
Jim melihat ponselnya, sudah jam enam pagi. Anita masih berbaring di sampingnya,ia segera mengirim pesan pada Yuki untuk membuatkan sup dan bubur untuk Anita. Beberapa saat kemudian seorang pelayan mengantarkan pesanannya itu.
"Ayo Sayang,aku suapi ya.Kau harus makan dan minum obatnya."Jim mengganjal punggung Anita dengan bantal dan menyuapinya.Anita menurut saja tanpa membantah sedikit pun.
"Hari ini aku saja yang menemui orang tuamu. Aku tidak mau mereka melihatmu seperti ini Anita.Mereka akan menganggapku tidak becus mengurus dirimu," kata Jim.Anita terbatuk batuk dan Jim segera menepuk punggungnya.
"Kau ini, jangan menelan sambil bernafas," gumam Jim.
"Tidak Jim,aku ikut bersamamu.Aku sudah membaik, cuma sedikit pusing saja itu biasa kalau lagi begini," Anita berusaha meyakinkan.
Jim tidak menjawab.Tiba tiba pintu terbuka, Julian masuk dengan wajah khawatir.
"Anita kau sakit,Yuki tadi..."
"Sudah tidak apa apa,aku cuma ..." Jim segera membungkam Anita dengan mulutnya. Ia memberi tanda untuk tidak banyak bicara.
"Kakak iparmu sudah ditangani dokter. Sekarang biarkan dia istirahat,jangan diganggu.Nita minum dulu obatnya," Jim memberikan dua butir obat dan segelas air putih pada Anita.Gadis itu melakukan apa yang diminta Jim tanpa membantah. Beberapa saat kemudian Yuki datang.
__ADS_1
"Yuki, temani Nona.Aku mau pergi sebentar, kalau ada apa apa telfon aku.Ayo berbaringlah Sayang,istirahat dulu sekarang biar obatnya bereaksi."Jim menyelimuti tubuh Anita.Setelah mencium kening Anita, Jim memberikan isyarat kepada Julian untuk mengikutinya. Jim membawa Julian ke ruang kerjanya.Beberapa saat kemudian Jack datang dengan membawa laptopnya.
"Show me Jack?" kata Julian. Jack segera membuka rekaman CCTV di rumah Anita.
"Brengsek, kenapa manusia sialan itu bisa tahu rumah Anita? Cuih," umpat Julian. Jim hanya diam melihat reaksi adiknya.
"Kurang lebih sepuluh kali Baruna datang minggu ini.Aku yakin dia sedang mencari Anita.Kemungkinan orang tua Anitalah yang memberi tahu di mana Anita tinggal sekarang," kata Jim.
"Perhitunganmu tepat Jim, kau membawa Anita kabur sebelum Baruna menemukannya." Julian tersenyum sinis melihat kehebatan Jim dalam menganalisa situasi. Jim memang selalu berfikir sekian langkah di depannya.
" Yes Boss,asap," jawab Jack.Pria itu langsung mengambil ponselnya dan mengirim instruksi kepada beberapa orang anak buahnya.
"Find out what's the correlation between Anita's family and Baruna or with Baruna Family," Jack mengangguk mengerti.
"Julian,Suruh beberapa penjaga untuk tinggal di rumah Anita.Buatlah seakan merekalah penghuni di rumah itu.Melaporlah pada pejabat setempat,bahwa rumah itu dikontrakkan." kata Jim sambil menepuk bahu Julian.
"Jack,I'm waiting. How many time do you need to find out?" Jim bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Give me one hour, Sir," jawab Jack. Jim segera beranjak dari ruangan itu dan kembali menemui Anita di kamarnya.Setelah Jim datang Yuki segera ke luar dari kamar itu. Jim melihat Anita rebahan di tempat tidur sambil memegang ponselnya. Pria itu mengambil ponsel dari tangan Anita.
"Pinjam," katanya.
"Itu barang privasi Jim, Mau apa?" kata Anita merajuk.
"Sekarang tidak ada kata privasi,anggap saja kita sudah menikah.Suamimu ini tidak mengizinkanmu chat atau pun menghubungi sembarang orang," Jim menepiskan tangan Anita saat gadis itu hendak mengambil kembali ponselnya. Jim segera mengutak atik ponsel Anita.Memblok nomor nomor yang dirasa tidak perlu, dan menyeting ulang pengaturan telponnya.Beberapa saat kemudian Jim menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan Anita.
"Aku tidak selingkuh, kenapa curiga sekali sampai memeriksa isi ponselku Tuan," gerutu Anita.Jim terkekeh senang melihat gadisnya ngambek.
"Aku juga ingin melihat isi hatimu," Jim meraih baju Anita dan melepaskan kancingnya.
"E eeh,dasar," Anita segera memegangi bajunya.
"Ayo aku bantu mandi, katanya mau ketemu mertua," Jim menggoda Anita.
"Kau juga belum mandi,duluan sana," Anita beranjak turun dari tempat tidur. Pria itu tersenyum senang melihat Anita sudah bisa berjalan normal lagi. Ia pun beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1