
Terasa hangat, di mulutnya menempel bibir pria cinta pertamanya. Anita menahan nafasnya ketika bibir itu mulai bergerak memaksa membuka mulutnya. Anita menutup matanya, Jim tersenyum dan melanjutkan lumatannya.
"Aku merindukanmu Anita," bisik Jim di telinga Anita. Gadis itu terengah engah begitu Jim menyudahi ciumannya.
"Ehemm! " terdengar suara Arron di belakang mereka. Anita menutup mukanya karena malu."Hai Brother, sudah datang rupanya." Arron tersenyum dan duduk di kursinya. Jim berbalik dan duduk berhadapan dengan Arron.Mereka membicarakan banyak hal sementara Anita melanjutkan pekerjaanya tanpa berani melihat wajah bossnya. Ampuuun, apa Arron sudah sejak tadi berada di situ fikir Anita. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Anita sudah selesai dan bersiap untuk pulang. Jim dan Arron masih asik mengobrol.
"Maaf saya mau pulang dulu, sudah selesai, " Anita berpamitan dan berlalu, Jim segera meraih tangannya. "Sudah malam tidur di mess aja. " Anita menggelengkan kepalanya.
"Rumah saya tidak jauh." Jim bangkit dari duduknya. "Biar aku antar. Ayo," Jim menggandeng tangan Anita dan membawanya ke luar. "I will take her home, Brother. I will be back late okey.. " Arron melambaikan tangannya.Jim melingkarkan tangannya ke pundak Anita, gadis itu diam saja waktu Jim mendaratkan ciumannya di kepalany. "Jim aku bawa motor tidak perlu diantar, tidak terlalu jauh. "
"No Anita. Setelah sekian lama jangan menolak apapun lagi. Aku sudah lelah mencarimu. Sekarang jangan lagi okey. " Jim menarik tangan Anita dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Sebuah mobil sport merk terkenal, sangat nyaman. Baru kali ini Anita menaiki mobil seperti ini.Di gerbang depan seorang satpam membuka gerbang dan mengangguk hormat kepada Jim, Anita mencoba menutupi wajahnya dengan tas kecil miliknya. Jim tersenyum dan menurunkan tangannya."Habislah aku, besok pasti dibuli banyak orang," rungut Anita. Jim terkekeh senang.
__ADS_1
"Coba saja, akan ku pecat mereka." Jim memacu mobilnya sedikit cepat. "Lho, ini bukan jalan menuju ke rumahku Jim," kata Anita seraya memegang pundak pria itu.
"Aku mau ke alun-alun sebentar." Jim memarkir mobilnya di area parkir alun alun.
"Ayo, " tangan berotot itu menarik Anita ke luar dan membawanya ke tengah alun alun, tempat itu lumayan ramai, Jim menyuruh Anita duduk di hamparan tukar lebar, lalu dirinya sendiri duduk di sebelah Anita. Jim meraih tangan Anita dan menggenggamnya di pangkuannya. Anita memejamkan matanya saat tanpa sengaja tangannya bergesekan dengan bulu kaki Jim. Pria tampan itu hanya mengenakan celana sebatas lutut dan kaos t-shirt lengan pendek.
"Jagung bakar Pak, tiga ya, biasa, pedas dan pedas gila," Tawa Anita pecah mendengar Jim memesan jagung bakar terdengar lucu. Anita ingat, dulu waktu ada perkemahan di tempat ini, dirinya dan temannya membeli jagung bakar, Jim dan teman-temannya juga sedang antri, bapak ini juga penjualnya.
"Tapi seingatku pesan jagungnya tidak begitu, " Jim menyipitkan matanya. "Jagung bakar Pak, pedas, pedas manis, pedas manis gila Pak, yang gila bener, " Anita dan Jim tertawa lepas, pria itu menyentil hidung Anita karena gemas. Jim menarik tangan Anita hingga lebih dekat kepadanya.
"Ayo kita berhubungan lebih serius Anita, lebih dari sekedar pacar atau kekasih. menikahlah denganku, aku sangat mencintaimu, dari dulu aku hanya mencintaimu. Tidak masalah walaupun hanya sedikit perasaan cintamu untukku. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, " Anita menyentuh bibir Jim dengan jari kecilnya hingga pria itu tak lagi berbicara.
__ADS_1
Anita menerima jagung bakar dari tangannya.
"Aku tidak pernah membayangkan akan berada di sini bersamamu Jim, memikirkannya saja aku tidak berani, " gumam Anita.
"Aku tergila gila padamu Anita apa kau tidak melihatnya? Apa kau dulu menyukaiku walau sedikit saja? " Jim mengusap sisa makanan di ujung bibir Anita.
"Iya, dulu aku sangat menyukaimu. Kau orang pertama yg aku sukai sebagai seorang kekasih. Tapi Baruna mengatakan kau menyukai Widya sahabatku, mau gimana lagi, aku harus mengubur perasaanku itu."
"Aku menghajarnya sampai babak belur waktu acara kelulusan. Waktu itu kau di mana Anita? Aku mencarimu seperti orang gila, Baruna menyabotase semua pesanku untukmu." Jim mengepalkan tangannya.
"Aku pergi ke Solo ke rumah bibiku." Keduanya saling terdiam.
__ADS_1
"Sudah larut, ayo ku antar pulang," Jim bangkit dari duduknya. Dalam diam Jim membawa Anita pergi dari tempat itu.