
Sampai di rumah Anita langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya.Ia juga mengunci pintu kamarnya dengan double lock.Ia keluarkan kembali kopernya dari dalam lemari. Ia hanya membawa beberapa barang penting miliknya dan beberapa potong pakaian yang baru dibelinya.
Ia membuka brankasnya dan mengambil uang limapuluh juta dan memasukkan ke dalam koper paling bawah, menyisakan lima juta di tasnya.Ia menuliskan di buku memo. “Nita pinjam limapuluh juta"
Itu adalah uang yang diberikan Jimmy tiap bulan untuknya.Di brankas selalu ada limaratus juta dan duaratus ribu US Dollar tak berkurang. Jimmy pasti menambahkan setiap kali Anita memakainya.Kalau tidak terpakai biasanya langsung ditransfer ke rekening Anita.Anita membuka dompetnya, masih ada dua kartu debit milik pribadinya yang diketahui oleh Jimmy.Anita membuka laci meja riasnya.Ia masukkan dua kartu debit milik Jimmy dan dua kartu debit miliknya ke dalam plastik clip dan menyimpannya di dalam laci.Ia juga memasukkan cincin dari Jimmy ke dalam tempatnya.Anita memandangi ponselnya dengan hati berdebar.
“Apa yang harus kulakukan dengan ponsel ini? Aku buang atau aku bakar? Ponsel sialan ini telah menyakitiku.”
Anita meraih benda itu dan mengeluarkan kartu telponnya. Ia masukkan ke plastik Clip dan memutuskan untuk meletakkan begitu saja di laci meja riasnya.
Anita membuka laci lemari pakaiannya, ia mengambil sebuah buku tabungan Bank pemerintah yang sudah lama tidak digunakannya.
“Hanya ada empat ratus juta, ini adalah simpananku saat berbisnis di Jogja bersama Siska.Tapi ini cukup sampai aku melahirkan. Aku akan bekerja sebisaku dulu saat sampai di sana.Yang penting aku pergi dulu dari sini,” gumam Anita.
Ia memasukkan bukunya ke koper dan menyimpan kartu debitnya di dompet.
__ADS_1
Sore itu Anita sibuk mempersiapkan diri.
Sementara itu di bengkel pinggir kota, Julian datang menemui Dicky dan Hans yang sejak lama menunggunya.
“Hans, apa kau menemukan hal aneh di kamar Anita?” tanya Julian yang barusan duduk di depan mereka.
Hans menunjukkan beberapa foto yang baru diambilnya di kamar Anita.
“Dia melepas cincin itu dan meletakkan dua kartu debit yang diberikan Jimmy.Di mana ponselnya, bukankah aku menyuruhmu mencari ponselnya,” kata Julian.
“Itu memang barang miliknya dari sejak lama.Hanya untuk menyimpan file file lama.Bukannya kemarin dia minta laptop baru.Kurasa wajar saja dia menyimpannya,” kata Julian.
“Apa kau berhasil mendapatkan petunjuk ?” tanya Dicky.
“Tidak banyak,Tapi kemarahan Anita yang meledak ledak saat ada wanita yang bersamaku adalah hal yang cukup aneh.Apa karena wanita hamil seperti itu?” tanya Julian.
__ADS_1
“Aku tidak tahu, istriku belum hamil. Ini mau program punya anak Jimmy malah memanggilku ke mari,” jawab Dicky.
“Aku juga belum punya anak Tuan,” jawab Hans.
“Cih,istri saja belum ada mau dapat anak dari mana?Kita lihat perkebangannya saja.Aku curiga dengan ponselnya, kenapa dia tidak minta dibelikan ponsel baru.Paling tidak dia pasti nunggu Jimmy telfon,” kata Dicky.
“Dia menolak waktu kuberi ponsel baru, itu produk keluaran terbaru lho. Alasannya dia tidak mau pake nomor yang sekarang,belum beli nomor baru lalu bilang mau aktifkan nomor yang lama,” kata Hans.
“Nomor lama Nona disimpan sama Tuan, mustahil ada padanya,” kata Marcel yang tiba tiba muncul.
“Sepertinya ada sesuatu di ponsel itu, kau harus berusaha mendapatkannya Hans.Kau yang lebih sering bersamanya,” kata Dicky.
“Walau pun begitu tidak mudah Tuan, kemarin saya dibentak karena mau memperbaiki ponselnya.Memang sepertinya retak dikit screennya. Baiklah akan saya cari celah,” kata Hans.
Keempat pria itu tenggelam dalam pikirannya masing masing.Sampai akhirnya mereka sadar masih banyak urusan yang harus dibereskan.
__ADS_1