
Pagi itu Anita tidak mau ke luar kamar, perut dan punggungnya terasa kaku. Sedikit nyeri terasa di lambungnya,mual dan serasa ingin muntah.Bi Rosmini membuatkan bubur halus dan segelas susu hamil untuknya.Dengan telaten wanita seumuran ibunya itu menyuapinya.
"Sudah Bi, nanti lagi.Aku mau istirahat saja, kepalaku agak pusing," kata Anita.
"Panggil dokter saja ya Nyonya," kata Bi Ros.
"Aku tidak pa pa Bi, nanti juga baikan sendiri.Nanti sore Lenny akan menemaniku periksa ke dokter kandungan," jawab Anita.
"Baiklah kalau begitu Nyonya, saya akan membereskan dapur dulu," kata Bi Ros dan diangguki oleh Anita.
Beberapa saat setelah Rosmini ke luar, Irene masuk dan menemuinya.
"Nyonya,apa yang Nyonya rasakan? Apa perlu ke rumah sakit sekarang?" tanya Irene saat melihat wajah pucat Anita.
"Kepalaku pusing Ren,tapi sudah mendingan habis minum vitamin.Nanti sore saja periksa ke dokter," jawab Anita.
"Kalau begitu saya tinggal ke kantor sebentar.Sekitar satu sampai dua jam saya kembali.Ada sedikit masalah,Pak Corvin memanggil saya," kata Irene.
"Iya,tidak apa.Nanti kalau butuh kamu, akan kutelpon.Pergilah Ren," jawab Anita.
"Baik Nyonya," kata Iren lalu ke luar dari kamar Anita.
Sebelum pergi Iren menyiagakan anak buahnya di luar rumah dan berpesan pada Rosmini untuk melihat majikannya setiap setengah jam sekali.***
Anita terbangun dari tidurnya karena perutnya terasa sakit.Jam menunjukkan jam sepuluh kurang lima menit.Dengan tangan gemetar ia mengambil ponselnya di atas nakas.Ia tidak mampu berteriak memanggil seseorang yang ada di luar kamarnya karena menahan sakit yang amat sangat di perutnya.Susah payah ia geser layar telponnya.Ternyata kiriman foto foto dan video kegiatan Jimmy dan Clarissa di Singapura masih terus ia terima.Terakhir ada caption di foto yang mengatakan "Aku dilamar".
Air mata Anita luruh seketika.Dengan gemetar ia mencoba mencari kontak Lenny dan mendialnya.
Beberapa saat kemudian tersambung.
"L Len,perutku sakit Len.Ke kemarilah." Anita tersengal dan memegangi perutnya. Tubuhnya melorot ke lantai dan dan ponsel itu jatuh di dekatnya.
Sementara itu Lucas yang masih terdiam kaku di mobilnya karena mendapat telpon yang tidak jelas dari Anita.
Ada yang Aneh karena terdengar suara rintihan Anita.
"Anita! Hei where are you? What's going on (Anita kau di mana? Ada apa?" teriak Lucas.
Romy sang asisten yang sedang menyetir sampai kaget mendengar Bosnya itu tiba tiba berteriak.
"Romy,putar balik.Ke Griya Nusa," katanya seraya menutup telponnya.
Ia yang masih dalam perjalanan dari pusat pengendalian satelit menuju kediaman Anggoro segera berbalik arah ke tempat tinggal baru Anita.
Sampai di rumah Anita Lucas bergegas mencari Anita, Bi Ros yang sedang membuatkan bubur untuk majikannya sangat terkejut melihat Lucas mengedor pintu kamar Anita.
"Anita,are you there?" tanya Lucas sambil terus mengetuk pintu.
karena tidak mendengar jawaban, akhirnya Lucas membuka pintu yang memang tidak terkunci.
Ia segera menghampiri Anita yang tergeletak di lantai dekat ranjangnya.
