
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Iis menatap rumah keluarga Juan, pilar-pilar putih yang tinggi tampak menjulang menunjukkan kesombongannya seperti menatap Iis dengan tatapan merendahkan.
Iis sedikit bergidik melihat betapa menjulang, luas dan dingginnya rumah Juan. Iis berjalan dibelakang Juan dengan perasaan teraduk-aduk rasanya Iis ingin memuntahkan makan siangnya saking mualnya.
"Yang, kamu ngak papa ?" tanya Juan khawatir menatap air muka Iis yang pias.
"Nga papa..." jawab Iis mencoba tenang.
"Tenang Yang, apapun yang keputusan Papih, aku ngak akan mundur," ujar Juan sambil merangkul bahu Iis.
"Kalau aku yang mundur ?" tanya Iis sambil menatap Juan.
"Aku bakal ngejar kamu, aku bakal paksa kamu buat maju. Aku ngak bakal gentar buat bikin kamu balik lagi ke aku, jangan salahin aku kalau aku bakal ngejar kamu kaya orang gila, Yang."
Iis diam mendengar perkataan Juan, sepertinya Iis sudah tidak bisa kabur kemana-mana, Juan benar-benar mengikatnya dengan erat, tapi anehnya bukan merasa sesak Iis malah merasakan perasaan terlindungi.
"Kalau aku ningalin kamu, kejar aku yah," pinta Iis sambil tersenyum manis pada Juan.
"Bukan cuman dikejar, Yang. Bakal aku iket kamu biar ngak kabur lagi, heheee.." kekeh Juan sambil mengacak rambut Iis lembut.
"Aduhh calon mantu Mamih cantik banget, sini sayang Mamih mau peluk," teriak Mamih sambil menarik Iis dari pelukkan Juan kemudian memeluk Iis kencang.
"Mamih Iis kangen," ujar Iis sambil membalas pelukkan Mamih yang sangat hangat, Iis rindu dipeluk sesosok Ibu.
"Ayo, masuk.. cepet masuk. Mamih masak, masakkan sunda, enak loh ada ayam, lalapan. Pokoknya semuanya makanan sunda. Oh sama, nanti setelah makan temenin Mamih pokoknya buat liat koleksi anggrek Mamih, oh sama kamu kemaren nelepon Mamih 'kan minta diajarin buat bedain mana tas original sama fake. Oh sama nanti kita janjian yah, kita janjian buat spa bareng kaya kemaren lagi.."
"Mamih, permisi... anaknya ngak disapa ? Anaknya yang ini loh, Mih... anak Mamih namanya Juan Wijaya, bukan Lizbet Sandia," ujar Juan sambil mengoyangkan kedua tangannya keudara berusaha untuk menarik perhatian Mamih.
Mamih dan Iis tersenyum melihat tingkah laku Juan, "Aduh Mamih itu bayi gede minta perhatian."
"Alah biarin aja, itu bayi gede bangkotan udah uzur Iis," celoteh Mamih sambil menarik Iis untuk mengabaikan Juan.
"Hahahaa udah bangkotan Mih ?"
__ADS_1
"Iyah udah tuir, untung kamu mau, Iis," ujar Mamih sambil tertawa.
Juan yang mendengarkan obrolan kedua wanita didepannya hanya bisa mengerucutkan bibirnya, dia benar-benar hanya menjadi bayangan saat ini. "Anggap aja Juan ngak ada, anggap Juan ilalang yang bergoyang diantara tumbuh-tumbuhan."
Juan benar-benar merajuk kesal bukan kepalang, saat ini Iis dan Mamih benar-benar membuat aliansi untuk menghina dirinya.
"Udah lah, Juan pulang aja."
Iis langsung berhenti kemudian berjalan ke arah Juan, kemudian merangkul lengan Juan dengan manja. "Bayi gede ngak boleh ngambek, harus senyum."
"Hah... iya, iya..." ujar Juan sambil menjawil hidung Iis gemas.
"Aduh Nyonya, manis banget pasangan Den Juan sama pacarnya ini."
"Iya, cute yah Bi Marni," ujar Mamih sambil mendorong pelan assisten rumah tangganya itu.
"Sini, Iis. Kenalin ini Bi Marni yang udah ngurusin rumah ini dari semenjak Juan SD. Pokoknya Bi Marni ini tau semua kelakuan Juan," ujar Mamih.
"Marni, Non.."
"Iis.." ujar Iis sambil tersenyum manis.
