
Jim membelai rambut panjang Anita.
"Sudahlah Anita, tidak perlu difikirkan masa lalu kita.Sudah kukatakan kan, sangat menyakitkan.Waktu itu kita hanya berkutat dengan pikiran masing masing,tanpa konfirmasi,menduga duga.Tanpa berani bertanya langsung.Dan semua itu mutlak salahku.Kalau saja aku lebih berani waktu itu.
Tapi percuma saja disesali saat ini.Jadi lupakan saja?Okey?" Anita menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita jalani hidup kita Jim.Aku tak akan meninggalkanmu,kecuali kau sendiri yang menginginkannya."Anita melepaskan pelukannya dan membiarkan Jim melanjutkan pekerjaannya. Jim hanya tersenyum melihat Anita kembali tenang dan tersenyum senyum melihat beberapa berkasnya.
"Nyonya Jimmy,kau lihat apa sampai tersenyum seperti itu?" tanya Jim penasaran.
"Lihat foto di Ijazah SMPmu," Anita terkekeh.
"Dari kecil aku ini tampan kan? Bukannya yang ada di foto itu yang dulu membuatmu tergila gila?" tanya Jim.Anita cuma tertawa.
"Selesai,tinggal cetak Fotonya." Jim berjalan ke sebuah Rak tempat menyimpan berbagai ukuran kertas.Ia mengambil beberapa lembar kertas foto.Dan mengambil sebuah printer lain dari dalam sebuah lemari pendek.
Jim mencopot dan mengganti kabel printer yang menancap di laptopnya.
__ADS_1
"Kenapa diganti Jim? Bukannya yang ini juga ori tintanya?" tanya Anita.
"Yang ini memang khusus aku gunakan untuk cetak foto.Tintanya jauh lebih bagus dari yang satu itu.Beda lah Sayang,kalau mau awet nggak gampang pudar seperti cintaku ini lho."
Anita memberengut,Jim hanya tertawa kecil.
Jim segera mencetak fotonya,memotongnya jadi beberapa bagian dan memasukkan ke dalam kantong plastik clip.
Dengan cekatan ia memasukkan berkas berkasnya ke dalam sebuah amplop coklat anti air yang berukuran kertas Folio.
"Selesai," ia tersenyum kemudian merapikan berkas yang berserakan di atas meja kemudian memasukkannya kembali ke dalam
Jim mendekati Anita lalu mencium pucuk kepalanya.
"Ayo aku tunjukkan sesuatu,tapi janji ya jangan marah?"Jim memeluk lengan Anita dan meletakkan dagunya di atas kepalanya.
"Mmmm tergantung," jawab Anita.
__ADS_1
"Ya udah gak Jadi, tar ngambek gak jadi nikah gue."
"Iya, Iya.Janji biarpun marah tetep mau nikah," Anita mencubit pipi Jim gemas.Jim tersenyum senang.Ia membawa Anita ke sebuah almari besi lainnya.Setelah menekan beberapa kode akses, pintu itu pun terbuka.
"Lihatlah," Jim menarik tangan Anita supaya lebih dekat.Gadis itu diam tercekat melihat isi di dalamnya.
"Buku buku novelku.Buku buku novel tulisan tanganku semua ada di sini?" Anita menatap penuh tanya ke arah Jim.
"Iya,aku yang membawanya.Dulu setelah kelulusan aku pergi ke rumahmu untuk minta izin padamu.Tapi kau sudah pergi entah ke mana.Mulanya aku ingin menerbitkan karya karyamu,tapi aku urungkan.Karena aku ingin memilikinya untuk diriku sendiri." Jim beranjak menuju brankas tak jauh dari lemari itu.Ia memutar nomor kombinasi dan mengambil buku cek sebuah bank besar di indonesia.
"Aku sudah menanda tangani cek ini.Isilah berapa pun yang kamu mau." Jim menyodorkan cek itu.Anita tersenyum dan menerimanya.
"Bagaimana kalau sepuluh milyar per bukunya? Jadi seratus M untuk semuanya?" kata Anita.
"Okey, tuliskan saja.Uangku jauh lebih banyak dari itu," jawab Jim. Anita menuliskan angka di situ kemudian memberikannya kepada Jim.
Pria itu tertegun lalu tersenyum.
__ADS_1
"Aku serius nyonya Jimmy," katanya. Anita menuliskan nominal 100 milyar dengan keterangan "Dikembalikan untuk membayar cintamu dan masih kurang.Akan kubayar nanti,kumintakan pada suamiku." Anita tersenyum lalu memeluk Jim.
"Kau boleh memiliki buku buku novelku sekaligus penulisnya?" Jim tertawa kecil lalu memeluk Anita.