"Oh my God," Lucas menyeka darah di ujung mulut Anita.
" Lu Lucas, selamatkan bayiku," bisik Anita.
Lucas segera menggendong tubuh Anita ke luar.
"Romy,hurry up," teriaknya.
Romy segera memarkir mobilnya di depan pintu dan membukakan pintu belakang supaya Lucas bisa memasukkan Anita ke dalam mobil.
"Bawa ke rumah sakit terdekat,jangan ke rumah sakit keluarga Anggoro,terlalu jauh.Yang penting dapat pertolongan dulu," kata Lucas.
Romy segera melajukan mobilnya, sementara Lucas merasakan cengkeraman tangan Anita di lengannya sungguh menyakitkan.
"You'll be OK( kamu akan baik baik saja),"kata Lucas seraya mengusap keringat di dahi Anita dengan tisyu.
"Akan kutelpon Jimmy."
Lucas mencoba mengambil ponsel di saku belakang celana jeansnya.
Anita mencengkeram tangannya.
"My Father,Lucas," kata Anita dengan suara yang sangat lemah.
"Don't ... call...Jim.. Jimmy," nafas Anita kembali tersengal.
"Romy cepatlah,rumah sakit mana yang terdekat?"
"RSUD sama Indomedika Tuan,RSUD lebih lengkap fasilitasnya," jawab Romy.
__ADS_1
"Cepatlah,kita ke sana," kata Lucas.
Ia sedikit lebih panik karena nafas Anita semakin lemah dan semakin pucat. Ia menepuk pipi Anita karena dan tidak bereaksi.
"Hold on,I know you are a great women, you are stronger then everyone seen ( bertahanlah,aku tahu kau wanita yang kuat,kau lebih kuat dari yang terlihat).
Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan UGD rumah sakit.
Anita segera mendapatkan penanganan intensif dari dokter dokter terkait.
Lucas segera menghubungi ayah Anita seperti yang dia minta.
Ia juga menghubungi nomor Jack dan Jimmy namun tidak tersambung.
Akhirnya ia menghubungi kakeknya untuk minta dikirimkan persediaan darah di Bank darah milik keluarga Mck.Clair karena ia khawatir Anita harus segera dioperasi.
Setelah menunggu satu jam lamanya,akhirnya dokter ke luar untuk menemui Lucas.
"Mr...?"
"Lucas."
"Are you her husband (apakah anda suaminya?" tanya dokter.
"Bukan,saya kerabatnya.Suaminya sedang ada di luar negri," jawab Lucas.
"Baiklah,mari ikut ke ruangan saya," kata dokter itu.
Tanpa banyak tanya Lucas mengikuti ke ruangan dokter tersebut.
"Silahkan duduk Tuan."
Lucas sangat was was karena dokter membolak balik kertas hasil pemeriksaan sementara milik Anita.
"Nyonya Anita mengalami keram dinding rahimnya,beliau juga mengalami animea berat,juga terserang asam lambung,ada sedikit pendarahan di lambungnya. HBnya tidak sampai lima,jadi perlu segera dilakukan transfusi darah.Tolong segera hubungi keluarganya,orang tua atau saudara kandungnya.Karena golongan darah pasien tergolong langka," kata dokter panjang lebar.
"Ambil darah saya dulu,golongan darah saya sama dengannya,O resus negativ," kata Lucas.
Dokter terperangah,ya Tuhan,beruntung sekali pasien ini pikirnya.
"Baiklah,mari ikut saya," katanya.
Lucas mengikuti dokter yang membawanya ke sebuah ruangan untuk pengecekan dan pengambilan darah.
Lucas menceritakan semua kejadian pada saat Ardian datang.Ia sengaja datang tanpa istrinya karena khawatir ibu Anita syok melihat anaknya sakit,karena memang belum waktunya melahirkan.
