
Siang itu sangat terik,Anita memencet-mencet remote AC jengkel.Aduuh ada 2 AC kenapa masih panas,ini pendingin ruangan atau cuma pajangan sih,gerutunya.
"Why? Hen re she bu she (panas ya)?" terdengar suara khas di belakang Anita."Ehh," Anita sontak menoleh ke belakangnya."She de (iya)," jawab Anita.Pria berwajah tampan itu menghampiri mejanya dan meraih gagang telpon,ia tampak berbicara dengan seseorang dengan bahasa mandarin.Tuan Arron, direktur accounting yang baru setahun ini menjadi Boss Anita.Beberapa saat kemudian datang dua orang tehnisi memeriksa AC.
__ADS_1
"Anita, tolong kamu periksa draft perjanjian, sudah saya email ke kamu,kalau ada yang aneh kasih tahu saya," kata Arron dengan bahasa yang masih kagok.Pria tinggi,putih dan berwajah kalem itu tersenyum tipis kepada Anita.Hmm ganteng, deg degan juga, pikirnya.Ruangan itu hanya berbatasan dinding kaca dengan ruangan staff accounting lainnya.Sejak satu bulan yang lalu meja Anita dipindahkan ke dalam ruangan direktur Accounting karena Arron lebih sering membutuhkannya.Tugas Anita pun berubah dari sebelumnya, dia harus memeriksa segala sesuatu sebelum ditanda tangani oleh Bossnya."Tuan, sudah saya ripply, perjanjian itu sudah sesuai dengan yg seharusnya," kata Anita."Okey, thanks,"jawab Arron.Pria itu tampak serius dengan lembar-lembar kertas di depannya.
"Mr.Arron,saya mau pulang, at five yet," Anita berdiri di depan meja Bossnya menunggu jawaban."Hmm," jawab Arron tanpa melihat dan Anita masih bingung dengan jawaban itu.
__ADS_1
Anita menabrak seseorang karena dia terlalu asyik dengan ponselnya dan tidak melihat jalan."PRAKK," suara benda jatuh.Anita menatap sosok tinggi besar agak kebulean sedang membungkuk mengambil ponselnya yang jatuh di lantai "Shit," geramnya."Sorry," reflek Anita.Ia terpaku menatap pria tinggi besar di depannya itu begitupun sebaliknya.
"Hai Jim, You arrive yet," tiba-tiba suara Arron di belakang Anita."I do," jawab laki-laki di depan Anita.Mereka berdua terlibat pembicaraan yang cukup akrab dan meninggalkannya begitu saja.Akhirnya Anita meneruskan langkahnya ke luar kantor. Pikirannya masih terpaku kepada pria itu. Jim, jim kah dia? Anita mencoba mengingat, apa dia masih mengenaliku, Anita berfikir keras. Apa masih ingat padaku, sudah lama sekali, kurang lebih sepuluh tahun tidak bertemu. Anita tersenyum,dia masih tampan seperti dulu,tapi lebih berotot dan dewasa.Laki-laki berwajah blesteran itu menari-nari dalam ingatannya.My God, aku jadi deg degan gumamnya.Anita mengendarai motornya dari tempat parkir. "Hai Mbak Nita, jangan melamun tar nabrak lho," tiba-tiba suara pak satpam menyadarkannya. Anita cuma tersenyum menyeringai."Makasih Pak," Anita tertawa kecil, hampir saja ia menabrak tiang gerbang yg sedikit terbuka. Anita memacu motornya menuju ke rumahnya, rumah yang dibeli dari hasil kerjanya, tidak besar tapi cukup nyaman untuk di tempati.Ia segera ambruk di sofa ruang tamu, ia selonjorkan kakinya, fikirannya masih melayang pada pria tampan yang tadi ditabraknya, rasanya tidak percaya.Ia memejamkan matanya dan mendesah pelan.
__ADS_1