"Aku juga Yes," ujar Mamih sambil mengeluarkan jempolnya.
"Itu Bi Marni, pembantu disini tapi udah dianggap keluarga sama Mamih dan Papih, jadi maaf-maaf kalau bibirnya mirip Mamih, ngak bisa direm," bisik Juan ditelinga Iis.
"Ehem..."
Suara bariton menghentikan pembicaraan yang terjadi, Iis melihat kearah sumber suara mata Iis mengedip dua kali melihat siapa yang berdiri didepan mereka saat ini.
Pria sepuh dihadapannya ini memberikan aura yang mampu membuat Iis bergidik. Rambut hitam dan tatapan matanya sangat mirip dengan Juan, tapi tidak ada kesan ramah di sorot matanya, hanya ada kesan merendahkan saat melihat Iis.
"Yang sini aku kenalin ini Papih aku," ujar Juan sambil menarik tangan Iis agar mendekat pada Papih.
"Iis.." ujar Iis sambil mengulurkan tangannya berharap tangan Iis dijabat oleh Papih.
Papih hanya menatap Iis dengan tatapan paling merendahkan yang pernah Iis lihat seumur hidupnya. Harga diri Iis seperti tergerus ke posisi paling rendah.
"Oh.. panggil aja saya Om," ujar Papih sambil membalikkan tubuhnya dan mengabaikan tangan Iis.
__ADS_1
Iis sambil tersenyum langsung menurunkan tangannya, astaga calon mertua lelakinya itu benar-benar harus dihadapi dengan kesabaran yang tinggi.
"Sabar Yang, Papih emang gitu," ujar Juan sambil mengambil lengan Iis kemudian memasukkan tangan Iis ke saku longcoat Juan.
"Papih emang gitu Iis, sabar yah. Ngak usah didengerin, kalau Papih ngomong, suka gitu Papih tuh, susah buat percaya sama orang. Tapi, percaya sama Mamih sedikit demi sedikit Papih pasti luluh sama kamu, Iis," cerocos Mamih sambil mengandeng tangan Iis dan menarik Iis masuk kedalam rumah lebih dalam lagi.
Akhirnya Iis, Juan, Mamih dan Papih sudah duduk dimeja makan dan menikmati makanan yang dimasak oleh Mamih dan Bi Marni. Sepanjang acara makan malam berlangsung Mamih mendominasi obrolan.
Semua Mamih bicarakan dari hal yang receh sampai hal-hal yang sedang in saat ini. Iis menjawab semua pertanyaan Mamih dengan senyuman. Beberapa kali Mamih melibatkan Papih untuk ikut mengobrol dengan mereka, tapi Papih hanya menjawab dengan anggukan dan gelengan, kadang hanya dengan dengusan atau kekehan kecil, saking kecilnya sampai-sampai tidak terdengar sama sekali.
Selesai makan malam, Mamih meminta Iis untuk menemani dirinya melihat anggrek di rumah kaca dibelakang rumah Juan. Sedangkan Juan dan Papih masih duduk di meja makan.
"Pih, maksud Papih apa coba jual saham Papih sekaligus kaya gitu ?" tanya Juan sambil menatap tajam Papih.
Papih tersenyum sinis sambil menatap anak semata wayangnya, "Ternyata kamu masih butuh bantuan Papih ? Bukannya kamu bilang udah siap meninggalkan keluar Wijaya ?"
Juan langsung menggeretakkan giginya dengan kesal, Papihnya benar-benar menguji kesabarannya, "Aku cuman nanya, Pih."
"Kenapa, takut wanita itu ninggalin kamu kalau kamu miskin. Hahahahhaa. Wanita dari kelas rendah kaya Iis itu bakal ningalin kamu dengan cepat saat tau kamu miskin, Juan. Percaya sama Papih," ujar Papih sambil menatap Juan.
"Pikiran Papih itu terlalu picik, Iis bukan wanita kaya gitu, Pih..!"
"Papih ngak akan setuju kamu nikah sama Iis, kamu malah nyari masalah kalau menikahi wanita dari kalangan 'rendah' kaya Iis, Juan."
Brakkk
"Dengan atau tanpa restu Papih, aku tetep nikahin Iis...!?"
Juan menggebrak meja kemudian pergi meninggalkan Papi di meja makan sendirian. Papih hanya melihat punggung Juan yang makin menjauh dari pandangannya.
•••
Kaka gallon cuman mau ngomong siapkan semangka Kakak 😖🙈
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️ Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon