
Tanpa terasa sudah dua minggu Jimmy pergi.Anita menyibukkan diri membantu ayahnya mengurus laporan di peternakan.Dua atau tiga hari sekali Julian datang hanya sekedar menemaninya ngobrol atau membelikan makanan yang dipesan Anita.Terkadang Arron dan Li Zen juga datang bersamanya.Tapi semua itu tidak bisa membunuh rasa sepinya tanpa kehadiran Jimmy di sisinya.
Pada minggu pertama Jimmy masih sering menelpon atau memngirim chat menanyakan ini itu.Tapi minggu berikutnya telpon Jimmy tidak pernah aktif.Tapi Anita tetap saja mengirim pesan walau tidak dibaca.
Tapi Anita mencoba berfikir positif karena sebelum pergi Jimmy memintanya untuk hanya percaya kepadanya apa pun yang terjadi.
Sore itu Anita hanya berdiam di kamarnya.Akhir akhir ini ia kembali menulis untuk menghibur dirinya. Ia menulis sebuah Novel baru yang belum ia beri judul.Ia tersenyum sendiri, kalau buat skripsi saja harus mengajukan judul dulu, bahkan kalau dosen pembimbing merasa kurang masuk juga dicoret coret.Kalau buat novel mah bebas, buat dulu judulnya entar juga gak ada yang marahi.
Anita menyuruh masuk saat terdengar ketukan pintu dan suara Yuse.
“Nyonya, ada Tuan Julian,” katanya.
“Suruh tunggu di ruang tamu,tawari minum ya” kata Anita.Yuse mengangguk lalu ke luar kamar.
Anita segera merapikan rambutnya dan memoleskan sedikit makeup.Ia hanya memakai bedak dan lip balm, ia jadi teringat Jimmy yang selalu sibuk menghapus pulasan lipsticknya saat ke luar kamar.
Anita ke luar kamar dan melihat Julian yang duduk di sofa sambil membaca majalah.
“Kau langsung datang dari kantor?” tanya Anita yang melihat Julian masih memakai setelan jasnya.
“Iya,aku tar nginep sini jadi tidak pulang dulu.Tuh aku bawakan martabak telur sama sushi.Terserah mau makan yang mana,”kata Julian.
__ADS_1
“Weekend koq nginep sini? Nggak kencan sama pacar? Apa sudah putus lagi?” ledek Anita.
“Males,ganti ganti cewek rasanya juga sama saja.Ga ada yang spesial,sama saja paling ngajak hangout, ke Mall, Dinner,ngajak tidur,minta dibelikan ini itu,” keluh Julian.
“Lah mending daripada ngapelin ibu hamil kaya gua.”
Julian terkikik,ia tidak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi lucu dan mata bulat Anita yang membesar.
“Makan yuk,lapar gua.”
Julian melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.Yuse mengambilkan peralatan makan dari pantry.
Julian membuka bungkus martabak telur ukuran jumbo, juga kotak sushi yang masih mengepul.
“Yuse, kau ambilah sendiri,” kata Anita.
“Saya sudah makan Nyonya,”jawab Yuse.
Anita segera meraih ponsel Julian yang tergeletak di atas meja.
“Hans, naiklah,” kata Anita lalu menutup telponnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Hans datang dengan wajah terheran heran.
“Nona, kenapa menelpon pakai ponsel Tuan Julian?”
“Bateraiku habis Hans,lagi di charge di kamar.Ayo makan martabak sama shusi,Yuse aku sudah panggil Hans. Kau harus ikut makan walau sedikit,” kata Anita.
Ia pun mengambil beberapa kaleng softdrink dan sebotol juice jeruk peras yang tadi siang dibuatnya.
Hans mengajak Yuse turun setelah selesai makan.
Julian berbaring di sofa sementara Anita duduk di sofa tunggal tak jauh darinya.
“Julian, bagaimana kalau Jimmy hilang ingatan dan melupakanku?” tanya Anita tiba tiba.
Julian tertawa kecil.
“Bukan Cuma kamu yang tidak bisa menghubungi Jimmy.Dia sengaja memblok komunikasi.Papi juga tidak bisa menghubungi ayah Jimmy.Kalau benar Jimmy hilang ingatan, berarti dia memang tidak pantas untukmu. Dia tidak mampu melidungi diri, bagaimana dia bisa melindungimu. Kalau itu benar terjadi, aku yang akan menggantikan Jimmy.Toh bayi yang kau kandung juga keturunan Anggoro. Tidak masalah aku atau Jimmy yang jadi ayahnya,” jawab Julian.
“Ngawur, kalau itu terjadi, aku akan pergi jauh dari hidup kalian,” kata Anita.
“Tak akan kubiarkan,” Julian menegakkan punggungnya.
__ADS_1
“Istirahatlah Julian,” kata Anita.
Julian meraih jasnya dan pergi dari ruangan itu.