
Jim menelpon Arman untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang.Ia berjalan cepat menuju ke kamarnya untuk menemui Anita. Gadis itu duduk santai di sofa sambil menonton TV.Jim menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Kau cantik sekali,Sayang." Jim memainkan rambut Anita yang diikat ekor kuda.Anita cuma memajukan bibirnya mendengar pujian dari kekasihnya.Anita terkejut saat tiba tiba Jim mengecup bibirnya.
"Bagaimana Jim? Apa kita jadi berangkat ke rumahku?" tanya Anita.
"Jadi lah, masa sudah ganteng begini tidak jadi.Ayo sarapan dulu,semua orang sudah menunggu." Jim mematikan TV dan membawa Anita ke meja makan.Semua orang sedang menikmati sarapannya. Anita mengambilkan roti isi buatan Arman untuk Jim.Pria itu menerima dan menyuapkannya ke mulut Anita.
"Aku sudah makan bubur tadi, kau yang belum makan apa apa," tolak Anita.
"Satu gigitan saja," paksa Jim.Akhirnya Anita menuruti keinginan kekasihnya dan pria tampan itu menghabiskan sisanya.
"Get your breakfast, Anita.You look so pale," kata Arron.
"I got my breakfast yet," jawab Anita.
__ADS_1
"Could you come to office tomorrow? No matter what time you come,I will wait," kata Arron. Anita melihat ke arah Jim, pria itu menganggukkan kepalanya.
"Ok.I will teach them how to make your job easier," jawab Anita.
"Ok, but you better back to office soon," kata Arron dengan wajah serius.
"No, Brother. I won't allow that," sergah Jim.
"Please, don't start again," kata Anita.
"Corvin, kamu jadi supir saya hari ini." Jim berdiri dan memberi isyarat kepada Corvin dan Jack untuk mengikutinya. Meŕeka berhenti di teras depan.
"Just listen to me, kalau terjadi sesuatu, that guns only for take down not for killing. Semua akan jadi masalah kalau kita kurang hati hati. Do your job professionally," Jack dan Corvin mengangguk mengerti. Keduanya meninggalkan Jim untuk mengerjakan tugasnya masing masing.
"Sayang, aku di teras depan, ayo berangkat," Jim menelpon Anita, beberapa saat kemudian kekasihnya itu datang. Jim membawa Anita masuk ke mobil sport warna birunya. Corvin sudah sejak tadi duduk di belakang stir.
__ADS_1
"Mana Jack dan Julian, katanya mau ikut?" Jim tidak menjawab, ia malah meraih tas selempang Anita dan memeriksa isinya.
"Ponsel,dompet,lipstick,two waycake powder, Apa ini? CD? kenapa bawa CD? Pemba ..," Anita membekap mulut Jim dengan tangannya.
"Jim jangan usil," Anita menarik tas selempang miliknya.
"Mana mereka?" tanya Anita lagi.
"Mereka bawa mobil sendiri, nanti menyusul," jawab Jim. Mobil sport itu meluncur menuju ke gerbang yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah utama.Anita tampak senang sekali bisa ke luar dari rumah Jim. Mereka berhenti sebentar di gerbang, beberapa penjaga mengangguk hormat dan membiarkan mobil itu pergi.
"Sayang, kau senang?" tanya Jim.Anita tersenyum dan mengangguk.
"Aku yang nervous.Apa orang tuamu akan menyukaiku? Menantu seperti apa yang mereka inginkan?" Jim menghela nafas panjang.
"Mereka suka atau tidak, aku akan menikah denganmu.Santai saja," hibur Anita. Jim menarik Anita supaya menyandarkan kepala di dadanya. Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Anita. Ada dua buah mobil terparkir di halaman rumah Anita yang lumayan luas.Kedatangannya segera disambut oleh seorang pria muda yang segera memeluk Anita saat mereka tiba di teras. Jim menunjukkan raut muka yang kurang senang hingga ia menarik keras tangan Anita.
__ADS_1