CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption261


__ADS_3

Anita mundur saat tangan seseorang menariknya menjauh dengan kasar.


“Keluarlah dari sini, sudah cukup kau membuatnya susah,membuatnya sakit bahkan membuatnya gila.Pergilah,Anita.”


Anita mengusap matanya dan melihat ke arah Agustian yang mendorongnya jatuh di sofa.


Dengan perasaan marah reflek Anita mendorong pria paruh baya itu sekuat tenaganya.


“Kenapa kau membohongiku? Kenapa kau mempermainkanku? Kau pikir semua ini lucu hah? Jangan mengatur hidupku,tidak perlu mengusirku Tuan Tua brengsek.”


Anita beranjak pergi sambil menangis.


“Katakan pada semua pengawal dan penjaga gerbang.Tidak ada yang boleh ke luar dari rumah ini tanpa izinku dalam seminggu ini!” teriak Agustian pada asistennya.


Agustian menghampiri Jimmy yang sedang ditangani oleh beberapa dokter dan asistennya.


Jimmy membuka matanya dan air matanya meleleh di pipinya.


“Daddy..” gumamnya.


“Don't worry(jangan khawatir).Dia tidak akan ke mana mana.Irene akan terus mengawasinya,” kata Agustian.


“Jangan menyakitinya,” gumam Jimmy lagi.


“Daddy tahu batasnya my Son, dia sama keras kepalanya sepertimu.Paling tidak dengan cara ini dia sedikit melunak.Sudah kukatakan jangan temui dia dulu.”


Agustian membelai kepala Jimmy lalu menghampiri ketua tim dokter yang menangani Jimmy.

__ADS_1


“Apa yang terjadi Dokter? Bukankah kemarin sudah sangat baik?” tanyanya.


“Tuan Muda mengalami pendarahan di lambung.Emosinya harus dijaga Tuan. Sebaiknya tidak memicu konflik,tidak kelelahan dan obatnya diminum dengan teratur.Untunglah kemarin Tim dokter dari sana membawa dua kantung darah.Tuan Muda harus ditransfusi, mereka sudah prediksi rupanya,” jawab Dokter.


“Apa pendarahan sudah bisa dihentikan?”


“Kami sudah melakukan hal hal yang seharusnya.Satu jam lagi akan kami lakukan sonografi.Akan kita ketahui hasilnya.”


“Baiklah, kalau perlu dibawa ke rumah sakit tolong hubungi saya,” kata Agustian lalu kembali menghampiri Jimmy.


“Istirahatlah,Daddy akan terus di sini. Jangan berfikir macam macam,akan aku telfon mertuamu supaya cepat ke sini.Sopir akan menjemputnya malam ini.Dia ada di Solo untuk memberitahu keluarganya kalau kalian akan menikah di sini beberapa hari lagi.Semua sudah disiapkan termasuk dokumen dokumennya.Kamu tenang saja ya ,aku dan besan akan mengurus semuanya,termasuk menjinakkan istrimu,” kata Agustian.


Jimmy tersenyum lalu memejamkan matanya.


Sementara itu Anita berlari ke dalam kamarnya dan menangis sejadi jadinya.


Anita melihat bercak darah di pakaiannya, memang darah asli.


Tiba tiba Anita merasa mual dan muntah.Ia segera berlari ke kamar mandi dan muntah di closset.Bau amis darah membuat perutnya sangat mual.Ia segera melepas pakaian dan mengguyur tubuhnya.


“Dia ayahmu Sayang,ayahmu sakit.Maafkan Mami ya,Mami membuat ayah sakit.”


Anita kembali menangis tersedu sedu. Beberapa saat kemudian terdengar ketukan keras di pintu kamar mandi.Suara Irene memanggilnya dari luar.


Anita segera mengambil handuk dan jubah mandi dari lemari yang ada di situ.


Ia melihat Irene di depan pintu.

__ADS_1


“Nona istirahatlah setelah ini, itu sudah saya buatkan susu hangat.Nona jangan khawatir, Tuan baik baik saja.”


Anita duduk di tepi ranjang dan meminum susu yang ada di atas nakas.


Sementara itu Irene mengambilkan baju tidur untuknya.


“Ren,mulai besok kamu tidak perlu repot repot mengurusku.Lebih baik kau jaga Tuan ya,” kata Anita.


“Kita punya tim dokter yang memang khusus disiapkan untuk Tuan, karena Tuan sakit sudah sebulanan ini.Tuan memaksa pulang saat tahu Nona ada di sini,” kata Irene.


Anita terdiam, satu bulan itu berarti tak lama setelah ia pergi dari rumah.


“Aku sangat lelah,bangunkan aku kalau terjadi sesuatu pada Tuan,” kata Anita.


Irene membantu Anita menaikkan kakinya ke atas kasur.


“Nona jangan sampai drop, Tuan tidak akan kenapa napa selama Nona baik baik saja. Tuan besar tidur di kamar Tuan,” kata Irene.


“Iya,” jawab Anita.


Anita memejamkan matanya setelah mendengar Irene menutup pintu.


Air matanya kembali mengalir mengingat keadaan Jimmy yang begitu mengagetkannya. Agustian atau Julian Anggoro atau siapa pun itu.Entah apa yang dia inginkan, dia itu orang tua Jimmy atau pengawalnya Jimmy, Anita sungguh tidak peduli.


“Sebelum aku pergi dari sini akan kucekik dia, akan kutendang perutnya atau kulempar piring ke kepalanya.Kali ini pasti kena,” gumam Anita.


Anita terus menangis hingga kelelahan dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2