
Anita terbangun dari tidurnya saat suara azan subuh terdengar sayup sayup di kejauhan.
Ia bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan shalat.
Setelah itu Anita beranjak ke ujung koridor untuk melihat keadaan Jimmy.
Pintu geser di sebelah kamar itu terbuka, dan salah seorang dokter yang kemarin menangani Jimmy ke luar dari ruangan itu.
“Dokter apa boleh bicara sebentar?” tanya Anita.
“Tentu, masuklah Nyonya Jimmy,” kata dokter itu.
Anita cukup kaget dipanggil seperti itu.
“Bagaimana Anda tahu...?”
“Tuan Besar Anggoro yang mengatakan kepada saya.Duduklah Nyonya, perkenalkan saya Adnan, saya yang menangani Tuan peralihan dari tim dokter dari Roma.Kalau Nyonya ingin menanyakan keadaan Tuan Jimmy, sekarang sudah cukup stabil.Tolong bantu saya untuk membuat Tuan meminum obatnya dengan teratur tiga hari ini.Dan tolong jaga emosinya Nyonya, tolong jangan memicu konflik apa pun paling tidak seminggu dua minggu ini,” kata dokter Adnan.
Anita hanya mengangguk pelan, ia tidak tahu perasaan apa yang menyelimuti kepalanya saat ini.
“Nyonya?”
Suara dokter Adnan menyadarkannya.
“Ya, apa boleh saya melihatnya sebentar Dokter?” tanya Anita.
“Tentu, tapi alangkah baiknya kalau Nyonya terus berada di sisinya.Proses penyembuhannya pasti akan signifikan,” jawab dokter Adnan.
Anita bangkit dari duduknya dan pamit pada dokter itu.Agak ragu dibukanya pintu kamar Jimmy.
Jimmy tampak terbaring di tempat tidur dengan dua selang infus dan transfusi darah yang hanya tinggal sedikit.
Seorang perawat pria datang dan mengganti botol infus dan mengambil kantong darah yang hampir kosong.
Jimmy membuka matanya sàat perawat itu mencabut jarum transfusi itu dengan hati hati.
Pandangan matanya langsung teralih ke arah Anita yang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Tanpa sadar seolah diseret kaki Anita berjalan mendekat setelah perawat itu pergi.Jimmy mengulurkan tangannya, dengan penuh keraguan Anita membalas uluran tangannya.
Tanpa ia sadari air matanya berjatuhan saat Jimmy menarik tangannya hingga terduduk di tepi tempat tidur.
Jimmy menegakkan tubuhnya dan reflek Anita meletakkan bantal di belakang punggungnya.
“Aku sangat rindu padamu.”
Anita tidak mampu menjawab perkataan Jimmy dengan suara serak dan pelan.
“Jangan pergi dari sisiku,aku pulang dengan susah payah demimu dan anak kita.Aku sangat takut tidak bisa menemukanmu,” kata Jimmy lagi.
“Jangan bicara lagi, istirahatlah.Kita bicara setelah kau membaik,” kata Anita.
“Berjanjilah untuk tetap di sisiku,Anita.”
“Aku akan melakukan yang terbaik untuk anak ini,” jawab Anita.
Jimmy mengelus perut Anita.Wajahnya yang sedikit pucat membuat Anita merasa sangat bersalah.
“Aku tahu banyak pertanyaan di kepalamu,” gumam Jimmy.
“Yang di video itu bukan aku,Anita. Bisakah kau percaya padaku?”
“Jimmy,saat ini itu tidak penting untukku. Melihatmu bahagia sudah cukup, aku tidak ingin apa apa lagi.Yang penting kau sembuh dan pulih,” jawab Anita.
“Dari mana kau melihatku bahagia? Aku tidak pernah sakit separah ini. Setelah aku tahu kau pergi dari rumah karena video kiriman Emily,seluruh syaraf dan organ tubuhku tidak nyambung satu sama lain. Emosiku tidak terkontrol dan tanganku ini tidak ada rem untuk menghabisi orang.”
Jimmy terbatuk batuk, Anita segera mengambilkan air putih.
“Jimmy aku mengerti,aku akan memaklumi apa yang kau lakukan untuk kebaikan semua... Sekarang itu tidak ada pengaruhnya lagi untukku.Istirahat lagi, aku akan ada di sini.Berusahalah pulih untuk anak kita ya.”
Anita mengusap kepala Jimmy dengan lembut.Saat ini ia ingin mengesampingkan rasa egoisnya.Jimmy memeluk perut Anita yang saat ini bersandar di sampingnya.☆☆
Anita kembali ke kamarnya saat dokter datang untuk memeriksa.Ia merasa malu karena tertidur di samping Jimmy hingga matahari hampir terik.
Ia beringsut ke luar dari kamar Jimmy saat dokter Adnan menggodanya.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri ia memasak bubur sumsum dan kaldu daging yang dicampur susu UHT untuk Jimmy.Ia menambahkan sedikit garam supaya ada sedikit rasa gurih.
Saat melintas di meja makan, Tuan besar memanggilnya.Ternyata ayahnya juga sudah ada di sana.
Anita meletakkan bubur untuk Jimmy yang masih panas di atas meja.
“Selamat pagi Anita,apa tidurmu nyenyak semalam?” tanya Agustian.
“Sama seperti biasanya Tuan.Anda jangan khawatir,setelah Jimmy sembuh aku akan pergi.Aku tidak akan membuatnya susah lagi,tidak akan menyakitinya lagi,” jawab Anita.
"Hmm, aku minta maaf atas kata kataku semalam Anita. Itu karena aku takut Jimmy akan koma seperti sebelumnya. Pernikahan kalian tiga hari lagi, kumohon demi bayi dalam kandunganmu, jangan menolak. Bukannya kalian saling mencintai? "
Anita tersenyum mengejek.
"Sebenarnya, sejak meninggalkan rumah aku sudah tidak mengharapkan ada pernikahan, sejak ayah mengatakan aku sudah ditalak melalui telpon, aku sudah tidak menginginkan pernikahan lagi dengannya," Jawab Anita.
"Anita! " kata Ardian.
"Pria yang dengan mudah keluar kata talak dari mulutnya tidak pantas dijadikan suami,Ayah. Sekarang kata kata itu mudah diucapkan, bertengkar sedikit juga pasti diucapkan. Terus apa gunanya menikah, seribu kali pernikahan pun tak akan cukup," kata Anita dengan lantang.
"Apa maksudmu, Anita? Apa aku begitu menjijikkan sampai sampai kau tidak bersedia menikah denganku? "
Tiba tiba terdengar suara Jimmy yang sedang duduk di kursi roda elektrik nya di balkon lantai dua. Sontak semua orang menoleh ke arahnya.
"Jimmy my Son," Agustian bangkit dengan panik dan sedikit merasa lega karena seorang perawat pria menghampirinya.
Jimmy mengatakan sesuatu, kemudian perawat pria itu membawanya turun melalui lift.
Suasana di ruang makan itu menjadi hening, Jimmy menggerakkan kursi rodanya menghampiri Anita.
"Apa yang kau katakan tadi, Anita? "
"Tidak Jim, aku hanya mengerjai Tuan Besar dan ayahku. Aku membuat bubur untukmu, dimakan ya? "
Jimmy tersenyum dan menyingkirkan anak rambut di dahi Anita.
"Iya, aku pasti makan apa pun dari tanganmu," kata Jimmy.
__ADS_1
Anita menyuapkan bubur hangat ke mulut Jimmy.
Agustian dan Ardian terduduk lemas, keduanya sangat khawatir Anita membuat Jimmy emosional lagi.