
Minggu berikutnya Jimmy dan Hans mulai sibuk.Ia meminta Edy srandby di rumah untuk mengantar kemana pun Anita ingin pergi.
Anita diam diam datang ke tempat dokter Haris untuk berkonsultasi. Pagi itu ia pergi dengan taksi dan kembali membuat janji dengan dokter Haris di rumah sakit yang berbeda.
“Apa Bu Anita benar benar tidak ingin berubah pikiran.Ini sangat beresiko, saya harus bertemu dengan salah satu keluarga Anda yang paling berpengaruh,” kata dokter Haris.
“Apa tidak cukup saya saja Dokter?” tanya Anita.
“Tidak bisa,Anda harus membawa suami anda, atau orang tua Anda.Tindakan ini tidak boleh sembarangan dan ada tahapan tahapannya.Apa Anda tahu, kehilangan memori itu akan membuat Anda kesulitan, karena hal itu berkaitan dengan masa sekarang dan masa depan,” kata dokter Haris.
“Saya ingin melupakan luka luka di hati saya.Dan nenjalani hidup saya sebagai istri seseorang yang bahagia.Baiklah akan saya pikirkan lagi.”
“Baiklah, saya tunggu keputusan Bu Anita.Saya berharap Anda datang bersama suami atau orang tua Anda untuk pertemuan berikutnya,” kata dokter Haris.
“Saya permisi Dokter,” kata Anita seraya Bangkit dari duduknya.
Anita melangkahkan kakinya dengan sedikit melamun.Pikiranya ke mana mana.Sepertinya dokter Haris tidak bersedia membantunya.
“Aku akan mencari dokter lain yang bersedia.Bagaimana pun juga kalau dibiarkan aku bisa menjadi tidak waras. Aku lelah berpura pura semua baik baik saja,” gumam Anita.
Sampai di parkiran Anita melihat sekitar dan mencari cari di mana ia memarkir mobilnya.
“Yaa Tuhan, aku sudah mulai tidak waras. Bukannya aku naik taksi datang ke sini.”
“Ta!Anita!” terdengar suara yang familiar memanggilnya.
Ia segera menoleh ke arah sumber suara. Siska yang baru ke luar dari mobil berjalan cepat memanggilnya.
“Dari mana? Kenapa sudah di sini ora ngabari?” kesal Siska.
“Aku ada urusan sebentar, aku belum sempat ngabari kalau sudah datang,” jawab Anita.
“Ayo makan siang,aku juga pingin ngomongin sesuatu.Di sebelah rumah sakit ada siomay Bandung, ayo ke situ,” kata Siska.
Anita tidak menolak, ia mengikuti saja langkah langkah kaki Siska.
Anita mengambil tempat duduk di depan Siska yang sedang sibuk pesan makanan.
“Ono urusan opo nang rumah sakit (ada urusan apa ke rumah sakit)?” tanya Siska.
“Sedikit konsultasi,” jawab Anita.
“Ta, apa kamu ingat orang ini?” tanya Siska seraya menunjukkan ponselnya.
“Nggak.”
“Ini dokter Ramdan, seniorku yang jadi asdos dulu dan sering ngerjai aku.Aku pernah cerita kan dulu,” kata Siska.
“Aku ora eling(nggak ingat), kenapa memang?” tanya Anita.
“Kemarin dia nembak aku, tapi belum aku jawab.Gimana Ta? Apa aku terima saja?” tanya Siska.
Anita terdiam, ia meminum jus jambu yang barusan diantar pelayan.
“Kamu nggak suka dia ya, atau ini saja Ta.Ini seorang pengusaha yang mau dijodohkan denganku oleh orang tuaku? Menurutmu yang mana?” tanya Siska lagi.
__ADS_1
“Sis, aku sudah tidak ingin mencampuri urusanmu lagi.Kita harus punya batasan masing masing.Kenapa kau jadi bingung sendiri? Kemarin kemarin kau katakan kalau kau menyukai Julian, sekarang kau bingung mau pilih siapa.Cari suami bukan seperti mau beli baju atau sendal,” kata Anita.
“Bukannya kau tidak menyukai Julian? Bukannya kau tidak setuju?”
“Aku bukan orang tuamu, masa kau lebih takut padaku? Aku sudah katakan aku tidak mau lagi mencampuri urusanmu, kau mau dengan siapa saja tidak ada urusannya denganku,” kata Anita seraya memakan siomaynya.
“Kau harus ikut campur, aku nggak mau kau seperti itu,” teriak Siska.
“Sis,mulutmu itu lho.Ojo banter banter (jangan keras keras),” kata Anita seraya memukulkan sendok ke dahi Siska.
Anita sedikit kaget melihat air mata Siska membanjiri pipinya.
“Ikuti saja kata hatimu, hidup dengan siapa pun itu, asal kamu bahagia aku pasti mendukungmu.Sis,kita mencintai seseorang, belum tentu tidak merasakan sakit.Aku hanya bisa mengatakan, hiduplah dengan orang yang tulus mencintaimu,” kata Anita.
Siska menatap sahabatnya itu, seulas senyum Anita sudah cukup membuat kesedihannya hilang.
“Baiklah akan kupikirkan lagi,” kata Siska senang.
Ponsel di tas Anita berbunyi, ia hanya mendiamkan saja bunyi telpon itu.
