ini,” ucap Taca.


“Walau umur kamu udah kepala tiga, tapi orang sini bakal anggap kamu anak umur 19 tahun, Amore.”


“Ngaco ih, udah aku pergi dulu,” ujar Taca sambil beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan mereka semuanya.


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2