Ardian memandangi wajah pucat putrinya yang masih tertidur karena pengaruh obat.Sementara Lucas mengambil dan melihat lihat isi ponsel Anita.Melihat panggilan dan chat terkini yang dilakukan istri seseorang yang lebih dari kakak baginya.
Ia tampak gusar saat melihat chat dan kiriman foto foto dan video yang ia duga menjadi penyebab dropnya Anita.
Ia segera menelpon Romy untuk mengambilkan laptop dan alat alat yang ia perlukan.Di kursi depan paviliun ia segera mencari tahu titik koordinat dimana pengirim foto dan video itu saat ini.Setelah itu ia dibantu Romy untuk melihat data di satelit.
"Orang ini di area Jakarta Tuan,di dalam gedung milik Barata Group," kata Romy.
"Telusuri komunikasi dari mana saja, dengan siapa saja.Suruh orang kita mengawasinya berdasarkan data satelit dan rekam wajahnya saat dia ke luar. Dia pikir sedang bermain main dengan siapa," geram Lucas.
"Kita pancing saja dengan ponsel Nyonya Anita Tuan.Buat dia ke luar dari gedung itu," kata Romy.
"Aku sedang melakukannya, kamu awasi terus melalui satelit."
"Good Mr.Boss,you did it.Dia bergerak ke luar gedung.Wait wait wait , about a few menutes.OK,itu dia," kata Romy sumringah.
"Zoom sampai terlihat jelas,oh my God sudah kuduga itu dia," kata Lucas.
"Dead you, go to hell(mati kau,pergilah ke neraka)," imbuhnya.
"Tuan mengenalnya?" tanya Romy.
"Tentu aku mengenalnya,dia si Bastard adiknya Clarissa, putra ke tiga dari Barata. Rupanya mereka belum puas malak Jimmy," jawab Lucas.
Jari jari Lucas menari dengan lincah di atas keyboard laptopnya.Setelah mengumpulkan semua data akhirnya Lucas mengirimkannya kepada Julian Anggoro ayah Jimmy melalui email dan diCC ke nomor email ayah dan kakeknya yang memegang data data penting mengenai kecelakaan Jimmy waktu itu.
Sekitar limabelas menit kemudian ia mendapat balasan dari ayah Jimmy .
"Aku akan pulang ke indonesia hari ini juga," katanya.
Lucas tersenyum puas,Romi merasa senang melihat wajah Bossnya tampak sumringah dan menyunggingkan senyuman.
"Apa Boss saya antar pulang dulu,ini sudah menjelang malam Boss?" tanya Romy.
"No,pesankan kamar saja di hotel terdekat.Aku mau membersihkan diri nanti setelah melihat Anita sebentar."
__ADS_1
Lucas beranjak masuk ke dalam paviliun sementara Romi membereskan laptop dan peralatan lainnya.Ia juga memesan kamar hotel di hotel terdekat untuk Lucas.
Sementara itu Lucas kembali menemui Ardian yang duduk di samping putrinya yang masih terlelap sambil terus menggenggam tangannya.
Lucas memegang pundak pria itu yang segera menoleh ke arahnya.
"Lucas,terima kasih," katanya dengan suara parau.
"Sama sama Pak,untung saja Anita masih sempat menghubungi saya sebelum tak sadarkan diri," jawab Lucas.
"Kenapa dia belum sadar?" tanya Lucas.
"Barusan diperiksa dokter,dia memang harus istirahat kata dokter.Supaya pikirannya tidak ke mana mana dan obat cepat merasuk.Lucas,sebenarnya Jimmy ke mana? Kenapa istrinya ditinggal ke luar negri saat hamil tua seperti ini?" tanya Ardian.
Lucas tampak gelagapan menjawab pertanyaan Ardian.Karena ia baru menyadari kalau Jimmy pergi ke Singaphore tanpa Anita tahu.Ditambah lagi banyak kiriman foto dan video yang mungkin membuat Anita syok.