“Ta ponselmu bunyi,” kata Siska setelah melihat temannya hanya diam saja.
“Biarkan saja, paling juga telpon nggak penting,” jawab Anita.
Siska meletakkan sendok garpunya dan mengambil ponsel dari tas Anita.
“Hans yang telpon,” kata Siska.
“Dari mana kau tahu itu Hans?” tanya Anita.
“Ini ada namanya Hans,” jawab Siska.
“Kenapa ? Mati ?”
“Iya,biarkan saja,” kata Anita.
Tiba tiba ponsel di tangan Anita berbunyi dan ada nama Jimmy sedang memanggil.
Anita terkejut dan ponsel itu jatuh ke lantai.
“Ta,apaan sih? Kenapa kau jadi seakan takut sama ponsel.Pantas saja setiap kutelpon tidak diangkat,” kata Siska seraya mengambil ponsel Anita yang terjatuh di lantai.
“Ini suamimu, ayo angkat,” kata Siska.
“Ngg nggak, tolong kamu saja yang angkat,” kata Anita yang tiba tiba gemetar dan meletakkan alat makannya.
“Dia lagi makan siang sama saya di dekat rumah sakit.Iya, baiklah.”
Siska memberikan ponsel kepada Anita. Dengan tangan gemetar Anita mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo,” katanya pelan.
“Aku sudah dekat dari situ, aku akan menjemputmu,” kata Jimmy.
“Aku bisa pulang sendiri, masih ingin pergi ke tempat lain,” jawab Anita.
__ADS_1
“Aku sudah sampai,” kata Jimmy dan mengakhiri panggilannya.
Siska menatap wajah pucat sahabatnya itu.
“Apa kalian sedang bertengkar?” tanyanya.
“Nggak koq,” jawab Anita.
Beberapa saat kemudian Jimmy muncul dan menghampiri mereka.
“Sis, aku pergi dulu ya,” kata Anita seraya meletakkan selembar uang seratus ribuan.
“Ya sudah, gak usah dibayar aku yang traktir,” kata Siska.
Tanpa menggubris kata kata Siska, Anita pergi dan Jimmy mengikuti di belakangnya.Jimmy segera menyamakan langkahnya.Dengan lembut ia genggam tangan istrinya.Setiap kali berpapasan dengan seseorang, mereka selalu melihat intens ke arah Jimmy.Suaminya itu memang tampan dan menarik perhatian.
“Lepaskan tanganmu,” kata Anita.
“Ngg mau kugendong?”
“Nggak, aku tahu kau akan sakit punggung setelah menggendongku.Aku cuma khawatir mereka mengira kau dipelet pembantu,” kata Anita.
“Apaan sih?” kata Jimmy seraya merangkul bahu Anita.
Ia tahu, semakin diladeni akan semakin menjadi jadi.
Sementara itu, di kantornya Hiroshi tampak gelisah mondar mandir kaya setrikaan.Sebentar duduk di kursinya, duduk di meja, duduk di sofa.Sampai akhirnya pintu ruangannya diketuk.Ia segera duduk di kursinya dan mempersilahkan masuk.
Wajah dokter Haris menjadi tegang saat melihat raut wajah Hiroshi yang agak menyeramkan.Tatapannya begitu tajam langsung mengarah ke matanya.
“Pak Direktur memanggil saya?” tanyanya.
“Ya.”
“Apa menanyakan laporan mingguan saya?” tanya pria paruh baya itu.
“Bukan.Berapa kali dia sudah menemui Anda Dokter? Apa yang dia keluhkan?” tanya Hiroshi.
“Apa maksud Pak Direktur?”
“Om Haris pasti tahu apa maksudku, aku bertanya bukan sebagai direktur.Aku bertanya sebagai Hiroshi.”
“Hiro, lepaskanlah dia.”
“Aku belum bisa sepenuhnya.Tolong katakan padaku apa keluhannya? Om, aku mengenalnya bertahun tahun.Dia kadang labil dan tidak suka membebani orang lain.Dia selalu mencari jalan keluar sendiri dan sekarang dia mencari psikiater, itu adalah hal yang luar biasa. Itu berarti dia merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya,” kata Hiroshi.
“Aku, tidak bisa membocorkan keadaan pasienku kepada orang lain Hiro.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan menggunakan jabatanku untuk memaksa Om Haris membocorkan data Izmi Reanita Ardiansyah kepadaku.Atau harus kuperintahkan seseorang untuk membawa berkas semua pasien di poli Psikiatri untukku.Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada Om Haris,kali ini kumohon bantulah aku,” kata Hiroshi.
“Hiro, kau ini meminta tolong sambil membawa samurai.Mana mungkin aku bisa menolakmu,” kata dokter Haris.
Hiroshi tersenyum.Dokter Haris menjabarkan masalah yang dialami Anita secara detail.Hiroshi hanya diam memdengarkan tanpa menyela. Setelah dokter Haris selesai ia menanyakan hal hal yang kurang dipahaminya.
“Om, tolong tarik ulur dulu.Jangan katakan Om tidak bersedia dulu. Jangan sampai dia mencari dokter lain untuk mewujudkan keinginannya.Aku harus menemui seseorang.”
__ADS_1
Hiroshi meletakkan baju dokternya dan bergegas ke luar.
“Om boleh pergi,” katanya sebelum menutup pintu.