CRAZY FIRST LOVE

CRAZY FIRST LOVE
Caption263


__ADS_3

Anita menemani Jimmy sepanjang pagi hingga siang.Tuan Besar yang merasa was was diam diam terus memperhatikan mereka.


Anita membawa Jimmy ke ruang makan saat jam makan siang sudah tiba.


Dokter Adnan datang bersama seorang stafnya untuk melepas selang infus Jimmy.


“Obatnya harus diminum tepat waktu Tuan. Tolong bantuannya Nyonya,tidak boleh terlewat sekalipun,” katanya.


“Iya Dokter, akan saya pastikan,” jawab Anita.


Jimmy berdiri dari kursi rodanya dan duduk di meja makan.


“Makanan apa ini,Anita?”


“Aku tadi minta koki buatkan bubur beras, ini sama telur rebus.”


“Anitaa,kau kan tahu aku benci telur rebus,” gerutu Jimmy.


“Ini telur yang sudah dibumbui enak lho, ini telur bacem.Orang sakit tidak boleh pilih pilih makanan.Ya sudah kalau nggak mau biar kumakan sendiri,” kesal Anita lalu menyuapkan sesendok bubur dan telur ke mulutnya.


Jimmy menelan ludahnya saat melihat Anita makan buburnya.


“Hais, koq malah dimakan sendiri.Iya iya sini aku makan,suapi,” kata Jimmy.


Anita menyuapkan beberapa sendok ke mulut Jimmy.


Ardian dan Agustian yang hanya diam dan makan bersama mereka saling pandang dan tersenyum.

__ADS_1


Setelah menyuapi Jimmy,Anita mengambil lagi untuk dimakan sendiri.Jimmy tersenyum saat Anita sudah menghabiskan empat buah telur dan saat akan mengambil yang ke lima Jimmy menahan tangannya.


“Jangan makan ini terus, ada makanan lain. Itu ada daging, ayam bacem juga, itu gudeg kesukaanmu,” kata Jimmy.


“Biarkan saja Jimmy, ada pasukan di dalam perutnya.Kau juga harus makan sayuran, Anita,” kata Agustian.


“Perlu panggil Arman ini,” gumam Jimmy.


Tanpa mempedulikan semua orang Anita menyelesaikan makannya dan mengelus perutnya.


“Kenyang.Jim, kau harus istirahat lagi ya,” kata Anita seraya menepuk kursi rodanya.


“Baiklah, aku akan menurut dan jadi anak yang baik,” kata Jimmy seraya duduk kembali di kursi rodanya.


Jimmy mengikuti Anita menuju ke lift dan memencet tombol lantai dua.


“Ayo kuantar ke kamarmu,” kata Anita.


“Baiklah, tapi nanti kau harus kembali ke kamarmu lagi ya,” kata Anita.


Jimmy berdiri dari kursi rodanya dan berjalan menuju ke tempat tidur Anita yang sangat besar.


Jimmy mengambil ponsel di sakunya, Anita hanya melihatnya sekilas.Rupanya Jimmy mengganti ponselnya.Tiba tiba dada Anita berdegup kencang.Tiba tiba ia teringat video video itu lagi.Ia beringsut menjauh dan duduk di meja makan kecil dekat Jendela.


“Anita, kenapa kau menjauh dariku?” tanya Jimmy.


“Tidak, aku hanya ingin melihat ramainya kota dari sini.Kau tidurlah,akan kuambilkan obatmu,” kata Anita seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Tidak usah, Irene sudah membawanya ke sini,” kata Jimmy.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu dan suara Irene di luar.Jimmy menyuruhnya masuk.


“Ini obatnya Tuan,akan saya ambilkan airnya.”


Anita segera membuka bungkus obat itu dan satu per satu diminum oleh Jimmy.


“Irene,tolong minta pelayan memindahkan barang barang dan pakaianku ke sini,” kata Jimmy.


“Baik Tuan.”


“Jim, kita belum boleh tidur satu kamar. Kalau kau menginginkan kamar ini, biar aku yang pindah.Yang kau tempati kemarin memang tidak seluas ini,” kata Anita.


“Irene kau boleh pergi, pindahnya tunggu instruksi lagi dariku,” kata Jimmy.


Irene mengangguk lalu pergi dari tempat itu.


“Apa maksudmu tidak boleh,Anita?” tanya Jimmy.


“Kita belum menikah dan kita bukan suami istri lagi.Aku tidak mau mengulangi kesalahan lagi berhubungan denganmu sebelum menikah,Jimmy,” jawab Anita.


Jimmy memegangi kepalanya dan menatap Anita lekat lekat.


“Aku hanya pergi selama dua bulan, kenapa tiba tiba kita bukan suami istri lagi? Iya aku melakukan kesalahan tapi hanya sebatas ciuman dengan wanita lain dan itu kusesali seumur hidupku.Aku tidak tidur dengan Viola,Anita.Yang ada di video itu adalah Venez pacarnya Emily.Cuih, adikku itu memang benar benar sudah tidak bisa diampuni.” Jimmy menakupkan tangannya ke wajahnya.


“Bukan,bukan itu Jimmy.Kata ayah kau sudah memberiku kata talak lewat telpon. Bagaimana pun juga, itu bukan kata kata main main yang bisa sembarangan kau ucapkan,” kata Anita.

__ADS_1


“Apa? Itu tidak benar.”


Jimmy mengangkat telponnya untuk meminta ayah dan ayah mertuanya datang.


__ADS_2