
Jimmy duduk di sebelah Anita,sedang kan Julian tampak kesal sambil mengusap kepalanya.
“Aku ini serius, kenapa susah sekali mencari istri sepertimu,” kata Julian.
“Heh,Boncu.Yang seperti ini hanya ada satu,istriku seorang.Jadi jangan harap, Lu pikir gua nggak ngerti apa maksud Lu,” jawab Jimmy.
“Aduh sudah dong,malu adu mulut di depan tamu.Jimmy sudah ya,” pinta Anita.
“Gue adu mulut(berciuman)sama dia, cih najis gua mah,” kata Julian.
Faris yang sejak dari tadi tertegun melihat seorang pressdir dan komisarisnya bertengkar seperti anak kecil mendadak tersenyum.
“Màaf Mas, mereka sudah seperti ini dari kecil.Bawaan orok, jangan dimasukkan ke hati ya.Mereka ini saudara sepupu dan tinggal serumah beberapa tahun.Jadi masalah sendal jepit saja bisa rame,” kata Anita.
Faris tertawa kecil hingga matanya sedikit berair.
“Mas Farhan sama Fara juga begitu kan, tiap kali ketemu ada aja yang diributin.Berasa ada yang kurang kalau nggak ribut.”
Faris dan Anita tertawa.Beberapa saat kemudian mobil ayah Anita masuk dan terparkir di garasi.Hans dan Ardian ke luar dan menghampiri mereka.
“Ayah,bagaimana?” tanya Jimmy.
“Mereka bersedia menjual kepada kita,” jawab Ardian.
“Syukurlah,Hans segera hubungi Pak Beny untuk memnyelesaikan jual belinya.Julian,tolong hubungi Uncle untuk rancangan konstruksinya.Kalau sudah deal berikan rincian biaya anggarannya padaku.Hans,kau yang handle ini nanti.Yuki dan Marcel pasti sibuk mengurus pabrik baru, sementara menunggu Jack datang,” kata Jimmy.
“OK,” Jawab Julian.
__ADS_1
“Sepertinya Fadly juga menginginkan tanah itu, tapi untunglah pemilik tanah lebih senang kalau tanah mereka dimiliki olehmu Nak Jimmy,” kata Ardian.
“Biar kami yang urus ini Ayah,” jawab Jimmy.
“Iya, Pak Ardian tidak perlu khawatir. Kami sudah awasi gerakan Fadly,” tambah Dicky.
“Jim,kumohon jangan berseteru dengan orang sini ya.Tolong jaga reputasi Ayah,” kata Anita.
“Tidak Sayang, aku hanya meluruskan saja.Yang salah harus diberi hukuman kan,” kata Jimmy seraya membelai rambut Anita.
“Guys, ayo main bilyard.” Tiba tiba Lucas muncul dari aula.
“OK, siapa takut.Yang kalah mijitin gue,” kata Julian.
“Halah, kapan Lu pernah menang,” sergah Dicky.
“Silahkan bersenang senang, ayah mau ke dalam dulu,” kata Ardian.
“Saya juga mau istirahat, besok pagi pagi harus balik ke kantor,” kata Faris.
“Ya sudah, kalau butuh apa apa Mas bisa cari pengurus rumah.Besok biar Aksal yang nganter Mas Faris,” kata Anita.
“Tidak perlu Dek, besok aku dijemput sopirku.”
“Kasihan Mas kalau dia harus bolak balik,jauh.”
“Baiklah kalau gitu,besok aku pergi jam lima.Aku mau ke kamar dulu,” kata Faris seraya bangkit dari duduknya.Anita menatap kepergian Faris dan ayahnya dengan perasaan haru.
__ADS_1
“Lho, mereka sudah ngilang semua.Eh cemilannya juga ngilang,” kata Anita.
Jimmy tertawa melihat ekspresi lucu Anita.
“Sekarang hanya ada kita,apa kau tidak rindu padaku? Ayo kita masuk,” kata Jimmy seraya mencium pipi Anita.
“Tentu saja aku sangat rindu padamu, Suamiku.Bisakah kita tidur di kamarku saja?”
“Nggak, kita tidur di atas OK?”
Jimmy langsung menggendong tubuh mungil Anita dan membawanya ke atas dengan menggunakan lift.
“Kalau Si Kembar sudah agak besar, aku pasti tidak kiat gendong kalian bertiga,” kata Jimmy seraya membaringkan Anita di atas ranjang.
“Mereka anak Anita tidak akan nakal, tidak akan menyusahkan orang tuanya,” jawab Anita.
“Besok kita harus ke klinik,aku membangun sebuah klinik di dekat sini dan besok jadwalnya Nesya praktek di sini,” kata Jimmy.
“Apa? Jim, kau melakukan apa saja di kota kecil kelahiranku ini? Apa kau ingin merubah semua?” kesal Anita.
“Aku hanya melihat banyak warga yang kesulitan mendapat pengobatan yang terjangkau.Aku tidak mencari terlalu banyak keuntungan,Istriku. Aku juga ingin kalau ada yang sakit di rumah ini bisa segera tertangani tanpa harus jauh jauh ke kota besar. Aku akan terus menambahkan peralatan modern, itu bertahap dan Uncle membantu menangani ini. Karena itu memang keahliannya,” jawab Jimmy.
“Baiklah,aku berterima kasih untuk itu.Sekarang ayo tidur,kita belum boleh kan? Kau harus bersabar,” kata Anita.
Jimmy mengerucutkan bibirnya.
“Besok akan kutanyakan kepada Nesya sudah boleh atau belum,” gerutu Jimmy.
__ADS_1
Anita tersenyum lalu memeluk Suaminya yang masih duduk manyun karena kesal.