
Sampai di lantai dua Jim membawa Anita ke sebuah kamar yang sangat luas dengan dipenuhi jendela jendela kaca yang langsung menghadap ke laut.Jim mendudukkan Anita di atas sofa berwarna putih sementara dirinya menyingkap seluruh tirai.Anita menghampiri dan memeluk pinggang suaminya dari belakang.Jim yang berdiri di pinggir jendela segera menarik tangan Anita supaya pelukannya lebih erat lagi.
"Terima kasih," kata Anita.
"Untuk apa? Semua memang kulakukan untuk mu. Tidak perlu berterima kasih. Bahagai bersamamu adalah tujuan hidupku," Jim menarik Anita ke dalam pelukannya. Keduanya sama sama memandang ke laut lepas.
"Aku mencintaimu Kak Jimmy," gumam Anita. Jim terkikik, ia teringat kata kata dalam surat Anita yang dirobek robek dan dipungutinya dari tempat sampah.
"Berjanjilah akan selalu bersamaku,aku tidak peduli kehilangan apa pun, walau pun semua orang meninggalkanku,asal selalu bersamamu aku pasti sanggup menghadapi apa pun." Jim mencium pucuk kepala Anita.
"Tentu Tuan, aku merelakan diriku kau nikahi, kau kurung di rumahmu, karena aku sangat mencintaimu.Kalau tidak, tentu aku sudah lari," jawab Anita.Jim tertawa kecil.
"Memang bisa lari? Banyak penjaga di gerbang rumahku, pagarnya pun lebih tinggi dari pagar Rutan." Anita tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Jim.
"Aku cium semua penjagamu supaya membiarkanku ke luar."
__ADS_1
"Akan kuhabisi mereka kalau sampai itu terjadi," kata Jim seraya menggigit kecil hidung Anita.Terdengar suara ketukan di pintu, Jim menyuruhnya masuk. Bu Aminah datang dengan membawakan jahe hangat dan makanan kecil untuk mereka.Anita berdiri menyambut nampan dari wanita itu.
"Terima kasih Bu," kata Anita.
"Jangan sungkan cari saya kalau butuh sesuatu nyonya," katanya.
"Tentu." Wanita itu mengangguk lalu pergi. Anita memberikan secangkir jahe hangat untuk Jim,dan menyuapkan sepotong cemilan ke mulutnya.Dengan senang hati Jim membuka mulutnya.
"Anita."
"Hmm?"
"Ya bisa," jawab Anita.Jim menyeringai senang.
"Serius?" tanyanya sekali lagi.
__ADS_1
"Juniorku sudah dari tadi ingin berontak." Anita memukul Jim dengan bantalan sofa.
"Aku ini pria yang sudah sangat dewasa Anita. Kalau terus terusan disuruh bertahan seperti ini aku tidak kuat.Mendengar suara seksimu saja rasanya mau meledak."
"Suamiku ini lebay ya,awas didengar sama Lucas bisa ketularan.Umur berapa sih, kenapa masih imut gitu sudah lihai jadi pilot?" tanya Anita.
"Perhatian banget sama Lucas,aku suruh pulang saja kalau gitu," rajuk Jim.
"Dia keponakan Jack, kakak pertama Jack menikah muda,tapi jarak umurnya dengan Jack juga terpaut jauh sekitar sepuluh tahun. Jadi Jack dan Lucas umurnya hanya terpaut lima tahun.Lucas sekarang 22,baru lulus tehnik Aeronautika di Syracuse University. Dulu waktu aku tinggal di sana dia sudah akrab denganku,dia sering ikut jika aku dan Jack ke mana mana.Dia lulus cum laude," jelas Jim.
"Kenapa dia tidak memilih berkarir di negaranya?Incomenya pasti jauh daripada bekerja di sini," kata Anita.
"Jangan meremehkan suamimu ini ,Sayang. Aku menggaji Jack dan Lucas dengan standar gaji Amerika.Dari dulu Lucas memang ingin tinggal di Indonesia.Waktu SMP dia sekolah di Jakarta, orang tuanya pernah bekerja di perusahaan terkenal di Jakarta.Tapi hanya empat tahun saja, uncle Jose ayah Jack memanggil mereka pulang untuk mengurusi usahanya.Lucas yang banyak mengajari Jack berbahasa Indonesia.
Dia pintar bahasa Betawi juga." Jim tertawa kecil.
__ADS_1
"Cute," kata Anita.
"Aku lebih Cute," rajuk Jim.Anita mencubit gemas pipinya.Ia baru menyadari kalau pipi Jim lebih cubi dari sebelumnya.