"Jimmy ke Singaphore,katanya hanya dua hari.Mmm,Pak Ardian,saya akan ke hotel sebentar untuk membersihkan diri. Nanti saya kembali ke sini lagi."
Ardian hanya mengangguk,matanya kembali melihat ke arah putrinya yang sedang tak berdaya dengan cup oxigen di mulutnya.
"Nita,ada apa sebenarnya Nak?" Ardian mengelus punggung tangan putrinya.
Beberapa saat kemudian dua orang perawat datang memeriksa.
"Maaf Pak,bisa ke luar sebentar.Saya harus mengganti diapers pasien," kata salah satu perawat.
Ardian mengangguk lalu ke luar dari ruangan tersebut.***
Anita mengerjapkan matanya,ia melihat ke sekelilingnya yang didominasi warna putih.Ia sedikit meringis karena ada pergerakan di perutnya.Tangannya meraba perutnya yang masih membuncit.
Ia menoleh ke arah pintu, ternyata dokter dan beberapa perawat wanita yang datang untuk memeriksa kondisinya.Anita melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Bagaimana Nyonya,apa yang Anda rasakan sekarang?" tanya dokter itu.
"Sedikit pusing dan lemas dokter.Apa yang terjadi pada saya Dok?" tanya Anita.
"Anda mengalami keram di dinding rahim,juga asam lambung yang naik, ada sedikit pendarahan di lambung. Saya sarankan untuk tidak mengonsumsi makanan yang pedas dan asam dulu.Jangan memikirkan hal hal yang terlalu berat.Berfikirlah positif dan motifasi diri Anda agar semangat Anda bertambah," dokter muda itu tersenyum.
Anita menoleh ke arah dokter itu,tatapannya begitu intens hingga senyum pria itu membuatnya teringat seseorang.
"Apakah kita pernah ketemu?" tanya Anita.
"Reynaldi Huffam,saya seangkatan di bawah Anda dan dulu sering ikut acara kumpul kumpul tiap dua minggu sekali," jawabnya.
"Jadi Anda temannya Bayu juga Hiroshi?"
"Ya, saya mengenal mereka tapi kami sekarang sudah sangat jarang berkomunikasi.Kecuali ada pertemuan pertemuan antar dokter.Spesialisasi kami juga berbeda."
Anita tersenyum.
"Baiklah Dokter,terimakasih atas sarannya.Akan saya lakukan sebisa mungkin," kata Anita.
Setelah memberi arahan kepada dua perawat itu,dokter itu pun meninggalkan ruang Anita.
Beberapa saat kemudian Lucas dan Ardian masuk.
"Ayah,bawa Anita pulang Ayah."
Tiba tiba saja Anita tidak bisa membendung kesedihannya.Ardian segera memeluk putrinya.
"Iya,tapi tunggu sampai kau benar benar pulih ya," bujuk Ardian.
"Jangan tinggalkan Nita,Ayah.Nita takut sendirian."
"Tentu,ayah akan di sini sampai kau sembuh.Ayah akan carikan bubur ya,Nita istirahat di sini sebentar."
"Jangan,Ayah.Nita tidak mau sendirian, biar Lucas aja yang pergi," kata Anita.
"Aku sudah suruh Romy,sebentar lagi pasti datang,"jawab Lucas yang duduk di atas sofa yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Lucas,mana ponselku?" tanya Anita.
"Nope,selama kau sakit tidak boleh pakai ponsel," jawab Lucas.
"Aku mau telpon temanku,"kata Anita.
"No,setelah kondisi stabil baru boleh," jawab Lucas.
"Haish, kenapa kau lebih menyebalkan sekarang," gerutu Anita.
"Istirahatlah,Nak.Nanti setelah makan kau harus istirahat lagi biar bisa cepat pulang," kata Ardian.
__ADS_1
Anita mengangguk pelan,ia memejamkan mata walau pun pikirannya ke mana mana.