
Bustam datang membawa obat dan menyerahkannya kepada Corvin. Ponsel di saku Corvin berdering, ia segera mengangkatnya.
“Ya Tuan,baiklah.Semua sudah dibawa Lucas.Laptop itu masih ada di saya.Baiklah.”Corvin mengakhiri panggilan itu.
“Nona,ini obatnya.Saya akan langsung antar pulang saja ya,Tuan memanggil saya.Jadi Nona di rumah saja dulu,” kata Corvin.
“Jadi gak bisa mampir beli sesuatu nih?” tanya Anita.
Corvin menggerakkan mobilnya meninggalkan klinik.
“Dicatat saja, nanti saya belikan waktu pulang.Nona tidak boleh ke luar kalau tidak sama saya atau Hans.Tuan masih menyeleksi beberapa pengawal wanita.Sabar ya masih belum ada yang lulus tes,” jawab Corvin.
“Iya iya,” kesal Anita.
“Kalau Nona bekerja sama kami juga senang, bisa cepat selesai kerjaan.”
“Nanti aku yang akan protes pada Boss, kenapa aku dibatasi seperti ini. Aku juga ingin pergi ke supermarket, pergi makan Bakso, pergi makan mie ayam, pergi beli sosis bakar di sana no dekat lapangan.”
“Hais, makanan apa itu? Bukannya ibu hamil tidak boleh makan itu?” sanggah Corvin.
“Nggak,dokter tidak melarang. Memang tahu dari mana gak boleh makan?”
__ADS_1
Corvin membunyikan klaksonnya saat sampai di depan gerbang rumah Anita.Seorang penjaga membukakan pintu otomtis dari dalam ruang jaga.
“Silahkan Nona,Bu Ana,” Corvin membukakan pintu setelah memakir mobilnya di halaman.
“Terimakasih Pak Corvin,” kata ibu Ana.
Anita membanting pintu mobil karena kesal.Corvin hanya melirik sebentar lalu pergi ke ruangannya untuk mengambil barang.
Beberapa saat kemudian ia pergi dengan mobil Land Rover miliknya menuju ke suatu tempat di pinggiran kota.Corvin menghentikan mobilnya di parkiran bawah tanah sebuah bengkel mobil besar dan menyusuri lorong yang hanya bisa dibuka dengan kartu akses khusus.
Ia mengetuk pintu dan seorang penjaga membukakan pintu untuknya.
“Baiklah kita mulai,” suara berat Jimmy memecah kesunyian.
“Hari ini Fadli ditangkap karena bukti bukti dia merencanakan penculikan semua di tangan polisi.Terlibat sindikat perdangan manusia dan narkoba juga jadi salah satu dakwaan untuknya,” kata Dicky.
“Lucas,Corvin?” kata Jimmy.
“Dua pengawal Viola yang tersisa juga sudah tertangkap dan senjata api yang mereka bawa juga sudah berhasil diamankan pihak kepolisian,” jawab Corvin.
“Baiklah, bagaimana dengan nasib terminal penerangan,apa izinnya akan dicabut?” tanya Jimmy.
__ADS_1
“Itu masih dalam penyelidikan, tapi kita sudah diberi gambaran bahwa harus mengurus ulang izin izinnya dan ada perubahan pengoperasian. Kita harus online dengan petugas mengenai CCTV di sana.Sementara itu kemungkinan izin dibekukan,” jawab Prasetyo.Jimmy menghela nafas panjang.
“Lucas, bawa pesawat baruku ke terminal milik Anggoro Group di kota J secepatnya.”
“OK,asap,” jawab Lucas.
“Hans, kau urus lagi izin kepemilikan senjata api milikmu secepatnya,” kata Jimmy.
“Baik Tuan, tapi bagaimana dengan Tuan?” balas Tanya Hans.
“Akan kuurus belakangan.Masih ada yang jauh lebih penting dari ini?” jawab Jimmy.
“Bagaimana dengan Sanjaya?Apa Uncle setuju denganku?” tanya Jimmy lagi.
“Papi setuju untuk menghentikan investasi Anggoro Group,” jawab Julian.
“Baiklah itu saja kurasa. Corvin, tetap awasi gerak gerik anak buah Fadli. Aku berterimakasih atas kerja keras semuanya. Akan kuberikan kompensasi yang sangat besar setelah semua selesai.Aku pergi dulu,Corvin aku pakai mobilmu,” Jimmy bangkit dari duduknya.
“Aku akan mengemudi untukmu Tuan,” kata Hans.
“Tidak Hans,aku akan pulang sendiri. Tetaplah di sini dan nikmati waktumu. Kau pasti sangat lelah,” tolak Jimmy.
__ADS_1
Pria muda itu bergegas pergi dengan menggunakan mobil yang tadi dibawa oleh Corvin.Entah bagaimana tiba tiba perasaan rindu pada istrinya menyerangnya begitu saja saat melihat chat singkat dari istrinya.
Dicky segera memerintahkan anak buahnya diam diam mengawal Jimmy.